Masa Sih Akronim Nama Makanan yang Rame di Twitter Itu Sesat?

Pixabay


Nggak mau gimana-gimana, saya pun bagian dari segelintir orang yang heran. Kok bisa ada orang yang menyebut nasi Padang jadi sidang bukan naspad? Apalagi akronim nasi kuning yang tiba-tiba jadi naning. Kayak, kok selo banget bikin akronim ane



h begini? Tapi, lucu juga sih kalau diucapkan. Haha

Tapi, saya pikir kreativitas warga Twitter ini bukan hal yang menyesatkan, meskipun apa yang mereka buat ini emang nggak lazim ya. Apalagi, telinga dan alat wicara kita sudah sangat terbiasa dengan naspad, piscok, dan naskun.

Fenomena kebahasaan ini sangat wajar terjadi. Sebagai lulusan Linguistik, fenomena ini mengingatkan saya tentang mata kuliah Linguistik Umum yang saya dapat di semester satu, tujuh tahun silam.

Meskipun sudah dua tahun lulus dari prodi yang minim jejakanya ini — pantes jomlo terus, apa yang saya dapat saat maba ini begitu menempel di kepala saya. Syukurlah, masih ada yang nempel.

Mengutip dari buku Linguistik Umum karya Abdul Chaer, bahasa memiliki sifat dan ciri-ciri tertentu, yaitu bahasa sebagai sistem, bahasa sebagai wujud lambang, bahasa berupa bunyi, bahasa bersifat arbitrer, bahasa itu bermakna, bahasa bersifat konvensional, bahasa bersifat unik, bahasa bervariasi, bahasa bersifat universal, bahasa bersifat produktif, bahasa bersifat dinamis, bahasa sebagai alat interaksi sosial, dan bahasa sebagai identitas penuturnya.

Ciri bahasa yang bersifat arbitrer barangkali bisa jadi tameng para pencetus akronim ini. Arbitrer maksudnya, nggak ada hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut.

Salah satu contoh [nasi] dengan yang dilambangkannya, yaitu “beras yang sudah dimasak (dengan cara ditanak atau dikukus)”. Nggak ada aturan baku yang mengharuskan konsep “beras yang sudah dimasak (dengan cara ditanak atau dikukus)” disebut dengan [nasi]. Bisa saja disebut dengan [isna] atau [sina]. Bebas boss!

Nah, sama seperti kasus akronim nasi Padang dan teman-temannya ini. Disusun dari fonem apa pun yang membentuk frasa tersebut, nggak akan jadi masalah sebenarnya. Sebab, ada banyak pola konstruksi akronim dalam bahasa Indonesia.

Akronim naspad, piscok, dan naskun menggunakan pola tiga fonem pertama pada setiap kata. Sidang menggunakan pola suku kata terakhir pada setiap kata, sedangkan pisklat dan naning menggunakan pola suku awal kata pertama dan suku terakhir kata kedua.

Meskipun terdengar aneh, mungkin ada lho yang lebih nyaman dengan sidang, pisklat, atau naning. Bisa jadi, suatu saat nanti akronim-akronim ini lebih diterima di masyarakat.

Ini karena Twitter ikut memfasilitasi perkembangan bahasa kita. Buktinya, masif sekali ‘kan perbincangan tentang akronim-akronim nggak jelas ini? Saya aja jadi ikut-ikutan. Hadeeh~

Masalahnya, alih-alih bersepakat, lebih banyak orang yang jengkel dan marah dengan kemunculan akronim ini. Bahkan, ada yang menolak dengan tegas. Alhasil, akronim-akronim ini jadi bertentangan dengan sifat bahasa yang konvensional.

Sebab, meskipun lambang bunyi dengan yang dilambangkannya bersifat arbitrer, penggunaan lambang tersebut harus dipatuhi seluruh anggota masyarakat. [nasi] melambangkan “beras yang sudah dimasak (dengan cara ditanak atau dikukus)” karena kita bersepakat dan patuh dengan itu. Begitupun naspad yang sudah lama kita sepakati sebagai akronim dari nasi Padang.

Jadi, menurut saya kemunculan akronim-akronim ini sah-sah saja selama orang yang berkomunikasi dengan psikopat-psikopat ini saling bersepakat. Kalau saya sih ogah, ya. Nasi padang kok jadi sidang. Kena kasus apa dia?

Kedinamisan bahasa memang ada di tangan kita para penuturnya. Barangkali, orang biasa kayak saya ini nggak bisa serta merta membuat kata baru dan berharap digunakan seluruh masyarakat.

Tapi, munculnya akronim pada taraf percakapan sehari-hari kayak gini justru jadi hiburan buat kita. Ya, itung-itung kalau kita buka Twitter ada huru-hara gitu lho.

Komentar