Kertas itu.. untukmu!



Hari itu hari kamis aku masih mengingatnya. Kau datang dihadapanku disaat aku duduk dan bercanda bersama teman sekelasku ditaman sekolah. Kau duduk tak jauh dari tempat dudukku. Kau bawa sebendel kertas dan aku tak tahu apa itu. Sering ku lirik kau dan kaupun juga melirikku dengan malu-malu. 8 menit berlalu begitu saja. Kau mulai beranjak dari tempat dudukmu. Kakimu melangkah menuju tempat dudukku. Kau tebarkan senyuman manismu dan kau berikan sebendel kertas itu padaku. Aku  hanya  tersenyum melihat tingkah lakumu itu. Sebendel kertas itu kini ditanganku. Sebuah tanda tanya yang tiba-tiba datang menghampiriku dan tak ku tahu apa jawabnya.
Kamis malam itu juga aku memberanikan diri untuk membuka sebendel kertas darimu. 12 lembar kertas yang tak henti-hentinya ku baca. Paragraf demi paragraf ku baca. Ku nikmati cerita klasik didalamnya. Walau dalam hatiku berkata, benarkah ini tulisanmu? Ya… aku sedikit ragu memang. Anak sepertimu mana mungkin menuliskan kata-kata indah seperti ini. Tetapi aku tak mungkkin terus menerus berprasangka yang buruk padamu. Dan kulanjutkan membaca cerita klasik itu.
Sebuah cerita yang menceritakan kisah seorang remaja berumur 16 tahun yang saling mencinta. Menikmati hari-hari mereka  berdua dengan penuh cinta dan kasih sayang yang selalu tercurahkan dari mereka. Menjalaninya dengan ikhlas hingga mereka pun akhirnya tak mampu lagi bersama karena maut yang memisahkan mereka. Aku terharu membacanya. Tetes demi tetes air mata ku mengalir. Turun, dan kertas di halaman 12 pun basah.
Hmmm… aku sama sekali tak mengrti apa maksudmu memberikannya padaku. Apa sekedar untuk referensi cerpen saja? Atau mungkin ada maksud yang lain. Sbenarnya aku tak terlalu memperdulikannya. Tapi aku sangat senang saat kau memberanikan diri untuk memberikannya padaku. Walau tak ada satu patah katapun yang kau lontarkan padaku. Tapi, aku menghargai keberanianmu itu.
Paginya hari Jum’at. Aku memberanikan diri untuk menemuimu. Saat kakiku melangkah menuju kelasmu, mataku tertuju pada sebuah bunga  Desember ditaman sekolah yang indah. Aku mendekatinya dan memegangnya. Bunga yang indah namun tak mengeluarkan aroma yang seindah bunganya. Jujur aku sangat menyukai bunga itu. Alasannya sangat simple, hanya terdapat di namanya saja. Ya.. Desember. Aku lahir dibulan yang sama dengan nama bunga itu. Entahlah aku menyukainya karena itu saja. Tak ada yang lain lagi alasannya. “Resti..” sapamu dari belakang. Kulontarkan pandanganku kepadamu. Dan tersenyum melihatmu tlah ada di hadapanku persis. kau mengajakku duduk disebuah bangku di taman sekolah. Tak kulupa saat itu, aku juga memberikan sebendel kertas itu padamu. Dengan satu pertanyaan yang tak lupa ku ucap. “apa maksud dan tujuanmu memberikan ini padaku?. Sejenak kau terdiam dan mulailah kau mengatakan alasanmu. “aku hanya ingin kau membacanya. Kau kan suka menulis, tak ada salahnya kan ku berikan ini untuk referensi tulisanmu?”. Itulah jawaban yang kau lontarkan padaku. Tak ada yang kurasakan selain lega akan alasanmuu itu. “ini tulisanmu?”. Satu pertanyaan yang tak mungkin kulupa menanyakan itu padamu. “ iya. Itu milikku”. Jawaban yang singkat dan aku lebih tenang saat itu. Kau tersenyum, begitupun aku.
Mendung datang menghampiri kesunyianku disini. Dibawah pohon beringin depan sekolah. Desak angin yang menambah ketakutanku akan hujan. 29 menit aku menunggu ayahku disana. Kau keluar dari gerbang sekolah. Berjalan dan mulai mendekat kearahku. Kau tersenyum melihatku sendiri disini. Dan kau hentikan langkah kakimu tepat disebelahku. “hujan akan datang. Kau tak pulang?”. Sebuah pertanyaan yang membuatku lebih takut akan datangnya hujan. Aku hanya mengangguk. 7 menit berlalu. Kau masih setia berdiri disampingku. sampai saatnya titik hujan yang mulai berjatuhan. Tanpa basa-basi aku berlari kembali ke sekolah dan aku terhindar dari air hujan yang dingin itu. Mungkin kau khawatir padaku. Kau putuskan untuk mengikutiku menuju sekolah. ada apa denganmu?”. Kata itu. Selalu dilontarkan semua orang saat aku berlari menghindar dari air hujan. Raut wajahku pastilah sudah mengatakan bahwa aku takut pada air hujan. Dan kau pun memakluminya.” “tenanglah, hujan takkan menyakitimu. Kemarilah..”. kata itu, sudah sering ku dengar dari orang yang selalu membujukku agar aku tak takut lagi akan hujan. Kau ucapkan saat jemari tanganmu tepat berada di depan mataku. Dan aku membalasnya. Kau pegang tanganku erat dan membawaku mendekati hujan. Ku remas tangan mu. Ketakutanku tak terbendung lagi. Menutup mata dan terus menerus meremas tanganmu yang dapat kulakukan saat itu. “kau tak perlu takut. Aku ada disini. Coba rasakan tetes demi tetes air hujan jatuh membasahi hatimu. Dengarlah gemericiknya. Rasakan sentuhannya. Hujan, takkan pernah menyakitimu. Hujan, selalu menemanimu saat kau sendiri. Hujan, yang tak mungkin setiap hari kita temui. Dan aku yakin, dia datang hanya untukmu. Hanya datang untuk menghiburmu. Dia takkan tega melihatmu ketakutan akannya. Mulai sekarang kau tak perlu takut akan hujan. Bukalah matamu, tataplah ia. Dan berikan senyuman manismu kepadanya”
Entahlah, saat itu aku tak lagi takut akan datangnya hujan. Bahkan kini aku sangat mencintai hujan. Perkataan orang lain tentang hujan yang pernah kudengar, kini tak lagi ku ingat. Yang ku tau hanya suara halus yang singgah di telingaku dan membisikkan ku tentang betapa indahnya hujan. Ya.. itu kau.
Alunan musik klasik dari kejauhan terdengar saat aku mengajak kaki kecilku menuju laboratorium IPA. Tepat didepan ruang musik aku melihat kau duduk dan jemarimu menari diatas puluhan tombol piano. Seketika itu, sebuah getaran yang tak ku ketahui getaran apa. Detak jantungku berdegup semakin kencang. Mataku tak mengalihkan pandangannya dari tingkah lakumu yang justru tak pernah kuduga. Perlahan pandanganmu beralih kearahku. Senyum manismu selalu terpancar saat kau melihatku. Aku tak dapat berbuat banyak. Hanya sebuah senyuman yang kuberikan padamu saat itu.
...
Selasa 14 Februari 2011
Hari kasih sayang. Mm.. aku tak terlalu berharap akan hari ini. Aku tak memiliki pasangan yang special. Aku hanya memiliki sahabat dan orang tua yang menyayangiku. Menurutku itu sudah lebih dari cukup. Tapi, tak menutup kemungkinan sebuah keinginan yang muncul dari hati untuk memiliki seorang pasangan. Ya... terkadang rasa itu muncul difikiranku. Tapi, untuk hari ini aku tak akan terlalu berharap.
Pukul 09.45 saat istirahat pertama. Aku dan sahabat-sahabatku hanya duduk dan bercanda di sebuah bangku yang cukup besar ditengah taman sekolah. Tak lama disana, kami beranjak dari bangku dan memilih kembali dikelas.
Kelas yang tampak ramai dengan suara yang riuh, sudah menjadi makanan sehari-hari disekolah. Mm... penyambutan yang benar-benar menakjubkan. Ku segerakan kakiku melangkah menuju bangkuku. Dan betapa terkejutnya aku sebuah kotak berwarna merah jambu dengan 2 pita diatasnya duduk manis dimejaku. Tanpa pikir panjang, aku langsung memasukkannya kedalam tas merahku.
...
Malam itu juga aku berniat unuk membuka kotak misterius itu. Dengan rasa penasaran yang tinggi aku membukanya dengan pelan. Aku cukup terkejut setelah membukanya. Sebuah teddy bear coklat tersenyum padaku. Bagitupun aku padanya. Dan ku temukan sepucuk surat didalamnya.
“sebuah boneka teddy bear yang akan menemani hari-harimu. Tak mahal. Hanya keikhlasan yang dapat kuberikan dihari kasih sayang ini.
                                                                                                                                    Angga
Batapa bahagianya aku malam itu. Kado pertama dari seorang lelaki dihari kasih sayang. Ya.. kau memang yang pertama.
...
Malam ini tak jauh berbeda dari malam sebelumnya. Sepi, sepi, dan sepi. Rasanya ingin sekali keluar dimalam yang dingin ini. Ya.. aku tau itu tak mungkin. Seorang wanita yang keluar malam sendiri, itu sangat tidaklah pantas. Belum bahaya yang nanti aku temui seketika. Huh.. dan aku hanya bisa berpasrah diri dimalam ini.
Bunyi getaran handphone dua kali. Aku tau itu tanda sms. Kusegerakan mengambilnya. Dan nomor tak dikenal yang mengirimkanku sebuah pesan.
“aku tau malam ini kau pasti sendiri dirumah. Aku tak mungkin datang dan menenanimu disana. aku hanya bisa menemanimu melalui pesan dari jauh saja. Angga.”
Entahlah, darimana kau memiliki nomorku, aku tak lagi memperdulikannya. Saat itu juga hatiku sedikit lebih tenang. Dan senyumpun mengiringiku sampai mata ini tertutup dan mulai memasuki mimpi indah yang kudapati kau disana. dan mulai saat itulah kau mulai mengajakku berbincang banyak walaupun jarak yang memisahkan kita.
...
28 Februari 2011
Saat itu matahari bersinar terang. Angin yang menerpa poni pendekku mengiringi kesepianku di lantai dua tepat di depan kelasku. Saat semua teman dekatku pulang aku masih berdiri disana dan menikmati suasana sekolah yang cukup sepi. Hanya ada beberapa anak PMR dibawah sana.
Aku senang. Bukan karena sekarang aku tlah mulai akrab dan tahu sisi lainmu, tetapi aku senang karena aku tlah diizinkan oleh Tuhan untuk mengenalmu lebih dalam lagi. Tuhan tlah memberiku ksempatan dan anugerah yang tiada henti-hentinya hingga kini.
Aku bahagia, saat kau mendekatiku dan memberiku sebendel kertas yang didalamnya sebuah cerpen buatanmu yang hingga kini aku masih mengingat ceritanya, saat kau membantuku menghapus segala pikiran burukku terhadap hujan, melihatmu bermain piano, dan masih juga kuingat saat kau memberiku sebuah teddy bear yang lucu padaku dengan caramu sendiri yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya, dan saat-saat pertama kau mengirimkan pesan padaku. Semua itu lebih dari cukup untukku. Mengenalmu saja tlah melupakan segala masalah-masalah yang datang padaku. Kau adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menemaniku sebelum mata ini tertutup dan pergi meninggalkanmu untuk selama-lamanya. Kau adalah pelengkap kebahagianku didunia ini. Mewarnai hari-hari terakhirku didunia.
Indah. Ya.. ini semua memanglah indah. Tak pernah kubayangkan sebelumnya aku kan bertemu makhluk seindah dan sebaik dirimu. Dilain sisi aku juga tak mampu menganggap ini sangat indah karena aku tak dapat memilikimu seutuhnya. Tapi, menurutku mengenalmu saja adalah sebuah keindahan dunia yang tak tergantikan dimanapun, dan dengan kejadian apapun.
Aku memang mencintaimu. Ya.. itulah kata hatiku. Dan kuharap kau pun sama sepertiku. Walau aku tau kau dan aku tak kan pernah saling memiliki, tapi aku juga yakin Tuhan tak kan membiarkan makhluk seindah dan sebaik dirimu hidup tersiksa didunia ini tanpa seseorang yang nantinya akan menemanimu sampai kau akan menyusulku di alam yang abadi. Aku akan setia menunggumu disana.
Satu pesanku, berbahagialah kau didunia. Akan kusampaikan segala keinginanmu pada Tuhan. Dan akan kupastikan kau akan bahagia disana.
Selamat tinggal my first love. Kau tlah merubah hidupku menjadi lebih indah.
                                                                                                             Resti Noviani.
                                                                                                            16 Februari 2011

Komentar