Hari itu hari
kamis aku masih mengingatnya. Kau datang dihadapanku disaat aku duduk dan
bercanda bersama teman sekelasku ditaman sekolah. Kau duduk tak jauh dari
tempat dudukku. Kau bawa sebendel kertas dan aku tak tahu apa itu. Sering ku
lirik kau dan kaupun juga melirikku dengan malu-malu. 8 menit berlalu begitu
saja. Kau mulai beranjak dari tempat dudukmu. Kakimu melangkah menuju tempat
dudukku. Kau tebarkan senyuman manismu dan kau berikan sebendel kertas itu
padaku. Aku hanya tersenyum melihat tingkah lakumu itu. Sebendel
kertas itu kini ditanganku. Sebuah tanda tanya
yang tiba-tiba datang menghampiriku dan tak ku tahu apa jawabnya.
Kamis
malam itu juga aku memberanikan diri untuk membuka sebendel kertas
darimu. 12 lembar kertas yang tak henti-hentinya ku baca. Paragraf demi
paragraf ku baca. Ku nikmati cerita klasik didalamnya. Walau dalam hatiku
berkata, benarkah ini tulisanmu? Ya… aku sedikit ragu memang. Anak sepertimu
mana mungkin menuliskan kata-kata indah seperti ini. Tetapi aku tak mungkkin
terus menerus berprasangka yang buruk padamu. Dan kulanjutkan membaca cerita
klasik itu.
Sebuah cerita
yang menceritakan kisah seorang remaja berumur
16 tahun yang saling mencinta. Menikmati hari-hari mereka berdua dengan penuh cinta dan kasih sayang
yang selalu tercurahkan dari mereka. Menjalaninya dengan ikhlas hingga mereka
pun akhirnya tak mampu lagi bersama karena maut yang memisahkan mereka. Aku
terharu membacanya. Tetes demi tetes air mata ku mengalir. Turun, dan kertas di
halaman 12 pun basah.
Hmmm… aku sama
sekali tak mengrti apa maksudmu memberikannya padaku. Apa sekedar untuk
referensi cerpen saja? Atau mungkin ada maksud yang lain. Sbenarnya aku tak terlalu
memperdulikannya. Tapi aku sangat senang saat kau memberanikan diri untuk
memberikannya padaku. Walau tak ada satu patah katapun yang kau lontarkan
padaku. Tapi, aku menghargai keberanianmu itu.
…
Paginya hari Jum’at. Aku memberanikan
diri untuk menemuimu. Saat kakiku melangkah menuju kelasmu, mataku tertuju pada
sebuah bunga Desember ditaman sekolah
yang indah. Aku mendekatinya dan memegangnya. Bunga yang indah namun tak
mengeluarkan aroma yang seindah bunganya. Jujur aku sangat menyukai bunga itu.
Alasannya sangat simple, hanya terdapat di namanya saja. Ya.. Desember. Aku
lahir dibulan yang sama dengan nama bunga itu. Entahlah aku menyukainya karena
itu saja. Tak ada yang lain lagi alasannya. “Resti..” sapamu dari belakang.
Kulontarkan pandanganku kepadamu.
Dan tersenyum melihatmu
tlah ada di hadapanku persis. kau mengajakku duduk disebuah bangku di taman
sekolah. Tak kulupa saat itu, aku juga memberikan sebendel kertas itu padamu.
Dengan satu pertanyaan yang tak lupa ku ucap. “apa maksud dan tujuanmu memberikan ini padaku?. Sejenak kau terdiam
dan mulailah kau mengatakan alasanmu. “aku
hanya ingin kau membacanya. Kau kan suka menulis, tak ada salahnya kan ku
berikan ini untuk referensi tulisanmu?”. Itulah jawaban yang kau lontarkan
padaku. Tak ada yang kurasakan selain lega akan alasanmuu itu. “ini tulisanmu?”.
Satu pertanyaan yang tak mungkin kulupa menanyakan itu padamu. “ iya. Itu milikku”. Jawaban yang
singkat dan aku lebih tenang saat itu. Kau tersenyum, begitupun aku.
…
Mendung datang
menghampiri kesunyianku disini. Dibawah pohon beringin depan sekolah. Desak
angin yang menambah ketakutanku akan hujan. 29 menit aku menunggu ayahku
disana. Kau keluar dari gerbang sekolah. Berjalan dan mulai mendekat kearahku.
Kau tersenyum melihatku sendiri disini. Dan kau hentikan langkah kakimu tepat
disebelahku. “hujan akan datang. Kau tak
pulang?”. Sebuah pertanyaan yang membuatku lebih takut akan datangnya
hujan. Aku hanya mengangguk. 7 menit berlalu. Kau masih setia berdiri
disampingku. sampai saatnya titik hujan yang mulai berjatuhan. Tanpa basa-basi
aku berlari kembali ke sekolah dan aku terhindar dari air hujan yang dingin itu.
Mungkin kau khawatir padaku. Kau putuskan untuk mengikutiku menuju sekolah. “ada apa denganmu?”. Kata itu. Selalu
dilontarkan semua orang saat aku berlari menghindar dari air hujan. Raut
wajahku pastilah sudah mengatakan bahwa aku takut pada air hujan. Dan kau pun
memakluminya.” “tenanglah, hujan takkan
menyakitimu. Kemarilah..”. kata itu, sudah sering ku dengar dari orang yang
selalu membujukku agar aku tak takut lagi akan hujan. Kau ucapkan saat jemari
tanganmu tepat berada di depan mataku. Dan
aku membalasnya. Kau pegang tanganku erat dan membawaku mendekati hujan. Ku
remas tangan mu. Ketakutanku tak terbendung lagi. Menutup mata dan terus
menerus meremas tanganmu yang
dapat kulakukan saat itu. “kau tak perlu
takut. Aku ada disini. Coba rasakan
tetes demi tetes air hujan jatuh membasahi hatimu. Dengarlah gemericiknya.
Rasakan sentuhannya. Hujan, takkan pernah menyakitimu. Hujan, selalu menemanimu
saat kau sendiri. Hujan, yang tak mungkin setiap hari kita temui. Dan aku
yakin, dia datang hanya untukmu. Hanya datang untuk menghiburmu. Dia takkan
tega melihatmu ketakutan akannya. Mulai sekarang kau tak perlu takut akan
hujan. Bukalah matamu, tataplah ia. Dan berikan senyuman manismu kepadanya”
Entahlah, saat
itu aku tak lagi takut akan datangnya hujan.
Bahkan kini aku sangat mencintai hujan. Perkataan orang lain tentang hujan yang
pernah kudengar, kini tak lagi ku ingat. Yang ku tau hanya suara halus yang
singgah di telingaku dan membisikkan ku tentang betapa indahnya hujan. Ya.. itu
kau.
…
Alunan
musik klasik dari kejauhan terdengar saat aku mengajak kaki kecilku menuju
laboratorium IPA. Tepat didepan ruang musik aku melihat kau duduk dan jemarimu
menari diatas puluhan tombol piano. Seketika itu, sebuah getaran yang tak ku
ketahui getaran apa. Detak jantungku berdegup semakin kencang. Mataku tak
mengalihkan pandangannya dari tingkah lakumu yang justru tak pernah kuduga.
Perlahan pandanganmu beralih kearahku. Senyum manismu selalu terpancar saat kau
melihatku. Aku tak dapat berbuat banyak. Hanya sebuah senyuman yang kuberikan
padamu saat itu.
...
Selasa
14 Februari 2011
Hari
kasih sayang. Mm.. aku tak terlalu berharap akan hari ini. Aku tak memiliki
pasangan yang special. Aku hanya memiliki sahabat dan orang tua yang
menyayangiku. Menurutku itu sudah lebih dari cukup. Tapi, tak menutup
kemungkinan sebuah keinginan yang muncul dari hati untuk memiliki seorang
pasangan. Ya... terkadang rasa itu muncul difikiranku. Tapi, untuk hari ini aku
tak akan terlalu berharap.
Pukul
09.45 saat istirahat pertama. Aku dan sahabat-sahabatku hanya duduk dan
bercanda di sebuah bangku yang cukup besar ditengah taman sekolah. Tak lama
disana, kami beranjak dari bangku dan memilih kembali dikelas.
Kelas
yang tampak ramai dengan suara yang riuh, sudah menjadi makanan sehari-hari
disekolah. Mm... penyambutan yang benar-benar menakjubkan. Ku segerakan kakiku
melangkah menuju bangkuku. Dan betapa terkejutnya aku sebuah kotak berwarna
merah jambu dengan 2 pita diatasnya duduk manis dimejaku. Tanpa pikir panjang,
aku langsung memasukkannya kedalam tas merahku.
...
Malam
itu juga aku berniat unuk membuka kotak misterius itu. Dengan rasa penasaran
yang tinggi aku membukanya dengan pelan. Aku cukup terkejut setelah membukanya.
Sebuah teddy bear coklat tersenyum padaku. Bagitupun aku padanya. Dan ku
temukan sepucuk surat didalamnya.
“sebuah boneka teddy bear yang akan menemani hari-harimu.
Tak mahal. Hanya keikhlasan yang dapat kuberikan dihari kasih sayang ini.
Angga
Batapa
bahagianya aku malam itu. Kado pertama dari seorang lelaki dihari kasih sayang.
Ya.. kau memang yang pertama.
...
Malam
ini tak jauh berbeda dari malam sebelumnya. Sepi, sepi, dan sepi. Rasanya ingin
sekali keluar dimalam yang dingin ini. Ya.. aku tau itu tak mungkin. Seorang
wanita yang keluar malam sendiri, itu sangat tidaklah pantas. Belum bahaya yang
nanti aku temui seketika. Huh.. dan aku hanya bisa berpasrah diri dimalam ini.
Bunyi
getaran handphone dua kali. Aku tau itu tanda sms. Kusegerakan mengambilnya.
Dan nomor tak dikenal yang mengirimkanku sebuah pesan.
“aku tau malam ini kau pasti sendiri dirumah. Aku tak
mungkin datang dan menenanimu disana. aku hanya bisa menemanimu melalui pesan
dari jauh saja. Angga.”
Entahlah,
darimana kau memiliki nomorku, aku tak lagi memperdulikannya. Saat itu juga
hatiku sedikit lebih tenang. Dan senyumpun mengiringiku sampai mata ini
tertutup dan mulai memasuki mimpi indah yang kudapati kau disana. dan mulai
saat itulah kau mulai mengajakku berbincang banyak walaupun jarak yang
memisahkan kita.
...
28
Februari 2011
Saat
itu matahari bersinar terang. Angin yang menerpa poni pendekku mengiringi
kesepianku di lantai dua tepat di depan kelasku. Saat semua teman dekatku
pulang aku masih berdiri disana dan menikmati suasana sekolah yang cukup sepi.
Hanya ada beberapa anak PMR dibawah sana.
Aku
senang. Bukan karena sekarang aku tlah mulai akrab dan tahu sisi lainmu, tetapi
aku senang karena aku tlah diizinkan oleh Tuhan untuk mengenalmu lebih dalam
lagi. Tuhan tlah memberiku ksempatan dan anugerah yang tiada henti-hentinya
hingga kini.
Aku
bahagia, saat kau mendekatiku dan memberiku sebendel kertas yang didalamnya
sebuah cerpen buatanmu yang hingga kini aku masih mengingat ceritanya, saat kau
membantuku menghapus segala pikiran burukku terhadap hujan, melihatmu bermain
piano, dan masih juga kuingat saat kau memberiku sebuah teddy bear yang lucu
padaku dengan caramu sendiri yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya, dan
saat-saat pertama kau mengirimkan pesan padaku. Semua itu lebih dari cukup
untukku. Mengenalmu saja tlah melupakan segala masalah-masalah yang datang
padaku. Kau adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menemaniku sebelum mata ini
tertutup dan pergi meninggalkanmu untuk selama-lamanya. Kau adalah pelengkap
kebahagianku didunia ini. Mewarnai hari-hari terakhirku didunia.
Indah.
Ya.. ini semua memanglah indah. Tak pernah kubayangkan sebelumnya aku kan
bertemu makhluk seindah dan sebaik dirimu. Dilain sisi aku juga tak mampu
menganggap ini sangat indah karena aku tak dapat memilikimu seutuhnya. Tapi,
menurutku mengenalmu saja adalah sebuah keindahan dunia yang tak tergantikan
dimanapun, dan dengan kejadian apapun.
Aku
memang mencintaimu. Ya.. itulah kata hatiku. Dan kuharap kau pun sama
sepertiku. Walau aku tau kau dan aku tak kan pernah saling memiliki, tapi aku
juga yakin Tuhan tak kan membiarkan makhluk seindah dan sebaik dirimu hidup
tersiksa didunia ini tanpa seseorang yang nantinya akan menemanimu sampai kau
akan menyusulku di alam yang abadi. Aku akan setia menunggumu disana.
Satu
pesanku, berbahagialah kau didunia. Akan kusampaikan segala keinginanmu pada
Tuhan. Dan akan kupastikan kau akan bahagia disana.
Selamat
tinggal my first love. Kau tlah merubah hidupku menjadi lebih indah.
Resti Noviani.
16
Februari 2011
Komentar
Posting Komentar