Semarang, salah satu potret metafora kehidupan pesisiran. Predikat Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah tak
menjadi jaminan. Nyatanya daerah pesisir masih saja akrab dengan genangan. Yang
tergenang bukan hanya jalanan, tapi mereka pula yang ada di pemukiman.
Predikat
kota lumpia telah melekat bagi kota Semarang.
Tak lupa juga masalah banjir dan rob yang tak lagi asing. Salah satu wilayah
yang berkawan dengan rob dan banjir terletak di Kelurahan Bandarharjo,
Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang.
Di
pagi yang cerah ini, Ahmad Tohar (50) berjalan di atas genangan air rob yang
telah bercampur dengan limbah rumah tangga. Rumahnya yang berdinding seng itu
kini dikepung air rob. Keluar dari rumah dia disapa oleh reranting pohon waru
yang tak lagi bernyawa.
Dia
melewati beberapa pohon mangrove yang tumbuh dengan sendirinya sebagai penyelamat
huniannya. Setiap hari dia harus melakukan hal yang sama sebelum berangkat
bekerja. Ruas-ruas jari kaki yang mulai bersahabat dengan air laut itu melangkah
dengan mudahnya. Bekerja menjadi keharusan, meski banjir dan rob selalu menyapa.
Menghindari
kerusakan mesin, Ahmad Tohar memarkirkan motornya di depan sebuah rumah yang
tak berpenghuni. Rumah yang tinggi atapnya hanya setinggi 1,5 meter itu dibiarkan
terus terendam oleh air rob dan tingginya jalan. Di RT 3, RW 5 kelurahan Bandarharjo
dia tinggal. Salah satu desa yang juga tidak asing dengan banjir maupun rob.
“Pertama
kali jam tiga subuh pernah banjir. Itu kan orang-orang masih pada tidur.
Besoknya ya pada jemur-jemur kasur,” dia bercerita. Sebuah ironi tersembunyi
dibalik senyumnya. Seolah ingin berkata, “Kami sebenarnya menderita”.
Menjadi
salah satu wilayah dataran rendah di Semarang adalah fakta bahwa banjir dan rob
bisa datang kapan saja. Banjir dan rob bahkan menjadi hal yang biasa menyapa. “Pokoknya
sini itu hujan nggak hujan air masuk. Musim hujan dari atas turun, musim panas
dari bawah naik,” ungkapnya.
Air
hujan kiriman yang dibarengi dengan pasangnya air laut membuat warga angkat
tangan pada keadaan. Alat-alat elektronik dan benda berharga diamankan. Begitu
pula dengan terhambatnya mata pencaharian warga yang notabene sebagai pedagang
dan nelayan.
Ahmat
Tohar tak sendiri. Keresahan yang sama juga dirasakan oleh Maryati (48) yang
sejak lahir sudah tinggal di kawasan ini. Baginya, rob dan banjir adalah rutinitas
setiap hari. “Kalau banjir bandang itu tho
mbak, tingginya sampai selutut segini. Biasanya tiga kali dalam setahun,”
ungkapnya.
Rumah
Maryati hanya berjarak kurang lebih seratus meter dari bibir pantai. Sekitar
pukul 14.00 WIB, air rob akan masuk ke desa Ujung Laut ini. Sebuah gelombang
kecil seolah menyapa untuk menghambat waktu santai. Maryati menjadi salah satu
warga yang terus menyaksikan air menyapa pemukiman padat penduduk ini. Maryati
hanya bisa pasrah jika banjir dan rob semakin parah. Baginya, banjir dan rob
adalah hal yang lumrah.
Namun,
rob bukan lagi hal yang tabu bagi masyarakat Ujung Laut. Setiap hari air pasang
akan menyapa kawasan pemukiman. Ketinggiannya bisa mencapai 1 meter sampai 1,5
meter dari batas sabuk pantai. Informasi ini dengan mudah masyarakat dapatkan
melalui Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang bertugas di
bibir pantai.
“Hari
ini ketinggiannya berapa, Pak?” ucap salah seorang warga.
“Hari
ini 1,20 meter, Pak,” Ganis Erucahyo, salah satu prakirawan BMKG menjawab.
“Wah
tinggi ya. Kemarin 1,10 meter aja segini, kalau sekarang 1,20 ya lebih tinggi
ya berarti,” Ucap warga itu dengan raut muka khawatir.
Tidak
hanya warga, sudut-sudut bangunan pun ikut menjadi saksi penderitaan. Turunnya
tanah di daerah ini yang mencapai 13 cm per tahun menjadi ancaman. Terlebih
mencairnya es di kutup utara dan selatan yang akan menambah volume air laut
membuat warga semakin ketakutan.
Tidak
hanya masalah alam, rendahnya tata kelola ruang dan aliran air juga berdampak
langsung pada bencana ini. “Kemungkinan karena banyak perusahaan di bibir
pantai sebelah selatan, itu pada ngebor air tanah, mbak. Jadi konstruksi di dalam air tanah yang tadinya penuh dengan
air tanah, menjadi berkurang dan berongga, dan lama-lama akan mengikis dan
menurun,” ungkap Ganis. Hal tersebut dibenarkan oleh Ahmad Tohar. Pada
kenyataannya sumber air masyarakat di bandarharjo menggunakan sumur artesis.
Pemerintah
kota Semarang selama ini hanya memberikan bantuan berupa gorong-gorong dan
peninggian jalan. Peninggian jalan dilakukan dengan harapan tingginya air laut
masih bisa dikalahkan oleh permukaan jalan. Peninggian jalan nyatanya tak
sepadan dengan upaya warga meninggikan hunian. Alhasil, jalan dan hunian terus
kejar-kejaran menghindari ancaman genangan.
Hal
yang sama juga dilakukan Maryati dan Keluarga. Meninggikan hunian berharap air
tak akan menyapanya. Namun mirisnya, masih banyak rumah yang dibiarkan
tertimbun perlahan. Beberapa di antaranya seluruh isi rumah tak berpenghuni
seolah menjadi kolam berlemari.
Melihat
kondisi yang ada Ahmad dan Maryati malah enggan pindah. Selain mata pencaharian
mereka yang masih di sekitaran pemukiman, alasan terkuat hanya betah.
“Secara
ekonomi sebagian sudah mampu, ya tapi semuanya betah di sini,” Ahmad
mengungkapkan. Bahkan Maryati menyatakan enggan pindah meskipun diberi bantuan
rumah di kawasan yang lebih aman. “Ya kalau punya rumah lain ya mending pindah mbak. Tapi kan ndak punya. Kalau
pemerintah ngasih bantuan paling kan nanti disuruh bayar,” katanya.
Banjir
dan rob Semarang, bukan lagi bencana tahunan, melainkan harian. Entah sampai kapan mereka
bertahan. Terjebak dalam ancaman genangan. Masyarakat dan bencana makin dekat
layaknya sahabat. Yang warga inginkan hanya mencapai titik kering dan nyaman.
Sudah seharusnya pemerintah bertindak, bukan hanya bualan janji semata, namun
kerja nyata. Warga tak bisa dibiarkan terus menunggu, mereka bukan pengemis
bantuan, tapi berhak mendapat bantuan. (Dyana Ulfach)
(Tugas Jurnalistik media cetak yang sedikit diutak-atik, dokumentasi foto hilang, semester enam, 2018)
(Tugas Jurnalistik media cetak yang sedikit diutak-atik, dokumentasi foto hilang, semester enam, 2018)
Komentar
Posting Komentar