Menerima Diri Sendiri Saja Nggak Cukup

(Pixabay)


November 2018 adalah awal saya mulai memikirkan eksistensi diri saya di dunia ini. Bukan tentang seberapa tenar saya di kalangan teman sebaya, namun saya mulai mempertanyakan hakikat saya sebagai manusia.

Menuju usia 21, kala itu pertanyan tentang siapa diri saya, kenapa saya ada, dan untuk apa saya ada di dunia tiap hari muncul di kepala saya. Saat itu saya sedang dalam masa transisi dari kesibukan PKL menuju skripsi. Lebih lagi pertanyaan hakikat saya menjadi mahasiswa juga muncul saat itu.

Alih-alih mengerjakan skripsi, saya malah menundanya selama tiga bulan untuk lebih banyak berdiam diri dan mempertanyakan hal yang seharusnya saya tanyakan pada diri saya sejak saya menginjak usia 17 tahun. Ya tapi karena terlalu baiknya Gusti Allah pada saya, akhirnya saya masih diberi kelonggaran untuk nakal sampai menjelang 21 tahun itu.

Memori mengenai apa saja yang sudah saya lakukan 5 tahun belakang menjadi landasan saya dalam mempertanyakan diri saya. Ternyata hampir 21 tahun saya melewati nikmatnya dunia bersama diri saya, tidak lantas membuat saya mengenal diri saya yang sebenarnya.

9 Desember saya memutuskan untuk mengiyakan ajakan teman saya untuk naik gunung. Sejak 2015 saya memang belum pernah naik gunung lagi. Dan pendakian kali ini sangat saya dedikasikan untuk diri saya. Kata orang, kamu akan tahu sifat asli temanmu kalau kamu sudah pernah traveling bersamanya. Dan kali ini meskipun saya traveling bersama teman-teman, saya ingin menikmatinya sebagai perjalanan mengenal diriku sendiri.

Gunung Prau menjadi pilihan kami. Meskipun saya sudah pernah mendaki gunung ini, namun jalur yang saya lewati kali ini berbeda dengan jalur yang pernah saya lewati sebelumnya. Tentu saja ini akan menjadi pengalaman baru bagi saya. terlebih kata teman saya jalur ini lebih landai. Alhasil saya sedikit lebih tenang. pasalnya orang yang jarang olahraga macam saya mana kuat kalau harus melewati jalur patak banteng. Tanjakannya ngeri euy.

Saat perjalanan itu saya lebih banyak berdiam diri. Hanya berbicara seperlunya saya dengan teman saya. Mereka nggak tahu saja kalau dalam pikiran saya berkecamuk pertanyaan yang itu itu saja. hehe nggak inovatif blas, pancen.

Perjalanan itu menghasilkan sebuah simpulan dangkal. Saya merasa lebih dekat dengan diri saya, dan beberapa hal yang baru saya sadari saat itu. Termasuk bagaimana cara saya beradaptasi dengan orang baru apalagi lawan jenis. Edan, itu butuh evort yang sangat amat tinggi banget lah. Hiperbola.

Bulan-bulan berikutnya saya mulai banyak membaca dan menonton tentang kepribadian seseorang, tentang mengelola emosi, dan kisah orang-orang yang berhasil melewati fase damai dengan dirinya sendiri. Ini membuat hati saya juga ingin merasakan hal yang sama. Berkali-kali saya tangisi masa lalu saya yang "bahagia tapi kelam" dan saya selalu mencoba mencari jalan syukurnya.

Meskipun ada gang kecil menuju jalan syukur, tapi ternyata gang itu buntu. Pikiran saya selalu kembali ke menyalahkan diri saya dan orang di sekitar saya tentang tragedi yang pernah saya alami. Barangkali hingga tulisan ini terbit pun, saya masih belum bisa berdamai dengan itu. Buktinya tragedi saya alami selama ini masih menjadi rahasia saya dan keluarga saya.

Meskipun tahun 2019 adalah tahun berbaliknya banyak hal tentang diri saya yang dulu, tetap saja satu titik kecil itu tetap terngiang di kepala saya. Butuh keberanian super untuk menceritakannya. Meskipun dengan teman dekat pun saya masih belum berani menceritakannya. Dan saya selalu berhasil menangis tersedu-sedu saat berusaha menceritakan itu pada diri saya sendiri. haha aneh.

Saya menyadari, proses saya selama ini ternyata stuck di menerima diri saya. Saya begini, begini, dan begini. Ya sudah, mau gimana lagi. Hanya itu. Saya lupa bahwa menerima diri sendiri saja nggak cukup. Berdamai dengan diri sendiri saja nggak cukup.

Kesadaran ini saya dapat setelah berdialog dengan salah seorang kakak tingkat saya di kampus. Dia berkata, "Kita nggak bisa berhenti di menerima dan berdamai dengan diri kita sendiri. memangnya kamu setelah menerima dirimu mau apa?" Pertanyaan yang membuat saya cukup mikir juga wkwk

"Kita nggak bisa berhenti di 'yaudah aku emang begini' tapi setelah ini apa nih? kita harus ada pikiran 'oh kalau aku sekarang begini setalah ini aku harus begini' gitu," ungkapnya dengan sedikit banyak modifikasi tulisan.

Itu cukup menyadarkan saya; ternyata selama ini saya salah paham dengan konsep self acceptance. Konsep ini sebenarnya nggak berhenti di menerima dan berdamai dengan diri sendiri, tapi harus dibarengi dengan rencana ke depan. Oke, hari ini saya menerima bahwa diri saya adalah pemalas, bosenan, dan hal negatif lain yang melekat pada diri saya. Tapi di balik itu, saya harus bisa memanfaatkan kemalasan saya itu untuk hal yang lain. Gegoleran sambil mikir konten kan caem yak.

Lebih lagi hal yang sedang saya alami ini. Hari ini saya benci dan menerima dosen pembimbing skripsi yang sedemikian adanya, tapi di balik derita dan tragedi yang saya alami hari ini harus ada output lain yang bisa saya ambil. Saya bisa belajar memanage waktu dengan baik, lebih sabar, latihan etika berkomunikasi di whatsapp, dll. Mungkin jadi nggak jauh beda dengan hikmah dari tiap kejadian. Tapi hikmah harus dibarengi dengan action lain yang menjadikan hikmah sebagai dasarnya. wejyan.

Dan barangkali suatu saat nanti, tragedi ini akan menjadi hal yang saya tertawakan kelak. Seperti salah seorang komika yang pernah berkata, "Kamu bisa dikatakan benar ikhlas kalau sudah bisa menertawakan tragedi yang pernah kamu alami."

Ini bisa kita tarik simpulan bahwa tragedi sebesar apapun yang sedang kita hadapi hari ini, kalau kita ikhlas menjalaninya sebagai sebuah proses, suatu saat tragedi hari ini bakal jadi sesuatu yang bisa kita tertawakan kelak. sebab mencapai titik ikhlas memang butuh waktu, maka syukurilah, nikmatilah. nggak apa kalau kamu ambyar hari ini. menangislah hari ini suatu saat kalau kamu mengingat hari ini kamu bakal bilang,

"Anjir ndisik aku nangis cuma gara-gara skripsi ki yo ngopooo yaaa?"

November 2019

Komentar