Sepucuk Rindu

(Pixabay)

Pagi pukul delapan di pelataran rumah, gadis itu duduk sambil memainkan kakinya. Kepalanya lebih sering menengok ke kanan: menunggu pak pos datang. Pipinya merona, karena hari ini adalah hari bahagia baginya. Sepucuk surat akan datang kepadanya, sebagai balasan dari surat yang telah dia layangkan kepada sang pemilik hati yang jauh di sana.

Matanya menyala dan bercahaya, tatkala melihat pria paruh baya mengendarai sepeda butut dengan segepok kertas di ranjang sepedanya. Dia tahu, hari ini pria paruh baya itu akan memberikannya sepucuk surat untuknya. Kring... kring... kring...

“Sepucuk surat dari yang terkasih, berwarna coklat seperti warna matamu.”
Gadis itu hanya tersenyum malu menanggapi ucapan pria paruh baya itu. Pipinya tambah merona ketika dia cium aroma suratnya. Aroma yang penuh kerinduan, katanya. Tangannya sedikit gemetar, jantungnya pun berdegup cukup kencang. Setelah sembilan hari menanti, selembar kertas yang dia nanti kini ada dalam dekapannya.

Dia duduk di sebuah balkon rumahnya. Angin pagi, sinar matahari, dan kicauan burung menemaninya membaca surat beramplop cokelat itu. Dia buka amplop itu dengan sangat hati-hati, takut rusak katanya. Karena surat beserta amplopnya ini akan dia simpan dengan rapi dalam kaleng bekas roti lebaran setelah dibaca.

Kali ini dia mendapati dua lembar kertas di dalam amplop. Tulisan dalam surat itu ditulis menggunakan tinta berwarna hitam. Ditulis rapi tanpa coretan. Dua lembar surat itu dilipat dengan rapi dan sangat hati-hati. Gadis itu bisa merasakan ada sejuta rasa pada amplop dan dua lembar surat itu.

Gadis itu mulai membaca isi surat itu. Matanya membesar dan sangat antusias. Pipinya merona, dan bibir tipisnya tak henti-hentinya mencipta senyum yang sangat manis. Gadis itu merasakan ada ketulusan yang amat dalam dari setiap kata yang ditulis. Kata-katanya dibiarkan mengalir membawa dirinya terbang ke angkasa. Kata-kata itu menjelma sayap putih yang akan mengantarnya ke sebuah ruang berdinding kaca.

Dia melihat laki-laki itu. Berdiri tegak dengan seragam sekolahnya. Atasan putih, celana abu-abu pendek, ikat pinggang hitam, sepatu hitam, rambut disisir rapi,  dengan mata yang berbinar. Gadis itu melihatnya, pun laki-laki itu kepada sang gadis. Mereka saling melempar senyum terbaiknya. Kata-kata itu adalah jelmaan pertemuan yang mereka dambakan. Melalui surat inilah mereka bertemu, bercanda, bercerita, bahkan bercinta.

Dua tahun sudah, gadis itu mengoleksi surat-surat dengan parfum yang tidak pernah berubah dari laki-laki bermata cokelat itu. Setelah pertemuan mereka yang terhitung singkat, mereka harus berpisah ketika nikmat Tuhan akan rasa kasih muncul di antara mereka. Kini, hanya lembaran kertas yang bisa mempertemukan mereka.

Sebuah kisah tentang jarak yang terhubung melalui kata. Sebuah kisah yang menggambarkan nikmat kasih Tuhan kepada hamba-Nya. Sebuah rasa penuh dinamika yang melintasi ruang dan waktu. Sebuah karya yang tercipta tulus dari hati dan akan sampai ke hati. Sebuah penantian yang membahagiakan. Sebuah pertemuan yang fana dan hampa. Di ujung hari dimana gadis itu menerima surat ke seratusnya, dia terus bertanya. “Adakah cara lain yang lebih indah dari sepucuk rindu yang bisa menghubungkan rinduku padanya?”

25 Agustus 2019

Komentar