Negeri Abu-abu

(Pixabay)

Seorang anak laki-laki dengan mata bulat yang menganga, memandang dunia yang fana. Kakinya menjinjit, menghindari tulang belulang nenek moyang dan tetangga-tetangganya yang berlumuran darah. Bisikan angin yang menyadarkannya, setelah ledakan puluhan kali hampir menghancurkan gendang telinganya.

Rumah tiada lagi punya rupa. Rata dengan tanah yang dia pijak. Reruntuhan dan debu adalah pemandangan luar biasa yang secara ajaib akan membuatmu membasuh mukamu dengan air mata. Sunyi. Hanya ada suara angin dan kesedihan tak berujung. Sesekali suara senapan mengudara dan membuat jantungnya terpacu lebih cepat. “Kemana duniaku yang kemarin?” batinnya.

Kali ini dia beranjak. Kakinya ngilu setiap kali dia melangkah. Dia menyusuri bekas gang rumah yang kini sesak oleh reruntuhan. Matanya masih mencari-cari. Di manakah mereka menyimpan rasa kemanusiaan? Apakah jatuh tertimbun reruntuhan? Atau mungkin telah mereka kubur di pemakaman masal itu?

Dentuman terakhir menyadarkannya; dunianya sedang tidak baik-baik saja. Dia berlindung di balik sebongkah tembok berwarna abu-abu. Batu bata berserakan. Genting pun pecah berkeping-keping. Dia melindungi kepalanya dengan dua telapak tangan yang dia letakkan di atas ubun-ubunnya.
Setelah dentuman itu berakhir, perlahan dia berdiri mengamati kanan kiri. Dia bersiaga barangkali letusan selanjutnya ada di sekitar tempat persembunyiannya.  Aman, dia mencoba berdiri setegap mungkin lalu keluar dari tempat persembunyian dengan perlahan.

Dadanya kini sesak. Penuh debu dan geram. Dia kembali mematung melihat tempat dia biasa bertemu Tuhan yang ikut runtuh. “Tuhan tak lagi punya rumah,” batinnya. Kepulan asap hitam melambung tinggi di arah barat daya. Dia hanya terdiam menatapnya.

Bruk! Pyar! Sebuah jendela kaca dari rumah tetangganya jatuh bersama tembok yang mengelilingi jendela itu. Dia pikir itu jendela kamar teman mainnya, sebab ada stiker dinosaurus di sana. Saat jendela kaca itu jatuh, dia tahu teman mainnya tak lagi seriang dulu.

Ibunya telah dikubur dua hari lalu setelah berani menghadang tentara bersenapan di garis perbatasan. “Ini tanah kami! Jancok kalian semua!” begitulah ibunya berteriak memimpin rombongan ibu-ibu yang lain. Sampai akhirnya tiga peluru membuat baju hitam sang ibu berlumuran darah. Satu peluru tepat menancap di dada. Satu lainnya menembus ginjal. Satu lainnya hampir meleset dan hanya mengenai lengan kanan sang ibu.

Ayahnya ikut berjuang dengan sembunyi-sembunyi melempar batu dan bom molotov dari balik bukit di dekat garis perbatasan di utara kampung. Kabarnya lemparan ayahnya telah berhasil mengenai seorang tentara yang sedang bercinta dengan budak yang dia culik dari kampung sebelah. Lima menit setelahnya, saat ayahnya akan melempar bom molotov yang kedua, sebuah panah lebih dulu menancap tepat di mata ayahnya. Bom molotov itu pun lepas dari tangan ayahnya dan jatuh lalu membakar ayahnya seketika.

Kini dia pun menyadari kesendiriannya. Ingin sekali dia menangis. Tapi semua yang ada di hadapannya membungkamnya. “Tuhan telah mati tertimpa reruntuhan,” pikirnya. Tidak ada lagi tempat mengadu. Debu yang beterbangan menemaninya melangkah entah kemana. Menjauhi reruntuhan dan mencari pohon untuk berlindung adalah satu-satunya ide yang muncul di benaknya.
Tapi tidak ada lagi yang tersisa kini. Segala kenang seumur jagung harus dia tanggung dengan kepedihan. Segala harap yang pernah terucap bersama teman sebangku juga bertaburan bersama debu. Rasanya sangat sulit untuk ditangkap dan menyusunnya kembali. Semua mimpi terasa jauh dan sukar digapai. “Akankah matahari akan terbit kembali esok?” pikirnya.

Dia meringkuk di samping mobil sedan yang setengah remuk. Dia menunggu anak buah Tuhan menjemput. Ditatapnya kaki kecil penuh luka tanpa alas kaki itu. Dia sendiri. Satu-satunya saksi hidup di tengah reruntuhan dan debu. Dia sendiri, menanggung kekacauan dan kemelaratan nurani. Dia sendiri, tak tahu jalan dan tempat untuk kembali.

26 Agustus 2019

Komentar