![]() |
| Kediaman Sang Radja Goela yang kini menjadi kantor OJK (Otoritas Jasa Keuangan) Semarang. (Dyanaulfach.blogsot.com/ Dyana Ulfach) |
Semarang
- (10/6) Bersukaria tour kembali mengadakan walking
tour jalur Radja Goela. Sesuai namanya, perjalanan ini dilakukan dengan
berjalan kaki.
Perjalanan
dimulai dari Kantor Pemerintah Gubernur Jawa Tengah sampai gedung Porestabes
Jateng. Di persimpangan jalan, story
teller menjelaskan sejarah Tugu Rebung dan Jalan Pemuda. Perjalanan
berlanjut melewati Jalan Veteran. Di sepanjang Jalan Veteran nampak beberapa
bangunan dengan arsitektur Belanda. Perjalanan berlanjut ke Jalan Kiai Saleh,
lokasi kediaman Radja Goela (Oei Tiong Ham) yang kini menjadi kantor OJK
(Otoritas Jasa Keuangan).
Setelah itu
peserta walking tour diajak
berkeliling desa yang dulunya masih merupakan kawasan rumah Radja Goela.
Peserta juga diajak mengunjungi makam Raden Pandanaran yang terletak di sebuah
bukit. Perjalanan ini berakhir di depan Gedung Berlian.
Bersukaria
adalah sebuah komunitas tour yang
bertujuan untuk mengenalkan potensi wisata bersejarah dan berbudaya di Jawa
Tengah. selain walking tour
bersukaria juga memiliki agenda open trip
ke objek wisata bersejarah di Jawa Tengah seperti di Dieng, Lasem, dan
Pekalongan.
“Soalnya kalau
kita bicara wisata, kalau kita membandingkan dengan Bali, jelas kita kalah.
Makanya kita mau coba mengangkat yang emang asli murni dari bumi Jawa Tengah
ini untuk dipromosikan ke Indonesia dan mencanegara juga,” ungkap pendiri
Bersukaria, Dimas Suryo.
![]() |
| Dimas Suryo, pendiri Bersukaria sedang menjelaskan sejarah Jalan Pahlawan, Semarang. (Dyanaulfach.blogspot.com/ Dyana Ulfach) |
Walking tour
yang tidak dipatok biaya ini bisanya dilakukan setiap hari Sabtu sore dan
minggu pagi. Namun karena bulan ramadan jadwalnya pun beralih ke sore hari.
Rute yang ditawarkan oleh Bersukaria ada 11
rute dan 1 rute spesial. 11 rute tersebut adalah rute Radja Goela, Kota Lama,
Multikultural, jalan ke Pecinan, jalan ke Kampung Kauman, jalan ke Pemuda,
Kampung Kota, Mataram, Candi Baru, Jatingaleh, dan kereta api. Rute spesial
hanya dilaksanakan setiap ada peringatan tertentu, seperti pertempuran 5 hari
di Semarang dan Maerokoco.
“Sebenernya saat
ini kita juga masih mengembangkan rute yang lain sih mbak, tapi itu kapannya tinggal tunggu tanggal mainnya,” Dimas
menambahkan.
Walking tour
kali ini diikuti oleh 9 orang dari berbagai usia dan latar belakang. Salah
satunya adalah Hanung Cahya, mahasiswa sejarah Unnes.
“Ya saya ikut walking tour karena saya ingin tahu
sejarahnya. Selama ini kan cuma tahu gedungnya tapi nggak tahu ceritanya,”
Hanung menjelaskan.
Selain
sebagai ajang promosi kegiatan di Bersukaria,
Dimas juga berharap walking tour menjadi
salah satu solusi bagi orang yang ingin belajar sejarah dengan cara yang
menyenangkan.
(Tugas Jurnalistik Media Cetak, 2018)


Komentar
Posting Komentar