Bodjong Weg, Pusat Perekonomian Kota Semarang dari Dulu Hingga Kini

Bodjong Weg yang kini menjadi Jalan Pemuda. (Dyanaulfach.blogspot.com/ Dyana Ulfach)


Hari ini (24/6), mentari berpihak padaku. Ronanya mengiringi perjalanku dengan kawan sebayaku menuju swalayan Sri Ratu, Semarang. Pukul 08.10 –waktu dimana becak sepeda dan becak motor mulai beradu laju, dan asap-asap warung kelontong mulai mengepul– kami sampai di tempat tujuan kami.

“Swalayannya belum buka, Mbak,” kata petugas parkir.

“Iya pak, kami mau nitip motor saja,” kata temanku.

Petugas parkir pun menyilakan kami untuk memarkirkan motor di area itu. Kami tidak kaget kalau swalayan ini belum buka. Lagi pula bukan swalayan ini yang menjadi tujuan kami.

Kami bertemu dengan mbak Ika –salah satu Story Teller di Bersukaria–. Dia menunggu di seberang toko Oen –toko disert paling legendaris di kota Semarang–. Lengkap dengan seragam dan id cardnya, mbak Ika siap menemani perjalanan kami pada pagi hari ini.

Hari ini Bersukaria mengadakan walking tour jalur Bodjong. Jalur ini akan membawa kita pada sekarang di puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. Tepatnya sebuah memori dan sejarah di jalan Pemuda.

Perjalanan kami dimulai dari swalayan Sri Ratu, tempat yang menjadi titik kumpul kami. Kami menyusuri trotoar dan berhentilah kami di depan toko Naga Mas yang kini tak lagi beroperasi. Toko ini menjadi salah satu bukti bahwa dahulu kala, sebelum jalan metropolitan ini dinamai jalan Pemuda, mereka menamainya dengan jalan Bodjong. Selain itu toko alat tulis Nam Bie juga menjadi saksi bisu sejarah jalan Bodjong ini. Bahkan toko Nam Bie masih berdiri kokoh dan melayani pembeli.

Kata Bodjong berasal dari bahasa Belanda. Bodj berarti kapal, dan Ong berarti pemuda. hal ini dikarenakan lokasi jalan ini yang dekat dengan tempat berlabuhnya kapal-kapal pada zaman dahulu. Sudah sejak zaman Belanda memang, jalan ini menjadi jalan yang ramai dan dipenuhi gedung-gedung penting, seperti gedung Pacific Motor Coy yang kini menjadi ATM Mandiri. Dahulunya gedung ini merupakan gedung biro perumahan yang kemudian beralih fungsi menjadi showroom motor. Arsitektur bangunan ini masih sama dengan aslinya. Bahkan gedung ini kini menjadi salah satu bangunan cagar budaya dan dilindungi oleh pemerintah kota Semarang.

Matahari kian terik rupanya. Beruntung suhu di kota Semarang masih normal di sekitar angka 330 C. Tapi panasnya kota Semarang yang khas tidak mengikis semangat kami untuk terus menelusur dan belajar. Meski peluh mulai meluncur di kening dan leher kami, semangat kami masih begitu membara.

Bangunan Toko Naga Mas yang menjadi saksi bisu Bodjong Weg. (Dyanaulfach.blogspot.com/ Dyana Ulfach)


Perjalanan kami kembali terhenti di persimpangan Paragon mall. Di seberang jalan terlihat gedung Pertamina yang dahulunya adalah gedung perminyakan pula. Begitupun Paragon mall yang berdiri kokoh dan megah. Dahulunya gedung yang menjadi tempat hangout pemuda zaman now itu juga menjadi tempat berkumpulnya anak-anak muda Belanda. Bahkan di area tersebut juga terdapat bioskop. Tak heran, kenapa kini tempat itu juga menjadi tempat nongkrong pemuda Semarang.

Perjalanan terus berlanjut. Kaki kami kembali rehat di depan gedung Basemen Polisi Militer IV/5 Semarang. Mbak Ika menjelaskan bahwasannya dahulu gedung ini digunakan sebagai markas pemuda Semarang yang memiliki ketertarikan dengan motor. Tak salah jika hingga kini anak-anak motor Semarang juga kerap kali berkumpul di jalan Pemuda ini.

Bodjong Weg bertransformasi menjadi jalan Pemuda seiring dengan kebijakan di era pemerintahan Ir. Soekarno yang mengubah semua hal yang berbau Belanda dengan nama Indonesia (Nasionalisasi). Kebijakan ini pun berlaku bagi nama jalan, termasuk jalan Bodjong. Meskipun namanya berubah, jalan Pemuda masih difungsikan sama seperti sedia kala.

Selain gedung-gedung pertokoan, di jalan ini pun terdapat gedung sekolah, yaitu SMA N 5 dan 3 Semarang. Kedua sekolah ini pun dahulunya merupakan sekolah setingkat SMA.

Meninggalkan kawasan sekolahan, kami menyeberangi jalan pemuda dengan tujuan balai kota Semarang. Kami memanfaatkan tombol pintar yang akan memunculkan lampu merah secara otomatis. Tombol ini disediakan untuk membantu siswa-siswi yang hendak menyeberangi jalan tanpa khawatir. Mengingat bahwa jalan pemuda yang ramai dan kini searah, tentu tombol ini cukup membantu kami.

Perjalanan belum berakhir. Kami menyambangi Balai Kota Semarang yang sangat megah. Di tempat inilah kami beristirahat sejenak. Melepas lelah dan mengabadikan memori hari ini supaya menjadi sejarah di kemudian hari.

Perjalanan ini berakhir di sebuah bangunan yang menjadi salah satu ikon di kota Semarang: Lawang Sewu. Bangunan antik yang melegenda ini sedang ramai dikunjungi para wisatawan. Meski telah direnovasi, autentitas bangunan ini masih terjaga. Kami hanya menikmati bangunan megah ini dari balik pagar saja. Melihat wisatawan berlalu-lalang agaknya membuat dada ini merasa bangga menjadi warga Ibu Kota Jawa Tengah ini.
          
Sebuah perjalanan yang tak hanya jalan santai. Layaknya mesin waktu, melihat Bodjong weg dengan segala kenangan manisnya membuatku terbuai. Meski peluh bersahabat dengan lunglai, sejatinya kaki ini merekam memoar yang tak bisa dilalai. (Dyana Ulfach)

(Tugas Jurnalistik Media Cetak, 2018)

Komentar