Merajut Indonesia dengan Keberagaman

(Pixabay)


Indonesia adalah negara multikultural. Tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia adalah negara dengan tingkat heterogenitas yang tinggi. Ribuan pulau yang terbentang dari sabang hingga merauke, telah memeluk lebih dari 740 suku bangsa, 726 bahasa, berbagai agama dan cara pandang, bahkan cara hidup masyarakat Indonesia adalah sebuah kekayaan. Keberagaman budaya yang tumbuh di Indonesia adalah kekuatan utama bagi negara yang menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Ika ini.
Sejarah membuktikan bahwa kebudayaan Indonesia dapat hidup secara berdampingan dan berjalan secara pararel. Misalkan saja kebudayaan moderat yang mampu berdampingan dengan kebudayaan di pedesaan, bahkan dengan kebudayaan berburu yang masih ada di bebeapa tempat di Indonesia.
Dengan keberagaman yang ada, sejatinya masyarakat Indonesia yang majemuk ini adalah masyarakat yang rapuh. Alih-alih dijadikan kekuatan, keberagaman ini justru dijadikan alat pembeda satu sama lain dan berpotensi menimbulkan konflik. Tidak salah ketika ada sebuah celoteh yang mengatakan “Korea Utara dan Korea Selatan sibuk mencari persamaan agar keduanya bisa berdamai, tapi Indonesia yang utuh malah mencari perbedaan untuk terpecah belah”.
Konflik yang sering muncul di Indonesia adalah konflik yang menyinggung suku, ras, dan agama. Konflik semacam itulah yang kini melemahkan sendi-sendi bangsa –konflik yang mencoba membuat Indonesia lebih dewasa dari 73 tahun, konflik yang mencoba menyadarkan Indonesia tentang keindonesiaannya, konflik yang mencoba meleburkan kearifan lokal di Indonesia–. Ya, konflik yang secara perlahan membuatmu lupa apa dan bagaimana Indonesia.
Paparan arus informasi yang begitu deras dengan konten yang bermacam-macam ini pula yang mampu mempercepat tumbuhnya konflik. Sosial media yang juga berkembang begitu pesat di Indonesia pun turut mengundang pertikaian dan konflik. Sebuah wadah yang harusnya mendekatkan yang jauh, malah menjadi meributkan yang tenang. Sebagian masyarakat sadar, media sosial sangat menguntungkan, namun sebagian yang lain melihat dari sisi lain; menguntungkan untuk menjatuhkan pihak yang lain.
Ujaran kebencian rasanya telah menjadi suatu kewajaran. Bahkan ada akun media sosial yang khusus untuk melakukan hal semacam ini dengan sengaja dan sadar. Tanpa disadari kebebasan berekspresi masyarakat Indonesia sudah melampaui batas. Batas yang saya maksud adalah melampaui norma-norma kesopansantunan yang ‘harusnya’ telah mendarah daging di masyarakat Indonesia.
Organisasi-organisasi yang tak sepaham dengan ideologi Indonesia mulai menjamur. Dengan mudahnya mereka merekrut dan beraksi di sana-sini. Mereka lupa jati diri yang ‘harusnya’ dipertahankan dengan sekuat tenaga. Mereka lupa hakikat menjadi Indonesia.

Lemahnya pengawasan juga membuat sekelompok masyarakat menjadi semakin liar. Berlindung dari sebuah kata demokrasi dan hak asasi manusia (HAM), masyarakat cenderung tak lagi rasional dalam memandang perbedaan dan keberagaman. Seolah semua hal bisa disamaratakan, nyatanya itu bumerang paling ampuh untuk menghancurkan Indonesia secara perlahan.
Bukankah hak utama manusia adalah hidup? Tapi hidup dengan mematikan hak hidup orang lain pun tak bisa dibenarkan dengan dalih apa pun. Bukankah setiap individu berhak berpendapat dan berekspresi? Ya, tentu. Tapi apa dan bagaimana caranya itulah yang menjadi PR bagi masyarakat Indonesia.
Pada kenyataannya masyarakat Indonesia belum bisa memaknai “Bhineka Tunggal Ika” yang sesungguhnya. Terlebih generasi milenial yang cenderung individualis akan memperjelas jarak antara golongan satu dengan yang lain, bahkan kesatuan yang diidam-idamkan Indonesia pun perlu dipertanyakan.
Jelas, peran pemerintah dalam konteks menjaga keanekaragaman kebudayaan menjadi sangat penting. Dalam konteks ini pemerintah berfungsi sebagai pengayom bagi setiap warganya. Termasuk penjaga hubungan antar kelompok atau golongan di Indonesia. Mencegah terjadinya perpecahan adalah tujuan utama.
Namun, peran pemerintah saja tak cukup. Masyarakat juga harus sadar makna 238 juta jiwa yang melekat pada diri mereka. Para pelajar atau kaum muda Indonesia pun memegang peranan yang tak kalah penting dengan pemerintah. Sebuah keutuhan yang dapat diperjuangkan dengan semangat nasionalisme. Bahwa keberagaman bukanlah bumerang, melainkan amunisi terbaik untuk keutuhan. Bahwa perbedaan bukanlah penghalang, tapi sebuah nikmat yang menyatukan.

Pada dasarnya konflik-konflik semacam itu bisa dikendalikan bahkan dimusnahkan dari beradaban. Kuncinya hanya menjadi pribadi yang bisa menghargai. Klise kedengarannya tapi bermula dari menghargai akan muncul saling menghargai. Menghargai tidak hanya tentang perbedaan, persamaan pun butuh penghargaan. Menghargai bukan hanya tentang pendapat, tapi tindakan dan hak orang lain pun butuh penghargaan. Ketika kita bisa menghargai diri sendiri, hidup kita sendiri, tentu kita akan menghargai orang lain mulai dari pikiran yang kemudian ke tindakan.
Saya sendiri yakin, masih ada sebegitubanyaknya orang yang sadar mengenai hal ini. Mereka adalah yang mencoba membuat Anda, Dia, Mereka, dan Kalian berubah menjadi Kita. Karena Indonesia bukan hanya tentang Saya, Anda, Dia, Mereka, ataupun Kalian. Indonesia adalah Kita: 238 juta jiwa yang terlahir memang untuk berbeda dan menikmati perbedaan itu.


(Tugas Jurnalistik Media Cetak, 2018)

Komentar