Aksatriya


Aku tahu dan sadar betul, hari ini adalah hari yang sangat Ibu tunggu-tunggu. Tanggal 3, aku akan mendapat gaji bulanan sebagai pendesain kaos di perusahaan mantan kekasihku.
Rutin aku memandang wajah tampanku di cermin. Pada usiaku ke-23, postur tubuhku makin atletis. Ini adalah berkat tiap sore aku berolahraga di pekarangan rumah. Walaupun hanya menggunakan sebuah pedang panjang dan sebatang pohon pisang yang akan aku habisi dalam waktu kurang dari satu jam.
Rumah ini masih sama. Sepi seperti tak berpenghuni. Terlebih setelah kepergian Ayah 16 tahun lalu. Tak ada canda, tawa, dan teriakan “gool!!” bersamanya, sepeda masa kecilku berkarat, sengsara tak bertuan, tak ada berkebun di pekarangan rumah, dan sekarang tempat itu sudah aku sulap menjadi tempat berolahraga. Kadang, aku rindu Ayah.
“Bangun! Sudah siang!”                  
Ah suara itu lagi. Aku benci dengan suara besar itu. Dia ibuku, tapi aku meragukan keibuannya. Memasak, mencuci, membereskan rumah, meminta jatah ketika tanggal mulai berkepala tiga, marah, dan menangis. Itu saja yang dia bisa. Wanita bodoh! Tidak berpikir sebelum bertindak. Emosi dia jadikan teman, setan dia kasihi, dan merasa rindu ketika sepi dia buat sendiri, sukses tercipta. Bodoh!
Aku tak membalas perintahnya. Wanita super sok tahu itu tidak tahu kalau aku sudah membuka mata jauh sebelum dia memanggil. Kalaupun dia memintaku bangun, tak akan ada sepotong roti dan secangkir teh di meja makan.
Akhir-akhir ini Ibu menjadi pemalas. Yang dia tahu hanya jendela besar di dekat meja makan yang menghadap langsung ke pekarangan rumah. Duduk di kursi goyang kesayangan Ayah.
Aku benci kesunyian rumah yang semakin tak terurus ini. Radio di dekat dapur aku nyalakan. Mengusir sepi yang membuatku hampir gila.
“Jangan keras-keras! Ibu masih mengantuk!”
Aku tidak memedulikan ucapan Ibu. Radio butut Ayah masih mengalunkan lagu pop yang terdengar asing. Hanya radio inilah yang membuatku merasa Ayah masih ada.
“Tidak masak lagi, Bu?”
Percuma aku bertanya. Wanita itu tidak akan peduli. Bahkan dengan dirinya sendiri.
Aku masih ingat ketika umurku tujuh tahun, Ayah pulang kerja membawa tiga potong ayam goreng. Kala itu Ayah dan Ibu tersenyum dan sangat memperhatikanku. Tak kusangka, malam itu adalah malam terakhir Ayah di meja makan.
Malam itu hujan cukup deras. Tuhan mungkin sedang baik, menyamarkan suara riuh di meja makan setelah aku masuk kamar dan berharap aku tidak akan mendengar pertengkaran rutin Ayah dan Ibu. Tapi aku tidak sebodoh itu. Aku masih mendengar suara mereka. 
“Bajingan! Kerja seharian cuma dapet segini? Kamu kerja sambil ngamar sama siapa?”
lambemu, Par! Istri macam apa kamu?!”
Ibu tidak pernah tahu apa yang Ayah lakukan di luar sana. Sejak dulu Ibu adalah wanita super sok tahu yang terus-menerus mendesak Ayah berkata jujur. Walaupun Ayah bercerita panjang lebar, Ibu tidak pernah puas dengan jawaban Ayah. Tak biasanya Ayah marah pula.
Ayahku adalah sosok berbeda dengan Ayah lain. Wajahnya seram tapi hatinya tidak. Ibu bilang Ayah bekerja sebagai pencopet sialan yang tak berani mengambil risiko. Ibu selalu marah ketika Ayah tak memberikan uang lebih untuk biaya sekolahku. Padahal pada usiaku saat ini aku tak minta sekolah, aku hanya minta Ayah dan Ibu selalu tersenyum seperti tadi saat di meja makan.
“Kamu harus sekolah, jangan menjadi seperti Ayah. Kamu harus jadi anak yang jujur,” ucap Ayah.
Entah mengapa aku menolak ucapan itu. Meski Ibu Guru bilang pencopet berdosa dan Tuhan membenci—seperti Ibu membenci Ayah ketika setiap hari tidak menyetor uang lebih—aku tetap tidak membenci Ayah.
Duniaku begitu terkurung, tak ada ruang berekspresi. Tak ada teman selain tembok kamar. Tak ada musik selain suara hujan dan angin. Tak ada bacaan selain buku pelajaran yang susah aku pahami. Tak ada percakapan intensif selayaknya sebuah keluarga selain beberapa menit berharga saat makan malam bersama Ayah dan Ibu.
Malam itu Ayah tak menyalakan radio, takut konslet. Mungkin alasan yang tepat adalah Ibu melarang Ayah menyalakan radio supaya aku bisa mendengar jelas pertengkaran mereka
Kadang aku bosan dengan rutinitas ini. Kata Ayah, Tuhan selalu melihat kita. Tapi di mana Dia sebenarnya? Kalau sayang kepadaku kenapa harus sembunyi? Katanya hujan ini datang dari Tuhan, tapi aku tidak pernah melihat-Nya di antara jutaan tetes air itu.
Jendela kamarku berembun. Aku lupakan semua riuh dan kembali memikirkan Tuhan. Dia yang fana dan hujan yang nyata yang katanya ciptaan-Nya. Hujan makin deras. Sayuran di pekarangan rumah yang aku dan Ayah tanam bergoyang-goyang.
Pekikan-pekikan hebat di bawah mulai reda. Aku pikir Ibu sudah mendapatkan kewarasannya kembali, tapi aku salah. Mereka berpindah ke pekarangan. Ibu jatuh menghantam sayuran. Ayah menyusul membawa payung pelangi yang biasa Ibu bawa ke pasar. Aku pikir payung itu untuk melindungi Ibu dari hujan, tapi ternyata payung itu menghantam keras pundak Ibu
Ibu tertunduk sebentar dan mengambil pedang yang tergeletak tak jauh darinya. Itu adalah pedangku. Aku lupa mengembalikan ke tempat semula.  
Ibu beranjak dan menodongkan pedang ke Ayah. Mulut mereka kembali terbuka. Tapi aku tidak bisa mendengarnya, karena bising akibat hujan yang menghantam seng atap kamarku.
Pedang tajam masih berada di genggaman Ibu. Tak ada rasa takut sedikit pun dari wajah Ibu. Aku pikir Ayah pun demikian. Tapi ternyata tidak. Pedang itu menghantam pundak Ayah sebelah kanan. Ayah jatuh menimpa sayuran. Ia memegang lengan yang bercucuran darah. Aku menutup mulut rapat-rapat. Tak ingin Ayah khawatir. Aku yakin Ayah memenangkan permainan ini.
Namun, Ibu terus menerus mencabik badan Ayah dengan pedang. Layaknya artis yang mendapat penghargaan, Ibu mengangkat pedang dengan bangga melihat Ayah terkapar tak berdaya di depannya.
Ibu mengambil cangkul. Dia gali tanah di pekarangan. Tak begitu dalam. Dia memasukkan badan Ayah ke lubang. Ia tak sadar kalau di jendela kamar, aku mengamati semua itu. Kekejaman Ibu.
Jasad Ayah sudah rata dengan tanah. Untuk membodohiku, Ibu menanam beberapa sayuran rusak di atas gundukan tanah tempat Ayah terkubur.
Ibu mengusap kening, kembali ke rumah tanpa ketakutan sedikit pun. Rumah kami yang berada di ujung kampung dan bertetangga dengan hutan, membuat Ibu tidak segan-segan melancarkan aksi pembunuhan.
Tidak aku temui khawatir di wajah Ibu. Ketika tetangga menanyakan keberadaan Ayah, ia jawab singkat,
“Mungkin mati dibakar masa gegara ketahuan mencopet.”.
***
 “Bu, hari ini Aksa ada presentasi desain ke bos. Mungkin akan selesai sore.”
Aku tuangkan Coca-cola ke dalam gelas yang sudah tiga hari tak kucuci..
“Aksa akan mencari sarapan di warteg Bu Jum saja.”
Wanita bodoh itu masih diam. Dia masih menikmati tidur bersama sinar matahari pagi yang menyelimuti tubuh.
“Aksa sudah rapi seperti biasanya, Bu. Maaf, gaji Aksa bulan ini mungkin akan Aksa gunakan sendiri. Kalau Ibu lapar, di kulkas masih ada mie instan. Kalau haus, air di galon juga masih ada. Aksa berangkat dulu, Bu.”
Kucium kening Ibu yang mulai berkerut. Terpaksa aku melakukan setiap hari, demi pskilogisnya.
Ibu tetap bergeming. Tak seperti biasa, tersenyum merona setiap tanggal muda seperti sekarang. Mata Ibu terpejam, raut wajahnya penuh penyesalan dan beban. Bajunya masih berlumuran darah, persis kejadian 3 hari lalu yang cukup menguras tenagaku saat berlatih pedang. Vas bunga yang dipecahkan oleh kepala Ibu juga masih dia biarkan berantakan. Kepalanya yang juga berlumuran darah dia biarkan.  
Aku tersenyum simpul, membalik badan. Kutinggalkan Ibu dengan segenap kebodohannya. Biar dia abadi dengan sesal dan beban.

Komentar