![]() |
| (Pixabay) |
Barangkali
aku terlalu takut untuk mengutak-atik perangkat keras itu. Benda yang tak
pernah lepas Mas jamah tiap malam.
Bahkan Mas sudah tak lagi hirau
terhadap bau parfumku atau lekuk tubuhku. Waktunya tersita hanya untuk sebuah
benda mati yang tak bisa memberikan kenikmatan birahinya.
Malam
ini pun sama seperti enam belas malam yang telah lalu. Bertemankan secangkir
kopi dan biskuit yang aku beli di warung belakang rumah, Mas terus asyik menatap layar 14 inci itu. Tangannya begitu lihai
merangkai kata. “Ini seni, Dik.” Katanya.
Dulu
ketika kami masih berpacaran, Mas sering
membuatkanku puisi yang sebenarnya aku tidak tahu maksudnya. Terlalu rumit
kata-kata yang Mas gunakan. Otakku
tak bisa mencernanya. “Kamu harus mulai mencintai karya sastra.” katanya.
Sejujurnya, Mas bukan seorang penulis
andal. Mas hanya penulis ulung yang
beberapa kali tulisannya dimuat di media masa.
“Bayarannya
tidak seberapa, Dik. Tapi Mas masih mau menulis. Barangkali tabungan Mas bisa untuk kita menikah nanti.”
“Memang
tidaklah seberapa, Mas. Tapi Mas kan gemar sekali menulis. Terus saja
menulis. Tapi, Adik harap, menulis bukan satu-satunya jalan untuk Mas dalam mencari nafkah. Maaf, Mas. Mungkin kedengarannya Adik
mendewakan uang dan penghasilan. Tapi..”
“Iya,
Mas tahu. Mas juga berencana setelah wisuda nanti akan pulang ke Bogor dan
bekerja di sana. Tapi Mas akan tetap
menulis. Untukmu. Untuk kita. Karenamu, Mas
menulis, Masih menulis, dan akan
terus menulis, Dik.”
Senyum
Mas begitu menjanjikan waktu itu.
Begitupun kehidupan kami selanjutnya. Mas
membuktikan ucapannya padaku dengan menikahiku. Kami tinggal di sebuah kontrakan
di perbatasan kota Bogor. Aku terpaksa meninggalkan pekerjaanku di Malang hanya
untuk mengabdi padanya. Setelah menikah, Mas
lebih sering menyelesaikan pekerjaannya sebagai editor di rumah. Tanpa pernah
lagi menulis. Puisi, kata-kata romantisnya pun tak lagi kudengar.
“Mas lembur lagi?”
“Mas mulai menulis lagi, Dik.”
“Adik
temani, mau?”
“Tidak
usah. Kamu tidur saja.”
“Ya sudah. Adik senang Mas mau menulis lagi. Setelah hampir setahun
menikah, Mas tidak lagi menulis, kan?”
Mas
tersenyum menatapku. Dirabanya rambut panjangku yang sudah dua hari belum
kucuci. Mas menatapku penuh arti. Binar
matanya sungguh sama seperti saat Mas mengucapkan
janji suci kami berdua. Teduh, dan segala kenyamanan ada padanya. Tuhan,
sepertinya aku jatuh cinta lagi dengan suamiku.
“Mas
menemukan alasan kuat untuk kembali menulis.”
Aku
tahu yang Mas maksud. Jika tidak
salah, Mas juga merasakan apa yang
sedang aku rasakan. Kembali. Jatuh cinta.
Tapi, enam belas hari belakangan Mas yang ku kenal dulu sungguh berbeda
dengan Mas yang ada sekarang. Mas lebih sering lembur dan pulang larut
malam. Bahkan aku sempat mendapati bau tubuhnya seperti bau rokok Sampoerna. Ya kedengarannya memang aneh.
Aku memang hafal bau rokok itu dari mantan pacarku waktu kuliah. Hampir setiap
hari dia merokok. Tapi entah kenapa aku tidak pernah memintanya berhenti merokok.
Dan, ketika aku mendapati Mas bau
rokok, aku hanya diam saja.
“Jadi,
Mas yang sekarang sudah kenal rokok?”
batinku.
Mas
yang dulu adalah pembalas pesan paling cepat. Apalagi jika ditelfon, Mas selalu fast respon dan akan selalu tega meninggalkan hal lain hanya untuk
mengangkat teleponku. Ya, kecuali jika Mas
sedang di toilet. Mungkin itu karena kebiasaanku yang juga demikian
terhadapnya. Tapi, Mas yang sekarang
adalah Mas yang berbeda. Mas benar-benar berbeda.
Sepulang
kerja, Mas tak lagi memintaku untuk
membuatkan kopi. Mas racik sendiri
kopinya. Apakah racikanku sudah tidak lezat lagi? Kini, Mas hanya minta dibelikan biskuit di warung belakang rumah yang
untungnya masih buka meski tengah malam.
Setelah
kopi Mas buat, Mas tidak akan beranjak dari meja kantornya. Tempat biasa Mas mengerjakan editan tulisan. Tapi
ketukan keypad selalu terdengar. Tentu suara itu terdengar jelas, karena tiada
cakap di antara kami. Tiada lagi kebisingan di kontrakan kecil kami. Sekadar
menyalakan televisi atau radio bahkan menyetel lagu dari handpone saja aku
tidak berani. Mas memang berbeda.
Mas
selalu asyik dengan leptopnya. Bahkan aku sering mendapatinya tidak tidur
hingga dini hari hanya untuk meladeni jari-jarinya yang hiper aktif untuk memanjakan birahi keypadnya. Tuhan, apakah Mas
tak lagi butuh belaian lagi dariku?
“Mau
ditemani?”
“Tidak.”
Singkat
kata Mas menanggapiku. Tapi Mas tetap asyik dengan cerita yang Mas buat. Aku senang, Mas mulai menulis lagi. Tapi kenapa
seolah aku menjadi nomor sekian baginya? Alasan apa yang membuatnya kembali
bercinta dengan kata-kata? Sepertinya, aku curiga.
Kali ini rasa penasaranku begitu memuncak.
Perihal apa saja yang Mas tulis dan
cerita yang seperti apa yang Mas
ciptakan. Sedari malam aku sudah menyusun begitu banyak rencana. Tapi, aku rasa
semua rencanaku adalah rencana jahat. Tapi Mas
akan jadi lebih jahat lagi padaku. Begitu gejolak dan kecamuk yang perlahan
merusak malamku.
Pagi
ini aku bulatkan tekad untuk memasakkannya makanan kesukaannya. Sungguh jahat
memang. Karena makanan favoritnya adalah makanan yang akan membuat tubuhku bentol-bentol.
Tapi kini, setelah Mas memakan Masakanku, Mas akan lebih dekat dengan toliet dibanding dengan leptop dan meja
kerjanya.
“Maafkan aku, Mas.”
Aku
Masih sibuk membaca berita lewat
leptopku sendiri. Hampir setiap pagi aku membaca berita yang muncul di timeline twitterku. Dan aku rasa, Mas juga tahu kebiasaanku ini.
Sesekali
Mas ke toilet. Sedikit ada rasa bersalah
terhadapnya. Tapi sungguh, Mas, aku
benar-benar penasaran.
Mas
adalah penulis yang sebenarnya tidak suka jika karyanya dibaca orang lain sebelum
rampung diolah menjadi karya yang indah, menurutnya. Tapi, aku ini istrimu, Mas. Dan aku berhak tahu. Bahkan, untuk
berbagi cerita saja kau enggan. Sebenarnya apa atau siapa yang membuatmu
kembali menulis?
Lima
menit berlalu. Mas tak kunjung
kelihatan. Seperti dugaan dan rencanaku yang membuatnya menetap di toilet. Aku,
dengan rasa penasaranku yang memuncak akhirnya memberanikan diri untuk membuka
leptop itu. Beruntung, sebelum Mas ke
toilet, leptop itu tidak dia shut down.
Aku Masih bisa menelisik apa yang ditulisnya.
Aku
membuka aplikasi wordnya. Deretan kata yang Mas ciptakan sama sekali tidak
mengandung unsur puitis. Entah sejak kapan tulisan Mas menjadi lebih lugas seperti ini. Tiap tanggal dia ceritakan.
Mas
menceritakan kejadian tiap kejadian, hari demi hari dengan begitu detil. Sekali
lagi, Mas tidak memlilih kata yang
meliuk-liuk. Tapi lugas. Catatan hari demi hari aku baca. Dimulai sejak
perjumpaannya dengan seorang wanita, project
yang mereka garap bersama, hingga cerita itu memuncak di tanggal 22 mei.
Detil
sekali Mas menceritakan perjalanannya
dengan Ema. Sampai apapun yang Ema katakan padanya dia tuliskan dengan jelas
disini. Emosiku memuncak setelah membaca paragraf ke delapan. Kata-kata rayuan
Ema dan bagaimana detilnya Mas
membuka celah di hatinya untuk Ema. Celah yang selama ini aku jaga. Celah yang
selama ini harusnya menjadi milikku. Kenapa Mas
melakukannya?
Ema
memegang tangan Mas, meminta untuk
segala tentang mereka dimulai saat itu juga. Keringat dingin aku membacanya
(baca: jijik). Ema mulai menggoda Mas.
Perlahan, satu persatu kain yang melindunginya dia lepaskan di hadapan Mas. Aku bisa membayangkan bagaimana
ekspresi Mas saat melihat lekuk tubuh
Ema. Aku rasa, tidak akan jauh berbeda saat kali pertama Mas melihat tubuhku. Jantungku berdegup lebih cepat. Khawatir obat
mencret yang aku berikan di sup buntut Mas
mulai hilang. Tapi Mas Masih saja di toilet.
“Tulisan
macam apa ini, Mas?”
Ema
mendekati Mas, dia duduk di pangkuan Mas. Mas
Masih saja tertegun melihat Ema. Ema merengkuh
tubuh Mas, dirabanya wajah Mas dan dia mulai menggila. Dia landaskan
bibir bergincu merah maroon itu di bibir Mas.
Mas kalah. Dan ema membiarkan Mas melakukan apapun yang Ema inginkan.
“Bajingan
kau Ema!”
Dengan
lihai Ema membuka baju Mas,
menelanjanginya, dan memperkosanya. Mereka habiskan malam bersama. Saling kecup
dan, ah! Ema, bau parfumnya, bibir bergincunya, lekuk tubuhnya, kulit putihnya
yang mulus, payudaranya yang besar, desahannya, dan kenikmatan birahi
bersamanyalah yang ternyata mengalihkan perhatian Mas
terhadapku.
Aku
terus membaca apa yang telah menyita waktu Mas,
menyita Mas untukku sebenarnya. Dan
aku tidak lagi peduli sedang apa Mas
di toilet dan aku tidak akan takut ketika Mas
datang mendapatiku sedang membaca ceritanya dengan selingkuhannya.
22
mei terulang kembali di tanggal selanjutnya. Aku geram, tanganku menggenggam mouse tanpa kabel itu dengan erat. Bukan
lagi keringat dingin yang aku produksi, tapi sungguh, dadaku terguncang dan
tubuhku terasa panas seketika. Seolah aku ingin menunggu Mas datang dan membanting segala yang ada di ruangan ini kemuka Mas.
Tanggal
demi tanggal aku baca, Ema mulai berani memasakkan makanan kesukaan Mas juga. Apakah masakan Ema lebih enak
dari masakanku? Tentu saja iya. Hari ini sop buntutku berhasil membuat Mas bercinta dengan angannya tentang Ema
di toilet.
Emosiku
memuncak setelah membaca cerita di tanggal 8 Agustus. Ema dan Mas mulai memiliki rumah. Mereka berdua.
Dan sampai kini mereka masih berdua. Segala bayanganku tentang bagaimana mereka
hidup berdua masih berpuar-putar di kepala. Kenapa Mas
pulang malam dan enggan melakukan apapun denganku? Aku berspekulasi ema
penyebabnya. Mereka tinggal serumah dan aku tidak tahu apa-apa.
Aku
benci dengan apa yang Mas tulis. Aku benci
dengan Mas. Aku benci dengan Ema. Aku
benci dengan deretan kata yang katanya seni ini. Semua ini dengan mudah mengikis
kehidupanku. Kini dan bisa jadi nanti pun akan terus terkikis dan habis.
Aku
benci melihat Mas sedang di meja
kerja. Aku benci melihat Mas
menyalakan leptop, aku benci segalanya tentang mereka. Sungguh aneh, aku
membenci karena membaca. Sebuah bisikan mampir di telinga dan pikiranku. Mas masih di toilet. Tidak seperti
dugaanku, sungguh, Mas lama sekali di
toilet. Ah aku tidak lagi peduli.
Aku
menghapus file ini. Berharap Mas
tidak akan meneruskan tulisan ini. Aku benci. Mas milikku. Bukan milik Ema. Dan hanya aku yang pantas ada di
semua ceritamu. Dan hanya akulah yang berhak atas segala tentangmu.
Aku
kembali duduk di sofa kecil depan televisi. Seperti yang sebelumnya aku
lakukan, aku masih mengecek timeline
di twitter. Suara pintu toilet terdengar kembali. Mas keluar dari toilet.
“Kenapa?”
“Mencret.”
Dielusnya
perut buncitnya. Aku rasa itu setimpal dengan apa yang aku rasakan tadi, Mas. Kita sama-sama sakit, bukan? Dia mendekati meja kerjanya kembali. Aku terus
meliriknya dan siap dengan apa yang akan terjadi nanti.
“Dik, Ema. File yang Mas buka tadi, yang judulnya Kado
Pernikahan kok nggak ada?”
17 Juni 2017
17 Juni 2017

Komentar
Posting Komentar