Gendam Merlion



Langkahnya sebenarnya ragu. Tapi perlahan dia memaksa kakinya untuk saling bergantian melangkah. Memindahkan tubuhnya dari posisi awal sampai di tempat yang dia inginkan. Didekat seorang wanita berambut panjang yang sedang asyik bercengkrama dengan beberapa temannya disana. Tarikan nafas terakhir dia panjangkan. Mengangkat tangan dan mendekatkan telapak tangan itu di pundak wanita yang sedang dia dekati.
“Excuse me madam.”
Wanita berambut panjang itu berbalik badan dengan ekspresi kaget.
“Yes?”
“I’m sorry, my name is Tia. I’m From Indonesia. Em…” dia sedang berpikir kata apa yang akan dia keluarkan setelah ini. “em.. Can you help me?” Wanita itu tersenyum sambil menganggukkan kepala tanda mengiyakan permintaan Tia.
“I want to take pictures with merlion. Can you take it for me?” 12 gigi paling depannya terlihat semuanya. Dia berharap wanita itu mau membantunya.
“Yes, of course.” Wanita itu menjawab dengan senyuman simpul dari bibirnya.
Mereka saling tersenyum setelah Tia menyerahkan kamera poket yang dia pinjam dari tetangganya kepada wanita itu. Batinnya cukup bahagia tapi penuh dengan tanda tanya. Pasalnya wajah wanita itu sangat familiar baginya. Bukan karena mereka saling mengenal tapi raut wajahnya mencerminkan wajah-wajah milik orang Indonesia juga, sama seperti dirinya.
Wanita itu memosisikan angle yang tepat supaya Tia dan merlion terlihat dengan jelas. 5 meter didepan wanita itu Tia menata tubuhnya dan raut mukanya untuk berpose seapik mungkin. Dan ketika dia siap dia akan memberikan tanda kepada wanita itu. “one, two, three, cheese”
“Ah, thanks madam.”
“Yap. Bahasa inggrismu bagus juga.”
Tia tercengang dengan ucapan wanita itu. “saya Rani, Rani Melati. Saya juga orang Indonesia.” Lanjut wanita itu meyakinkan Tia. Tapi Tia masih saja diam dan melongo melihat Rani berbicara bahasa indonesia dengan lancar. Benar dugaan dia kalau wajah wanita ini memang tidak asing baginya. Sangat mencerminkan kehalusan orang Indonesia.
“Saya tia. Tia rimandyanti. Saya asli semarang. Kenapa kakak tidak bicara dengan bahasa indonesia saja sejak tadi? Sebenarnya bahasa inggris saya masih kurang. Hanya itu-itu saja yang saya bisa.”
“Tapi itu awal yang baik, bukan? Tunggu, nama kamu siapa tadi?”
“Tia, kak. Tia rimandyanti. Ada apa kak?”
“Tunggu, kamu disini sebentar.”
Tia makin bingung dengan Rani seorang wanita yang baru saja dia kenal tapi berasa lama dia kenali. 2 teman Rani yang tadinya sedang asyik bercengkrama dengannya meninggalkan Rani entah kemana. Pikir Tia, Rani sedang mencari teman-temannya yang beranjak karena Rani sedang dimintai tolong seseorang yang juga tidak dia kenal untuk mengambilkan foto.
Rani mencari sosok laki-laki bertubuh tinggi dengan rambut gondrong yang diikat kebelakang. Di tariknya tangan laki-laki itu setelah dia temui laki-laki itu di antara banyak kerumunan orang Singapura asli bahkan manca negara yang lainnya.
“Apa-apaan sih Ran?”
“Ini penting Lih.”
Galih pasrah dengan tarikan tangan Rani yang tidak seperti biasanya. Di raut wajahnya dia juga menemukan sesuatu yang ganjal. Seperti akan ada kejutan besar yang akan dia temui setelah ini.
Tia mengangkat kepalanya ketika ada dua pasang kaki yang berhenti dihadapannya. Yang dia pikirkan pertama kali adalah dua orang itu pasti salah satunya Rani dan satunya pasti seorang laki-laki. Kakinya sangat amat banyak bulu. Dan dia sekarang sadar wanita yang baru saja dia kenal itu datang dengan seorang laki-laki gondrong berbaju hitam yang sedang memakan permen karet.  
“Dia Tia, kamu ingat dia kan Lih?”
“Lih?” Batin Tia penasaran. Nama itu, panggilan itu sangat tidak asing di telinganya. Dia bangkit dari duduknya dan mata mereka kini hapir sejajar.
“Lih, kamu ingat Tia kan? Teman sma kamu waktu di Semarang?” Rani menegaskan ke Galih. “dan kamu Tia, kamu pasti juga tidak lupa dengan teman sma kamu yang satu ini kan?”
“Galih? Galih Adi Karno?”
“Yap bener banget. Ya Tuhan, kali ini aku nggak salah. Akhirnya setelah sekian lama kalian bisa ketemu lagi. Oke oke, aku tahu pasti kalian kangen banget. Aku harus cari temen-temen aku yang lain. Ada situasi yang harus aku tinggalkan. Have fun ya gaes.”
Rani menepuk pundak galih dua kali setelah tersenyum manis ke Tia. Sampai Rani menjauh pun mereka berdua masih terdiam membisu saling kaget bahkan takpercaya dengan situasi mendadak ini.
“Apa kabar?”  Tia membuka percakapan dengan gagap. Sebenarnya dia pergi ke Singapura bukan untuk situasi kaku sperti ini. Bersenang-senang di tengah-tengah kesibukannya menjadi seorang buruh di suatu pabrik adalah prioritasnya. Jatah liburnya dalam setahun dia gunakan untuk bersenang-senang di negara kecil yang makmur ini. Untungnya dia memiliki mandor yang sangat bisa diandalkan dan diajak kompromi masalah jatah libur. Dan dia sangat bersyukur ketika kesempatan itu bisa datang padanya. Pasalnya banyak karyawan yang justru sulit mendapatkan jatah libur barang sehari saja. Bahkan tidak sering beberapa dari mereka memalsukan keterangan dengan meminta surat keteranan doktor palsu untuk mendapatkan izin dari perusahaaan tempat dia bekerja untuk absen.  Tapi untuk Tia, dia justru dengan mudahnya mendapat jatah 3 hari untuk bersenang-senang di negara faforitnya, Singapura.
“Banyak yang berubah ya dari kamu.” Galih meninggalkan Tia dan memilih menatap merlion yang ada di hadapannya. Dia tahu kalau mereka terus saling berhadapan, kekakuan akan terus mengikuti mereka.
“Kamu juga.” Tia mendekati Galih dan sekarang mereka berdampingan. Megahnya merlion putih yang terus-menerus memancurkan air dari mulutnya itu dihadapan mereka.
“Adaperlu apa ke Singapura? Buang-buang waktu.”
“Main aja. Kamu sendiri ngapain ke sini?”
Galih mengubah arah pandangnya ke wajah Tia. Menatapnya dengan penuh harapan. Seperti dibalik Tia ada sesuatu yang bisa dia dapatkan dan seketika Galih merasa beruntung bertemu perempuan mungil berambut pendek di negara termahal di dunia ini.
“Sudah makan?”
“Sudah. Aku sengaja bawa banyak roti dari Indonesia untuk menghemat pengeluaran disini. Kamu mau?”
Galih menggelengkan kepalanya pelan dan kembali menatap merlion yang megah. “kita cari tempat yang lain saja, untukmengobrol. Tidak enak kalau mengobrol sambil berdiri. Pegel.”
“Aku masih pengen lihat merlion. Disini saja, Lih”
Galih menatap sekitar mencari tempat yang lebih pas untuk mengobrol panjang lebar dengan teman lamanya itu. Matanya terhenti di sebuah tangga yang tak banyak orang duduk disana. Dia memetik jarinya menyadarkan Tia yang sedang melamun melihat merlion dan membawanya ke tangga itu.
Sore itu tidak terlalu panas, banyak awan kumulus yang menutupi langit Singapura. Membuat suasana menjadi adem kalau kata orang jawa. Walaupun senja mulai datang, tempat ini masih ramai. Banyak warga Singapura yang datang untuk melepas lelah setelah bekerja, banyak juga orang-orang mancanegara seperti Tia dan Galih yang datang kemari untuk menikmati keindahan maskot negara singa ini.
Banyak orang berlalu-lalang di samping mereka, tapi itu bukan suatu halangan bagi Galih untuk berbincang dengan Tia, begitupun sebaliknya.
“Sekarang kerja dimana?” Galih membuka percakapan setelah berpindah tempat. Rasanya tempat ini memang nyaman untuk saling berbincang.
“Di pabrik tempat Ibuku dulu bekerja. Sudah 6 tahun terakhir aku kerja disana. Kebetulan aku diangkat sebagai pegawai tetap setelah 2 tahun bekerja. Mereka pikir kinerjaku bisa diandalkan. Selama 6 tahun itu pula aku menyisihkan uang gajiku untuk bisa ke tempat ini.”
“Bukankah kamu dulu ingin bekerja di percetakan dekat sekolah kita? Kamu pernah bilang ingin menjadi seorang HRD disana. Kamu masih ingat?”
“Iya, tentu aku ingat. Aku mendaftar kuliah di salah satu universitas kebanggaan Semarang. Tapi, dasarnya aku hanya seorang anak lulusan SMA IPS yang terlalu nekat ambil prodi psikologi. Aku pikir aku bisa mengejar banyak ketinggalanku, tapi ternyata dugaanku salah. Akhirnya aku ambil D3 Akuntansi di sebuah unniversitas swasta. Hampir 3 tahun aku memaksakan menyukai akuntansi, tapi akhirnya aku sadar, membohongi diri sendiri tidaklah baik. Aku menganggur selama 7 bulan setelah wisuda. Sempat bekerja diperusahaan catering tempat teman smp ku bekerja juga, tapi aku tidak betah karena jarak yang terlalu jauh dan gajinya juga sedikit. Dan akhirnya berkat tetanggaku, aku bisa bekerja di pabrik itu. Aku bersyukur sekali.” Jelas Tia panjang lebar. Galih hanya mendengarkan cerita Tia dengan saksama. Dia sangat tertarik dengan latar belakang temannya itu setelah mereka lulus dari SMA yang sama. Dan dugaan Galih cukup dipertanyakan, pasalnya Tia masih sama saja seperti 10 tahun lalu saat di SMA.
“Kenapa kamu bisa ada disini? Kamu sendirian?”
“Iya, aku sendiri. Karena aku sangat suka dengan negara ini. Terutama dengan merlion. Sudah sejak SMP aku bermimpi bisa berfoto dengan patung ikan berkepala singa ini. Entahlah, banyak temanku yang memilih negara-negara yang lebih indah seperti Paris, Dubai, New York, Korea, tapi keinginanku cuma ada di negara kecil ini. Aku sudah bilang kan kalau aku menabung untuk bisa ke tempat ini?”
“Ah iya, kamu benar juga. Bagaimana rasanya naik pesawat? Aku rasa ini pengalaman pertamamu, bukan?”
“Iya, awalnya aku takut karena didalam pesawat tidak ada seorangpun yang bisa aku ajak bicara untuk mengisi waktu. Tapi aku tidak kalah akal. Aku membawa buku karya Zuhairi Misrawi yang berjudul ‘Pelangi Melbourne’. Aku membaca buku itu selama aku ada di ketinggian. Sesekali aku menengok kearah kaca, karena tempat dudukku tepat berada disamping kaca pesawat tapi jauh dari sayap. Indah sekali. Aku tidak pernah menyangka kalau aku akan berada di tempat yang lebih tinggi dari awan yang biasanya aku lihat dengan cara mendongak. Orang yang ada disampingku membawa seorang anak perempuan berjilbab. Usinya antara 8-10 tahun. Dia mual dan akhirnya muntah. Untungnya ada kantung khusus disana. Aku membantunya mengeluarkan apa yang ingin dia keluarkan. Melihat ibunya yang panik aku tidak bisa diam begitu saja.”
“Kamu baik sekali. Untuk hadiah karena kamu sudah baik pada anak itu, aku akan membelikanmu minum. Kamu tunggu disini sebentar ya.”
“Oke, no problem.”
Galih meninggalkan Tia sendiri di tangga itu. Tia masih diam dan terseyum menatap merlion yang cukup jauh darinya. Dia sangat menikmati suasana disini. Bersih, dan kondusif. Dari tempat dia duduk sekarang dia juga bisa melihat gagahnya singaporeflyer. Sebenarnya singaporeflyer juga menjadi wahana wisata yang menarik untuk dikunjungi, tapi alasan dana Tia mengurungkan niatnya mengunjungi bahkan naik di salah satu kapsul yang ada disana.
10 menit berlalu, Galih datang membawa dua botol cocacola tanggung. Satu untuk dirinya dan yang satu untuk Tia. Dia datang dengan senyuman yang cukup aneh. Matanya tajam seolah ada yang perasaan aneh yang datang padanya. Kantung kresek yang berisi cocacola itu ada ditangan kirinya. Perlahan dia mendekati Tia dan menepuk bahu kiri milik Tia.
“Ini minum dulu.” Galih menyerahkan botol cocacola untuk Tia. Tia mengambilnya dengan senyuman manis.
“Wow cocacola. Aku juga membawanya dari Semarang. Tapi tinggal sedikit. Nanti aku akan meminumnya.”
“Kenapa tidak sekarang? Memangnya kamu tidak haus? Kamu sudah cerita panjang lebar tadi.”
“Tidak apa-apa.”
Galih meminum cocacola yang telah dibelinya sampai tersisa setengah dari aslinya. Meletakkan botol itu diantara mereka berdua. Galih menatap Tia yang masih saja melihat merlion yang semakin gelap semakin indah.
“Kamu sudah bersuami?”
Tia tersenyum simpul. “Belum”
“Kenapa? Biasanya perempuan akan menikah 4-6 tahun setelah lulus SMA. Bahkan tidak jarang di usia belasan tahun banyak yang sudah menikah juga.”
“Aku masih menunggu seseorang, Lih. Tapi aku tahu waktu yang sangat aku tunggu-tunggu itu sudah sangat dekat denganku.”
“Maksud kamu?”
Tia memutar pandangannya ke mata Galih. Menatapnya cukup dalam dan dia kembali menatap merlion. Entah apa yang sebenarnya dia rasakan saat itu, tapi sebenarnya Tia sedang menyiapkan kata-kata yang paling pas untuk situasi ini.
“Aku menunggu seseorang yang pernah membuat aku kebingungan, tidak bisa focus dalam beberapa hal, dan sempat membuatku tidak nafsu untuk makan. Aku mencintainya, Lih. Sama seperti dia kepadaku. Bahkan bisa jadi perasaanku dengannya melebihi perasaanya padaku. Aku suka matanya yang tajam, rambutnya yang sedikit ikal membuatku hanyut setiap saat. Setelah banyak warna pilox dan tandatangan dibubuhkan pada seragam putihku di hari itu, dia menghilang entah kemana. Rumahnya kosong seperti korban perampokan, kacanya pecah dan banyak pot di depan rumahnya juga pecah berantakan. Aku mencoba menghubunginya ke telepon milik ayahnya yang dulu sempat aku telfon lewat wartel, tapi tidak bisa. Banyak tetangganya bilang kalau ayahnya berhutang pada perusahaan tempat beliau bekerja dan mereka memilih kabur entah kemana. Aku benar-benar merasa kehilangan. Ada banyak kanangan yang tidak bisa aku lupakan bersamanya, dan ada satu janji yang masih aku ingat sampai sekarang, di usia 28 tahun nanti dia akan datang menemui ayah dan ibuku untuk melamarku. Janjinya masih aku tunggu hingga sekarang. Usiaku masih 27 tahun, tapi banyak orang yang mengatakan kalau usiaku sudah 27 tahun. Aku heran dengan mereka yang tidak tahu apa-apa tapi selalu banyak bicara. Galih..”
“Iya?”
“Diusiamu yag ke 28 nanti apa kamu akan benar-benar datang kerumahku?”
Galih terdiam sejenak. Menatap mata berwarna cokelat milik Tia yang juga sedang menatapnya. Ada perasaan aneh yang bersarang di hati Galih. Sosok perempuan ini ternyata menunggunya. Seketika dia merasa sangat bersalah dengan semua yang sudah terjadi. Pikirannya kembali ke insiden 10 tahun lalu yang membuatnya ada ditempat ini sekarang.
“Kenapa kamu menunggu orang sepertiku?”
“Banyak Alasannya. Yang aku tahu, sejak aku sadar dari pingsan kamu orang pertama yang aku lihat di uks. Matamu berkata kalau kamulah orang yang bisa aku andalkan untuk menjagaku. Sejak saat itu aku sangat yakin Tuhan sudah mengirimkan malaikat pelindung-Nya untukku. Dan itu kamu, Lih.”
“Aku bukan orang yang baik, Yak.”
“Aku tidak peduli.” Sejenak mereka terdiam. Galih mulai heran dengan tingkah Tia selama ini. Dia geram dan rasanya ingin berteriak.
“Kamu bisa mendapat seorang yang lebih layak daripada aku.” Nada bicaranya mulai tinggi.
“Aku tahu, banyak orang yang menasihatiku seperti itu, bahkan ibuku sudah menyerah padaku. Dan sekarang beliau hanya pasrah dengan keadaan anak bungsunya yang malang ini. Tapi aku hanya yakin dengan satu hal, takdir Tuhan. Aku tahu aku sudah dipertemukan dengan takdirku saat di UKS waktu itu. Dan setelah tahu dia pergi begitu saja, aku juga sadar Tuhan sedang menahan dia untukku. Dan akan menyerahkannya lagi kepadaku suatu saat nanti.”
“Bodoh.”
“Memang. Kamu bukan orang yang pertama yang mengatakan aku bodoh, Lih.”
Suasana kembali hening. Galih mulai menenangkan pikirannya lagi. Kini senja mulai datang menggelapkan bumi. Kedua anak manusia itu masih saja duduk disana. Rani yang menyadari situasi itu sebenarnya berharap agar cepat selesai, tapi apa daya dirinya tidak mungkin merusak kebersamaan sepasang kekasih yang dipertemukan oleh Tuhan dan sempat dipisahkan oleh Tuhan dan kini mereka bertemu lagi juga pasti berkat tangan Tuhan.
“Kamu tidak perlu khawatir. Selama apapun kamu menjauh dariku, aku masih mnunggumu menepati janjimu.”
Rani terperanjat melihat Galih yang membuang botol cocacolanya dengan begitu keras. Raut wajahnya terlihat sangat marah walaupun dari kejauhan semua itu terlihat jelas. Sesekali jari telunjuk Galih mengarah ke wajah Tia yang hanya duduk diam disana.
Mereka tidak peduli seberapa banyak orang yang lewat dan melihat mereka sedang beradu mulut mempertahankan pendapat masing-masing. Tingkah mereka membuat Rani muak dan memilih pergi. Bukan situasi yang seperti ini yang dia harapkan untuk teman seperjuangannya bersama seseorang yang pernah menjadi sosok spesial dalam hidup temannya itu. Rasa bahagianya tadi sore tiba-tiba hancur begitu saja melihat pertengkaran mereka.
Dibelakang merlion Rani bersembunyi. Dia pun sama tak peduli dengan tatapan aneh dari pengunjung yang lain. Walaupun di tempat yang seramai ini dia bisa saja menganggap kalau dia sedang sendirian. Raut mukanya berubah ketika dia menyadari kalau Galih sudah ada di sampingnya.
“Kenapa ada disini?”
Galih menyerahkan kantung kresek yang berisi barang-barang berharga milik Tia. Aksinya sukses besar kali ini.
“Dia tidak membawa banyak uang.”
“Aku tidak memintamu untuk mengambil uangnya, Galih. Aku ingin kamu memperbaiki hubungan kalian. Aku pikir kamu tahu. Tapi ternyata kamu lebih bodoh dari siapapun.”
Rani beranjak dari duduknya dan berusaha meninggalkan Galih. Galih hanya menatap tingkah Rani dengan penuh tanda tanya. Hal seperti ini tidak pernah dia alami. Bukan eksprei seperti ini yang biasa Galih lihat dari Rani setelah Galih mendapat apa yang sebenarnya bukan hak mereka kini ada dihadapan mereka.
“pergi dan kembalikan semua yang ada di kantung kresek itu.”
“Tidak.” Galih mulai terpancing emosinya.
Rani kembali ke Galih dan menampar pipi tirus milik Galih dengan keras. Dia mencurakan emosinya ke dalam tamparan itu.
“Bodoh! Kamu pikir siapa yang mau menunggumu selama 10 tahun? Apa kamu pikir menunggu itu hal yang menyenangkan? Cuma dia, Lih yang rela menunggumu sampai saat ini. Kamu bodoh! Dia sangat istimewa, dan tidak selayaknya kamu melakukan ini padanya. Kembali dan minta maaf padanya, Galih!”
“Ya! Aku memang bodoh. Dan aku tidak akan mengembalikan apa yang sudah aku dapatkan.” Galih meninggalkan Rani sendiri. Emosi mereka sama-sama memuncak.  Rani terdiam dibelakang merlion. Dia pasrah dengan tingkah temannya itu.
Tia masih terdiam di tangga itu, dia masih mengagumi indahnya merlion dari kejauhan. Beberapa foto dia ambil kembali untuk mengabadikan salah satu saat terindah dalam hidupnya. Dia beranjak dari tangga dan berlari girang mendekati merlion. Merlion di malam hari begitu indah dan semakin malam semakin ramai.
Tiba-tiba tubuhnya tergoncang, dia jatuh tanpa ada seorangpun yang membantunya untuk bangkit dan berdiri kembali. Dia melihat sekeliling, tatapannya samar dan ragu antara yakin dan tidak yakin kalau hari sudah malam dan dia pun sadar kalau dia berada di tengah-tengah bayak orang yang lalu-lalang menghiraukannya.
Dia tersenyum, ada satu perasaan lega yang hinggap di hatinya, tapi dalam waktu yang sama dia juga kembali merasakan rasanya ditinggalkan seperti 10 tahun silam. Dia mencoba mengingat apa yang sudah terjadi but no sense.
Laki-laki berambut gondrong yang dia temui  di tempat dia terjatuh kini kembali menghilang entah kemana. Pandangannya kosong menatap merlion. Dan kini dia merasakan sakitnya kehilangan untuk yang ke dua kalinya. Tanpa dia sadari air matanya jatuh. ‘bodoh’ batinnya.
Dia membuka kembali tasnya, membuka dompet yang terasa lebih tipis dari sebelumnya. Tapi dia tidak peduli lagi setelah uang yang sempat menebalkan dompetnya itu lenyap dan hanya tersisa beberapa dollar saja. Tapi tujuan dia membuka dompet bukanlah itu, dia kembali melihat foto 2 anak manusia berseragam putih abu-abu sedang saling tersenyum. Dan dia mendapati sebuah kertas bungkus rokok yang juga terselip didalam dompetnya. Dengan air mata yang terus meluncur dia membuka kertas itu.
“Aku tidak mengambil seluruh uangmu. Tapi aku sudah mengambil banyak waktumu. Usiaku akan bertambah dalam 9 hari lagi. Dan saat itu pula aku akan kembali dan datang untukmu. Maaf telah menjadikanmu sebagai korban kriminalitasku yang terakhir. Aku akan membawamu kembali ke merlion ini suatu saat nanti. Galih.”
Tubuhnya tergoncang dan perlahan bibirnya melebar. Tia tahu Tuhan tidak pernah jahat kepadanya, karunia-Nya selalu tercurah untuk setiap manusia yang telah Dia ciptakan. Tia juga tahu Tuhan tidak pernah salah dalam memilih. Pilihan-Nya selalu tepat. Waktu yang diberikan Tuhan padanya sampai saat ini tidak perna sia-sia. Merlion putih yang indah ini menjadi bukti kasih sayang-Nya yang tidak pernah terputus.
“Tuhan, aku mencintaimu lebih dari apapun. Karena kau pencurah rasa cinta ini untuk seluruh manusia. Terimakasih.”

Komentar