Jauh Berjarak

Ini sudah kali keempat aku melihatnya duduk dikursi tunggu terminal itu. Dia masih mengenakan seragam putih abu-abu. Turun dari sebuah bus yang sempat mengantarkannya sampai di terminal ini. Dia hanya duduk terdiam sambil menatap layar teleponenya yang berukuran besar itu. Entah siapa yang sedang dia ajak berkomunikasi, yang aku tahu hanya dia sedang menunggu seseorang datang untuk menjemputnya.

Dari kejauhan, aku masih bisa melihat tingkah lucunya yang sesekali memainkan mulutnya, memijat kakinya, dan mengetik pesan untuk orang diseberang sana. Sesekali tersenyum membaca pesan, sesekali terlihat geram, dia begitu lucu.

Entah apa yang membuat aku begitu senang ketika memilih duduk di teras dan memandanginya dari kejauhan seperti ini. Yang aku tahu, aku hanya sedang merasakan getaran cinta karena pandangan pertama.

Sejak pertama aku melihatnya, dia tetap sama. Tapi kenapa dia tiba disaat senja juga datang? Saat dimana matahari mulai bosan untuk menerangi bagian bumi yang sedang aku dan dia pijak?

Apakah selama itu menuntut ilmu?

Dia meluruskan kakinya. Sepertinya kakinya mulai kram. Ya, itu wajar. Hampir setengah jam dia duduk menunggu seseorang yang akan datang menjemputnya. Pandangannya masih terfokus di layar telepon. Sesekali dia menatap jalan memastikan kedatangan seseorang yang sangat amat dia nantikan. Tapi aku tidak pernah tahu siapa sebenarnya yang dia tunggu. Setiap kali aku mendapat dorongan untuk masuk ke rumah walaupun sebentar, aku selalu kehilangan dirinya setelah aku kembali ke teras. Bodoh.

Keesokan harinya aku berusaha untuk tetap stay melihatnya dari teras tanpa memerdulikan apa yang akan menggodaku untuk masuk ke rumah dengan alasan aku tidak mau kehilangan dia tanpa sebab yang pasti. Aku hanya ingin tahu siapa yang dia tunggu di terminal beberapa hari ini.

Jam di teleponku masih menunjukkan pukul 16.15 WIB. Sepertinya masih lama. Tapi aku enggan beranjak dari teras rumah untuk menanti paras yang membuat aku memimpikannya kemarin malam.

Hidup terpenjara di rumah yang banyak orang menyebutnya “mewah” ini membuat aku jenuh. Tanpa kasih sayang dan terbebani banyak aturan. Apalagi denganketerbatasan yang aku miliki. Cukup membuatku sempat merasa ingin mengakhirinya. Tapi, aku berusaha mengurungkan niat setelah aku melihat gadis misterius yang selalu setia menunggu seseorang hadir untuk membawanya ke tempat yang mungkin akan membuatnya lebih nyaman. Banyak orang di media sosial yang mengatakan kalau mereka tidak suka menunggu. Mungkin juga dia disana seperti itu.

Bus trans semarang koridor 2 nomor 9 menurunkan seluruh sisa penumpangnya yang sengaja turun di terminal untuk melanjutkan perjalanan dengan angkutan yang lain, atau memilih duduk dan menunggu jemputan seperti gadis itu.

Rambutnya terkibas oleh angin. Digenggamnya telepon di tangan kanannya. Tangan kirinya membawa sebuah novel yang entah aku tak tahu judulnya apa. Dia berjalan menuju tempat biasanya menunggu jemputan. Wajahnya muram. Tapi tetap terlihat manis walaupun dari kejauhan.

Kali ini dia tidak menggunakan teleponnya untuk menemaninya. Tidak ada ketikan untuk seseorang disana. Tidak ada senyuman kecil setelah membuka teleponnya seperti waktu itu. Dia hanya fokus pada novel yang tebal itu. Samar-samar aku melihat judul novel itu. Karena jarak terasku dan tempat biasa dia menunggu cukup jauh. Tapi yang aku tahu, sampul novel itu berwarna biru laut.

Wajah manisnya masih sama seperti beberapa hari belakangan ini. Setiap lima menit sekali dia membalik halaman novelnya dengan antusias. Raut wajahnya menandakan kalau dia sangat penasaran dengan kelanjutan cerita di novel yang sedang dia baca itu.

20 menit berlalu begitu saja. Dia masih bertahan disana. Belum ada tanda-tanda kedatangan dari seseorang yang akan menghampirinya. Aku juga masih bertahan di teras berukuran 5 kali 3 meter ini. Dia juga masih asyik dengan novelnya. Sesekali dia tutupi wajah manisnya dengan novelnya. Sehingga aku tidak bisa memandangi wajahnya. Sesekali pula dia menutup novel dan menatap ke langit, lalu tersenyum geli. Terkadang aku juga ikut tertawa kecil melihatnya seperti itu.

Dia meletakkan novelnya di kedua pahanya, menandai halaman terakhir yang sudah dia baca dan menutup novel itu. Mengeluarkan lagi teleponnya. Sepertinya dia sedang melihat jam. Wajahnya mulai resah. Tapi keresahannya ditepis oleh seseorang berbadan cukup ideal dengan menggunakan seragam putih abu-abu pula. Dengan helm berwarna hitam yang menutupi wajahnya. Dia berhenti tepat di depan perempuan yang aku kagumi. Membuka kaca helm dan tersenyum. Begitupun perempuan itu. Aku juga mendapatinya tersenyum. Sebelum naik ke motor laki-laki itu dia sempat memukul pundak sebelah kiri laki-laki itu dengan novelnya. Mereka pergi meninggalkan terminal. Dan meninggalkan kehancuran di hatiku yang rapuh ini.

Aku. Laki-laki yang tak punya banyak nyali untuk mendekatinya dan hanya berani menatap dari kejauhan. Aku rasa, jarakku dengannya sudah cukup. Cukup untuk membuatku tersenyum walaupun dalam waktu yang tidak lama. Cukup untuk membuatku mengerti rasanya kecewa dan tahu rasanya menunggu. Aku juga tahu cara untuk tersenyum kembali saat melihatnya walaupun dari kejauhan. Aku suka padanya. Dan aku akan mulai bersahabat dengan waktu untuk perlahan-lahan mencintai jarak dan kesempatan yang tidak berpihak padaku.

Aku menunggumu datang dan pergi dengan mudahnya. Semudah itu pula kau membuatku bahagia sekaligus hancur. Aku memang bodoh, tapi aku tetap menunggumu. 

Komentar