Dalam Kesadaranku (Kembali)



Hari ini, 16 juli 2020 Tepat 5 tahun setelah kepergianku dari Bandung. Disini, di tempat yang sama. Ditempat yang menyimpan banyak perjuangan dan kenangan. Tempat dimana aku bisa meluapkan amarah juga hobiku. Aku tidak merasa menjadi seorang alumni, sekarang. Aku masih sama seperti 5 tahun silam. Aku masih muda dan masih penuh dengan semangat. Merasa masih layak memakai seragam putih abu-abu. Dan disini pula menunggu erna untuk kali pertama setelah 5 tahun yang lalu.
Aku kembali menginjak tanah bandung setelah 5 tahun aku dan keluargaku memilih pindah ke kota dimana aku dilahirkan. Semarang. Dan selama 5 tahun itu aku tidak pernah menginjakkan kakiku di bandung. Dan dihari ini pula, aku menjanjikan sesuatu pada erna.
Kertas yang aku gunakan untuk menulis isi hatiku yang semuanya tentang erna itu, aku menyerahkannya pada gino. Dan memintanya untuk memberikannya pada erna di hari ulang tahunnya yang ke 18. Aku tidak memberitahu erna dan brigta kalau aku akan pindah. Ya, saat itu aku jahat sekali. Dan aku menyadarinya.
Dan seperti yang aku janjikan disurat itu, hari ini, ditanggal yang sama aku berjanji akan datang ke tempat dimana aku biasa mencurahkan semua masalahku lewat bola basket. Kali ini aku membawa bola basket sendiri. Lama kelamaan aku meninggalkan tenis dan memilih menekuni basket. Entahlah, terlalu banyak kenangan di olahraga yang satu ini, mungkin.
Hampir satu jam aku menunggu disini. Dengan bola basketku, aku ingin mengenang masa-masa putih abu-abuku disini. Masa-masa dimana penuh canda dan tawa dari 3 teman yang tidak pernah aku miliki sebelumnya. Ya, aku tidak pernah memiliki teman seaneh mereka.
Tiga langkah dan satu lompatan, tepat melewati ring. Aku menangkap bola itu lagi. Aku ingin melemparnya sekali lagi tapi suara itu menahanku. Suara erna. Dia datang dengan penampilan yang sangat amat berbeda. Rambut lurusnya sekarang tak terlihat  lagi seperti dulu. Bukan, dia bukan botak. Tapi dia menutupnya dengan jilbab berwarna cokelat muda tanpa bros. Dia terlihat lebih dewasa.
“Assalamualaikum.”
Begitu sapanya dengan senyuman khasnya yang selalu aku rindukan.
“Waalaikum salam”
 aku juga melemparnya dengan senyuman khasku. Ah, tentu saja senyumku sangat amat biasa saja.
“Masih main basket?”
“Cuma ini yang bikin aku keliatan keren.”
“Siap bilang kamu keren?”
“Kamu?”
Erna hanya menggeleng pelan. Dan berjalan mendekatiku.
“Nggak berubah-berubah ya, kamu.”
“Masa?”
“Aku telat banget ya, nu. Maaf ya. habis nganterin pesenan.”
“Kerja?”
“Ya, lumayan buat nambah-nambah uang jajan. Lagian kerjanya di tanteku sendiri kok.”
“Jadi apa?”
“Pengantar bunga. Selain deket sama kertas, aku juga seneng bisa deket bunga terus.”
“Oh..”
“Tuh kan nggak berubah.”
“Hehe”
 aku baru menyadarinya. Kalau yang dimaksud erna adalah sikap dinginku.
“Duduk, na. Nggak enak ngobrol sambil berdiri gini”
Erna duduk dengan anggun. Jarang sekali aku melihatnya memakai rok panjang. Ya, kecuali rok seragam sekolah.
“Kamu sendiri gimana sekarang?”
“Aku nerusin bisnis ayahku. Ya, lumayan juga. Hasinya bisa ditabung buat masadepan.”
“Itu doang?”
“Aku juga jadi guru basket di sma ayahku dulu. Itu juga lumayan. Dan itu selalu bikin aku keinget sama masa-masa kita sekolah dulu, na.”
“Oh ya?”
“Heem..”
Plak. Satu pukulan tangan erna mendarat di pundak kiriku. Lama juga tidak merasakan pukulan erna.
“Ups, maaf. Sakit ya?”
“Enggak kok. Udah biasa kamu pukul, kan.”
“Itu kan udah lama banget, nu.”
“Hehe iya.”
“Itu tadi buat hukuman gara-gara kamu pindah nggak bilang-bilang!”
“Maaf, aku nggak bermaksud nggak pamit, tapi..”
“Kenyataannya gitu, nu. Ngak usah ngaco nyari alesan!”
“Iya deh, maaf. Kan udah ada suratnya. Buktinya kamu kesini hari ini.”
“Iya sih, tapi kan tetep aja nggak sopan. Masa sama temen sendiri nggak pamit.”
“Jadi, waktu itu kamu masih nganggep aku temen kamu?”
“Menurut kamu?”
“Ya, aku kira kamu masih marah sama aku gara-gara insiden rendi di taman sekolah”
“Emang sih awalnya aku marah banget. Apalagi tahu kalo kamu deket sama dea. Rasanya aku pengen cepet lulus dan menghilang dari kamu. Seriusan!”
“Maaf ya, na.”
“Nggak apa-apa kok. Lagian itu udah lama kali, nu.”
“Iya sih, tapi aku masih merasa bersalah aja.”
“Mmm.. nyaniin aku satu lagu dong.”
“Nggak. Aku kan gabisa nyanyi.”
“Harus bisa dong. Buat aku.”
“Nggak. Nggak bisa.”
“Ish, tau ah!”
“Ah, gitu aja ngambek.”
“Biarin.”
“Kamu juga nggak berubah.”
“Berubah lah.”
“Apanya? Masih aja bawel kayak dulu.”
“Nggak tau ah, nu bt.”
“Hehe, maaf.”
“Nggak usah keseringan minta maaf gitu ah. Nggak enak dengerinnya.”
“Kok bisa gitu?”
“Ya pokoknya bisa.”
“Oke oke.. gimana kamu sama rendi?”
“He? Pertanyaan macam apa itu?”
“Kalian nggak pacaran? Pintu hati kamu nggak terketuk buat rendi?”
“Gimana bisa terketuk, orang pintuku aja terbuat dari baja yang panas dan susah dibuka. Soalnya kuncinya udah aku buang jauh-jauh.”
“Ada yag ketinggalan nggak di dalem sana?”
“Adalah, dan kamu nggak boleh tahu.”
“Kenapa?”
“Pokoknya nggak boleh tahu.”
“Kita kan temen. Masa aku nggak boleh tau?”
“Biarin!”
“Terserah deh!”
Plak. Untuk yang kali keduanya tangan erna mendarat di lengan kiriku dengan tenaga yang cukup keras.
“Aku masih nggak suka sama jawaban terserah!”
“Ooh”
“Ish!”
“Hehe..”
“Nu?”
“Kenapa?”
“Kamu sama dea?”
Aku diam sejenak. Menatap mata erna yang aneh.
“Entah, dea udah lebih bahagia tanpa aku.”
“Mmm.. jadi gitu ya menurut kamu?”
Aku hanya mengangguk membenarkan.
“Na?”
“Ya?”
“Kamu udah dateng kesini, itu artinya kamu udah baca surat dari aku, kan?”
“Iya, kenapa?”
“Em..”
 aku kebingungan meneruskan perkataanku. Ah, tiba-tiba aku tidak bernyali.
“Kamu maih suka sama aku, nu?”
“He?”
Ya, aku mengungkapkan semua isi hatiku disurat itu. Terlihat sangat cupu bukan? Sepertinya hanya aku satu-satunya laki-laki yang hanya berani mengungkapkan perasaanku lewat sebuah tulisan. Bahkan bukan aku sendiri yang memberikannya kepada erna. Aku cukup membenci diriku sendiri di dalam masalah cinta seperti ini.aku tidak berpengalaman dan terlalu masa bodoh.
Selama ini, yang aku tahu hanya arti waktu yang Tuhan berikan padaku untuk menunggu seseorang yang mampu mengubah hidupku secara perlahan menjadi lebih baik lagi. Dan dalam penantian itu, aku menemukan seseorang. Ya, hanya seorang saja. Erna.
“Di surat kamu, isinya gitu bukan? Sekarang kamu masih suka sama aku?”
Aku menatap matanya. Masih sama seperti 5 tahun yang lalu. Tetap lembut. Ya, bisa dibilang mata erna menjadi salah satu alasan kenapa aku menyukainya.
“Menurut kamu?”
“Em.. kayaknya sih masih.”
“Ya udah.”
“Bener ya, jawaban aku?”
“Iya mungkin.”
Dia hanya tersenyum. Aku bisa melihatnya, dia berusaha memahami aku, lagi. Untuk yang kesekian kalinya.
“Kamu mau tahu siapa yang udah kekunci di hati aku?”
“Katanya nggak boleh tahu. Siapa emang?”
“Huuu dasar! Pengen tahu nggak?”
“Itu sih kalo kamu mau ngasih tahu.”
“Siapalagi kalo bukan kamu?”
“Oh..”
Erna diam dan menatapku tajam. Tangannya sudah diangkat siap untuk memukulku. Dia benar-benar tidak berubah. Masih sama seperti erna 5 tahun yang lalu. Sama seerti erna 6 tahun yang lalu. Dan dia tetap lugu, sama seperti erna 7 tahun yang lalu.
Aku, seorang laki-laki yang bodoh tapi beruntung bisa mendapatkan waktu untuk bertemu dengan sosok seperti erna. Kehidupanku yang hanya ada warna hitam dan putih ini berubah menjadi penuh warna setelah aku mengenalnya.
Aku, manusia tanpa senyuman akhirnya bisa luluh dan terbiasa tersenyum karenanya. Seseorang yang tidak pernah peduli dengan perempuan kecuali adik dan ibuku, bisa berubah dan bertambahlah perempuan yang selalu ada dipikiranku. Ya, hanya erna.
Aku tidak pandai berkata-kata. Apalagi berkata-kata romantis dan menyentuh. Itu bukan keahlianku. Tapi yang aku tahu, sebuah penantian itu hanya akan menemui 2 jalan. Antara jalan buntu dan jalan utama. Semua itu bergantung pada keyakinan kita dalam bertahan dan garis tangan yang telah ditetukan oleh sanga pemilik waktuuntuk kita. Karena bagaimanapun juga, cinta akan membawa kita ke tempat dimana kita bisa menetap disana.
Tetaplah tersenyum. Karena kini, senyummu adalah senyumku juga.
-end-

Komentar