Dalam Kesadaranku (Serangkai kata)




“kok muka kamu nggak enak gitu sih?”
Dea yang duduk di sebelahku menyadarkan lamunanku. Dia juga terlihat asyik bermain dengan dugi. Aku hanya menatapnya tanpa berbicara apapun. Sudah hampir setengah jam, aku dan dea duduk di teras rumahku. Tapi, baru beberapa kata saja yang bisa aku produksi malam ini.
“kenapa?”
Aku menggelengkan kepala untuk kali ketiganya. Dea tidak bosan-bosan menanyakannya.
“kalau kata dugi, kamu lagi galau”
“sok tahu, dia”
Dea tersenyum. Sepertinya dia senang karena akhirnya aku mengeluarkan suara emasku.
“jadi, ada apa denganmu hari ini?”
“aku baik-baik aja.”
“are you really?”
“hmm”
Dea kembali memainkan leher dugi. Sepertinya dugi mulai jatuh cinta dengan dea. Wajar, dugi jantan. Dea juga cantik. Ah, dasar kucing ganjen.
“kenapa kamu nggak bilang kalau erna nggak suka dikasih kejutan?”
Suasana mulai serius. Dea memutuskan untuk memasukkan dugi ke kandangnya lagi untuk menemani fenu. Dan dea kembali duduk di dekatku dengan wajah yang sangat sumringah. Entahlah, aku juga tidak tahu apa yang sedang terjadi pada anak ini.
“bukannya aku pernah ngomong ya?”
“he? Kapan?”
“waktu dilapangan basket kemarin malem. Nggak inget?”
“enggak.”
“dasar, masih muda udah pikun.”
“bukannya emang kamu nggak cerita tentang itu,ya? udah, buruan ceritain”
“bukannya kalian udah deket hampir setahun lebih? Masa kamu nggak tahu?”
“udah, nggak usah ngasih aku pertanyaan. Kamu jelasin aja semuanya.”
“oke. Dulu waktu kelas satu, aku lumayan deket sama erna. Dan aku sering jadi tempat curhat dia gitu. Banyak yang dia ceritain ke aku. Tahu nggak kenapa dia kalau disekolah itu bisa banyak omong? Itu karena dia sangat amat pendiam kalo dirumah. Dia nggak pernah ngrasa nyaman kalo lagi dirumah. Dia jarang banget diperhatiin sama orangtuanya. Jadi dia nganggep rumah itu kayak penjara buat dia. Dia punya satu kakak yang care banget sama dia. Namanya kak Andi. Dulu, waktu erna ulang tahun yang ke 15, kak andi sengaja bikin kejutan ulang tahun buat erna. Walaupun baik, kak andi itu termasuk orang yang jail. Kamu tahu kan kalo erna takut sama cicak? Nah waktu itu erna pulang sekolah malem, soalnya dia sama anak-anak redaksi lainnya itu ngurusin mading. Waktu itu kan pas ulang tahun sekolah. Jadi mereka harus lembur  gitu. Nah, pulang-pulang di rumahnya itu sepi. Orang tuanya lagi pergi waktu itu. Nah dirumah Cuma ada kak andi. Kak andi sengaja mumpet dan buat kejutan itu di kamar erna. Dan kamu tahu? Di dinding kamar erna itu ada tulisan HBD yang disusun dengan cicak. Gimana erna nggak takut? Dia histeris dan nggak bisa tidur, nggak doyan makan, 2 hari wajahnya pucet, dan erna marah besar sama kak andi. Apalagi di waktu-waktu seperti itu, orangtuanya nggak ada dirumah. Setelah kejadian itu dia paling benci sama kejutan. Apapun bentuknya. Dia bakal inget kejadian itu kalau dia lagi dihadepin sama kejutan.  Dan, siap-siap aja kena semprot erna kalo sampe ada yang ngasih dia kejutan. Aku terlalu banyak omong ya?”
“enggak kok.”
“dan Cuma di bales kayak gitu sama kamu?”
Aku hanya mengangguk dan kembali melihat purnama di atas sana. Erna sangat suka purnama. Tapi purnamanya kali ini, sepertinya akan dia hias dengan banyak tetesan air mata. “Maaf, na. Kalau saja aku tahu ini dari dulu, aku nggak bakal ngebiarin rencana rendi itu berhasil. Walaupun aku nggak tahu surprice yang kayak apa yang rendi buat untuk kamu” batinku.
“aku teman yang jahat ya.”
“nggak ah. Kamu itu superduper jahaaaaat!! Eh tapi kamu kok aneh ya sama erna.”
“aneh apanya?”
“kamu nggak suka kan sama erna? Kenapa kamu peduli banget gitu sama dia?”
“gitu ya? iya mungkin.”
“ish!!”
“marah ya?”
“nggak tahu ah. Bete!”
“udah malem. Aku antar pulang ya?”
“dijemput kakak aja deh.”
“gitu doang ngambek?”
“menurut kamu?”
“harusnya aku yang ngambek.”
“kenapa?”
“soalnya kamu udah curiga sma aku.”
“lebay! Ayok buruan anterin sampai gerbang”
Aku hanya tersenyum geli melihat tingkahlaku dea yang sok manja ini. Dasar dea, dia juga selalu begitu. Aneh.
“eh, nu.” Dea menghentikan langkah kakinya seketika.
“kenapa lagi?”
Kali ini wajahnya serius. Aku tidakpernah melihat wajah dea yang seserius ini. dea memang aneh.
“jangan sakitin erna lagi, ya. jangan nglakuin hal-hal bodoh buat erna. Dia rapuh banget.”
“iya. Aku ngerti.”
“satu lagi.”
“apa?”
“aku tahu, aku belajar banyak tentang ilmu gerak tubuh seseorang dari kakakku. Dan selama aku kenal kamu, aku belum pernah nemuin tatapan yang jujur dari kamu.”
“maksudnya.”
“kamu diem aja. Kamu dengerin aku ngomong aja, nu.”
“oke”
“selama ini, aku ngrasa ada yang kamu tutup-tutupin dari aku. Tapi aku nggak ngerti itu apa. Tapi firasatku, itu ada sangkut pautnya sama erna.” Wajahnya mulai ditekuk. Aku senang melihat dan memerhatikan raut wajah dea yang sangat mudah berubah-ubah. Walaupun disuasana yang seharusnya serius ini, tapi aku masih bisa melakukannya.
“kamu dengerin aku kan?”
“iya”
“kamu tahu kan kalau aku suka kamu?”
“iya”
“dan aku juga tahu. Kalau selama ini kamu nggak suka sama aku. Kamu hanya pura-pura suka sama aku buat nutupin perasaan kamu ke erna. Nu, aku emang orang yang paling anti sama kebohongan. Dan aku nggak suka kalo kamu bohongin diri kamu sendiri kayak gini.”
“kenapa kamu bisa ngomong kayak gitu?”
“kenapa nggak bisa? Kita deket belum ada setengah tahun kan, nu. Mana mungkin orang pendiem kayak kamu langsung suka sama aku karena dulu aku sms kamu duluan. aku sangat amat terbuka sama kamu, nu, tapi berbanding terbalik kamu ke aku. Aku nggak bisa lihat ‘cinta’ dari mata kamu.”
“ah, cinta.” Aku meremehkan. Apa tindakanku ini benar? Entahlah.
“kamu selalu menyepelekan cinta, nu. Dan kamu terlalu nggak sadar kalau yang ada di sekitar kamu, yang selalu ada buat kamu, itu juga cinta. Kamu Cuma nggak paham dengan diri kamu sendiri, nu. Bahkan, kamu sendiri nggak paham kalau kamu suka sama erna.”
“de...”
“nu, kamu Cuma perlu dengerin dan jawab kalo aku nyuruh. Nggak usah bandel.”
Aku tidak menawab. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Dea terlalu marah. Dan aku mulai sadar dengan apa yang aku lakukan selama ini. seketika aku mengingat-ingat kejadian yang aku lalui dengan erna. Ah, aneh.
“udah ah. Aku ngomong panjang lebar pun kayaknya kamu nggak bakal ngerti. Maaf kalo aku marah-marah, nu. Aku Cuma pengen kamu bahagia dengan pilihan hati kamu. Bukan paksaan.” Dea berjalan keluar gerbang rumah.
“de..” dea membalikkan badannya. Sepertinya dia menahan tangis.
“maafin aku.”
Dea hanya tersenyum. Kali ini dia mengangkat pipinya. Bukan melebarkan pipinya. Senyum yang jarang aku lihat dari dea. Kakaknya sudah sampai. Dia meninggalkan aku di teras sendiri. Malam ini begitu dingin. Bukan hanya suhunya, tapi suasana pikiranku juga sedang dingin. Aku tidak bisa berpikir. Aneh.
Aku mulai bercerita dengan benda-benda matiku dikamar. Dinding menjadi satu-satunya pendengar yang baik. Kadang ku berpikir, adakah laki-laki diluar sana yang melakukan hal yang sama sepertiku? Rasanya hanya aku yang mlakukan ini. seaneh inikah aku? Di saat-saat yang seharusnya aku serius, aku justru bercanda. Tapi setidaknya, tidak ada yang memarahiku.
...
Pulang sekolah. Aku memilih untuk bermain basket lagi. Sendiri. Ini sangat manjur mengembalikan moodku setelah sekian jam di kelas dengan keadaan yang sangat-amat tidak memungkinkan untuk dilalui. Erna tidak sekalipun mengeluarkan suaranya yang sering mengganggu itu. Brigta sama sekali tidak menatapku. Gino hari ini sangat sibuk dengan gadgetnya. Sepertinya sedang ada turnamen bola sepak yang dia sukai. Tapi, aku tahu gino tidak marah padaku. Dia yang paling mengerti.
Pertemanan ini seperti sudah berada di ujung tanduk. Miris. Dan hampir jatuh untuk kehancuran. Pertemanan yang telah terbentuk lebih dari satu tahun ini sedang mengalami krisis. Memang, satu tahun itu bukan waktu yang lama. Tapi dalam satu tahun itulah kami saling berbagi. Satu tahun ini, aku merasa aku berguna dalam kehidupan. Dan hanya bersama merekalah aku merasakan hal itu. Sulit dibayangkan, bukan?
Sendiri dan sendiri. Kadang aku juga heran dengan rakyat di sekolah ini. kenapa tidak mengisi waktu luang dengan baik. Maaf kalau aku menggurui. Padahal aku juga masih menggunakan waktu luangku dengan kurang baik cenderung tidak bermanfaat. Ya, tapi setidaknya ada kegiatan yang bisa aku lakukan di waktu luangku. Tapi bisa jadi mereka mengisi waktu luang mereka dengan belajar dirumah. Ya, siapa tahu.
“pantesan nggak pernah masuk tim Inti. Permainanmu aja kayak gitu.”
Suara itu mengusikku. Seluruh tubuhku rasanya aneh. Tapi aku coba kendalikan. Dan aku berhasil mengendalikannya. Aku hanya menoleh ke arah pemilik suara itu. Tidak aku jawab pernyataannya. Dan tetap fokus dengan bola basket yang ada di tanganku sekarang ini.  kali ini lemparanku tidak tepat sasaran. Dan itu cukup membuatku malu dengan rendi. Seperti alampun setujuh dengan ucapan rendi tadi.
“kenapa?” aku mencoba menyairkan suasana.
“maafin aku ya, nu.”
“buat?” aku masih berusaha memasukkan bola untuk melewati ring. Rendi berdiri tegap tepat di batas garis lapangan sebelah kananku. Sekilas, aku melihat wajahnya yang tampak serius. Entahlah apa yang terjadi padanya.
“ini tentang erna, nu. Aku nggak tahu kalau dia punya kenangan buruk tentang kejutan.”
“oh..”
“kelihatannya kamu santai banget ya.”
“nggak juga.”
“kamu boleh marah sama aku, nu.”
“kenapa harus marah?” aku menangkap bola yang baru saja berhasil melewati ring. Mendrible bola itu sambil mendekati rendi. Aku duduk tidak jauh dari tas ranselku. Rendi mengikutiku. Dia duduk disamping kiriku. Wajahnya masih saja tegang dan serius. Sepertinya dia menganggap masalah erna ini dengan terlalu serius. Berbanding terbalik dengan aku yang santai, tapi tetap peduli. Ya, aku memang jauh lebih keren dibanding rendi.
“kalo aja aku tahu dia phobia sama kejutan, aku nggak bakal punya rencana kayak gitu, nu.”
Aku membiarkan rendi berbicara. Aku meneguk air mineral yang sudah aku siapkan sambil mendengarkan rendi.
“udah minta maaf sama erna?”
“udah. Dan dia udah maafin aku karena aku emang nggak tahu tentang phobia dia itu.”
“oh.. baguslah.”
“jangan bilang kalo kamu belum minta maaf sama erna?”
Aku cukup kaget dengan pertanyaan atau pernyataan rendi itu. Jujur, aku juga baru saja ingat kalau setelah insiden tempo hari, sampai sekarang erna belum memaafkan aku. Bahkan, saling bicara saja tidak terjadi di antara aku dengan erna.
“udah. Tapi belum dimaafin.”
“aku jadi merasa nggak enak sama kamu, nu.”
“santai aja ren. Paling tiga hari lagi erna nyariin aku lagi.”
“kamu nggak bisa kayak gitu, nu. Erna butuh kamu, karena dia suka kan sama kamu?”
“tahu dari mana?”
“brigta cerita sama aku. Aku sempet kena semprot dari brigta, nu. Aku merasa bodoh banget, nu. Dan harusnya aku juga sadar itu dari dulu. Bukan aku yang selalu ada buat erna. Tapi kamu.”
“ren...”
“nu, aku cowok. Aku suka erna. Aku juga pengen dia bahagia, nu. Aku kenal kamu, nu. Titip erna ya.”
“bukannya kamu tahu sendiri aku sekarang sama dea?”
“aku tahu, nu. Dan aku lebih tahu apa yang ada dipikiran kamu tentang dea. Aku paham betul sifat kamu, nu. Kamu nggak bisa suka gitu aja sama seseorang yang bahkan belum genap setengah tahun kenal sama kamu. Dan kamu nggak bisa nyakitin dua perasaan perempuan di waktu yang sama.” rendi beranjak dari tempatnya duduk.
“ren!”
“nu, aku tahu kamu nggak berpengalaman tentang cinta. Tapi tolong dengerin apa yang aku omongin. Dengerin pengalamanku tentang cinta sekali ini aja. Bisa kan kamu nurutin kata hati kamu sendiri? Dengan berbohong, kamu juga akan dibohongi. Dengerin aja kata hati kamu. Udah,  aku mau balik. Kamu jangan kesorean disekolah. Mendung banget nih. Duluan ya”
Rendi meninggalkan aku sendiri di lapangan basket ini. tanpa sepetah katapun yang bisa aku ucapkan untuk mengelak perkataan bijak rendi. Ya, memang harusnya aku mengakui kalau aku tidak terlalu berpengalaman tentang cinta. Karena masa mudaku harusnya tidak aku isi dengan hal yang seperti  ini. tapi aku terlena dengan ucapanku sendiri. Bodoh.
Dan anehnya, kenapa dea dan rendi memberikan aku nasehat yang hampir sama. Aku tidak boleh membohongi diriku sendiri. Apa ini bagian dari trik mereka untuk menyomblangan aku dengan erna. Ah, tidak. Aku sendiri belum percaya kalau erna menyukaiku dan aku suka erna. Ah tidak mungkin.
...
“bang, kok udah jarang main sama kak erna, kak brigta, sama siapa yang satunya lagi? Aku lupa.”
“gino.”
“nah, itu. Lagi pada musuhan apa gimana sih?”
Seketika aku jadi ingat film 5cm yang aku tonton dengan brigta, erna dan gino. Ingat bagian dimana zafran sedang menelfon dinda. Dinda bertanya kenapa mereka berlima sudah jarang kerumahnya, kerumah arial. Berasa lina adalah dinda yang sedang menanyakan hal yang sama kepadaku. Ah berasa jadi aktor.
“nggak juga.”
“kok nggak pernah main lagi sama mereka? Aneh.”
“sibuk, mungkin.”
“bohong. Bang yanu mana bisa sibuk? Paling sibuk ngomong sama benda-benda dikamar.” Lina menjulurkan lidahnya untuk mengejekku.
“hm.. terserah kamu lah, lin.”
“bang yanu masih sama kak dea?”
“kenapa? Pertanyaanmu dari tadi nggak enak banget sih, lin.”
“hehe, ya maaf deh. Tapi jawab dulu dong.”
“jawab apa?”
“kenapa masih sama kak dea? Emangnya bang yanu beneran suka ya sama kak dea? Kok aku ngrasanya aneh ya tiap lihat bang yanu sama kak dea lagi ngobrol. Apa Cuma perasaanku aja?”
“kamu ini kenapa sih, lin?”
“ya kan lina adeknya bang yanu.”
“trus?”
“jadi lina berhak tahu dong aa yang sedang terjadi pada abangku yang ganteng ini”
“kamu tahu dari ana kalau aku nggak suka sama dea?”
“yaaa.. menurut penelitian lina sih gitu, bang. Biasalaaah, cewek kan yang main perasaannya bukan logika.”
“dan kamu ngrasa kalo perasaan kamu itu bener?”
“yaap.. bener banget. Tinggal nunggu data dari bang yanu aja. Bener apa nggak?”
“nggak tahu”
“kok nggak tahu?”
“ya emang nggak tahu. Mau gimana lagi?”
“yaa seharusnya sih bang yanu harus paham sama apa yang dirasain bang yanu sendiri. Kan yang ngerti gimana perasaannya bang yanu Cuma Allah SWT dan diri bang yanu sendiri. Masa gitu aja nggak tahu?”
“mulai deh ceramahnya.”
“ih dibilangin yang bener malah kayak gitu. Bt ah!”
Lina mengernyitkan dahi. Wajahnya yang lonjong mulai ditekuknya karena badmood. Hawa di teras rumah sudah berbeda. Jauh lebih dingin dibandingkan satu jam yang lalu. Kaosku sudah tidak kuat menahan hawa dingin yang erlahan menusuk kulitku. Mungkin lina juga merasakan hal yang sama.
“udah ah. Masuk yuk. Emang kamu nggak kedinginan?”
“iya tumben dingin. Peluk aku bang..”
“idih, ogah!”
“sama adek sendirii..”
“nggak ah. Badan kamu kecil.”
“emang kenapa kalo kecil?”
Aku menatapwajah penasaran lina dengan saksama. Lucu. Aku menepuk jidatnya.
“buruan masuk!”
“ish.. jahat banget sih sama adek sendiri! Kalo sama kak dea aja disayang-sayang. Giliran adek kandungnya sendiri aja dianiaya.”
“berisik!” aku bangkit dari dudukku. Tubuhku sudah tidak bisa menerima suhu malam ini. cemen ya? biarin! Ini juga demi lina.
“bang tunggu!”
“apa lagi? Udah ayo buruan masuk”
“satu pertanyaan lagi, boleh?”
“apa lagi sih, lin? Udah malem!”
“satu pertanyaan doang, bang!”
“yaudah buruan apa?”
“bang yanu lagi kangen kan sama celotehnya kak erna?”
Seketika aku tidak lagi memerdulikan lagi hawa dingin yang tadinya menusuk-nusuk kulitku. Aku sudah lupa jam berapa sekarang. Selarut apa sekarang. Bahkan lupa apa yang ingin aku lakukan setelah masuk rumah. Pertanyaan itu begitu menyentuhku. Bukan dikulit. Tapi entah dimana. Tapi jantungku seolah memberi isyarat kalau ini adalah pertanyaan yang mematikanku. Sontak, bibir tipisku tidak bisa bergerak dan menolak untuk menjawa pertanyaan koyol lina.
“kok bengong?”
Aku hanya sedang mengingat beberapa kejadian lucu yang aku alami dengan erna. Betapa cerewetnya dia, betapa memalukannya dia, betapa menjengkelkannya dia. Tapi dibalik itu, hanya dia yang bisa membuat aku yaa setidaknya bahagia karena memiliki sosok teman sepertnya. Aneh memang. Tapi memang benar, aku merindukannya.
...
Dinding kamar selalu menjadi sahabat setia yang selalu rela mendengarkan ceritaku. Mungkin jika ada yang tahu tentang kegiatanku ini, mereka akan menganggapku aneh. Tapi aku enjoy dengan apa yang aku lakukan ini. bahkan bukan hanya dinding, tapi seluruh isi kamar ini bahkan langit-langit kamarpun juga ikut menyimak cerita klasikku.
Sebenarnya apa yang bisa aku lakukan sekarang? Dengan keadaan yang samasekali tidak nyaman. Mungkin, diluar sana banyak juga yang mengalami hal yang sama denganku. Bahkan lebih parah lagi. Tapi mereka bisa tetap enjoy. Ya, aku juga berusaha enjoy. Tapi entah kenapa aku selalu memiliki waktu untuk memikirkan hal ini.
Aku merasa lemah. Padahal harusnya aku menjadi sosok yang kuat dan tahan terhadap situasi seperti apapun. Ya, termasuk ini. aku hanya bukan tipe orang yang biasa memulai percakapan. Bukan tipe orang yang gampang basa-basi. Dan aku sadar. Aku membutuhkan sosok erna didekatku untuk mengimbangi semua kelemahanku.  Dan entah kenapa aku merasa aneh dengan diriku sendiri. Apa mungki ini yang namanya jatuh cinta? Merasa membutuhkan seseorang yang selalu ada untuk kita. Ya, walaupun dia menyebalkan. Tapi kehadirannyalah yang menjadi kebutuhan utama. Berlebian memang. Tapi itulah cinta. Aku mulai melow.
Erna bukan hanya manis. Tapi dia sangat menarik dimataku. Dan betapa bodohnya aku, aku aru menyadarinya setelah hampir 3 tahun kenal dan 2 tahun menjadi teman dekat. Semoga diluar sana tidak ada orang sepertiku. Setidaknya jangan melebihi kebodohanku. Jangan. Menyia-nyiakan seseorang yang mampu memperlkukanku dengan baik. Karena ketika kamu menemukannya, kamu akan dibuatnya bahagia. Ya, itu yang aku kutip dari beberapa twitt di akun twitter yang aku follow. Dan aku baru menyadarinya kalau aku sudah menyia-nyiakan erna.
Sekarang, selembar kertas sudah ada dihadapanku. Aku masih mencari dimana aku menaruh bolfoinku. Semuanya terasa berat. Aku hanya ingin menuliskannya. Ya, setidaknya ini yang biasa dilakukan lina. Dan ini kali pertama aku mencobanya. Semoga mampu meredam semua kegelisahan dan membuatku sedikit lebih tenang.
Kata demi kata aku goreskan di lembar keras hvsini. Sesekali kau berpikir bagaimana aku mampu menuliskan kalimat dengan sopan dan halus. Dan tanpa aku sadari, semuanya mengalir begitu saja.semua yang aku tuliskan tidak lepas dari erna. Aku hanya memikirkannya saat menuliskan ini. sungguh,ini sangat erlebihan. Tapi apa adanya. Aku juga manusia yang bisa menangis. Bahkan malam ini aku sangat menyesali semua perbuatanku.
Satu halaman penuh aku mengisi hvs ini dengan tulisanku. Dan  entah karena apa aku bisa berubah sedikit lebih tenang dibaningkan sebelum-sebelumnya. Aneh. Apa karena aku sudah mencurahkan semua isi pikiranku di lembar kertas ini? ya, mungkin itu alasannya.

Komentar