Ini hari
terakhir kami mendapat gelar kelas sebelas. Banyak siswa-siswi yang memilih
untuk tidak memasuki sekolah ini lagi. Karena esok adalah saat dimana seluruh
siswa-siswi akan menduduki tingkat yang lebih tinggi. Kecuali mereka yang tidak
ingin.
Hanya sebagian
anak kelas yang datang hari ini. termasuk aku, Erna, Brigta, dan Gino. Kami
sepakat untuk datang kesekolah hari ini. karena setelah pulang sekolah nanti,
kami akan ke rumah Brigta.
“jam berapa sih
gerbangnya dibuka?” tanya Brigta yang sedang mencba memecah kekakuan diantara
kami berempat.
“nggak tahu, ta.
Biasanya kan kita pulang siang. Ini masih jam setengah sebelas. Tapi boseen!” Erna menimpali. Mereka berdua meletakkan kepala masing-masing di atas meja dan
saling berhadapan. Dengan keluhan-keluhan yang mereka ucapkan.
“setengah jam
lagi juga udah buka. Sabar.” Gino menenangkan dua perempuan bawel ini. kali ini Gino tampak santai dengan komik detectiv conan. jelas Gino tahu. Dibanding kami
ber tiga, dialah yang rajin pulang cepat selama classmeet.
“setengah jam
itu lamaa, Noo!!” bantah Erna. Dia mengangkat kepalanya yang terasa berat itu
untuk menatap Gino. Aku hanya bisa melihat tingkah mereka.
“bentar. Paling
40 halaman komik juga udah dibuka”
“itu lama, Noo!!”
“udah, Na.
Mending tidur aja.” Brigta menenangkan mereka berdua.
“Nu, puter
playlist kamu dong.” Pinta Erna padaku. Sengaja dia menyuruhku karena dari tadi
aku hanya diam.
“laguku, lagu
lawas.”
“udah puter aja.”
Diletakkan lagi kepalanya di meja. Tapi kali ini dia tidak berhadapan dengan
brigta lagi. Dia mengarahkan wajahnya ke arahku dan gino. Aku membuka aplikasi
pemutar musik di handphone bututku ini. aku tidak tahu, lagu apa yang pantas aku putar untuk kali pertamanya. Hanya
beberapa lagu sheila on 7 dan ungu. Selain itu lagu yang ada di handponeku
adalah lagu milik lina. Aku memilih lagu jadikanlah aku pacarmmu milik sheila
on 7.
“lagu apa ini,
nu?”
Aku tidak
menjawab pertanyaan erna. Handphoneku aku letakkan terbalik supaya speakernya
bisa mengeluarkan suara dengan lancar tanpa hambatan apapun. juga untuk
memperkeras volume suaranya.
“oh sheila on 7,
ya?” mata erna masih tertutup.
“hmm”
Hanya ada suara
lagu dari playlistku yang memenuhi ruangan kelas ini. lagu berikutnya juga dari
sheila on 7 berjudul sephia. Tapi buru-buru brigta memintaku untuk melewati
lagu ini. tapi erna tidak terima karena menurut erna lagu ini pas untuk sebagai
lagu pengantar tidur. Tapi liriknya sangat membuat brigta tidak nyaman. Akhirnya
selama lagu diputar brigta dan erna hanya bertengkar. Dan untuk menghindari
kejadian-kejadian yang tidak diinginkan maka aku memlih untuk mengganti lagu.
Walaupun erna sedikit jengkel tapi dengan begini mereka tidak bertengkar lagi.
Hampir sepuluh lagu
yang sudah terputar dari semua playlistku. Dan 10 lagu itu juga mampu membuat
kita lupa tentang gerbang.
“udah jam 11
lebih 8 menit. kayaknya gerbangnya udah dibuka deh.”
“em.. feelingku
juga gitu, no.” Brigta menata dirinya yang tadi sempat tertidur untuk
membugarkan kembali tubuhnya.
“na, bangun.
Pulang yuk” ajak brigta pada erna yang juga tertidur.
“udah dibuka,
gerbangnya?”
“kata gino sih
udah. Bangun gih!”
Kami
bersiap-siap meninggalkan ruang kelas ini. membiarkannya sendiri tanpa
penghuni. Lampu mati, dan yang tersisa hanya meja dan kursi. juga fas bunga
yang masih tegak berdiri di barisan paling depan dan dia sendiri.
...
Tiga toples berisikan
makanan ringan yang berbeda jenis ini sudah siap sedia dihabiskan oleh kami
berempat. Masing-masing satu gelas es teh dan masih ada satu botol berisikan
1,5 liter air mineral untuk cadangan di hadapan kami. Melepas lelah dan
kepenatan. Tidak jarang kami melakukan ini di rumah brigta. Karena dari empat
rumah kami, rumah brigtalah yang paling dekat dan nyaman. Karena disini ada
balkon yang menghadap langsung ke barat. Dengan begitu dari balkon ini pula
kita bisa melihat sunset. Ya walaupun tidak seindah saat kita melihat sunset di
pantai kuta atau di pantai lainnya.
“tunggu bentar
ya, mi rebusnya baru dimasak. Sabaaar.” Brigta datang mengagetkanku setelah dia
pamit untuk menengok masakan yang akan dihidangkan untuk kami.
“siaap, ta. Eh
kita main apakek gitu biar nggak bosen.” bujuk erna.
“ih iya dong.
Main apaan ya, na?”
“nonton film
aja. Aku ada film baru.”
“film apa, no?”
“5cm.”
“heh itu film
zaman kapaaan?? Kita kan udah nonton di bioskop.” Protes erna. Ya, memang saat
pertama kali film ini rilis, brigta langsung memesan 4 tiket untuk kami
berempat. Dan setelah menonton film itu, aku merasakan sesuatu yang tidak
pernah aku rasakan sebelumnya. Mungkin sedikit berlebihan. Tapi memang seperti
itu. Sejak saat itu, aku mulai menghargai keberadaan 3 manusia disekitarku ini.
entah, mungkin mereka bisa dibilang “sahabat”, tapi aku masih belum percaya apa
itu sahabat. Yang aku tahu aku hanya memiliki teman, bukan sahabat. Walaupun
erna nyebelin, gino freak, dan sibrigta jadi pelengkap diantara kami berempat.
Aku bersyukur mrmiliki mereka.
“ya apa salahnya
nonton lagi?”
“ya emang nggak
salah no, tapi emang nggak ada film lain apa?” tanya brigta.
“ya ada sih,
tapi.... kalian belum cukup umur buat nonton begituan.”
“ih, mulai deh
ngeresnya!” bentak brigta.
“gimana kalo
kita main TOD aja?”
“kuno ah, na”
“kok kuno sih,
ta? Kan seru.”
“setuju.
Seumur-umur kita berempat kan belum pernah main itu. Gimana?”
“yess... tos
dulu, no!”
Dan kedua
telapak tangan itu saling menempel dihadapanku.
“yanu gimana?
Setuju nggak?”
“ngikut aja
deh.”
“ah ernaaa.. ya
udah deh aku ngalah.”
“brigta ini
mie-nya.” Suara lembut mamah brigta memasuki balkon ini. dengan membawa empat
piring berisikan mie goreng ala mamah brigta.
“eh, iya mah.
Terimakasih”
“terimakasih,
tante.” Ucap erna yang ikut membantu membagi jatah kami masing-masing.
“iya, sama-sama.
Tante seneng kok kalau kalian kesini. Brigta nggak berisik di depan tv. Tapi
berisiknya sama kalian-kalian.”
“iya tante.”
Gino ikut mencari muka.
“gino kamu
kurusan ya?”
“ah tante bisa
aja. Perasaan dari tadi juga segini-segini aja. Eh kita kayak tokohnya di film
5cm ya. kita sering nongkrong disini kan? Kalo di film 5cm kan seringnya
dirumah arial, nah kalo kita di rumah brigta.”
“alah,
mentang-mentang tadi abis bahas 5cm aja, disangkut-pautin sama kebiasaan kita.”
“fakta, na!
Fakta!”
“alaah”
“udah deh, tante
tinggal dulu ya. di makan ya, kalo mau tambah nasi, langsung ke bawah aja ya.”
“siap, maah.
Makasih ya, mah.”
Mamah brigta
hanya tersenyum dan meninggalkan ruangan santai yang berada tepat sebelum
balkon.
“ya udah, sambil
makan kita mulai aja gimana?”
“mulai dari kamu
ya, na?”
“dari ujung sana
saja. Abang gino, saya persilakan”
“gaya bicaramu,
naa.. naa..”
“hehehe.. udah
bauruan. Aku true ya!”
“ditanyain aja
belum. Yanu?”
“true”
“brigta?”
“true aja.”
“oke, karena
semua pilih true, aku pengen nanya siapa anak kelas yang paling tampan?”
Pertanyaan ini
cukup membuatku geli sekaligus kaget. Aku tidak mungkin menyombongkan
ketampananku sendiri di depan mereka. Kalaupun gino ingin di akui
ketampanannya, apakah aku harus berbohong? Ini cukup membuatku sedikit galau.
“oke, kalo
menurutku yang paling tampan itu si Andi. Soalnya kan... ya kalian kan tahu
sendiri. Hehe” dulu brigta memang sempat menyukai andi. Ya, mungkin karena
ketampanannya itu. Ya, cukup bisa di akui kalau pada kenyataannya andi memang
tampan. Tapi kalau aku sedang bercermin, semua pendapatku itu hanya debu.
“erna?”
“kalo
menurutku... emm...”
“nggak usah
banyak mikir. Sudah, akui saja.”
“apaan sih, no!
Nggak usah ngarep ya kao aku bakal nyebut nama kamu! week”
“oke..oke..”
“siapa dong,
na?”
“sabar, ta. Hehe
menurutku.... yanu. Hehehe”
Seketika semua
terdiam dan balkon ini sudah terisi kembali dengan suara bising kami yang
menertawai jawaban erna. Termasuk aku. Ya, aku tertawa. Tapi tidak sekeras gino
dan brigta yang terlihat puas dengan jawaban erna.
“ada juga ya nu
yang bilang kamu tampan. Hahaha” ejek brigta.
“hm.. terserah
kalian.”
“wetss... jangan
ngambek dong, nu. Becandaa..”
“hm...” aku
tidak lagi memerdulikan mereka. Mie yang ada dipiringku masih memanggil-manggil
untuk segera dihabiskan.
“udah ah,
gantian yanu yang jawab.”
Erna juga mulai
tidak nyaman dengan keadaan ini. dan dia memintaku untuk menjawab pertanyaan
dari gino.
“aku setuju sama
erna.”
“sialan!! Sama
aja membanggakan diri sendiri!” tangan gino memukul kepalaku, cukup keras. Aku
tahu akan terjadi seperti ini. ya, aku hanya berkata jujur dan apa adanya. karena
memang akulah yang paling tampan. Mungkin itu karena efek pujian dari ibu dan
erna tadi.
“oke-oke, lanjut
yanu.” Brigta menengahi.
“nggak usah
ditanya paling kalian juga jawab true.”
“iya sih. Yaudah
langsung pertanyaannya aja.”
“masakan
mamahnya brigta enak nggak?”
“ah yanu nggak
asiik!!” protes erna.
“yang penting
pertanyaan, kan?”
“dimana-mana
juga mie instan juga enak. Orang udah ada bumbunya gini.” Terang gino.
“enak dong,
masakan mamah tercinta, gitu.”
“ya, enak. Udah
gitu doang? Nggak ada klimaks-klimaksnya?”
“udah lanjut
kamu, na!”
“oke,
pertanyaannya...”
“heh, ditanyain
dulu!” brigta membentak erna. Tapi erna menanggapinya dengan santai.
“true semua,
kan?”
“ya deh
terserah. Kalo gini caranya ini bukan Tod, tapi jujur-jujuran.” Protes gino. Ya
kalau dipikir-pikir ada benarnya juga. Pada dasarnya kalau bermain TOD banyak
yang memilih true daripada dare.
“oke,
pertanyaannya... sifat yang jelek dari aku, apa?”
“berisik!”
spontan aku mengucapkannya. Tanpa keraguan. Karena itu sifat erna yang kurang
aku suka. Wajah erna langsung cemberut. Tapi aku tetap stay cool sambil
menghabiskan mie dipiring.
“emang berisik
sih, tapi kalo nggak ada erna pasti juga sepi.” Brigta merangkul erna. Mencoba
menegarkan erna. “trus apa dong ta sifat yang jelek dari aku?”
“nggak jentle.”
“kan aku cewek,
ta.”
“apa salahnya?”
“udah ah nggak
usah dibahas. Kamu, no?”
“yang jelek dari
kamu itu terlalu peka.”
“idih, nyebelin
banget.”
“tambah satu
lagi.. banyak protes.”
“ginoooo!!!”
“sori.. sori..
udah lanjut ke brigta. Daripda nyonya besar tambah marah besar.”
“sialan!” erna
melempar makroni ke arah gino, kesal. Aku hanya diam disini. Karena tidak ada
lagi yang harus aku ucapkan.
“oke,langsung ke
pertanyaan aja ya. soalnya kan kalian pasti jawabnya true. Em.. pertanyaannya
siapa sih orang yang bener-bener kalian sukai saat ini?”
“brigtaa...”
erna memelas. Seketika wajahnya memerah. Entahlah.
“kalo aku,
kalian kan juga udah tahu sendiri kan? Sampai saat ini masih lia. Dan aku juga
berharap bakal lia terus.” Gino menjawab dengan santai dan tanpa ragu.
Sedangkan aku? Aku sendiri tidak tahu siapa orang yang sedang aku kagumi. Aku
harus berbohong? Atau bagaimana?
“yanu?”
“nggak ada. Aku
masih sayang sama lina dan barang-barang antikku dirumah.”
“tertutup banget
sih sama cewek.” Protes brigta. Aku tidak menjawab. Mau bagaimana lagi? Itu
yang memang terjadi. Aku memang tidak terlalu memeredulikan percintaanku dimasa
muda. Karena itu akan merusak karierku. Aku tidak berusaha menggurui. Tapi itu
berdasarkan kalimat Bapak Mario Teguh. Dan aku cukup percaya hal itu.
“oke, erna?”
“em.. aku.. aku
nggak tahu mau mulai dari mana ngomongnya. Aku cerita panjang lebar nggak
apa-apa kan?”
“iya..” erna dan
brigta saling menatap satu sama lain.
“orang itu.. ada
disini. Kamu, nu. Sebenernya aku juga mau nyimpen ini sampe kita lulus. Tapi
gara-gara game ini, mau nggak mau aku harus jujur,kan? Aku juga nggak tahu nu
kenapa bisa suka sama kamu. Dari dulu, waktu pertama kali kita kenal di mos
sampe sekarang aku ngrasa nggak ada cowok lain yang sepengertian kamu ke aku.
Aku nyaman, nu. Walaupun kamu sering nyuekin aku, sering galak sama aku, tapi
aku seneng. Aku bisa ngrasain banyak rasa selama kenal kamu. Hm.. aku terlalu
banyak ngomong ya? ya udah gitu aja deh. Hehe”
Selama erna
berbicara, tatapanku tidak pernah lepas dari erna. Entah, jantungku berbeda.
Aku kaget sekaget-kagetnya. Dan saat ini juga aku tahu kenapa wajah erna sempat
memerah menatap brigta. Yang aku pikirkan langsung ke rendi dan lina. Rendi,
orang yang mengagumi seseorang yang mengagumiku. Dan lina yang setuju kalau aku
dan erna bisa memiliki hubungan. Entah. Suasana menjadi hening. Aku tidak
menjawab apapun. Dan tetap menatap erna.
”yanu ada yang
mau disampaikan?” brigta seketika berubah menjadi seorang moderator di antara
kami berempat yang sedang saling mengucapkan kejujuran.
“he? Hm.. aku...
minta maaf ya, na.” Dan berkat brigta aku berhasil bersuara. Walaupun
sebenarnya sangat berat untuk sekedar mengucapkan kalimat itu. Aku juga tidak
pernah tahu kenapa semua menjadi seperti ini. sulit untukku. Dan aku tahu erna
mungkin lebih merasakan kesulitan dibanding aku. Aku tahu, aku dan erna sudah
terjebak didalam area pertemanan kami berempat ini. dan setelah kejadian ini,
mungkin semuanya akan berubah. Tapi, aku sangat tidak mengaharapkan hal itu
terjadi. Walaupun tidak bisa dipungkiri kekikukkan akan datang di antara kami
berempat. Terutama aku dan erna.
...
Setelah kejadian
sore itu di balkon rumah brigta, tidak ada kegiatan lain yang bisa aku lakukan
selain main game dan berbincang dengan benda-benda mati disekitarku. Juga dugi
dan fenu. Lina sempat khawatir dan mengira aku sakit. Sampai-sampai ayah dan
ibu juga ikut panik. Tapi sebenarnya aku hanya.. entahlah. Semakin hari aku
semakin membenci diriku sendiri. Aku tidak pernah mau mengerti apa maksud
hatiku sendiri. Bodoh.
Malam ini aku
memilih menatap langit-langit kamarku. Merebahkan tubuh di atas ranjang dan
melamun. Aku masih mengingat ucapan erna sore itu. Tapi buru-buru aku hapus bayangan
itu. Karena aku tidak tau terlalu larut dalam problematika remaja tentang cinta
ini. Aku tidak memberitahu rendi tentang perasaan erna kepadaku. Jika aku
melakukannya, aku hanya akan membuat satu hati manusia lagi sakit karenaku.
Setelah kami dinyatakan
naik kelas, kami berempat serasa lost contact. Tidak ada jalan ke pusat kota,
tidak ada nonton film bersama, tidak ada suasana balkon rumah brigta lagi.
Handphone juga serasa tidak ada gunanya. Tetap termenung sendirian.
“hai, yanu ya?”
Satu pesan masuk
di handphoneku. Dengan nomor yang tidak aku ketahui siapa pemiliknya. Aku hanya
ingin menjaga perasaan si pengirim pesan ini dengan mengiyakan pertanyaannya.
Tapi setelah sepuluh menit pesan balasan aku kirimkan padanya, dia tidak lagi
mengirimiku pesan lagi. Entah, mungkin dia kehabisan kata-kata atau apa, aku
juga tidak tahu. Dan itu cukup membuatku penasaran siapa dalang dari semua ini.
“maaf, siapa
ya?”
“aku dea. Paling
kamu juga nggak tahu.”
Dea. Perempuan
yang mencari brigta dikelas dengan teriakannya, dan perempuan yang aku temui di
sekitar perumahan saat aku menabrak kak anti. Ya, aku ingat.
“adiknya kak
anti, bukan?”
“bukan. Kak anti
itu sepupu jauhku, bukan kakakku.”
“oh, ada apa
yak? Sebenernya aku nggak kenal kamu sih.”
“nggak apa-apa
kok, nu. Cuma ngecek aja nomornya bener punya kamu apa enggak. Sekarang udah
kenal kan?”
“hm.. salam
kenal. oh, dapet darimana?”
“dari siapa?
Dari rendi. Maaf ya aku lancang.”
Ah, aku ingat.
Dea, perempuan yang diam-diam mengagumiku. Yang mati-matian belajar dance agar
diterima di clup cirliders. Perempuan yang selalu menatapku diam-diam dari
balik novelnya disekitar lapangan basket saat aku berlatih. Ya, aku ingat.
Kenapa semua datang di saat-saat seperti ini?
“iya, nggak
apa-apa.”
Aku bingung.
Haruskah aku membuka hatiku untuk seseorang yang telah lama menyimpan rasa
padaku secara gerilya? Atau haruskan aku mengabaikan perjuangan perempuan ini? perasaan
siapa yang harus aku jaga? Erna atau dea?
Aku mencoba
membuka hati untuk dea. Aku melakukan ini untuk diriku dan juga untuk
pertemananku dengan erna dan lainnya. Dan mulai saat ini, dea akan mengisi
hari-hariku. Oh, mungkin sedikit berlebihan. Tapi itulah yang terjadi. Aku
tidak bisa menghindar dari apa yang sudah mendatangi kehidupanku. Aku terlalu
lemah untuk menghalangi takdirku. Semakin hari semakin sulit.
Libur semester
kali ini aku lebih sering menghubungi dea dibandingkan dengan erna atau brigta,
bahkan gino. Erna sepertinya juga membatalkan rencananya ke jogja. Aku tidak
tahu apa maksud dari tindakanku ini. terlalu cepat aku berpikir dan tidak
mencoba menggali kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi didepanku,
nanti.
Liburan ini aku
manfaatkan untuk lebih mengenal dea. Karena letak rumah kami tidak terlalu
jauh, hanya berjarak 3 blok saja dari rumahku, aku sering meminta dea untuk
menemaniku bermain basket di lapangan sekitar perumahan. Atau joging bersama
kucing-kucing kami. Terkadang dea ke rumahku untuk sekedar bermain dengan fenu
dan dugi. Dea juga penggemar kucing. Ada 5 ekor kucing di rumahnya. Dan satu
fakta lain yang aku temukan. Ibu dea dan ayahku bekerja di tempat yang sama.
Tapi aku tidak pernah menyadari hal itu. Tapi diam-diam dea melihatku saat
perayaan ulangtahun perusahaan. Aku merasa beruntung ada yang selalu
memperhatikanku secara diam-diam.
Lina sempat
tidak setuju dengan kedekatanku dengan dea. Tapi aku mencoba menjelaskan
padanya kalau aku dan dea hanya sebatas teman. Tapi satu hal yang aku ingat,
lina sempat menasehatiku kalau seorang perempuan itu tidak mau kalau hanya
diberi harapan. Dan semenjak saat itu aku mencoba membuka hatiku untuk dea.
Tapi tetap ada yang aneh. Aku selalu merasa bersalah pada erna. Tidak semudah
yang aku duga. Aku harus rela mematikan komitmen untuk tidak menmentingkan
masalah percintaan di usia mudaku. Harusnya aku meminta maaf pada pak Mario
teguh.
Dari semua teman
dekatku dan teman dekat dea tidak ada yang tahu tentang kedekatan kami. Kecuali
rendi. Dea sempat bercerita padaku kalau dia sering curhat dengan rendi
tentangku. Dan hanya pada rendi dia bercerita. Tapi aku tidak terlalu
mempermasalahkan hal itu. Setidaknya rendi tidak tahu apa yang terjadi antara
aku dan erna. Aku harap semua akan tetap baik-baik saja setelah musim liburan
ini berakhir.
Komentar
Posting Komentar