Hari pertama
menyandang predikat sebagai kelas 12. Ada sedikit rasa bangga dan tidak
percaya. Secepat inikah masa sma yang banyak orang mengira di masa inilah masa
yang paling indah ketika hidup di dunia. Hm.. tidak juga. Aku selalu menikmati hidupku. Setiap waktu.
Setiap masa.
Di hari ini pula
aku akan bertemu dengan erna, brigta, dan gino lagi setelah 3 minggu tidak
bertemu. Tidak ada kontak. Seperti terputus tali pertemanan kami. Mungkin
dibelakangku mereka saling berhubungan. Tapi tidak denganku. Aku tidak terlalu
mempermasalahkannya. Aku hanya nyaman. Bersama dea.
“apa kabar,
nu?” suara yang sangat tidak asing untuk
telingaku.
“baik. Kamu?”
“sama. Lama ya
kita nggak ketemu. Kamu juga nggak pernah sms aku.”
“iya. Maaf ya,
na. Mungkin aku sibuk.”
“sok sibuk!!”
wajahnya terlihat kesal. Tapi dia tutupi lagi dengan senyumnya.
“udah liat
gino?”
“belum, nu.
Telat mungkin. Brigta juga belum berangkat. Tumben banget tuh anak.”
“ngurusin
upacara, mungkin.”
“mungkin..”
Suasana kelas
masih sama. Masih riuh seperti setahun yang lalu. Saat pertama kali menyandang
predikat kelas sebelas. Perpaduan manusia-manusia di sini bisa menciptakan
datangnya keriuhan setiap hari. Kesan pertama di kelas 12, cukup untukku.
Percakapanku dengan erna, cukup mengembalikan hubungan pertemanan ini menjadi
cukup baik lagi.
Bahkan, aku kira
setelah kejadian tempo hari, aku dan erna tidak akan ada kontak sama sekali.
Ternyata dugaanku salah. Feeling cowok emang sering salah. Aku merasakan itu
sendiri. Berbanding terbalik dengan feeling lina yang sering tepat akurat.
...
“hei, nu. Apa
kabar?”
“baik. Kamu
sendiri?”
“masih sehat.
Alhamdulillah. Tumben sendirian? Yang lain mana?”
“siapa?”
“erna, brigta,
gino?”
“oh, kayaknya
erna udah balik. Brigta juga. Gino malah nggak berangkat.”
“oh, kok nggak
ngajakin aku kalau mau basketan?”
“sori, aku nggak
liat kamu dari tadi pagi.”
Baru 3 kali
pantulan drible, bola sudah ditangan rendi. Hanya dua langkah dan satu kali
lompatan, bola sudah bisa melewati ring. Aku hanya bisa menghela napas. Lalu
duduk 6 meter didepan ring basket yang panas. Aku tidak lagi peduli dengan bau
keringat atau apalah itu.
“gimana sama
dea? Kayaknya kalian tambah lengket ya?”
“biasa aja kali,
ren.”
Rendi mulai
mendrible bola basket secara perlahan. Dan mendekati tempat aku duduk.
“ntar lama-lama
kamu juga bisa buka hati buat dea.”
“kamu sendiri,
gimana sama erna? Masih suka?”
“kenapa emang?
Nggak suka kalau aku deketin dia?”
“nggak gitu juga.”
Rendi melempar
bola basket ke arahku. Aku sedikit gelagapan saat menangkapnya. Bisa diprediksi
kalau rendi melempar bola basket ini menggunakan tenaga yang cukup besar yang
dibumbui dengan emosi sesaat. Lagi-lagi itu hanya prediksi. Aku tidak pintar
membaca tindakan. Cukup merasakan, dan memahami.
“aku cuma butuh
waktu aja, nu.”
Seketika suasana
menjadi kembali sepi. Hanya ada suara bola yang aku pantulkan didepanku.
“mau nggak
bantuin aku?”
Aku hanya
mengernyitkan mukaku. Mengangkat alis dan tetap diam.
“bantuin aku
buat bisa ngobrol banyak sama erna. Kan kamu temen deketnya tuh, nu.”
“jangan aku.
Brigta aja.” Cukup satu alasanku. Aku tidak mau mengecewakan erna.
“emang sih, aku
bisa aja kompromi sama brigta. Tapi aku dan brigta kan nggak sedeket aku sama
kamu, nu. Kamu kan tahu sendiri. Bantuin aku lah, nu. Kali ini aja.”
“bukannya... duh
gimana ya.”
“kamu nggak usah
bingung. Aku sendiri yang bakal nyusun rencananya. Ya, mungkin lusa aku kabarin
kamu lagi. Nah, sekarang aku harus balik duluan nih. Udah di tungguin ibu
dirumah. Duluan ya, nu.”
Jujur aku masih
bingung. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi setelah rendi mengatakan itu
semua. Sebenarnya aku ingin menolak kerjasama ini. tapi, apa daya. Rendi sudah
mempercayakan misinya untuk aku lakukan. walaupun aku tahu, aku akan mendapat
masalah besar setelah kejadian itu, jika itu memang terjadi. Ah, kenapa harus
bernegatif thinking. Mungkin dengan cara ini aku bisa membuat erna untuk melupakan
perasaannya terhadapku. Ya, mungkin bisa.
...
Dinding kamar,
langit-langit, bantal dan guling menjadi sahabat malamku yang sepi. Buku
pelajaran masih menjadi musuh untukku. Aku juga tidak tahu apa yang sedang aku
lakukan. hanya... masih memikirkan tentang rencana rendi. Ah, sebenarnya aku
bukan orang yang terlalu pemikir. Tapi, masalah yang satu ini menjadi sesuatu
yang perlu aku pikirkan. Ini menyangkut diriku sendiri dan teman dekatku. Dan,
sepertinya otakku ini bisa berkompromi denganku untuk memikirkannya.
Musik melow dari
kamar lina bisa aku dengar lagi. Begitulah yang dia lakukan kalau ayah dan ibu
sedang tidak dirumah. Seenaknya sendiri. Kalaupun aku menyalakan TV, suaranya
akan terkesan seperti pembalap. Sahut-sahutan, dan lomba keras-kerasan volume.
Jadi, aku memilih diam dikamar. Dan musik galau lina menjadi satu-satunya
hiburanku.
Nada pesan masuk
di handpone sedikit mengagetkanku. Aku beranjak dari ranjang dan mengambilnya
di meja belajarku yang sangat amat rapih. Ternyata itu dea.
“lagi ngapain?”
Pertanyaan
standart dan monotone yang biasa ditemui di setiap pasangan. Sayangnya aku
tidak pernah mananyakan itu pada dea. Dea yang selalu memulai. Dan dia tidak
merasa aneh dengan tindakanku. Jadi, aku akan tetap begini.
“tiduran.”
“nggak kerumahku
aja?”
“lagi ada acara
apa emang?”
“nggak ada acara
apa-apa sih, cuma dirumah lagi ada kak anti nih.. hehe”
“lagi kumpul
keluarga ya?”
“enggak, kak
anti Cuma mampir aja tadi. Serius nih nggak kesini? Ntar nyesel.”
“nggak ah. Bosen
juga dirumah, lapangan yuk?”
“em.. bentar ya
nunggu kak anti pulang dulu. Kamu kesana duluan aja. Nanti aku nusul.”
“oke.”
Ya, setidaknya
perumahan disini masih menyediakan lapangan basket sekaligus futsal. Kalau
malam begini jarang yang memanfaatkannya. Ya, mungkin hanya orang bodoh seperti
aku yang mau berolahraga di malam hari seperti ini.
Aku mengambil
bola basket dan mulai memantulkannya perlahan. Hanya handpone butut yang aku
bawa. Sekedar berjaga-jaga kalau-kalau ada kabar dari ayah atau ibu.
“lin, bang yanu
ke lapangan bentar.” Harus ekstra keras suaranya. Supaya lina bisa mendengar
suaraku.
“iya, jangan
lama-lama. Pintunya kunci ajaa.”
Aku tidak menjawab
lagi. Buru-buru aku mengunci pintu dan beranjak meninggalkan rumah. Tidak butuh
waktu yang lama untuk sampai di lapangan. Aku langsung menaruh handpone di
pinggir lapangan. Dan memulai permainan sendiri.
Entah berapa
lama aku sudah bermain, dan entah berapa banyak bola yang dengan lancar bisa
masuk melewati ring. Aku tidak menghitungnya. Aku mulai merasakan kedamaian
disaat seperti ini. sendiri dan aku menikmatinya.
“tambah jago nih
mainnya.”
Begitu asyiknya
aku bermain basket, tanpa aku sadari dea sudah ada disini. Aku hanya
membalasnya dengan senyuman singkat dan kembali fokus dipermainanku. 3 langkah
dan satu lompatan, aku berhasil menambah poin. Kembali mengejar bola dan
berlari menjauhi ring.
“aku ajarin
dong, nu.”
“mau main?”
Dea hanya
mengangguk pelan.
“pake rok?”
Dea menyadari
pakaiannya. Rok panjang dan kaos lengan panjang yang dia kenakan sebenarnya
mampu membuatnya terlihat sedikit lebih anggun dari biasanya.
“apa salahnya?”
“kamu nggak bisa
lari kalau pake itu” dengan cueknya aku berlari dan kembali berusaha memasukkan
bola dalam ring. Tapi kali ini aku gagal.
“setidaknya
ajarin aku buat masukin bola biar nggak kaya kamu barusan.” Senyum simpulnya
selalu berhasil membuatku luluh.
“oke kalau kamu
maksa. Ini bolanya.”
Aku melempar
bola ke arah dea. Dia menangkapnya dengan gelagapan.
“pelan-pelan
dong, nu. Ini megangnya gimana?”
Aku memberikan
contoh cara memegang bola dan cara melemparkannya ke arah ring. Dea sangat
antusias melihatku menjelaskan. Walaupun dia sering melihatku berlatih, tapi
baru kali ini dia rewel minta diajarkan melempar bola. Aneh.
“harusnya kamu
minta ajarin rendi aja. Kan dia lebih jago daripada aku.”
Bola yang belum
sempat dilempar ke arah ring, justru di lempar ke lapangan dengan keras oleh
dea.
“males ah.”
Dea duduk di
dekat handphoneku. Aku masih mengejar bola yang berlarian sendiri. Dan
mendekati dea lagi.
“kenapa? Katanya
mau lempar, kok malah dibuang?”
“habisnya kamu
nyebelin, malah aku disuruh minta diajarin sama rendi. Kan aku maunya kamu yang
ngajarin aku.”
Aku duduk
berhadapan dengan dea. Sebenarnya, aku sedikit tidak nyaman dengan situasi
seperti ini.
“maaf ya, mau
main lagi?” aku menawarkan bola basket ke dea. Tapi dia tidak memerdulikannya. “ayolah,
nggak usah ngambek gitu.”
Tatapannya mulai
melemah dan diarahkannya lagi pandangan itu ke wajahku. Helaan napasnya
menandakan kalau dia mulai luluh.
“oke..”
Dia kembali
mengeluarkan senyumannya. Senyum simpul yang manis. Yang selalu membuatku luluh,
tapi aku tidak bisa merasakan ketulusan. Entahlah.
Handphoneku
berdering. Dea mengambil handphoneku. Ya, karena letak handphoneku dan dea yang
lebih dekat daripada aku.
“rendi?”
Aku juga ikut
kaget mendengarnya.
“mana?”
Dea memberikan
handphoneku kepadaku. Ternyata benar, rendi menelfonku.
“hallo?”
“hei nu.”
Dea memberikan
isyarat untuk meloadspeaker suara rendi. Dan entah kenapa aku menurutinya.
“kenapa ren?”
“gini, nu. Aku
mau ngomongin tentang rencana kita tadi sore. Jadi, ntar pura-puranya kamu
ngajakin erna ke taman sekolah. Ntar ditengah-tengah, kamu aku telfon.
Pura-pura aja itu orang lain. Kamu izn ninggalin dia di taman. Nah, pas itu aku
nyamperin erna. Gimana?”
Wajah dea
langsung berubah. Aku tidak tahu apa yang dia rasakan.
“aku ngikut kamu
aja, ren.”
“oke-oke. Misi
itu Cuma berlaku di jam istirahat kedua aja ya, yang lebih lama.”
“oke siap-siap.”
Dea mengambil
bola basket dipangkuanku dan beranjak menghindari wajahku. Rendi mengakhiri
pembicaraan. Aku meletakkan lagi handphoneku di pinggir lapangan.
“bukan gitu pegang
bolanya, kan udah diajarin.”
Hampir saja aku
merebut bola dari dea dan berniat membetulkan posisi pegangannya, bola itu
ditarik lagi kebelakang oleh dea. Seolah aku dengannya seperti anak kecil yang
saling berebut mainan.
“kalian mau
boongin erna?”
“nggak gitu
de..”
“trus namanya
apa kalo nggak boong?”
Aku tidak bisa
menjawab pertanyaan dea. Aku merasa seperti anak kecil yang sedang dihakimi
oleh ibu kandungnya sendiri.
“rendi tu gitu
deh, selalu ada cara licik. Kamu juga, ngapain sih ikutin cara dia?”
“ya, kan aku
Cuma mau bantu.”
“kalo aku jadi
erna, dan aku tahu kedok kalian, aku pasti bakal marah banget sama kalian
berdua. Serius. Aku juga cewek, nu. Aku juga kenal cukup deket sama erna. Dia
itu sensitif banget sama keadaan. Terlalu peka. Yaa... saranku hati-hati aja
kalo mau nurutin misinya rendi.”
Jujur, itu juga
yang aku pikirkan sejak tadi sore. Rencana ini, akan membuat erna marah padaku.
Erna dan aku juga akan semakin canggung. Belum lagi kalau dia tahu tentang
hubunganku dengan dea. Ah, aku pusing. Tapi aku tidak bisa menghindar dari
semua yang sudah aku mulai ini. harus tetap dihadapi. Ya, walaupun memusingkan,
tapi harus tetap dihadapi, bukan?
...
Tiba saatnya
melaksanakan misi ‘licik’ rendi. Jujur saja, aku masih ragu. Tapi aku harus
berani meyakinkan diriku sendiri. Jam istirahat kedua tinggal menghitung menit.
menunggu pak Handoko guru Pkn keluar dari kelas, dan aku sudah siap.
“na, ada yang
mau aku omongin.”
Brigta dan erna
menengok ke arahku. Mungkin mereka berpikir kalau aku akan menjawab ungkapan
erna tempo hari. Mungkin. Siapa yang tahu.
“ngomong aja.”
“wah kayaknya
harus pura-pura kekantin nih.” Brigta menggoda.
“nggak usah
repot-repot, ta. Ayo, na.”
“loh, kemana?”
Raut wajah
mereka berubah kaget. Lucu.
“udah ikut aja.
Bawel.”
Ernapun
mengikutiku. Dan aku tidak peduli apa yang dilakukan brigta dan gino. Aku tidak
tahu apa yang harus aku lakukan lagi. Erna berjalan dibelakangku. Separuh
perjalanan aku dengannya hanya saling diam. Bukan seperti orang yang sedang
ingin ersama. Terkesan seperti seorang murid yang membawakan buku guru kilernya
menuju ruang guru.
“kemana sih,
nu?” erna mencoba mencairkan suasana. Sekarang dia berjalan di samping kiriku.
Aku tidak menjawab apapun Sampai di taman yang dimaksud rendi. Sebenarnya,
kalau dibilang taman juga tidak terlalu pantas. Hanya saja disinilah pusatnya
perkumpulan anak-anak. Tidak salah kalau rendi memilih tempat ini.
Aku memilih
duduk di bangku dekat pohon cemara. Erna mengikutiku. Dia duduk di samping
kiriku. Dengan raut wajah yang mencerminkan kalau dia sedang bingung. Jujur,
aku juga bingung. Kenapa disini bisa sangat sepi. Padahal biasanya tidak
seperti ini. aneh.
“mau ngomongin
apa?” erna memecah kebingunganku menjadi lebh bingung. Aku juga belum
mempersiapkan apa yang harus aku katakan padanya sambil menunggu aba-aba dari
rendi.
“em.. nggak
tahu.”
“kok nggak tahu?
Aku bela-belain ikut kamu lho daripada ke kantin.” Sepertinya erna mulai marah.
Entahlah.
“na, apapun yang
terjadi, kamu nggak bakal marah sama aku kan?”
“maksud kamu?”
“ya.. gitu.”
“aku nggak
ngerti. Yang jelas dong nu ngomongnya.”
Tiba-tiba
kantung celanaku bergetar. Rupanya ada telepon. Dan ternyata itu rendi. Tanpa
pikir panjang aku langsung mengangkatnya.dan embiarkan erna penasaran di bangku
itu. Aku berpura-pura kalau itu dari pak johan. Dan berpamitan pada erna.
Membiarkan erna duduk sendiri dengan rasa penasarannya. Sungguh. Teman maca apa
aku ini?
...
Aku tidak tahu
apa yang terjadi di taman itu. Bagaimana rencana rendi, dan bagaimana ekspresi
erna, aku juga tidak tahu. Sejak aku meninggalkan erna di taman itu, yang bisa
aku lakukan hanya duduk di bangku dekat lapangan basket yang biasa digunakan
dea untuk mengintipku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. menyendiri,
mungkin jawaban yang tepat. Walaupun disini banyak anak-anak yang lewat, aku
tidak memerdulikannya. Yang aku tahu, aku sedang sendiri.
“ngapain
disini?”
Suara yang tidak
asing. Dia berbisik dibalik novel barunya. Matanya menengok kesana kemari.
Mungkin sedang bersembunyi. Entahlah.
“heh, ngapain?”
Aku hanya bisa
menatap mata tajamnya dan tersenyum. Begitu lucu tingkahlakunya. Dan kenapa aku
baru saja menyadarinya? Bodoh.
Akhirnya dia
memberanikan diri duduk disampingku. Mengubah posisi novelnya dari wajahnya. Dan
sekarang aku bisa melihat wajahnya dengan jelas.
“nggak dijawab
ih!”
“kamu sendiri
ngapain kesini? Ntar kamu di bully lagi, ketauan deket sama aku. Aku anak basket,
kamu tahu?”
“trus kenapa?
Biarin ah. Nggak sengaja juga lewat sini. Jawab dulu pertanyaanku!”
“aku Cuma males
di kelas.”
“bohong. Gimana
rencana rendi? Sukses?”
Aku terkejut
dengan pertanyaan dea. Jantungku langsung berdegup tidak beraturan lagi. Tapi aku
berhasil menutupinya dengan senyuman yang biasa aku berikan untuk dea. Dan
dengan mudahnya dea langsung menebak kalau rencana rendi berhasil.
“udah masuk.
Buruan gih kekelas. Kelasmu kan jauh dari sini.”
Aku hanya
menganggukkan kepala.
“aku kekelas ya.
daa.. aku tunggu ceritanya nanti malem.”
Aku mengangkat
alis, tidak mengerti. Sepertinya dea sangat penasaran dengan rencana rendi. Dan
dia memahami, bukan sekarang waktunya untuk aku ceritakan pada dea. Dan dia
pikir, nanti malam aku akan menceritakannya.
...
“puas kamu
malu-maluin aku didepan orang banyak? He?” erna melemparku dengan tempat
pensilnya yang berisi banyak peralatan tulis. tepat di bagian perutku. Dan
semua teman kelas menatapku dengan penasaran. Brigta mengelus-elus pundak erna
yang sedang marah sambil menangis.
Aku terpaku di
depan pintu. Aku ambil tempat pensil erna yang sempat jatuh beberapa sentimeter
dari kaki kananku.
“kamu pikir kamu
orang yang nggak bakal nyakitin aku, nu. Ternyata aku salah.”
Aku memberanikan
diri dengan napas yang masih aku atur ini untuk mendekati erna. Semakin dekat,
aku semakin tahu, mata erna sangatlah berbeda. Dia sangat jarang marah. Dan ini
adalah kali pertama aku melihatnya meluapkan seluruh amarahnya. Dan aku tidak
pernah berpikir kalau ternyata itu terjadi karena aku.
“maaf.” Aku
letakkan tempat pensilnya di mejanya lagi. Tanpa menatap matanya. Aku terlalu
cupu dan takut. Laki-laki macam apa aku ini?
“dan kamu pikir
aku bisa dengan mudahnya maafin kamu? Iya, nu?”
Erna kembali
menyemprotku dengan ledakan maghma yang keluar dari mulutnya. Anehnya, maghma
ini berbentuk gas dan berupa kata-kata yang bisa didengar. Benar-benar aneh.
Aku memberanikan
diri mengangkat kepalaku untuk menatap matanya. Kemudian aku menatap seluruh
teman di kelas. Dan kembali lagi ke titik tengah mata erna.
“kamu nggak tahu
yang sebenarnya, na.”
“jelas aku tahu!
Kamu dan rendi rencanain ini semua. Kamu, satu-satunya temen cowok yang deket
sama rendi di tim basket. Kalian sering latihan bareng. Dan kejadian di kantin
tengah waktu itu. Aku tahu, nu! Aku nggak bodoh! Setidaknya, aku lebih peka
daripada kamu!”
“ini bukan ide
aku.”
“dan kamu lebih
mentingin rendi daripada aku! Aku benci kamu, nu!”
Erna mendorong
pundak kiriku dan menabrakku. Baru tiga langkah dia ada di belakangku, dia
memberhentikan langkahnya.
“satu lagi, nu. Semoga
dea udah bilang ke kamu kalau aku nggak pernah suka yang namanya kejutan.
Apapun itu.”
Jantungku
sedikit berbeda saat erna menyebut nama dea. Apa yang terjadi sebenarnya?
Sekarang, erna benar-benar meninggalkan kelas. Brigta menatapku kecewa. Berbeda
dengan brigta, gino justru menyemangatiku.
“ini bukan akhir
dari segalanya, bung! Cewek emang kayak gitu. Sering nyusahin” begitu katanya.
Walaupun ditangannya sedang ada gadget yang terdapat berita bola sepak, dia
masih menyempatkan waktunya untuk menyemangatiku. Terbukti, gino memang orang yang
loyal.
Tapi pikiranku
masih tertuju pada erna. Aku rasa aku sudah membuat kesalahan yang sangat
besar. Bukan hanya pada erna, dan rendi saja. Aku juga menjadi bulan-bulanan dikelas
gara-gara di jam pelajaran bahasa indonesia yang di bimbing oleh ibu Sami ini
tidak seperti biasanya. Biasanya kelas yang mengasyikan, menjadi sedikit lesu.
Gara-gara bu sami yang juga menjadi wali kelas kami ikut menangani erna yang
memilih menyendiri di redaksi. Sepertinya memang dia sangat terpukul dengan
kejadian ini. ah, cemen. Tapi aku masih merasa bersalah. Erna tidak pernah
melakukan hal sekonyol ini. dan karena aku, ini semua terjadi. Bukankah aku
orang yang jahat? Ah, aku tidak sejahat itu. Masih banyak yang lebih jahat
daripada aku. Koruptor, misal.
Komentar
Posting Komentar