Dalam Kesadaranku (lembab)



tidak gelap, juga tidak terang. tidak hitam, juga tidak putih. basah? tidak juga. kering? aku rasa tidak. tidak sejauh yang aku duga. tidak sedekat yang aku kira.tidak setebal novel yang aku pernah baca, Tidak setipis selembar kertas. tidak selembut kapas, tidak sekasar jalan beraspal. tidak buram, juga tidak bening.tidak malam, tidak siang. Sampai sekarang, aku tidak tahu apa namanya. semuaya serba tidak pasti.
...
Rendi masih berusaha memasukkan bola basket kedalam ring. Perlombaan memang masih sebulan lagi. Tapi, dia memang selalu begitu. Latihannya selalu lebih lama dari yang lainnya. Aku hanya berani duduk hampir 5 meter dari posisi rendi berdiri sambil melihatnya. Aku masih merasa bersalah mengenai kejadian sewaktu di perkemahan. Aku pikir dia marah besar padaku. Setelah aku sampai di bumi perkemahan itu lagi setelah kabur, suasana perkemahan berubah. Entah siapa yang merubahnya, dan entah apanya yang berubah, aku juga tidak tahu. Mungkin karena tindakan konyolku. Mungkin
“nggak usah disesali gitu kali, Nu” Rendi masih berusaha memasukkan bola ke dalam ring. Aku tahu itu. Walaupun tatapanku masih di sepatu yang duduk manis didepanku. Aku memikirkan apa yang memang harus aku pikirkan.
Suara sepatu Rendi mendekatiku. Duduk disampingku sambil meneguk air mineral yang sengaja dia bawa dari rumah untuk memenuhi kebutuhan mineralnya. “aku salut kok sama kamu.” Rendi menepuk pundakku. Dan tanpa sadar aku menatapnya. Tatapan kita bertemu di satu titik. Ini bukan cerita tentang seseorang yang memiliki kelainan. Tapi, itu benar terjadi. Tatapannya tidak setajam biasanya. Entah apa yang terjadi padanya. Aku tidak tahu.
Perlahan tanpa suara dia memasukkan semua peralatan latihannya ke dalam ransel berwarna abu-abu miliknya. Dia pergi tanpa pamit. Tapi aku tidak terlalu mempermasalahkan kejadian itu. Itu sudah hal biasa.
Aku masih ada dilapangan ini. aku juga tidak peduli dengan lirikan dari orang-orang yang lewat. Tapi aku tahu ada seorang gadis yang melihatku diam-diam di bangku dekat lapangan. Sesekali menurunkan novel yang dia baca untuk melihatku. Bukan, itu bukan Erna. Aku tidak pernah tahu siapa dia. Aku juga tidak peduli.
...
Tidak ada yang berubah dari kami berempat semenjak kejadian tempo hari. Erna masih cerewet dan pikun. Gino makin gila dengan bola karena tim jagoannya menang atas tim yang paling tidak dia sukai. Brigta, ya hanya dia yang berubah. Sudah 3 hari ini dia sudah nampak lagi di sekolah. Hanya itu. Aku? Tidak perlu dibahas.
“ mau langsung pulang, Nu?” Erna selalu melempariku dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurutku tidak penting. “iya.”
“ya udah deh” wajah kecewa yang aku lihat di raut muka Erna. Entah aku juga tidak tahu apa yang sedang dia rasakan. “kenapa?” yap, pertanyaanku hanya dibalas dengan gelengan kepala. “kalian ikut nggak? Aku sama Gino mau ke toko buku. Ada bazar gitu. Discountnya sampe 60% lho.” Brigta mencairkan suasana.
“iya, jarang-jarang lho ini. gimana?” Gino antusias. Tapi, aku tidak begitu tertarik dengan sekumpulan buku yang banyak. Walaupun memiliki nilai pengetahuan yang tinggi, tapi entah kenapa kalau aku melihat banyak tumpukan buku aku sedikit pusing. Aneh memang.
“nggak ah No, hari ini aku piket jaga redaksi.”
“Yanu gimana?”
“nggak.”
“ya udah kalo gitu. Aku sama Gino pergi duluan ya.” Brigta beranjakdari bangkunya, diikuti gerakan Gino yang menyerupai Brigta.
“hati-hati ntar pulangnya.” Gino menambahi. Senyuman dan gerakan tangan ke kanan dan kekiri memisahkan kami berempat menjadi dua kubu.
Sebenarnya buku-bukuku sudah rapih di dalam tas. Entah kenapa aku enggan beranjak. Masih melihat layar handphone. Walaupun sebenarnya aku tidak tahu apa yang sedang aku cari di handphoneku ini.
“aku ke redaksi ya Nu” Erna pamit. Aku hanya bisa melihat sambil mengangkat alisku tanda meng-iyakan perizinan Erna. Erna hampir keluar dari pintu. Entah kenapa mulutku terasa gatal untuk menanyakan “ntar pulang jam berapa?” dan pertanyaan itu sudah bisa didengar oleh Erna. Dia memutar arah pandangnya ke arah tempat aku duduk. “kenapa?” aku menatap matanya cukup lama. “nggak. Buruan sana ke redaksi.” Erna menghela napas. Dipalingkan lagi pandangannya. Dan dia benar-benar pergi sekarang.
...
“Nu, ada pr?” sms dari Erna. Tiba-tiba. Ya, itu kata yang paling tepat untuk Erna. Sebelumnya, dia tidak pernah menanyakan pr. Dan harusnya dia juga tahu kalau aku jarang mecatat pr yang diberikan pada guru untuk aku kerjakan. Harusnya dia tidak menanyakan hal ini padaku.
“nggak tahu”
“ya udah.”
“kenapa?”
“aku bingung Nu sama diriku sendiri. Salah nggak sih kalo aku sering ketawa dan selalu menceritakan hal yang mungkin kalian nggak harus denger?”
Jujur, justru aku yang Erna buat bingung dengan pertanyaan ini.
“kamu kenapa?? Nggak biasanya kayak gitu.”
“aku Cuma lagi bingung sama diriku sendiri.”
“bingung kenapa? Aku lebih bingung kalo kamu bingung, Na.”
“kok bisa gitu? Nu, kenapa ya tiap malem aku harus nangis? Dan kenapa setiap aku di sekolah bareng kalian, bareng temen-temen yang lain bisa lupa sama apa yang udah bikin aku nangis. Aku nggak ngerti, Nu. Sumpah”
“ya gitu. Mungkin kamu udah terlalu nyaman sama lingkungan kamu sekarang di sekolah.”
“gitu ya, Nu? Ya udah deh”
“kamu kenapa? Berarti sekarang kamu juga lagi nangis ?” aku juga tidak tahu kenapa aku mengetik huruf-huruf di keypeat handphone sampai membentk kalimat seperti itu. Dan bodohnya aku, dengan sengaja aku memecet tombol sent ke Erna. “iya, dikit. Nggak apa-apa kok, Nu.”
“kenapa nggak pernah cerita?”
“apa yang harus aku ceritakan padamu duhai Yanuuu” mulailah dia menutupi kesedihannya. Sekarang aku sadar dan aku mengerti Erna lebih dalam lagi. Hidupnya memang benar-benar tidak dia isi dengan tawa saja.tapi juga tangis disetiap malamnya. Walaupun aku tidak tahu apa yang membuatnya melakukan seperti ini.
“terserah lah, Na”
“hehehe.. aku cuma belum siap buat cerita ke kamu. Mungkin lain kali, Nu. Hehe ngantuk nih, Nu.”
“oke lah, nggak usah sedih lah, Na. Perjalanan hidupkita masih panjang dan banyak rintangan yang perlu kita hadapi. So, nggak usah galau. Oke GN ya, Na.”
“GN apaan?”
“Good Night J
“oh, iya. Gn juga deh. J
Aku menghela napas. Enatap langit-langit kamar. Tenang. Tapi aku belum merasakan apa yang Erna rasakan; ngatuk. Kenapa Erna tiba-tiba curhat seperti itu? Aneh. Biasanya Brigta yang sering curhat. Sekarang giliran Erna. Apalagi dengan alasan yag tidak jelas.
Toktoktok.. suara ketukan pintu mengagetkanku. “siapa?”
“Lina bang. Boleh masuk?”
“masuk aja Lin.”
Walaupun aku sedang menatap langit-langit, aku tahu kalau Lina sudah masuk ke kamarku. Setidaknya telinga kanan dan kiriku masih berfungsidengan baik.
“kenapa?”
“Lina tadi diajakin nonton film horor sama temen-temen. Dan sekarang, Lina parno bang. Lina boleh tidur disini?” aku kembali menghela napas. “trus aku tidur dimana?”
“kan kasurnya bang Yanu gede. Buat berdua lah.”
“weitss.. enak aja. Ya udah. Kamu tidur di kasur aja. Bair nanti abang yang di bawah. Kalo gitu nggak takut kan?”
“ya, lumayan takut.”
“kenapa nggak tidur sama Ibu aja sih, Lin?”
“nggak ah. Kan Lina udah gede. Masak harus tidur sama Ibu.”
“apa salahnya? Kalo udah gede kenapa ngajakin tidur seranjang?”
“apa salahnya?”
“lupakan. Sekarang tidur gih. Aku ambil tiker dulu.”
“jangan lama-lama.”
“iya.”
Aku beranjak dari ranjang dan keluar kamar untuk mengambil karpet yang akan aku gunakan sebagai alas saat aku tertidur nanti. Kalau bukan Lina yang minta, mungkin tidak akan aku turuti.
Semuanya sudah siap. Aku akan bermalam di atas karpet tipis ini. lampu kamar yang biasanya aku matikan harus aku relakan untuk tetap menyala. Ya, demi Lina. Lagi-lagi demi Lina. “Bang Yanu lebih suka sama kak Brigta apa kak Erna?” pertanyaan yang sempat membuat kelopak mataku terbuka secara spontan. “Bang?”
“kamu nanya apa sih?” aku masih memunggungi Lina dari bawah. “kurang jelas ya? ya udah Lina ulangin lagi. Sebenerenya bang Yanu itu pacarnya kak Brigta atau kak Erna sih?”
“udah malem, Lin. Buruan tidur.”
“jawab dulu lah pertanyaanku!”
“apa pentingnya buat kamu?”
“penting lah. Siapapun yang deketin bang Yanu harus dapet persetujuan dari aku. Ahaha”
“tidur lin!”
“jawab dulu!”
“nggak ada yang aku suka.”
“kok gitu?”
“tidur gih.”
“ceritain dulu laah”
“nggak”
“jahat!”
Aku tidak membalas lagi perkataan Lina. Biarkan dia jenuh dan berusaha tidur. `
Beberapa waktu kemudian mulut Lina bersuara lagi. Dia bercerita kalau dia menyukai Erna. Dengan segala penjelasan dan alasan kenapa dia menyukai Erna. Wajar saja, mereka sama-sama bawel dan bnyak omongnya. Pantas kalau Lina nyaman dengan Erna.
Aku tahu yang dibicarakan Lina. Tapi Lina tidak tahu kalau aku mengetahuinya. Aku hanya tidak membalas cerita Lina dan pura-pura tertidur. Ini aku lakukan untuk membuat Lina juga ikut tidur nantinya.
...
Kelas masih saja riuh. Erna juga ikut berpartisipasi dalam keriuhan ini. seperti biasa, tidak banyak yang bisa aku lakukan. membuka buku, pun tidak. Memegang handpone juga tdak. Gino sibuk ngegame di belakang. Duduk dan memerhatikan keadaan.
Lima menit lagi bel istirahat berbunyi. Kebetulan 2 jam pelajaran sejarah kosong hari ini. ya, kebetulan. hehe
Tidak ada angin kencang, hujan pun juga tak datang hari ini. langit cerah dengan sekumpulan awan stratus disana. tanpa aku sadari, rendi sudah berada di dekatku. Tapi dia membelakangiku; menatap erna.
“na, kamu dipanggil pak johan sekarang. Beliau nunggu di redaksi.” Tanpa sengaja dan karena faktor jarak rendi denganku yang tidak terlalu jauh, aku bisa mendengar ucapannya kepada erna.
“oh, iya ren. Makasih ya.” sepertinya erna tersenyum melihat rendi. Samar-samar aku melihatnya dari samping. Pandanganku aku paksakan menengok ke arah kiri tapi kepalaku tetap menghadap ke depan.
“bareng aja yuk” ajak rendi. Erna hanya mengangguk dan langsung berdiri. Kali ini aku menatapnya. “eh nu, lama nggak keliatan.” Aku hanya memberikan senyumku sambil mengangkat alis. “pergi dulu ya”
“baaaiii nuuu” aku tidak bisa berbuat banyak. Hanya diam untuk tetap tersenyum sambil mengangkat alis. Merekapun pergi keluar dari kelas. Dan aku tidak akan tahu dan tidak mau tahu apa yang mereka lakukan dan bicarakan. Kalau aku boleh menerka-nerka mungkin erna sedang mengurusi cerpennya yang dia kirim ke redaksi 3 hari yang lalu. Dan kenapa pak johan memberi tugas rendi untuk memanggil erna? Mungkin saat itu pak johan sedang megurus piagam-piagam lombatempo hari yang mengangkat nama baik sma kami di tingkat provinsi. Tapi kembali lagi, Entah benar atau tidak erna di panggil pak johan. Aku juga tidak mau tahu.
...
Hari-hariku makin kacau belakangan ini. tugas makin menumpuk, apalagi seminggu lagi sudah ulangan kenaikan kelas. Rasanya ingin merobek-robek semua buku pelajaran dan membuangnya di sungai. Dan aku bisa teriak sekencang-kencangnya di ujung gunung sana. Tapi itu hanya membuat aku lebih pusing saat ulangan kenaikan kelas terlaksana. Pasalnya tidak ada materi yang bisa aku pelajari, karena semua buku sudah aku buang.
Lina juga sudah mulai sibuk dengan tumpukan buku-buku tebal setiap malamnya. Kamarnyapun sudah tidak lagi bersuara lagu-lagu galau. Di hari minggu seperti sekarang ini, Rumah ini sepi lagi. Walaupun ada lina.
“nu, bantuin ibu” segelas air putih yang baru saja aku ambil dari kulkas aku letakkan di meja makan. mendekati ibu yang masih sibuk dengan dugi dan fenu di taman samping rumah.
“ya, apa bu?”
“ikut ibu ke salon yuk.”
“bukannya dua minggu lalu dugi sama fenu udah ke salon?” aku mengelus-elus bulu dugi yang lembut.
“masa dugi sama fenu aja yang ke salon, ibu kan juga pengen.ayahmu kan lagi ke rumah nenek. Apalagi Ayahmu paling males kalau nunggu ibu di salon.”
“ibu lupa satu hal.”
“apa nu?”
“yanu kan juga bosenan bu.persis ayah.”
“wah iya juga. Lina lagi sibuk banget sekarang. Kamu nggak belajar nu?”
“tiap hari kan juga belajar bu di sekolah”
“hm.. alasan terus. Iya ibu juga sudah menduga kalau kamu nggak mau ibu ajakin ke salon.” Ibu menjewer hidungku. Beliau masih memperlakukanku seperti anak-anak lagi. “ ibu...” aku memanja.
“iyaa. Ya udah, ibu berangkat dulu ya. jagain nih dugi sama fenu. Tadi belum ibu beri makan. jangan lupa siram tuh si tuki.”
“iya bu.”
“assalamualaikum”
“waalaikumsalam” aku masih di kerumuni oleh dugi dan fenu. Sementara itu, ibu sudah keluar dari rumah untuk pergi ke salon. Selama lina berdiam diri dengan berjubel buku, hanya tingkah lucu dugi dan fenu yang bisa menghiburku. Aku berniat mengajaknya untuk berjalan-jalan sore ini. sekaligus olahraga, persiapan fisik juga untuk UKK minggu depan.
“linaaa, bang yanu keluar dulu sama dugi, fenu ya. jaga rumah!”
“yaaaa.. jangan sore-sore pulangnyaaa!”
Aku dan lina saling melempar teriakan. Tapi aku tidak lagi membalas perkataannya tadi. Masih terlalu asyik dengan dugi dan fenu. Tanpa tali pengikatpun dugi dan fenu masih tetap paham kalau ini aku. Jadi tidak perlu khawatir kalau-kalau mereka akan kabur. Mungkin mereka juga sadar diri kalau tidak ada keluarga lain yang mau merawatnya kecuali keluarga kecil ibu dan ayah.
“gi, nu, kalian nggak bosen berduan terus?” seperti biasa, aku sedang mengusir penat.
Seakan-akan mereka membalas pertanyaanku dengan jawaban “ nggak. Aku sama fenu fine fine aja. Emangnya kayak yanu yang setiap hari badmood” dilanjut dengan jilatan. Sepertinya dugi sedang mengejekku.
“em.. gitu ya kamu. Nggak aku kasih makan sebulan baru tahu rasa kamu!”
“nggak masalah, mama yanu pasti kasih kita makan ya, fen?”
“yoyoii, gi.. kita kan selalu dimanja”
“yaap. Kita kan nyenengin ya, fen? Nggak kayak yanu yang bawaannya murung melulu.”
“jomblo sih”
“berisik kalian!”
“kesindir dia, gi. Hihi”
“iya, mana ada cewek yang mau sama dia kalau galak gitu”
“cuek abis! Nggak pernah ke salon juga kayak kita.”
“yaap. Bener banget, fen”
Aku hanya tetap diam menanggapi kalimat-kalimat khayalku yang aku ciptakan sendiri itu. Karena memenag di saat-saat seperti inilah aku bisa merasakan duniaku. Ya, walaupun dunia khayal. Tapi aku bahagia. Walaupun terkesan “gila”.
Aku masih berlari kecil. Dugi dan fenu juga masih membuntutiku. Sesekali aku menengok ke belakang mengecek dugi dan fenu masih di belakangku atau tidak. Walaupun mereka sudah tahu aku majikannya, tapi apa salahnya aku khawatir pada pengikutku. Haha
“brug!!”
Tanpa sengaja aku menabrak seseorang saat aku menengok ke belakang. Aku terjatuh. Begitupun yang dirasakan seseorang yang aku tabrak. “maaf kak, maaf.” Buru-buru aku membantu kakak itu untuk mengumpulkan lagi sayurannya yang dia beli disore-sore seperti ini.
“iya nggak apa-apa”
Aku mencuri pandang ke wajah kakak itu. Subhanallah, cantik.
“lain kali hati-hati ya dek jalannya.”
Aku masih memelototi kakak itu. Tanpa peduli dengan ucapannya. Satu.. dua.. tiga.. dia menatapku. Sepertinya dia heran. Tapi di hayalanku..sudahlah. buru-buru aku menghapus lamunanku itu.
“oh iya kak, maaf.”
“kak anti nggak kenpa-kenapa?” seseorang lagi datang di hadapanku. Sepertinya dia adik dari... kak anti?
“iya, nggak kenapa-kenapa.”
“lain kali kalauuu.... yanu?” aku lebih kaget dari perempuan itu. Kenapa dia bisa tahu namaku? Dugi dan fenu masih berputar-putar di kakiku. Sepertinya mereka bahagia. Entahlah.
“siapa ya?”
“em.. nggak siapa-siapa. Ya udah kak, ayo pulang. Mamah udah nunggu.”
Wajah perempuan yang memanggil kak anti tadi sempat merah merona. Entah apa yang dia rasakan. Kak anti hanya membalas ajakan itu dengan anggukan kecil dengan senyuman. Dia memberi tanda kepadaku kalau dia akan pergi bersama adiknya, mungkin. Mereka pergi meningalkan aku bersama dugi dan fenu, seperti sebelumya. Dengan persaan yang aneh. Aku masih bertanya-tanya tetang siapa yang sudah memanggilku tadi? Sepertinya dia kenal denganku. Apa mungkin dia adik kelasku? Kalau iya, kenapa tidak memanggilku dengan sebutan “kak yanu”? mungkin juga kakak kelasku, tapi kalau itu sepertinya tidak mungkin. atau teman seangkatan? Ya, bisa jadi.
...
“eh, kalian mau ke kantin?” sebuah pertanyaan yang aku lontarkan ke brigta dan erna.
“iya, mau nitip?” brigta menjawab pertanyaanku dengan lembut. Seperti biasanya.
“eh, ta, kok aku malah males ke kantin gini ya?” erna yang sebelumnya sudah berdiri dan siap ke kantin, tiba-tiba memutuskan untuk duduk lagi di bangkunya. Diletakkannya kepala ke meja. Wajahnya sdikit berbeda hari ini.
“kenapa? Kambuh?”
Erna hanya mengangguk. Ya udah deh kamu disini aja. Aku beliin roti aja ya sama minum?” tawar brigta.
“nggak usah, roti aja. Aku udah bawa minum.”
“ya udah, gws ya, na. Eh nu, jadi nitip nggak?”
Aku yang dari tadi melihat tingkah mereka berdua ikut larut dalam perbincangan itu dan kesadaranku hampir buyar.
“he? Oh, iya. Minum aja deh, ta. Air putih yang botolan ya.”
“tumben. Iya deh. Titip erna ya”
Aku hanya mengangguk. Brigta keluar kelas bersamaan dengan teman kelas yang lain. Satu persatu meninggalkan kelas. Tinggallah aku dan erna, lagi. Gino hari ini tidak berangkat. Neneknya yang ada di surabaya meninggal dunia tadi malam. Tadi pukul 6 dia sudah prepare berangkat ke surabaya.
Erna masih meletakkan kepalanya di meja dengan berbantalkan lengan kirinya. Sedangkan tangan kanannya dia letakkan di bagian perut.
“kenapa nggak ke uks aja?”
Erna hanya menggeleng pelan. Sesekali aku mendengar isak tangis darinya. Tapi aku belum berani untuk mendekatinya. Isakan yang terakir ini sangat keras. Aku memeberanikan diri untuk mendekatinya.
“eh na, kamu beneran sakit ya?”
Aku sangat panik. Apalagi keadaan kelas juga sepi. Hanya aku dan erna.
“menurutmu?!” erna sedikit membentak.
“ke uks aja ya?”
“nggak mauu, nuu” kali ini erna mengangkat wajah pucatnya. Dan itu membuatku tambah panik.
“pucet banget kamu, na. Ayo ke uks!” aku rengkuh tangannya yang saat itu juga dingin.
“nggak usah, nu. Ntar juga sembuh sendiri.” Suaranya melemah.
“eh seriusan ini. ntar kan di uks bisa dapet obat. Nggak tega aku liat kamu kayak gini”
“nggak apa-apa, nu. Khawatir banget”
Tiba-tiba seseorang masuk kelas tanpa permisi dengan menyebut nama brigta. Aku dan erna sontak langsung menengok ke arah anak itu dengan wajah penasaran.
“eh,sori sori. Ganggu ya?” wajahnya berubah dari yang antusias menjadi ciut.
“brigta lagi ke kantin yak. Kenapa?” dengan lemah erna berbicara. Sedangkan perempuan yang di panggil erna dengan sebutan “yak” itu masih berdiri di depan kelas menatapku dan erna dengan tatapan heran. Mungkin dia berpikir yang tidak-tidak. Tapi tunggu...
“kamu...” aku coba menerka-nerka siapa dia. Karena sepertinya wajahnya tidak begitu asing.
“ya udah nanti aja deh, na. Bilangin brigta ya. aku balik kelas dulu” buru-buru dia pergi seperti menyembunyikan sesuatu.
“kamu kenal dia, na?”
“kenal lah. Dia ka temen sekelas aku waktu kelas 1. Dea.”
“oh..”
“kenapa? Naksir ya sama dea?”
“nggak lah. Kenal aja nggak.”
“belaga sok kenal tadi.”
“wajahnya nggak asing aja. Eh gimana? Nggak jadi ke uks nih?”
“na tadi dea kesini ya?” tiba-tiba suara brigta mulai memasuki ruangan kelas ini. disusul dengan beberapa teman yang lain di belakang brigta.
“iya. Tapi buru-buru dia pergi. Nggak tahu aneh gitu tadi.”
“bererti bener si dea tadi. Nih rotinya, buruan dimakan sebelum bu Widya masuk. Nih nu pesenan kamu.”
Aku menerima sebotol air mineral dari brigta. Dan saat itu juga aku ingat kalau dea itu perempuan yang aku temui kemarin sore di jalan. Yang aku kira aadiknya kak anti. Iya, tidak salah lagi. Itu benar dea. Tapi, dari mana dia bisa mengenalku? Ya, mungkin lewat erna dan brigta. Mungkin.
Aku tidak bisa fokus setelah bu widya masuk ke kelas. Nama dea masih ada di benakku. Sepertinya aku pernah mendengar cerita tentang dia. Aku penasaran sekalius gengsi kalau penasaranku itu aku luapkan pada erna dan brigta. Pasti mereka akan mengira kalau aku tertarik pada dea. Biasalah, perempuan.
...
“lusa kan UKK, nu. Kamu nggak prepare?”
“nanti aja deh.”
“nungguin apa?”
“tenang”
“emang sekarang lagi nggak tenang ya?”
“hm..”
“kenapa bisa gitu? Kan bentar lagi, nu.buruan tenang deh.”
“ya.”
“kenapa nggak belajar aja? Malah main basket. Huu”
“berisik ah, na.”
“ya maaf”
Aku tahu wajah erna pasti berubah. Aku kesal dengan pertanyaannya yang banyak itu. Bola basket yang aku coba masukkan ke ring tidak ada satupun yang berhasil gara-gara meladeni seribu pertanyaan erna.
Hari ini dia lupa lagi membawa dompetnya. Akhirnya dia hanya bisa mengandalkan jemputan dari ayahnya. Teman-teman yang lain tidak bisa mengantar dengan alasan ingin mempersiapkan ukk. Gino juga tidak bisa mengantar erna gara-gara dia sudah ada janji dengan lia. Alhasil, hanya aku yang bisa dan sanggup menemani erna sampai ayahnya datang menjemputnya. Dan aku gunakan waktu menunggu itu dengan bermain basket. Sekolah cukup sepi. Hanya ada beberapa anak osis dan guru-guru panitia ukk yang masih mondar-mandir kesana-kemari. Dan aku merasa percaya diri dengan keadaanku sekarang yang terkurung di dalam lapangan basket bersama erna.
“kamu aja nggak belajar.” Aku mencoba memulai percakapan ini lagi. Aku paling tidak suka dengan wajah erna yang cemberut. Jelek. “kalo aja aku bawa dompet, sekarang aku juga udah dirumah trus belajar kali, nu!” nadanya tinggi di akhir katanya. Bola basket yang baru saja masuk di ring aku tangkap dengan kedua tanganku. Aku pantulkan ke lapangan tiga kali sambil berjalan mendekati erna.
“ada minum nggak?”
“ada sih. Tapi tinggal dikit. Nih” erna mengeluarkan botol minuman kemasan dari tasnya.
“abisin ya?”
Erna mengangguk, cukup anggun. Aku meneguk air mineral milik erna. Menghabiskannya dan sekarang aku duduk berbeda arah dengan erna. Bukan memunggungi, juga bukan saling berhadapan.
“nu aku nggak siap kelas tiga” tiba-tiba raut mukanya berubah lagi menjadi lesu. Dasar erna, manusia dengan kecepatan pergantian mood super cepat.
“kenapa?”
“nggak tahu nu. Aku ngrasanya kita bakal sibuk sendiri-sndiri deh buat persiapan UN nanti.”
“udah lah, nggak usah mikirin sampe kesitu dulu.”
“ya, apa salahnya?”
“ya nggak salah. Cuma, ya udahlah hadapi aja yang lagi ada dihadapan kamu.”
“kamuu doong!!!” erna menjewer telingaku. Aku diperlakukannya seperti anak kecil yang sedang makan permen padahal gigiku sudah cokelat karena habis dimakan kuman.
“weeee.. ya nggak aku juga lah.”
“trus apa?”
“ukk misal.”
“ah bt ah. Kalo denger ukk tuh keinget dompet di kamar tahu, nu!”
“bisa gitu ya?”
“ya iya lah. Kalo dompet itu nggak lupa aku masukin ke tas, aku nggak mungkin ada di sini sama kamu, yanuuu!!” lagi-lagi dia menjewer telingaku. Kali ini dua-duanya dibuatnya menjadi merah. Tapi raut mukanya sekarang sudah menjadi erna yang seperti biasanya. Tawa lepas tidak perah absen di setiap harinya erna.
“udah ah ketawanya. Sekarang serius. nu, besok kalo udah lulus mau kuliah dimana?”
“nggak tahu.”
“kok nggak tahu??
“ya masih bingung aja.”
“kalo aku mau di sastra Indoneisa aja deh. Biar bisa tahu cara nulis yang bener.”
“bukannya udah di ajarin pak johan?”
“justru itu, aku pengen kayak pak johan, nu. Nanti aku jago nulis deh. Trus aku traveling kemana-mana biar bisa dapet pengalaman banyak. Trus nanti aku nulis novel, nu. Eh kamu ini jadi orang pertama lho yang aku ceritain tentang cita-citaku. Jangan bilang ke siapa-siapa! oke?“
“hm..”
“gitu doang sih taggepannya???” protes erna karena ekspresiku memang sedang datar-datarnya. Dia memukul pundak kananku cukup keras. Aku hanya bisa merintih kesakitan.
...
Ukk selesai. Nilai ukk juga satupersatu bermunculan. Sekarang mungkin bisa dikatakan free. Tapi masih ada beberapa yang masih berjuang untuk memenuhi nilai dengan cara remidi. Untungnya aku tidak ada tanggungan tugas ataupun remidi. Nilaiku selalu tuntas walaupun sangat amat mepet kkm. Tugas juga selalu aku kumpulkan walaupun sering mepet dateline. Tapi guru mapel selalu heran padaku, tugasku selalu rapih. Terutama di seni rupa. Walaupun mepet dateline.
“nu, nggak ikut liat futsal?”
“nggak.”
Erna semakin lemas. Hari ini dia juga sama sepertiku. Memilih di kelas daripada mengikuti acara classmeet ayang diselenggarakan anak osis. Hanya aku dan erna, lagi.
“kamusendiri nggak ikut?”
“males. Nggak suka bola.”
“oh”
“kantin yuk nu?”
“nggak ah.”
“alaah ayolah. Males nih di kelas terus.” Erna mulai membujukku dengan menarik seragamku.
“aku masih nabung, na. Hemat”
“aku traktir deh. Tapi Cuma minum aja ya. di kantin tengah. Gimana?”
“nggak. Kantin tengah banyakan ceweknya”
“ya nggak apa-apa lah. Mau ya, nu??”
“nggak.”
“oke, anggep aja ini balasbudiku ke kamu gara-gara sering nungguin sampe ayahku jemput dan sering barengin aku berangkat sekolah. Ya?”
Aku tatap wajah melas erna. Dan sepertinya dia memang tulus.
“ya udah deh ayo.”
“naaah gituuu doong. yuk”
Aku memutuskan untuk menutup pintu kelas. Kalau-kalau terjadi pencurian. Ya, setidaknya meminimalisir kriminalitas di sekolah. Erna masih saja ribet. Memintaku untuk cepat. Sebenarnya ku tidak tahu apa yang dia kejar di kantin. Hanya untuk minuman saja kan?
“nu, nanti kalo aku makan nggak apa-apa kan?”
“hm.. terserah.”
“ih, males ah.”
Cukup tiga sampai empat menit aku dan erna sampai di kantin tengah; tongkrongan anak-anak famous seperti erna. Sepanang perjalanan sudah lebih dari sepuluh pukulan tagan erna yang mendarat di lengan kiriku. Semua itu terjadi karena kekesalannya padaku karena aku terlalu dingin, mungkin.
“nah, mau pesen apa kamu?”
“terserah kamu aja.”
“ih, nggak ada ya kata terserah. Harus milih.”
“jus tomat campur wortel. Puas?”
“gitu aja susah banget.”
Erna menghampiri ibu kantin dan memesan minumanku juga pesanannya yang tidak aku tahu apa. Aku hanya bisa memandangi sekitar kantin ini. kantin tengah biasanya memang lebih ramai daripada kantin yang lainnya. Karena kebanyakan pembelinya adalah kaum perempuan yang suka ngrumpi. Dan perempuan seperti itu hampir 55% mendominasi murid di sma ini. kali terakhir aku makan di kantin ini sewaktu kelas 1 dan masih polos. Tahunya ya hanya kantin yang paling laris saja yang aku kunjungi. Dan saat itu juga aku sadar kenapa tempat ini bisa lebih ramai daripada yang lain. Kantin ini juga menjadi saksi pertama kalinya aku dan erna berbincang setelah mos. Ya, di kantin tengah.
“heh.. malah ngalamun!” erna mengagetkanku. Cepat-cepat pula aku membuyarkan semua kenangan itu. Sekarang aku di kantin ini dengan erna lagi. Dia duduk berhadapan denganku. Seperti adegan drama korea yang lina tonton. Ya, aku hanya tidak sengaja melihatya. Dan cukup ingat dengan adegan yang menyerupai aku dan erna seperti sekarang ini.
“mau peermen?”
“nggak.” Jawabku singkat.
“liburan mau kemana nu?”
“nggak tahu. Di rumah mungkin.”
“jogja yuk?”
“ngapain?”
“main. Ntar ajak brigta juga, gino sama lia kalo mau juga boleh. Yang pasti nggak kita berdua aja.”
“nggak ah, males. Panas disana.”
“sekali-kali lah nu. Tinggalkan bandung. Nggak bosen, apa?”
“nggak”
“em.. ntar deh aku bujuk gino sama brigta dulu. Emang salah kalo ngajak main sama kamu.”
“mie rebus, jus tomas campur wortel, es teh?” suara ibu Darmi mengagetkan.
“oh, iya bu. Makasih ya.”
“sip deh” bu darmi meninggalkan mejaku dan erna. Erna mulai menata meja sedemikian rupa agar makannya nyaman. Minumanku sudah ada di hadapanku sekarang.
“nu?”
“apa? Makan aja gih nggak usah pake ngomong”
“kan masi di aduk-aduk.”
“hm..”
Erna mulai memakan mie rebusnya. Seperti biasa. Mie sedap rasa soto tanpa kuah. Erna memang manusia aneh.
“nu?”
“apa?”
“ada nggak ya di sekolahan ini yang suka sama aku?”
Aku cukup kaget dengan pertanyaan itu. Erna mulai curhat, lagi.
“ada, mungkin.”
“siapa ya, nu?”
“nggak tahu lah”
“kamu nggak suka sama aku, nu?”
Ini pertanyaan paling parah. Aku hampir tersedak. Erna juga ikut panik melihatku seperti ini.
“makanya minum pelan-pelan! Kagetnya biasa aja, makanya!”
“gila!”
“hehe.. bercanda kali, nu.”
“lagian pertanyaanmu pertanyaan mematikan.” Protesku.
“hehehe”
“udah, buruan habisin makanannya! Nggak PW nih!”
“yaaa..”
Di tengah-tengah percakapanku dengan erna itu, aku melihat rendi juga sedang memesan di bu darmi. Rasanya ingin membunuh diri sendiri. Aku hanya tidak enak hati kalau rendi melihatku dengan orang yang dia suka sedang berduaan di kantin. Ah! Sudahlah. Aku hanya akan menundukkan kepalaku dan berpura-pura tidak tahu kalau ada rendi di kantin ini. lagipula, kenapa rendi ada di kantin tengah? Entahlah.
“hei nu, na. Boleh gabung?”
Matilah hidupku. Rendi sudah melihatku dan erna. Baiklah, akan aku hadapi semua ini dengan tetap stay cool.
“eh, rendi. Boleh kok boleh. Duduk aja.” Erna sangat welcome dengan adanya rendi di tengah-tengah kami.
“berdua aja? Brigta sama gino mana?”
“biasalah, gino lagi nonton futsal. Kayaknya brigta juga lagi nonton deh.nontonin sang pangeraaan. Hehe”
“bisa aja kamu, na. Kalo yanu sih nggak usah ditanya. Sampai kapanpun juga dia nggak bakal seneng bola.”
“bener banget ren. Kadang aku juga curiga, dia cowok tulen apa enggak. Haha”
“enak aja kamu, na!”
“hehehe, bercanda kali, nu!”
“hm.. kamu sendiri nggak liat futsal, ren?” aku mencoba memulai percakapan dengan rendi. Dan aku harap ini bisa mencairkan kekhawatiranku.
“tadinya aku dari sana. Tapi kayaknya enakan disini aja deh.” Rendi mengerlingkan matanya padaku. Mungkin dia mengisyaratkan kalau dia lebih senang didekat erna. Sepertinya memang begitu.
“ooh..” jawabku singkat. Erna masih asyik dengan mie-nya.
“nggak pake bumbu, na?” wajar kalau rendi bertanya seperti itu. Rendi belum tahu kebiasaan aneh yang dimiliki erna yang satu ini.
“pake kok. Cuma nggak pake kuah aja, ren. Hehehe” sambil nyengir dia menjelaskan kepada rendi.
“jadi itu sebenernya mi kuah?”
Erna menganggukkan kepalanya dengan mulutnya masih berjubel mie.
“seru ya kalian ini. jadi pengen gabung ke kelas kalian dan bisa akrab sama gino dan brigta juga.”
“weeiiittsss.. nggak boleh ren!”
“telen dulu mie-nya, na!” aku berani membentaknya sekarang. Entah itu khilaf atau apa, aku juga tidak tahu. Kelakuannya sungguh tidak patut saat ini. erna berusaha mengunyah mie-nya dengan kecepatan extra. Dan sesuap mie sudah bisa dia telan setelah kunyahan yang keberapa aku juga tidak tahu.
“kenapa nggak boleh, na?” tanya rendi. Aku juga tahu kalau ini bagian dari misi rendi untuk mendapatan hatinya erna. Dia cukup tangguh dan percaya diri. Salut.
“ya simple ren, jawabannya. soalnya kita udah.... gimana ya jelasinnya?” erna malah tambah bingung dengan kalimat yang dia buat sendiri itu.
“gini deh, ya mungkin aku emang nggak bisa gabung di persahabatan kalian berempat ini. tapi, setidaknya aku pengen jadi bagian dari kisah persahabatan kalian. Boleh nggak?”
Aku dan erna sempat bertatapan. Mencari arti dari kalimat yang rendi ucapkan. Seperti waktu berhenti dalam sekejap. Hening diantara kami. Entahlah apa yang sedang terjadi saat ini. aku hanya menangkap sinyal kecil dari ucapan rendi kalau dia bisa bergabung dengan kelompok kecil yang dia sebut persahabatan ini dengan cara dia mendekati erna. Tapi, aku tidak tahu apa yang sedang ada dipikiran erna sekarang.

Komentar