tidak gelap, juga tidak terang.
tidak hitam, juga tidak putih. basah? tidak juga. kering? aku rasa tidak. tidak
sejauh yang aku duga. tidak sedekat yang aku kira.tidak setebal novel yang aku
pernah baca, Tidak setipis selembar kertas. tidak selembut kapas, tidak sekasar
jalan beraspal. tidak buram, juga tidak bening.tidak malam, tidak siang. Sampai
sekarang, aku tidak tahu apa namanya. semuaya serba tidak pasti.
...
...
Rendi masih
berusaha memasukkan bola basket kedalam ring. Perlombaan memang masih sebulan
lagi. Tapi, dia memang selalu begitu. Latihannya selalu lebih lama dari yang
lainnya. Aku hanya berani duduk hampir 5 meter dari posisi rendi berdiri sambil
melihatnya. Aku masih merasa bersalah mengenai kejadian sewaktu di perkemahan.
Aku pikir dia marah besar padaku. Setelah aku sampai di bumi perkemahan itu
lagi setelah kabur, suasana perkemahan berubah. Entah siapa yang merubahnya,
dan entah apanya yang berubah, aku juga tidak tahu. Mungkin karena tindakan
konyolku. Mungkin
“nggak usah
disesali gitu kali, Nu” Rendi masih berusaha memasukkan bola ke dalam ring. Aku
tahu itu. Walaupun tatapanku masih di sepatu yang duduk manis didepanku. Aku memikirkan
apa yang memang harus aku pikirkan.
Suara sepatu
Rendi mendekatiku. Duduk disampingku sambil meneguk air mineral yang sengaja
dia bawa dari rumah untuk memenuhi kebutuhan mineralnya. “aku salut kok sama
kamu.” Rendi menepuk pundakku. Dan tanpa sadar aku menatapnya. Tatapan kita
bertemu di satu titik. Ini bukan cerita tentang seseorang yang memiliki
kelainan. Tapi, itu benar terjadi. Tatapannya tidak setajam biasanya. Entah apa
yang terjadi padanya. Aku tidak tahu.
Perlahan tanpa
suara dia memasukkan semua peralatan latihannya ke dalam ransel berwarna abu-abu
miliknya. Dia pergi tanpa pamit. Tapi aku tidak terlalu mempermasalahkan
kejadian itu. Itu sudah hal biasa.
Aku masih ada
dilapangan ini. aku juga tidak peduli dengan lirikan dari orang-orang yang
lewat. Tapi aku tahu ada seorang gadis yang melihatku diam-diam di bangku dekat
lapangan. Sesekali menurunkan novel yang dia baca untuk melihatku. Bukan, itu
bukan Erna. Aku tidak pernah tahu siapa dia. Aku juga tidak peduli.
...
Tidak ada yang
berubah dari kami berempat semenjak kejadian tempo hari. Erna masih cerewet dan
pikun. Gino makin gila dengan bola karena tim jagoannya menang atas tim yang
paling tidak dia sukai. Brigta, ya hanya dia yang berubah. Sudah 3 hari ini dia
sudah nampak lagi di sekolah. Hanya itu. Aku? Tidak perlu dibahas.
“ mau langsung pulang,
Nu?” Erna selalu melempariku dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurutku tidak
penting. “iya.”
“ya udah deh”
wajah kecewa yang aku lihat di raut muka Erna. Entah aku juga tidak tahu apa
yang sedang dia rasakan. “kenapa?” yap, pertanyaanku hanya dibalas dengan
gelengan kepala. “kalian ikut nggak? Aku sama Gino mau ke toko buku. Ada bazar
gitu. Discountnya sampe 60% lho.” Brigta mencairkan suasana.
“iya, jarang-jarang
lho ini. gimana?” Gino antusias. Tapi, aku tidak begitu tertarik dengan
sekumpulan buku yang banyak. Walaupun memiliki nilai pengetahuan yang tinggi,
tapi entah kenapa kalau aku melihat banyak tumpukan buku aku sedikit pusing.
Aneh memang.
“nggak ah No,
hari ini aku piket jaga redaksi.”
“Yanu gimana?”
“nggak.”
“ya udah kalo
gitu. Aku sama Gino pergi duluan ya.” Brigta beranjakdari bangkunya, diikuti
gerakan Gino yang menyerupai Brigta.
“hati-hati ntar
pulangnya.” Gino menambahi. Senyuman dan gerakan tangan ke kanan dan kekiri
memisahkan kami berempat menjadi dua kubu.
Sebenarnya
buku-bukuku sudah rapih di dalam tas. Entah kenapa aku enggan beranjak. Masih
melihat layar handphone. Walaupun sebenarnya aku tidak tahu apa yang sedang aku
cari di handphoneku ini.
“aku ke redaksi
ya Nu” Erna pamit. Aku hanya bisa melihat sambil mengangkat alisku tanda
meng-iyakan perizinan Erna. Erna hampir keluar dari pintu. Entah kenapa mulutku
terasa gatal untuk menanyakan “ntar pulang jam berapa?” dan pertanyaan itu
sudah bisa didengar oleh Erna. Dia memutar arah pandangnya ke arah tempat aku
duduk. “kenapa?” aku menatap matanya cukup lama. “nggak. Buruan sana ke
redaksi.” Erna menghela napas. Dipalingkan lagi pandangannya. Dan dia benar-benar
pergi sekarang.
...
“Nu, ada pr?”
sms dari Erna. Tiba-tiba. Ya, itu kata yang paling tepat untuk Erna. Sebelumnya,
dia tidak pernah menanyakan pr. Dan harusnya dia juga tahu kalau aku jarang mecatat
pr yang diberikan pada guru untuk aku kerjakan. Harusnya dia tidak menanyakan
hal ini padaku.
“nggak tahu”
“ya udah.”
“kenapa?”
“aku bingung Nu
sama diriku sendiri. Salah nggak sih kalo aku sering ketawa dan selalu
menceritakan hal yang mungkin kalian nggak harus denger?”
Jujur, justru
aku yang Erna buat bingung dengan pertanyaan ini.
“kamu kenapa??
Nggak biasanya kayak gitu.”
“aku Cuma lagi
bingung sama diriku sendiri.”
“bingung kenapa?
Aku lebih bingung kalo kamu bingung, Na.”
“kok bisa gitu?
Nu, kenapa ya tiap malem aku harus nangis? Dan kenapa setiap aku di sekolah
bareng kalian, bareng temen-temen yang lain bisa lupa sama apa yang udah bikin
aku nangis. Aku nggak ngerti, Nu. Sumpah”
“ya gitu.
Mungkin kamu udah terlalu nyaman sama lingkungan kamu sekarang di sekolah.”
“gitu ya, Nu? Ya
udah deh”
“kamu kenapa?
Berarti sekarang kamu juga lagi nangis ?” aku juga tidak tahu kenapa aku
mengetik huruf-huruf di keypeat handphone sampai membentk kalimat seperti itu.
Dan bodohnya aku, dengan sengaja aku memecet tombol sent ke Erna. “iya, dikit.
Nggak apa-apa kok, Nu.”
“kenapa nggak
pernah cerita?”
“apa yang harus
aku ceritakan padamu duhai Yanuuu” mulailah dia menutupi kesedihannya. Sekarang
aku sadar dan aku mengerti Erna lebih dalam lagi. Hidupnya memang benar-benar
tidak dia isi dengan tawa saja.tapi juga tangis disetiap malamnya. Walaupun aku
tidak tahu apa yang membuatnya melakukan seperti ini.
“terserah lah, Na”
“hehehe.. aku
cuma belum siap buat cerita ke kamu. Mungkin lain kali, Nu. Hehe ngantuk nih, Nu.”
“oke lah, nggak
usah sedih lah, Na. Perjalanan hidupkita masih panjang dan banyak rintangan
yang perlu kita hadapi. So, nggak usah galau. Oke GN ya, Na.”
“GN apaan?”
“Good Night J”
“oh, iya. Gn
juga deh. J”
Aku menghela
napas. Enatap langit-langit kamar. Tenang. Tapi aku belum merasakan apa yang
Erna rasakan; ngatuk. Kenapa Erna tiba-tiba curhat seperti itu? Aneh. Biasanya
Brigta yang sering curhat. Sekarang giliran Erna. Apalagi dengan alasan yag
tidak jelas.
Toktoktok..
suara ketukan pintu mengagetkanku. “siapa?”
“Lina bang.
Boleh masuk?”
“masuk aja Lin.”
Walaupun aku sedang
menatap langit-langit, aku tahu kalau Lina sudah masuk ke kamarku. Setidaknya
telinga kanan dan kiriku masih berfungsidengan baik.
“kenapa?”
“Lina tadi
diajakin nonton film horor sama temen-temen. Dan sekarang, Lina parno bang.
Lina boleh tidur disini?” aku kembali menghela napas. “trus aku tidur dimana?”
“kan kasurnya
bang Yanu gede. Buat berdua lah.”
“weitss.. enak
aja. Ya udah. Kamu tidur di kasur aja. Bair nanti abang yang di bawah. Kalo
gitu nggak takut kan?”
“ya, lumayan
takut.”
“kenapa nggak
tidur sama Ibu aja sih, Lin?”
“nggak ah. Kan Lina
udah gede. Masak harus tidur sama Ibu.”
“apa salahnya?
Kalo udah gede kenapa ngajakin tidur seranjang?”
“apa salahnya?”
“lupakan.
Sekarang tidur gih. Aku ambil tiker dulu.”
“jangan
lama-lama.”
“iya.”
Aku beranjak
dari ranjang dan keluar kamar untuk mengambil karpet yang akan aku gunakan
sebagai alas saat aku tertidur nanti. Kalau bukan Lina yang minta, mungkin
tidak akan aku turuti.
Semuanya sudah
siap. Aku akan bermalam di atas karpet tipis ini. lampu kamar yang biasanya aku
matikan harus aku relakan untuk tetap menyala. Ya, demi Lina. Lagi-lagi demi
Lina. “Bang Yanu lebih suka sama kak Brigta apa kak Erna?” pertanyaan yang
sempat membuat kelopak mataku terbuka secara spontan. “Bang?”
“kamu nanya apa
sih?” aku masih memunggungi Lina dari bawah. “kurang jelas ya? ya udah Lina
ulangin lagi. Sebenerenya bang Yanu itu pacarnya kak Brigta atau kak Erna sih?”
“udah malem, Lin.
Buruan tidur.”
“jawab dulu lah
pertanyaanku!”
“apa pentingnya buat
kamu?”
“penting lah.
Siapapun yang deketin bang Yanu harus dapet persetujuan dari aku. Ahaha”
“tidur lin!”
“jawab dulu!”
“nggak ada yang
aku suka.”
“kok gitu?”
“tidur gih.”
“ceritain dulu
laah”
“nggak”
“jahat!”
Aku tidak
membalas lagi perkataan Lina. Biarkan dia jenuh dan berusaha tidur. `
Beberapa waktu
kemudian mulut Lina bersuara lagi. Dia bercerita kalau dia menyukai Erna.
Dengan segala penjelasan dan alasan kenapa dia menyukai Erna. Wajar saja,
mereka sama-sama bawel dan bnyak omongnya. Pantas kalau Lina nyaman dengan Erna.
Aku tahu yang
dibicarakan Lina. Tapi Lina tidak tahu kalau aku mengetahuinya. Aku hanya tidak
membalas cerita Lina dan pura-pura tertidur. Ini aku lakukan untuk membuat Lina
juga ikut tidur nantinya.
...
Kelas masih saja
riuh. Erna juga ikut berpartisipasi dalam keriuhan ini. seperti biasa, tidak
banyak yang bisa aku lakukan. membuka buku, pun tidak. Memegang handpone juga
tdak. Gino sibuk ngegame di belakang. Duduk dan memerhatikan keadaan.
Lima menit lagi
bel istirahat berbunyi. Kebetulan 2 jam pelajaran sejarah kosong hari ini. ya, kebetulan.
hehe
Tidak ada angin
kencang, hujan pun juga tak datang hari ini. langit cerah dengan sekumpulan
awan stratus disana. tanpa aku sadari, rendi sudah berada di dekatku. Tapi dia
membelakangiku; menatap erna.
“na, kamu
dipanggil pak johan sekarang. Beliau nunggu di redaksi.” Tanpa sengaja dan
karena faktor jarak rendi denganku yang tidak terlalu jauh, aku bisa mendengar
ucapannya kepada erna.
“oh, iya ren.
Makasih ya.” sepertinya erna tersenyum melihat rendi. Samar-samar aku
melihatnya dari samping. Pandanganku aku paksakan menengok ke arah kiri tapi
kepalaku tetap menghadap ke depan.
“bareng aja yuk”
ajak rendi. Erna hanya mengangguk dan langsung berdiri. Kali ini aku
menatapnya. “eh nu, lama nggak keliatan.” Aku hanya memberikan senyumku sambil
mengangkat alis. “pergi dulu ya”
“baaaiii nuuu”
aku tidak bisa berbuat banyak. Hanya diam untuk tetap tersenyum sambil
mengangkat alis. Merekapun pergi keluar dari kelas. Dan aku tidak akan tahu dan
tidak mau tahu apa yang mereka lakukan dan bicarakan. Kalau aku boleh
menerka-nerka mungkin erna sedang mengurusi cerpennya yang dia kirim ke redaksi
3 hari yang lalu. Dan kenapa pak johan memberi tugas rendi untuk memanggil
erna? Mungkin saat itu pak johan sedang megurus piagam-piagam lombatempo hari
yang mengangkat nama baik sma kami di tingkat provinsi. Tapi kembali lagi,
Entah benar atau tidak erna di panggil pak johan. Aku juga tidak mau tahu.
...
Hari-hariku
makin kacau belakangan ini. tugas makin menumpuk, apalagi seminggu lagi sudah
ulangan kenaikan kelas. Rasanya ingin merobek-robek semua buku pelajaran dan
membuangnya di sungai. Dan aku bisa teriak sekencang-kencangnya di ujung gunung
sana. Tapi itu hanya membuat aku lebih pusing saat ulangan kenaikan kelas
terlaksana. Pasalnya tidak ada materi yang bisa aku pelajari, karena semua buku
sudah aku buang.
Lina juga sudah
mulai sibuk dengan tumpukan buku-buku tebal setiap malamnya. Kamarnyapun sudah
tidak lagi bersuara lagu-lagu galau. Di hari minggu seperti sekarang ini, Rumah
ini sepi lagi. Walaupun ada lina.
“nu, bantuin
ibu” segelas air putih yang baru saja aku ambil dari kulkas aku letakkan di
meja makan. mendekati ibu yang masih sibuk dengan dugi dan fenu di taman
samping rumah.
“ya, apa bu?”
“ikut ibu ke
salon yuk.”
“bukannya dua
minggu lalu dugi sama fenu udah ke salon?” aku mengelus-elus bulu dugi yang
lembut.
“masa dugi sama
fenu aja yang ke salon, ibu kan juga pengen.ayahmu kan lagi ke rumah nenek.
Apalagi Ayahmu paling males kalau nunggu ibu di salon.”
“ibu lupa satu
hal.”
“apa nu?”
“yanu kan juga
bosenan bu.persis ayah.”
“wah iya juga.
Lina lagi sibuk banget sekarang. Kamu nggak belajar nu?”
“tiap hari kan
juga belajar bu di sekolah”
“hm.. alasan
terus. Iya ibu juga sudah menduga kalau kamu nggak mau ibu ajakin ke salon.”
Ibu menjewer hidungku. Beliau masih memperlakukanku seperti anak-anak lagi. “
ibu...” aku memanja.
“iyaa. Ya udah,
ibu berangkat dulu ya. jagain nih dugi sama fenu. Tadi belum ibu beri makan.
jangan lupa siram tuh si tuki.”
“iya bu.”
“assalamualaikum”
“waalaikumsalam”
aku masih di kerumuni oleh dugi dan fenu. Sementara itu, ibu sudah keluar dari
rumah untuk pergi ke salon. Selama lina berdiam diri dengan berjubel buku,
hanya tingkah lucu dugi dan fenu yang bisa menghiburku. Aku berniat mengajaknya
untuk berjalan-jalan sore ini. sekaligus olahraga, persiapan fisik juga untuk
UKK minggu depan.
“linaaa, bang
yanu keluar dulu sama dugi, fenu ya. jaga rumah!”
“yaaaa.. jangan
sore-sore pulangnyaaa!”
Aku dan lina
saling melempar teriakan. Tapi aku tidak lagi membalas perkataannya tadi. Masih
terlalu asyik dengan dugi dan fenu. Tanpa tali pengikatpun dugi dan fenu masih
tetap paham kalau ini aku. Jadi tidak perlu khawatir kalau-kalau mereka akan
kabur. Mungkin mereka juga sadar diri kalau tidak ada keluarga lain yang mau
merawatnya kecuali keluarga kecil ibu dan ayah.
“gi, nu, kalian
nggak bosen berduan terus?” seperti biasa, aku sedang mengusir penat.
Seakan-akan
mereka membalas pertanyaanku dengan jawaban “ nggak. Aku sama fenu fine fine
aja. Emangnya kayak yanu yang setiap hari badmood” dilanjut dengan jilatan.
Sepertinya dugi sedang mengejekku.
“em.. gitu ya
kamu. Nggak aku kasih makan sebulan baru tahu rasa kamu!”
“nggak masalah,
mama yanu pasti kasih kita makan ya, fen?”
“yoyoii, gi..
kita kan selalu dimanja”
“yaap. Kita kan
nyenengin ya, fen? Nggak kayak yanu yang bawaannya murung melulu.”
“jomblo sih”
“berisik
kalian!”
“kesindir dia,
gi. Hihi”
“iya, mana ada
cewek yang mau sama dia kalau galak gitu”
“cuek abis!
Nggak pernah ke salon juga kayak kita.”
“yaap. Bener
banget, fen”
Aku hanya tetap
diam menanggapi kalimat-kalimat khayalku yang aku ciptakan sendiri itu. Karena
memenag di saat-saat seperti inilah aku bisa merasakan duniaku. Ya, walaupun
dunia khayal. Tapi aku bahagia. Walaupun terkesan “gila”.
Aku masih
berlari kecil. Dugi dan fenu juga masih membuntutiku. Sesekali aku menengok ke
belakang mengecek dugi dan fenu masih di belakangku atau tidak. Walaupun mereka
sudah tahu aku majikannya, tapi apa salahnya aku khawatir pada pengikutku. Haha
“brug!!”
Tanpa sengaja
aku menabrak seseorang saat aku menengok ke belakang. Aku terjatuh. Begitupun
yang dirasakan seseorang yang aku tabrak. “maaf kak, maaf.” Buru-buru aku
membantu kakak itu untuk mengumpulkan lagi sayurannya yang dia beli disore-sore
seperti ini.
“iya nggak
apa-apa”
Aku mencuri
pandang ke wajah kakak itu. Subhanallah, cantik.
“lain kali
hati-hati ya dek jalannya.”
Aku masih
memelototi kakak itu. Tanpa peduli dengan ucapannya. Satu.. dua.. tiga.. dia
menatapku. Sepertinya dia heran. Tapi di hayalanku..sudahlah. buru-buru aku
menghapus lamunanku itu.
“oh iya kak,
maaf.”
“kak anti nggak
kenpa-kenapa?” seseorang lagi datang di hadapanku. Sepertinya dia adik dari...
kak anti?
“iya, nggak
kenapa-kenapa.”
“lain kali
kalauuu.... yanu?” aku lebih kaget dari perempuan itu. Kenapa dia bisa tahu
namaku? Dugi dan fenu masih berputar-putar di kakiku. Sepertinya mereka
bahagia. Entahlah.
“siapa ya?”
“em.. nggak
siapa-siapa. Ya udah kak, ayo pulang. Mamah udah nunggu.”
Wajah perempuan
yang memanggil kak anti tadi sempat merah merona. Entah apa yang dia rasakan. Kak
anti hanya membalas ajakan itu dengan anggukan kecil dengan senyuman. Dia
memberi tanda kepadaku kalau dia akan pergi bersama adiknya, mungkin. Mereka
pergi meningalkan aku bersama dugi dan fenu, seperti sebelumya. Dengan persaan
yang aneh. Aku masih bertanya-tanya tetang siapa yang sudah memanggilku tadi?
Sepertinya dia kenal denganku. Apa mungkin dia adik kelasku? Kalau iya, kenapa
tidak memanggilku dengan sebutan “kak yanu”? mungkin juga kakak kelasku, tapi
kalau itu sepertinya tidak mungkin. atau teman seangkatan? Ya, bisa jadi.
...
“eh, kalian mau
ke kantin?” sebuah pertanyaan yang aku lontarkan ke brigta dan erna.
“iya, mau
nitip?” brigta menjawab pertanyaanku dengan lembut. Seperti biasanya.
“eh, ta, kok aku
malah males ke kantin gini ya?” erna yang sebelumnya sudah berdiri dan siap ke
kantin, tiba-tiba memutuskan untuk duduk lagi di bangkunya. Diletakkannya
kepala ke meja. Wajahnya sdikit berbeda hari ini.
“kenapa?
Kambuh?”
Erna hanya
mengangguk. Ya udah deh kamu disini aja. Aku beliin roti aja ya sama minum?”
tawar brigta.
“nggak usah,
roti aja. Aku udah bawa minum.”
“ya udah, gws ya,
na. Eh nu, jadi nitip nggak?”
Aku yang dari
tadi melihat tingkah mereka berdua ikut larut dalam perbincangan itu dan
kesadaranku hampir buyar.
“he? Oh, iya.
Minum aja deh, ta. Air putih yang botolan ya.”
“tumben. Iya
deh. Titip erna ya”
Aku hanya
mengangguk. Brigta keluar kelas bersamaan dengan teman kelas yang lain. Satu
persatu meninggalkan kelas. Tinggallah aku dan erna, lagi. Gino hari ini tidak
berangkat. Neneknya yang ada di surabaya meninggal dunia tadi malam. Tadi pukul
6 dia sudah prepare berangkat ke surabaya.
Erna masih
meletakkan kepalanya di meja dengan berbantalkan lengan kirinya. Sedangkan
tangan kanannya dia letakkan di bagian perut.
“kenapa nggak ke
uks aja?”
Erna hanya
menggeleng pelan. Sesekali aku mendengar isak tangis darinya. Tapi aku belum
berani untuk mendekatinya. Isakan yang terakir ini sangat keras. Aku
memeberanikan diri untuk mendekatinya.
“eh na, kamu
beneran sakit ya?”
Aku sangat
panik. Apalagi keadaan kelas juga sepi. Hanya aku dan erna.
“menurutmu?!”
erna sedikit membentak.
“ke uks aja ya?”
“nggak mauu,
nuu” kali ini erna mengangkat wajah pucatnya. Dan itu membuatku tambah panik.
“pucet banget
kamu, na. Ayo ke uks!” aku rengkuh tangannya yang saat itu juga dingin.
“nggak usah, nu.
Ntar juga sembuh sendiri.” Suaranya melemah.
“eh seriusan
ini. ntar kan di uks bisa dapet obat. Nggak tega aku liat kamu kayak gini”
“nggak apa-apa,
nu. Khawatir banget”
Tiba-tiba seseorang
masuk kelas tanpa permisi dengan menyebut nama brigta. Aku dan erna sontak
langsung menengok ke arah anak itu dengan wajah penasaran.
“eh,sori sori.
Ganggu ya?” wajahnya berubah dari yang antusias menjadi ciut.
“brigta lagi ke
kantin yak. Kenapa?” dengan lemah erna berbicara. Sedangkan perempuan yang di
panggil erna dengan sebutan “yak” itu masih berdiri di depan kelas menatapku
dan erna dengan tatapan heran. Mungkin dia berpikir yang tidak-tidak. Tapi
tunggu...
“kamu...” aku
coba menerka-nerka siapa dia. Karena sepertinya wajahnya tidak begitu asing.
“ya udah nanti
aja deh, na. Bilangin brigta ya. aku balik kelas dulu” buru-buru dia pergi
seperti menyembunyikan sesuatu.
“kamu kenal dia,
na?”
“kenal lah. Dia
ka temen sekelas aku waktu kelas 1. Dea.”
“oh..”
“kenapa? Naksir
ya sama dea?”
“nggak lah.
Kenal aja nggak.”
“belaga sok
kenal tadi.”
“wajahnya nggak
asing aja. Eh gimana? Nggak jadi ke uks nih?”
“na tadi dea
kesini ya?” tiba-tiba suara brigta mulai memasuki ruangan kelas ini. disusul
dengan beberapa teman yang lain di belakang brigta.
“iya. Tapi
buru-buru dia pergi. Nggak tahu aneh gitu tadi.”
“bererti bener
si dea tadi. Nih rotinya, buruan dimakan sebelum bu Widya masuk. Nih nu pesenan
kamu.”
Aku menerima
sebotol air mineral dari brigta. Dan saat itu juga aku ingat kalau dea itu
perempuan yang aku temui kemarin sore di jalan. Yang aku kira aadiknya kak
anti. Iya, tidak salah lagi. Itu benar dea. Tapi, dari mana dia bisa
mengenalku? Ya, mungkin lewat erna dan brigta. Mungkin.
Aku tidak bisa
fokus setelah bu widya masuk ke kelas. Nama dea masih ada di benakku.
Sepertinya aku pernah mendengar cerita tentang dia. Aku penasaran sekalius
gengsi kalau penasaranku itu aku luapkan pada erna dan brigta. Pasti mereka
akan mengira kalau aku tertarik pada dea. Biasalah, perempuan.
...
“lusa kan UKK,
nu. Kamu nggak prepare?”
“nanti aja deh.”
“nungguin apa?”
“tenang”
“emang sekarang
lagi nggak tenang ya?”
“hm..”
“kenapa bisa
gitu? Kan bentar lagi, nu.buruan tenang deh.”
“ya.”
“kenapa nggak belajar
aja? Malah main basket. Huu”
“berisik ah,
na.”
“ya maaf”
Aku tahu wajah
erna pasti berubah. Aku kesal dengan pertanyaannya yang banyak itu. Bola basket
yang aku coba masukkan ke ring tidak ada satupun yang berhasil gara-gara
meladeni seribu pertanyaan erna.
Hari ini dia
lupa lagi membawa dompetnya. Akhirnya dia hanya bisa mengandalkan jemputan dari
ayahnya. Teman-teman yang lain tidak bisa mengantar dengan alasan ingin
mempersiapkan ukk. Gino juga tidak bisa mengantar erna gara-gara dia sudah ada
janji dengan lia. Alhasil, hanya aku yang bisa dan sanggup menemani erna sampai
ayahnya datang menjemputnya. Dan aku gunakan waktu menunggu itu dengan bermain
basket. Sekolah cukup sepi. Hanya ada beberapa anak osis dan guru-guru panitia
ukk yang masih mondar-mandir kesana-kemari. Dan aku merasa percaya diri dengan
keadaanku sekarang yang terkurung di dalam lapangan basket bersama erna.
“kamu aja nggak
belajar.” Aku mencoba memulai percakapan ini lagi. Aku paling tidak suka dengan
wajah erna yang cemberut. Jelek. “kalo aja aku bawa dompet, sekarang aku juga
udah dirumah trus belajar kali, nu!” nadanya tinggi di akhir katanya. Bola
basket yang baru saja masuk di ring aku tangkap dengan kedua tanganku. Aku
pantulkan ke lapangan tiga kali sambil berjalan mendekati erna.
“ada minum
nggak?”
“ada sih. Tapi
tinggal dikit. Nih” erna mengeluarkan botol minuman kemasan dari tasnya.
“abisin ya?”
Erna mengangguk,
cukup anggun. Aku meneguk air mineral milik erna. Menghabiskannya dan sekarang
aku duduk berbeda arah dengan erna. Bukan memunggungi, juga bukan saling
berhadapan.
“nu aku nggak
siap kelas tiga” tiba-tiba raut mukanya berubah lagi menjadi lesu. Dasar erna,
manusia dengan kecepatan pergantian mood super cepat.
“kenapa?”
“nggak tahu nu.
Aku ngrasanya kita bakal sibuk sendiri-sndiri deh buat persiapan UN nanti.”
“udah lah, nggak
usah mikirin sampe kesitu dulu.”
“ya, apa
salahnya?”
“ya nggak salah.
Cuma, ya udahlah hadapi aja yang lagi ada dihadapan kamu.”
“kamuu doong!!!”
erna menjewer telingaku. Aku diperlakukannya seperti anak kecil yang sedang
makan permen padahal gigiku sudah cokelat karena habis dimakan kuman.
“weeee.. ya
nggak aku juga lah.”
“trus apa?”
“ukk misal.”
“ah bt ah. Kalo
denger ukk tuh keinget dompet di kamar tahu, nu!”
“bisa gitu ya?”
“ya iya lah.
Kalo dompet itu nggak lupa aku masukin ke tas, aku nggak mungkin ada di sini
sama kamu, yanuuu!!” lagi-lagi dia menjewer telingaku. Kali ini dua-duanya
dibuatnya menjadi merah. Tapi raut mukanya sekarang sudah menjadi erna yang
seperti biasanya. Tawa lepas tidak perah absen di setiap harinya erna.
“udah ah
ketawanya. Sekarang serius. nu, besok kalo udah lulus mau kuliah dimana?”
“nggak tahu.”
“kok nggak
tahu??
“ya masih
bingung aja.”
“kalo aku mau di
sastra Indoneisa aja deh. Biar bisa tahu cara nulis yang bener.”
“bukannya udah
di ajarin pak johan?”
“justru itu, aku
pengen kayak pak johan, nu. Nanti aku jago nulis deh. Trus aku traveling
kemana-mana biar bisa dapet pengalaman banyak. Trus nanti aku nulis novel, nu.
Eh kamu ini jadi orang pertama lho yang aku ceritain tentang cita-citaku.
Jangan bilang ke siapa-siapa! oke?“
“hm..”
“gitu doang sih
taggepannya???” protes erna karena ekspresiku memang sedang datar-datarnya. Dia
memukul pundak kananku cukup keras. Aku hanya bisa merintih kesakitan.
...
Ukk selesai.
Nilai ukk juga satupersatu bermunculan. Sekarang mungkin bisa dikatakan free.
Tapi masih ada beberapa yang masih berjuang untuk memenuhi nilai dengan cara
remidi. Untungnya aku tidak ada tanggungan tugas ataupun remidi. Nilaiku selalu
tuntas walaupun sangat amat mepet kkm. Tugas juga selalu aku kumpulkan walaupun
sering mepet dateline. Tapi guru mapel selalu heran padaku, tugasku selalu
rapih. Terutama di seni rupa. Walaupun mepet dateline.
“nu, nggak ikut
liat futsal?”
“nggak.”
Erna semakin
lemas. Hari ini dia juga sama sepertiku. Memilih di kelas daripada mengikuti
acara classmeet ayang diselenggarakan anak osis. Hanya aku dan erna, lagi.
“kamusendiri
nggak ikut?”
“males. Nggak
suka bola.”
“oh”
“kantin yuk nu?”
“nggak ah.”
“alaah ayolah.
Males nih di kelas terus.” Erna mulai membujukku dengan menarik seragamku.
“aku masih
nabung, na. Hemat”
“aku traktir
deh. Tapi Cuma minum aja ya. di kantin tengah. Gimana?”
“nggak. Kantin
tengah banyakan ceweknya”
“ya nggak
apa-apa lah. Mau ya, nu??”
“nggak.”
“oke, anggep aja
ini balasbudiku ke kamu gara-gara sering nungguin sampe ayahku jemput dan
sering barengin aku berangkat sekolah. Ya?”
Aku tatap wajah
melas erna. Dan sepertinya dia memang tulus.
“ya udah deh
ayo.”
“naaah gituuu
doong. yuk”
Aku memutuskan
untuk menutup pintu kelas. Kalau-kalau terjadi pencurian. Ya, setidaknya
meminimalisir kriminalitas di sekolah. Erna masih saja ribet. Memintaku untuk
cepat. Sebenarnya ku tidak tahu apa yang dia kejar di kantin. Hanya untuk
minuman saja kan?
“nu, nanti kalo aku makan nggak apa-apa kan?”
“nu, nanti kalo aku makan nggak apa-apa kan?”
“hm.. terserah.”
“ih, males ah.”
Cukup tiga
sampai empat menit aku dan erna sampai di kantin tengah; tongkrongan anak-anak
famous seperti erna. Sepanang perjalanan sudah lebih dari sepuluh pukulan tagan
erna yang mendarat di lengan kiriku. Semua itu terjadi karena kekesalannya
padaku karena aku terlalu dingin, mungkin.
“nah, mau pesen
apa kamu?”
“terserah kamu
aja.”
“ih, nggak ada
ya kata terserah. Harus milih.”
“jus tomat
campur wortel. Puas?”
“gitu aja susah
banget.”
Erna menghampiri
ibu kantin dan memesan minumanku juga pesanannya yang tidak aku tahu apa. Aku
hanya bisa memandangi sekitar kantin ini. kantin tengah biasanya memang lebih
ramai daripada kantin yang lainnya. Karena kebanyakan pembelinya adalah kaum
perempuan yang suka ngrumpi. Dan perempuan seperti itu hampir 55% mendominasi
murid di sma ini. kali terakhir aku makan di kantin ini sewaktu kelas 1 dan
masih polos. Tahunya ya hanya kantin yang paling laris saja yang aku kunjungi.
Dan saat itu juga aku sadar kenapa tempat ini bisa lebih ramai daripada yang
lain. Kantin ini juga menjadi saksi pertama kalinya aku dan erna berbincang setelah
mos. Ya, di kantin tengah.
“heh.. malah
ngalamun!” erna mengagetkanku. Cepat-cepat pula aku membuyarkan semua kenangan
itu. Sekarang aku di kantin ini dengan erna lagi. Dia duduk berhadapan
denganku. Seperti adegan drama korea yang lina tonton. Ya, aku hanya tidak
sengaja melihatya. Dan cukup ingat dengan adegan yang menyerupai aku dan erna
seperti sekarang ini.
“mau peermen?”
“nggak.” Jawabku
singkat.
“liburan mau
kemana nu?”
“nggak tahu. Di
rumah mungkin.”
“jogja yuk?”
“ngapain?”
“main. Ntar ajak
brigta juga, gino sama lia kalo mau juga boleh. Yang pasti nggak kita berdua
aja.”
“nggak ah,
males. Panas disana.”
“sekali-kali lah
nu. Tinggalkan bandung. Nggak bosen, apa?”
“nggak”
“em.. ntar deh
aku bujuk gino sama brigta dulu. Emang salah kalo ngajak main sama kamu.”
“mie rebus, jus
tomas campur wortel, es teh?” suara ibu Darmi mengagetkan.
“oh, iya bu.
Makasih ya.”
“sip deh” bu
darmi meninggalkan mejaku dan erna. Erna mulai menata meja sedemikian rupa agar
makannya nyaman. Minumanku sudah ada di hadapanku sekarang.
“nu?”
“apa? Makan aja
gih nggak usah pake ngomong”
“kan masi di
aduk-aduk.”
“hm..”
Erna mulai
memakan mie rebusnya. Seperti biasa. Mie sedap rasa soto tanpa kuah. Erna
memang manusia aneh.
“nu?”
“apa?”
“ada nggak ya di
sekolahan ini yang suka sama aku?”
Aku cukup kaget
dengan pertanyaan itu. Erna mulai curhat, lagi.
“ada, mungkin.”
“siapa ya, nu?”
“nggak tahu lah”
“kamu nggak suka
sama aku, nu?”
Ini pertanyaan
paling parah. Aku hampir tersedak. Erna juga ikut panik melihatku seperti ini.
“makanya minum
pelan-pelan! Kagetnya biasa aja, makanya!”
“gila!”
“hehe.. bercanda
kali, nu.”
“lagian
pertanyaanmu pertanyaan mematikan.” Protesku.
“hehehe”
“udah, buruan
habisin makanannya! Nggak PW nih!”
“yaaa..”
Di tengah-tengah
percakapanku dengan erna itu, aku melihat rendi juga sedang memesan di bu
darmi. Rasanya ingin membunuh diri sendiri. Aku hanya tidak enak hati kalau
rendi melihatku dengan orang yang dia suka sedang berduaan di kantin. Ah!
Sudahlah. Aku hanya akan menundukkan kepalaku dan berpura-pura tidak tahu kalau
ada rendi di kantin ini. lagipula, kenapa rendi ada di kantin tengah? Entahlah.
“hei nu, na.
Boleh gabung?”
Matilah hidupku.
Rendi sudah melihatku dan erna. Baiklah, akan aku hadapi semua ini dengan tetap
stay cool.
“eh, rendi.
Boleh kok boleh. Duduk aja.” Erna sangat welcome dengan adanya rendi di
tengah-tengah kami.
“berdua aja?
Brigta sama gino mana?”
“biasalah, gino
lagi nonton futsal. Kayaknya brigta juga lagi nonton deh.nontonin sang
pangeraaan. Hehe”
“bisa aja kamu,
na. Kalo yanu sih nggak usah ditanya. Sampai kapanpun juga dia nggak bakal
seneng bola.”
“bener banget
ren. Kadang aku juga curiga, dia cowok tulen apa enggak. Haha”
“enak aja kamu,
na!”
“hehehe,
bercanda kali, nu!”
“hm.. kamu
sendiri nggak liat futsal, ren?” aku mencoba memulai percakapan dengan rendi.
Dan aku harap ini bisa mencairkan kekhawatiranku.
“tadinya aku
dari sana. Tapi kayaknya enakan disini aja deh.” Rendi mengerlingkan matanya
padaku. Mungkin dia mengisyaratkan kalau dia lebih senang didekat erna.
Sepertinya memang begitu.
“ooh..” jawabku
singkat. Erna masih asyik dengan mie-nya.
“nggak pake
bumbu, na?” wajar kalau rendi bertanya seperti itu. Rendi belum tahu kebiasaan
aneh yang dimiliki erna yang satu ini.
“pake kok. Cuma
nggak pake kuah aja, ren. Hehehe” sambil nyengir dia menjelaskan kepada rendi.
“jadi itu
sebenernya mi kuah?”
Erna
menganggukkan kepalanya dengan mulutnya masih berjubel mie.
“seru ya kalian
ini. jadi pengen gabung ke kelas kalian dan bisa akrab sama gino dan brigta
juga.”
“weeiiittsss..
nggak boleh ren!”
“telen dulu
mie-nya, na!” aku berani membentaknya sekarang. Entah itu khilaf atau apa, aku juga
tidak tahu. Kelakuannya sungguh tidak patut saat ini. erna berusaha mengunyah
mie-nya dengan kecepatan extra. Dan sesuap mie sudah bisa dia telan setelah
kunyahan yang keberapa aku juga tidak tahu.
“kenapa nggak
boleh, na?” tanya rendi. Aku juga tahu kalau ini bagian dari misi rendi untuk
mendapatan hatinya erna. Dia cukup tangguh dan percaya diri. Salut.
“ya simple ren,
jawabannya. soalnya kita udah.... gimana ya jelasinnya?” erna malah tambah
bingung dengan kalimat yang dia buat sendiri itu.
“gini deh, ya
mungkin aku emang nggak bisa gabung di persahabatan kalian berempat ini. tapi,
setidaknya aku pengen jadi bagian dari kisah persahabatan kalian. Boleh nggak?”
Aku dan erna
sempat bertatapan. Mencari arti dari kalimat yang rendi ucapkan. Seperti waktu
berhenti dalam sekejap. Hening diantara kami. Entahlah apa yang sedang terjadi
saat ini. aku hanya menangkap sinyal kecil dari ucapan rendi kalau dia bisa
bergabung dengan kelompok kecil yang dia sebut persahabatan ini dengan cara dia
mendekati erna. Tapi, aku tidak tahu apa yang sedang ada dipikiran erna
sekarang.
Komentar
Posting Komentar