Dalam Kesadaranku #9



“jadi ikut?” sending ke nomr Erna. Aku takut dia ngambek lagi.
“boleh?”
“iya.”
“oke :D”
“oke. Ntar kabarin lagi aja.”
“okee boss!
Entah kenapa, rasanya aneh setiap Erna memanggilku boss. Handphone bututku aku taruh di atas kulkas. Aku menyempatkan waktu menemui Dugi dan Fenu. Mereka tampak lucu. Aku beri makanan untuk mereka. “maaf ya Gi, Fen. Kalian kemarin ditinggal di rumah sendirian. Kalian baik-baik aja kan?” Dugi memainkan badannya. Manja.
Tidak lupa tuki si kaktusku. Aku tahu, dia kecewa padaku. Dengan sedikit air aku mmpu membutnya tersenyum lagi. Aku siap.
Waktuku sudah tidak lama lagi. Lina akan tampil hari ini. penampilan perdananya yang akan membuatku bangga menjadi abangnya. Berlebihan memang. Tapi aku memang sayang padanya. Aku sadar, tanpa ada lina rumah mungkin hanya akan ada suara dugi dan fenu yang mengeong manja dan suara ibu yang hanya terdengar sesekali saja. Lina, adik mungil yang dari dulu selalu manja dan bawel. Bang yanu sayang padamu.
Sewajarnya. Itulah penampilanku hari ini. aku menjadi diriku sendiri seperti biasanya. Jam tangan kado dari Lina sengaja aku pakai. Dia akan lebih senang melihatku memakainya. Semenjak ulang tahunku 3 bulan yang lalu, baru sekali ini aku memakainya. Maaf Lina, aku baru sadar kalau kamu sangat amat berarti di hidupku.
Kawul sudah siap melayani perjalanku kali ini. “aku otw.” Pesan singkat untuk erna sudah dikirim oleh operator yang baik hati. Cukup 2 kata, dan itu sudah jelas. Tapi, entah erna menganggapnya seperti apa? Aku juga tidak tahu.
Kawul mengantarku ke sekolah Lina. Ini tidak akan lama. Jantungku tiba-tiba berdetak lebih kencang dari biasanya. Aneh. Diikuti perutku yang mulai... mulas. Aku grogi? Oh, jangan sekarang. Semua akan baik-baik saja nu. Percaya itu. Tetaplah tersenyum. Jaga semangat kamu. ini bukan acara resmi yang banyak dihadiri banyak pejabat negara. Kamu tidak akan mendpat soal kewarganegaraan disana. tenang. Tunjukan pada semua orang termasuk Lina kalau kamu adalah laki-laki. Ya, begitulah aku. Jarang yang menyemangati hidupku. Dan hanya aku yang mampu melakukannya.
Kawul sudah berada di gerbang sekolah lina. Dan yang harus aku lakukan sekarang adalah hanya diam disini menunggu Erna datang. Handphoneku tidak ada pesan masuk dari Erna. Mungkin dia masih di perjalanan. Tapi jam tanganku sudah menunjukkan pukul 10.15 WIB. Aku rasa, acara akan segera dimulai. Maaf Erna, aku mendahuluimu.
Ternyata sekolah Lina besar juga. Hampir separuh sma-ku. Dengan bantuan petunjuk jalan, aku melewati beberapa koridor dan menaiki tangga. Finally, aku sampai di depan aula sekolah Lina.
Ini saatnya. Kakiku masih aku paksa untuk melangkah. Memasuki ruangan yang entah berapa ukuranya, banyak kursi yang tertata rapih. Banyak orang juga. Bola mataku tiba-tiba saja bergerak ke kanan dan kekiri. Entah apa yang aku cari. Dan kudapati tiga pasang mata yang juga menangkap tatapanku. Melambaikan tangan dan berusaha menyebut namaku. Mereka datang. Erna, Gino, dan Brigta. Entah kenapa senyumku mengembang.
“kalian ngapain disini?” dengan tampang sangarku aku mengucapkan kalimat itu.
“menurutmu??” Erna mengejek. Dia sudah sampai lebih dulu dibandingkan aku. Tidak, bukan hanya Erna. Tapi mereka bertiga.
“kirain kamu nggak bakal dateng Nu, makanya kita yang nggantiin posisi kamu buat lihat Lina adik kesayanganmu itu” terang Gino. Semua kata-kata yang terlontar dari mulut Gino, membuat aku hanya diam dan tersenyum tipis.
“udah sembuh Ta?”
“sebenernya masih harus istirahat Nu, tapi bosen dirumah. Dan aku diculik kesini sama mereka.” Tawa, canda, masih mengelilingi pertemanan ini. ini bukan dongeng ataupun cerita novel yang harus ditangisi. Ini hanya cerita biasa. Pertemanan sewajarya. Tanpa rekayasa.
“Lina cantik banget tadi” Brigta memulai percakapan di depan aula setelah pertunjukan selesai.
“iya, aku paling suka waktu kamu teriak-teriak minta bantuan.  Trus kan ada beberapa pemuda gitu yang nyamperin kamu trus kamu bingung, trus akhirnya kan kamu..”
“sssttt.. nggak usah didengerin!” Gino memotong pembicaraan Erna. Dan itu membuat sebuah tawa kecil menghampiriku, Lina dan Brigta. “Gino!!!” protes Erna. “udah, seneng banget sih berantem. Lina jago akting kan yang ngajarin abangnya. Ya nggak?” tampang sangarku sepertinya berdampak kurang baikuntuk Lina. Tangan yang semula ada di pundaknya, sekarang dia buang ke tempat lain. Ya, itu tanganku.
“ngaco banget! Sejak kapan bang yanu jago akting? Yang ada malah gila! Ngomong sama handphone lah, handuk lah, Tuki juga di ajakin ngomong. Lina kira, bang Yanu nggak punya temen sampe-sampe ngomong sama benda. Ternyata dugaan Lina salah.” Hahahaha pengakuan yang hampir membuat aku terharu. “ada juga ya ternyata yang mau temenan sama bang Yanu yang gila ini. hmm”
“dasar bocah!”
“tunggu-tungu, Yanu sering ngomong sama handuk?” Erna penasaran. Aku tahu, ujung dari pertanyaan ini adalah tawa melecehkan.
“iya kak, bang Yanu emang aneh. Nggak salah kalau sampai sekrang dia jomblo.”
“bener banget! Aku setuju kalau yang satu itu Lin”
“eh No, nggak usah ngehina gitu deh. Aku bukan jomblo ya! tapi single!”
“iya, single ngenes” ejek Brigta. Oke, masalah seperti ini memang selalu aku dan Erna yang dipojokkan. Tawa kami bermunculan lagi rasanya sudah lama tidak melakukan hal seperti ini. perjalananku kemari tidak ada kata sia-sia. Capek memang, tapi banyak yang aku dapat. Mulai dari menghargi profesi yang dari dulu aku remehkan, dan betapa berharganya mereka yang ada disampingku. Lina benar, selain benda matiku dirumah yang sering aku ajak bicara, aku masih punya banyak orang yang mau membantuku dan peduli padaku. Dan, mereka nyata, mereka hidup.
Perjalanan ini tak pernah menyesatkan. Tak pernah sia-sia. Dan ini adalah saat-saat kesadaranku dibangunkan oleh-Nya.Terimakasih ya Allah.

Komentar