“jadi ikut?” sending ke nomr Erna. Aku
takut dia ngambek lagi.
“boleh?”
“iya.”
“oke :D”
“oke. Ntar kabarin lagi aja.”
“okee boss!”
Entah kenapa, rasanya aneh setiap Erna
memanggilku boss. Handphone bututku aku taruh di atas kulkas. Aku menyempatkan
waktu menemui Dugi dan Fenu. Mereka tampak lucu. Aku beri makanan untuk mereka.
“maaf ya Gi, Fen. Kalian kemarin ditinggal di rumah sendirian. Kalian baik-baik
aja kan?” Dugi memainkan badannya. Manja.
Tidak lupa tuki si kaktusku. Aku tahu,
dia kecewa padaku. Dengan sedikit air aku mmpu membutnya tersenyum lagi. Aku
siap.
Waktuku sudah tidak lama lagi. Lina akan
tampil hari ini. penampilan perdananya yang akan membuatku bangga menjadi abangnya.
Berlebihan memang. Tapi aku memang sayang padanya. Aku sadar, tanpa ada lina
rumah mungkin hanya akan ada suara dugi dan fenu yang mengeong manja dan suara
ibu yang hanya terdengar sesekali saja. Lina, adik mungil yang dari dulu selalu
manja dan bawel. Bang yanu sayang padamu.
Sewajarnya. Itulah penampilanku hari
ini. aku menjadi diriku sendiri seperti biasanya. Jam tangan kado dari Lina
sengaja aku pakai. Dia akan lebih senang melihatku memakainya. Semenjak ulang tahunku
3 bulan yang lalu, baru sekali ini aku memakainya. Maaf Lina, aku baru sadar
kalau kamu sangat amat berarti di hidupku.
Kawul sudah siap melayani perjalanku
kali ini. “aku otw.” Pesan singkat untuk erna sudah dikirim oleh operator yang
baik hati. Cukup 2 kata, dan itu sudah jelas. Tapi, entah erna menganggapnya
seperti apa? Aku juga tidak tahu.
Kawul mengantarku ke sekolah Lina. Ini
tidak akan lama. Jantungku tiba-tiba berdetak lebih kencang dari biasanya.
Aneh. Diikuti perutku yang mulai... mulas. Aku grogi? Oh, jangan sekarang.
Semua akan baik-baik saja nu. Percaya itu. Tetaplah tersenyum. Jaga semangat
kamu. ini bukan acara resmi yang banyak dihadiri banyak pejabat negara. Kamu
tidak akan mendpat soal kewarganegaraan disana. tenang. Tunjukan pada semua
orang termasuk Lina kalau kamu adalah laki-laki. Ya, begitulah aku. Jarang yang
menyemangati hidupku. Dan hanya aku yang mampu melakukannya.
Kawul sudah berada di gerbang sekolah
lina. Dan yang harus aku lakukan sekarang adalah hanya diam disini menunggu Erna datang. Handphoneku tidak ada pesan masuk dari Erna. Mungkin dia masih di
perjalanan. Tapi jam tanganku sudah menunjukkan pukul 10.15 WIB. Aku rasa, acara
akan segera dimulai. Maaf Erna, aku mendahuluimu.
Ternyata sekolah Lina besar juga. Hampir
separuh sma-ku. Dengan bantuan petunjuk jalan, aku melewati beberapa koridor dan
menaiki tangga. Finally, aku sampai di depan aula sekolah Lina.
Ini saatnya. Kakiku masih aku paksa
untuk melangkah. Memasuki ruangan yang entah berapa ukuranya, banyak kursi yang
tertata rapih. Banyak orang juga. Bola mataku tiba-tiba saja bergerak ke kanan
dan kekiri. Entah apa yang aku cari. Dan kudapati tiga pasang mata yang juga menangkap
tatapanku. Melambaikan tangan dan berusaha menyebut namaku. Mereka datang.
Erna, Gino, dan Brigta. Entah kenapa senyumku mengembang.
“kalian ngapain disini?” dengan tampang
sangarku aku mengucapkan kalimat itu.
“menurutmu??” Erna mengejek. Dia sudah
sampai lebih dulu dibandingkan aku. Tidak, bukan hanya Erna. Tapi mereka
bertiga.
“kirain kamu nggak bakal dateng Nu,
makanya kita yang nggantiin posisi kamu buat lihat Lina adik kesayanganmu itu”
terang Gino. Semua kata-kata yang terlontar dari mulut Gino, membuat aku hanya
diam dan tersenyum tipis.
“udah sembuh Ta?”
“sebenernya masih harus istirahat Nu,
tapi bosen dirumah. Dan aku diculik kesini sama mereka.” Tawa, canda, masih
mengelilingi pertemanan ini. ini bukan dongeng ataupun cerita novel yang harus
ditangisi. Ini hanya cerita biasa. Pertemanan sewajarya. Tanpa rekayasa.
“Lina cantik banget tadi” Brigta memulai
percakapan di depan aula setelah pertunjukan selesai.
“iya, aku paling suka waktu kamu
teriak-teriak minta bantuan. Trus kan
ada beberapa pemuda gitu yang nyamperin kamu trus kamu bingung, trus akhirnya kan
kamu..”
“sssttt.. nggak usah didengerin!” Gino
memotong pembicaraan Erna. Dan itu membuat sebuah tawa kecil menghampiriku, Lina dan Brigta. “Gino!!!” protes Erna. “udah, seneng banget sih berantem. Lina
jago akting kan yang ngajarin abangnya. Ya nggak?” tampang sangarku sepertinya
berdampak kurang baikuntuk Lina. Tangan yang semula ada di pundaknya, sekarang
dia buang ke tempat lain. Ya, itu tanganku.
“ngaco banget! Sejak kapan bang yanu
jago akting? Yang ada malah gila! Ngomong sama handphone lah, handuk lah, Tuki
juga di ajakin ngomong. Lina kira, bang Yanu nggak punya temen sampe-sampe
ngomong sama benda. Ternyata dugaan Lina salah.” Hahahaha pengakuan yang hampir
membuat aku terharu. “ada juga ya ternyata yang mau temenan sama bang Yanu yang
gila ini. hmm”
“dasar bocah!”
“tunggu-tungu, Yanu sering ngomong sama
handuk?” Erna penasaran. Aku tahu, ujung dari pertanyaan ini adalah tawa
melecehkan.
“iya kak, bang Yanu emang aneh. Nggak
salah kalau sampai sekrang dia jomblo.”
“bener banget! Aku setuju kalau yang
satu itu Lin”
“eh No, nggak usah ngehina gitu deh. Aku
bukan jomblo ya! tapi single!”
“iya, single ngenes” ejek Brigta. Oke,
masalah seperti ini memang selalu aku dan Erna yang dipojokkan. Tawa kami
bermunculan lagi rasanya sudah lama tidak melakukan hal seperti ini.
perjalananku kemari tidak ada kata sia-sia. Capek memang, tapi banyak yang aku
dapat. Mulai dari menghargi profesi yang dari dulu aku remehkan, dan betapa
berharganya mereka yang ada disampingku. Lina benar, selain benda matiku
dirumah yang sering aku ajak bicara, aku masih punya banyak orang yang mau
membantuku dan peduli padaku. Dan, mereka nyata, mereka hidup.
Perjalanan ini tak pernah menyesatkan.
Tak pernah sia-sia. Dan ini adalah saat-saat kesadaranku dibangunkan oleh-Nya.Terimakasih
ya Allah.
Komentar
Posting Komentar