Sekarang, Yang aku tahu adalah
jalan yang aku tempuh pasti masih jauh. Sekarang aku ingat jalan ini. Belokan
pertama setelah melewati jalan utama kota. Aku hampir sampai. Tunggu aku lina,
tunggu. Bersabarlah.
Jalan beraspal didepanku masih
sama seperti saat pertamakali aku melihatnya. Sebenarnya, aku lupa kapan saat
pertama itu. Belum begitu banyak kendaraan yang lewat di jalan itu. Hanya
beberapa mobil bak terbuka yang membawa berbagai macam sayuran. Ada juga truk
besar yang melaju kencang menyalip mobil bak terbuka tadi. Mungkin truk itu
sedang marah, atau buru-buru. Dan aku rasa truk itu sedang tidak membawa barang
apapun di dalamnya.
Kakiku mulai menapaki jalan
beraspal itu. Aku harus tetap berjalan. Daerah ini terlalu asing untukku. Tidak
salah kalau aku ragu untuk naik angkot nantinya. Apalagi di jam-jam seperti
sekarang ini, aku rasa sopir-sopir angkot masih mengecek keadaan mobil mereka.
Belum beroperasi untuk menyewakan jasanya. Lagipula, kantongku sedang tidak
menampung banyak uang.
Melawan rasa takut. Aku pasti
bisa. Berkali-kali aku meyakinkan diriku sendiri kalau aku pasti bisa. 100
meter didepanku banyak kerumunan orang. Memakai baju seragam berwarna kuning
dengan topi yang hanya beberapa orang saja yang memakainya. Banyak alat-alat
besar, dan tumpukan bebatuan. Aku tahu kalau mereka adalah pekerja proyek jalan
raya. Aku tidak tahu namanya. Yang aku tahu, tugas mereka hanya memperbaiki
jalan utama kota ini.
Aku pernah mendengar seorang
ibu-ibu di angkot yang sedang bercerita dengan temannya. Ibu tersebut
menceritakan tentang keponakannya yang bekerja di bidang pembangunan. Ibu itu
bercerita kalau keponakannya pernah berkata ; baiknya jalan utama itu setiap
tahunnya ditinggikan maksimal 25cm. Aku tidak tahu informasi itu benar atau
salah. Aku hanya bercerita saja bukan? Kalaupun itu benar, jalan utama
disekitar rumahku setiap tahunnya tidak ditinggikan. Tapi aku tidak tahu. Semua
itu sudah ada yang mengatur bukan?
Senyuman mereka, keringat mereka,
waktu mereka, tenaga mereka, semua untuk pengguna jalan. Disaat pengguna jalan
terlelap, mereka memulai aktifitasnya. Bekerja dengan penuh semangat dan
tanggung jawab yang tinggi. Walaupun terkadang mendapat omelan dari pengguna
jalan karena dinilai lamban, tapi mereka tetap gigih. Pengguna jalan juga tidak
pernah mau tahu alasan sebenarnya proyek ini sering memakan waktu yang lama.
Aku rasa, tidak ada orang yang mau berlama-lama di jalan untuk menunggu. Dengan
kata lain terjebak macet. Tapi, apakah kita sebagai pengguna jalan juga lupa
kalau penyebab kecelakaan yang paling utama adalah kerusakan jalan?
Aku tidak pernah bermaksud untuk
menggurui. Sepertinya setiap orang di Indonesia memliki hak dan kewajibannya
masing-masing. Termasuk hak berpendapat. Sama seperti yang sedang aku lakukan.
Baiklah, aku harus tetap fokus
dengan tujuan utamaku. terimakasih bapak-bapak pekerja renofasi jalan. Sudah
mengingatkanku tentang pelajaran kewarganegaraan yang dari dulu tidak pernah
aku sukai. Terimaksih juga sudah memperbaiki jalan kita. Aku tidak bisa
membantu banyak, Pak. Aku harus segera sampai di sekolah Lina. Harus.
Manusia yang hebat adalah manusia
yang berguna bagi orang lain. Semboyan dari guru SMP yang tidak pernah aku
lupakan.
Sepertinya kehidupan sudah siap
dimulai untuk mereka yang merayakannya. Weekend. Kesempatan yang paling
ditunggu-tunggu. Mengistirahatkan pikiran dan badan. Tapi, beberapa orang masih
melakukan aktifitasnya seperti biasa. Selain bapak-bapak pekerja renofasi jalan
tadi, ibu-ibu di pasar juga tidak kalah.
Pasar tradisional yang menurut
cerita Jihan adalah pasar terbesar di kota ini berdiri di kanan jalan tempat
aku berjalan sekarang. Ramai. Aku bisa melihat ksibukan mereka. Ekspresi
kecapaian, kecewa, semangat, senang, terburu-buru, dan banyak lagi ekspresi
yang tidak bisa aku jelaskan.
Weekend kali ini bukan milik mereka. Mereka
harus melakukan aktifitas seperti biasanya. Menjual sayuran untuk membantu
banyak manusia yang menikmati weekendnya dirumah. Menyediakan kebutuhan pokok
untuk banyak orang. Merelakan waktu liburnya untuk orang lain. Juga berusaha
menafkahi keluarganya, membantu perekonomian keluarganya. Hebat.
Bukan hanya para penjual yang ada
disini saja yang hebat. Bapak-bapak yang menyewakan jasa angkutnya juga patut
di acungi jempol. Tanpa mereka, ibu-ibu di pasar ini tidak mendapat barang
untuk dijual. Terlebih dengan para petani di ats sana yang merawat sayur-mayur
dari biji maupun tunas hingga bisa dipanen dan dinikmati banyak orang. Pembeli
pasti lupa tentang semua itu. Kebanyakan hanya memprotes harga barang yang
terkadang mengalami kenaikan. Memang, aku juga menyadarinya. Barang mahal
sebenarnya tidak masalah kalau memang mampu membelinya. Selektif dan
menggunakan teknik berbelanja yang aku tidak tahu teknik apa namanya. Aku tidak
suka berbelanja. Ibu dan Lina yang biasanya melakukan itu. Aku dan Ayah hanya
terima jadi. Itulah enaknya laki-laki.
Pengamatanku setelah melewati
pasar. Aku salut pada mereka semua. Akan aku ubah pola pikirku tentang pekerjan
yang selama ini aku anggap tidak ada gunanya dan membuang waktu, dan jorok,
atau apalah tentang keburukan mereka. Semakin aku ingat tentang petuah dari
guru SMP ku. Aku mulai merasakan kebenaran kalimat itu.
Hari sudah smakin terang.
Perjalananku masih panjang. Kalau aku hanya mengandalkan jalan kaki saja, aku
tidak memiliki banyak waktu untuk
bersiap-siap menuju sekolah Lina. Apa iya, aku datang ke acara tersebut
dengan pakaian seperti ini? Lina psti malu. Begitupun denganku.
Aku mencoba memberhentikan angkot
dan bertanya jalur angkutan itu. Angkot berwarna merahmuda hanya sampai di
perbatasan kota. Dan, Bapak supir itu memberiku saran untuk naik bus kota yang
datangnya cukup lama. Sekali ada, sering penuh. Tapi beruntung hari ini hari Minggu. Kata Bapak supir tadi, bus tidak akan seramai hari Senin atau hari
biasanya.
Aku berjalan pelan dan sesekali
menengok kebelakang memastikan ada atau tidaknya bus kota. Kalau aku hanya
fokus di jalan yang aku lalui saja, aku tidak akan tahu kapan bus kota itu
lewat tanpa bisa aku hentikan untuk menaikinya.
Bus berwarna biru dengan
plat nomor yang kusam berjalan kira-kira 30 meter di belakangku. Aku
menghentikan langkah kakiku. Dan menunggu bus itu berhenti didepanku dan
membawaku pergi dari tempat ini ke tempat yang aku tuju.
Wajahku yang bercucuran keringat
ini terobati dengan angin yang datang dari pintu bus. Aku duduk di bangku yang
berdekatan dengan pintu belakang bus. Bangku ini cukup mengasyikan. Selain aku
bisa mendapat angin, cara keluar dari bus ini juga akan mudah.
Perjalanan yang cukup seru. Ini
kali pertama aku naik bus kota. Supir yang ugal-ugalan dan kenek yang terkadang
berisik. Tapi, aku tidak mempermasalahkan semua itu. Mereka memliki alasan
masing-masing untuk melakukan hal itu. Kalau pak supir tidak ugal-ugalan
seperti ini, aku dan penumpang lainnya tidak akan datang terlambat ke tempat
tujuan. Mungkin prinsip Bapak supir adalah “lebih cepat lebih baik”. Sama
seperti Bapak mantan wakil presiden Republik Indonesia yakni Bapak Yusuf Kalla.
Seugal-ugalnya Pak supir, Bapak supir tidak pernah berniat menyelakai dirinya
sendiri dan orang lain kan?
Lain dengan Pak supir, Pak kenek
juga harus bersuara lantang, supaya calon penumpang jelas kemana arah tujuan
bus tersebut. Walaupun tindakan mereka sering mengganggu, tapi seperti itulah
pekerjaan mereka. Kita sebagai penumpang hanya tinggal diam dan berdoa. Semoga
selamat sampai tjuan.juga berpikir positif dengan keadaan yang mungkin tidak
nyaman yang terjadi di bus ini.
“udah sampe mana Nu? Acaranya Lina jam berapa sih?” sms dari Erna. Kenapa dia begitu khawatir denganku?
“udah masuk kota kok Na. Jam 10.”
“masih jalan? Minta jemput Gino
aja kenapa sih? -_-“
“naik bus. 10 menit lagi sampe
kok.”
“ya udah. Ntar kalo udah siap ke
sekolahnya Lina, kabarin ya Nu.:)”
“emangnya kenapa?”
“bareng kesananyaaa :/”
“ngapain ikut?”
“ bosen di rumah.”
“terserah deh”
“kok gitu? Nggak boleh ya?”
“nggak jjuga. Terserah kamu Na”
Maaf Na, sebenarnya aku tahu
kalau kamu paling anti dengan kata terserah. Maaf Na. Sepretinya Erna marah.
Sesampainya aku di terminal kecamatanku, Erna belum membalas lagi smsku.
Sesekali aku menengok ponselku. Masih sama. Belum ada balsan.
Supaya mempersingkt wkatu, aku
naik ojek untuk menuju kerumah. Jarak terminal menuju rumahku cukup jauh. 30-45
menit jika aku jalan kaki. Dan hanya perlu waktu 10-15 menit sampai dirumah
dengan kendaraan bermotor.
Komentar
Posting Komentar