dalam kesadaranku #8

Sekarang, Yang aku tahu adalah jalan yang aku tempuh pasti masih jauh. Sekarang aku ingat jalan ini. Belokan pertama setelah melewati jalan utama kota. Aku hampir sampai. Tunggu aku lina, tunggu. Bersabarlah.
Jalan beraspal didepanku masih sama seperti saat pertamakali aku melihatnya. Sebenarnya, aku lupa kapan saat pertama itu. Belum begitu banyak kendaraan yang lewat di jalan itu. Hanya beberapa mobil bak terbuka yang membawa berbagai macam sayuran. Ada juga truk besar yang melaju kencang menyalip mobil bak terbuka tadi. Mungkin truk itu sedang marah, atau buru-buru. Dan aku rasa truk itu sedang tidak membawa barang apapun di dalamnya.
Kakiku mulai menapaki jalan beraspal itu. Aku harus tetap berjalan. Daerah ini terlalu asing untukku. Tidak salah kalau aku ragu untuk naik angkot nantinya. Apalagi di jam-jam seperti sekarang ini, aku rasa sopir-sopir angkot masih mengecek keadaan mobil mereka. Belum beroperasi untuk menyewakan jasanya. Lagipula, kantongku sedang tidak menampung banyak uang.
Melawan rasa takut. Aku pasti bisa. Berkali-kali aku meyakinkan diriku sendiri kalau aku pasti bisa. 100 meter didepanku banyak kerumunan orang. Memakai baju seragam berwarna kuning dengan topi yang hanya beberapa orang saja yang memakainya. Banyak alat-alat besar, dan tumpukan bebatuan. Aku tahu kalau mereka adalah pekerja proyek jalan raya. Aku tidak tahu namanya. Yang aku tahu, tugas mereka hanya memperbaiki jalan utama kota ini.
Aku pernah mendengar seorang ibu-ibu di angkot yang sedang bercerita dengan temannya. Ibu tersebut menceritakan tentang keponakannya yang bekerja di bidang pembangunan. Ibu itu bercerita kalau keponakannya pernah berkata ; baiknya jalan utama itu setiap tahunnya ditinggikan maksimal 25cm. Aku tidak tahu informasi itu benar atau salah. Aku hanya bercerita saja bukan? Kalaupun itu benar, jalan utama disekitar rumahku setiap tahunnya tidak ditinggikan. Tapi aku tidak tahu. Semua itu sudah ada yang mengatur bukan?
Senyuman mereka, keringat mereka, waktu mereka, tenaga mereka, semua untuk pengguna jalan. Disaat pengguna jalan terlelap, mereka memulai aktifitasnya. Bekerja dengan penuh semangat dan tanggung jawab yang tinggi. Walaupun terkadang mendapat omelan dari pengguna jalan karena dinilai lamban, tapi mereka tetap gigih. Pengguna jalan juga tidak pernah mau tahu alasan sebenarnya proyek ini sering memakan waktu yang lama. Aku rasa, tidak ada orang yang mau berlama-lama di jalan untuk menunggu. Dengan kata lain terjebak macet. Tapi, apakah kita sebagai pengguna jalan juga lupa kalau penyebab kecelakaan yang paling utama adalah kerusakan jalan?
Aku tidak pernah bermaksud untuk menggurui. Sepertinya setiap orang di Indonesia memliki hak dan kewajibannya masing-masing. Termasuk hak berpendapat. Sama seperti yang sedang aku lakukan.
Baiklah, aku harus tetap fokus dengan tujuan utamaku. terimakasih bapak-bapak pekerja renofasi jalan. Sudah mengingatkanku tentang pelajaran kewarganegaraan yang dari dulu tidak pernah aku sukai. Terimaksih juga sudah memperbaiki jalan kita. Aku tidak bisa membantu banyak, Pak. Aku harus segera sampai di sekolah Lina. Harus.
Manusia yang hebat adalah manusia yang berguna bagi orang lain. Semboyan dari guru SMP yang tidak pernah aku lupakan.
Sepertinya kehidupan sudah siap dimulai untuk mereka yang merayakannya. Weekend. Kesempatan yang paling ditunggu-tunggu. Mengistirahatkan pikiran dan badan. Tapi, beberapa orang masih melakukan aktifitasnya seperti biasa. Selain bapak-bapak pekerja renofasi jalan tadi, ibu-ibu di pasar juga tidak kalah.
Pasar tradisional yang menurut cerita Jihan adalah pasar terbesar di kota ini berdiri di kanan jalan tempat aku berjalan sekarang. Ramai. Aku bisa melihat ksibukan mereka. Ekspresi kecapaian, kecewa, semangat, senang, terburu-buru, dan banyak lagi ekspresi yang tidak bisa aku jelaskan.
 Weekend kali ini bukan milik mereka. Mereka harus melakukan aktifitas seperti biasanya. Menjual sayuran untuk membantu banyak manusia yang menikmati weekendnya dirumah. Menyediakan kebutuhan pokok untuk banyak orang. Merelakan waktu liburnya untuk orang lain. Juga berusaha menafkahi keluarganya, membantu perekonomian keluarganya. Hebat.
Bukan hanya para penjual yang ada disini saja yang hebat. Bapak-bapak yang menyewakan jasa angkutnya juga patut di acungi jempol. Tanpa mereka, ibu-ibu di pasar ini tidak mendapat barang untuk dijual. Terlebih dengan para petani di ats sana yang merawat sayur-mayur dari biji maupun tunas hingga bisa dipanen dan dinikmati banyak orang. Pembeli pasti lupa tentang semua itu. Kebanyakan hanya memprotes harga barang yang terkadang mengalami kenaikan. Memang, aku juga menyadarinya. Barang mahal sebenarnya tidak masalah kalau memang mampu membelinya. Selektif dan menggunakan teknik berbelanja yang aku tidak tahu teknik apa namanya. Aku tidak suka berbelanja. Ibu dan Lina yang biasanya melakukan itu. Aku dan Ayah hanya terima jadi. Itulah enaknya laki-laki.
Pengamatanku setelah melewati pasar. Aku salut pada mereka semua. Akan aku ubah pola pikirku tentang pekerjan yang selama ini aku anggap tidak ada gunanya dan membuang waktu, dan jorok, atau apalah tentang keburukan mereka. Semakin aku ingat tentang petuah dari guru SMP ku. Aku mulai merasakan kebenaran kalimat itu.
Hari sudah smakin terang. Perjalananku masih panjang. Kalau aku hanya mengandalkan jalan kaki saja, aku tidak memiliki banyak waktu untuk  bersiap-siap menuju sekolah Lina. Apa iya, aku datang ke acara tersebut dengan pakaian seperti ini? Lina psti malu. Begitupun denganku.
Aku mencoba memberhentikan angkot dan bertanya jalur angkutan itu. Angkot berwarna merahmuda hanya sampai di perbatasan kota. Dan, Bapak supir itu memberiku saran untuk naik bus kota yang datangnya cukup lama. Sekali ada, sering penuh. Tapi beruntung hari ini hari Minggu. Kata Bapak supir tadi, bus tidak akan seramai hari Senin atau hari biasanya.
Aku berjalan pelan dan sesekali menengok kebelakang memastikan ada atau tidaknya bus kota. Kalau aku hanya fokus di jalan yang aku lalui saja, aku tidak akan tahu kapan bus kota itu lewat tanpa bisa aku hentikan untuk menaikinya.
Bus berwarna biru dengan plat nomor yang kusam berjalan kira-kira 30 meter di belakangku. Aku menghentikan langkah kakiku. Dan menunggu bus itu berhenti didepanku dan membawaku pergi dari tempat ini ke tempat yang aku tuju.
Wajahku yang bercucuran keringat ini terobati dengan angin yang datang dari pintu bus. Aku duduk di bangku yang berdekatan dengan pintu belakang bus. Bangku ini cukup mengasyikan. Selain aku bisa mendapat angin, cara keluar dari bus ini juga akan mudah.
Perjalanan yang cukup seru. Ini kali pertama aku naik bus kota. Supir yang ugal-ugalan dan kenek yang terkadang berisik. Tapi, aku tidak mempermasalahkan semua itu. Mereka memliki alasan masing-masing untuk melakukan hal itu. Kalau pak supir tidak ugal-ugalan seperti ini, aku dan penumpang lainnya tidak akan datang terlambat ke tempat tujuan. Mungkin prinsip Bapak supir adalah “lebih cepat lebih baik”. Sama seperti Bapak mantan wakil presiden Republik Indonesia yakni Bapak Yusuf Kalla. Seugal-ugalnya Pak supir, Bapak supir tidak pernah berniat menyelakai dirinya sendiri dan orang lain kan?
Lain dengan Pak supir, Pak kenek juga harus bersuara lantang, supaya calon penumpang jelas kemana arah tujuan bus tersebut. Walaupun tindakan mereka sering mengganggu, tapi seperti itulah pekerjaan mereka. Kita sebagai penumpang hanya tinggal diam dan berdoa. Semoga selamat sampai tjuan.juga berpikir positif dengan keadaan yang mungkin tidak nyaman yang terjadi di bus ini.
“udah sampe mana Nu? Acaranya Lina jam berapa sih?” sms dari Erna. Kenapa dia begitu khawatir denganku?
“udah masuk kota kok Na. Jam 10.”
“masih jalan? Minta jemput Gino aja kenapa sih? -_-“
“naik bus. 10 menit lagi sampe kok.”
“ya udah. Ntar kalo udah siap ke sekolahnya Lina, kabarin ya Nu.:)”
“emangnya kenapa?”
“bareng kesananyaaa :/”
“ngapain ikut?”
“ bosen di rumah.”
“terserah deh”
“kok gitu? Nggak boleh ya?”
“nggak jjuga. Terserah kamu Na”
Maaf Na, sebenarnya aku tahu kalau kamu paling anti dengan kata terserah. Maaf Na. Sepretinya Erna marah. Sesampainya aku di terminal kecamatanku, Erna belum membalas lagi smsku. Sesekali aku menengok ponselku. Masih sama. Belum ada balsan.

Supaya mempersingkt wkatu, aku naik ojek untuk menuju kerumah. Jarak terminal menuju rumahku cukup jauh. 30-45 menit jika aku jalan kaki. Dan hanya perlu waktu 10-15 menit sampai dirumah dengan kendaraan bermotor.  

Komentar