Dalam Kesadaranku #6

Semua teman kelasku terlihat buru-buru pulang ke rumah untuk mempersiapkan segala macam keperluan dan peralatan yang harus mereka bawa di acara nanti sore sampai minggu besok. Tapi tidak dengan Erna dan Gino. Sepertinya mereka benar-benar tidak akan berangkat ke acara itu. Diposisiku sekarang, aku tidak bisa berbuat banyak.
“yakin mau bolos?” sebuah pertanyaan yang aku lemparkan pada Erna dan Gino. Mereka juga masih menatap teman-teman yang lain sedang beradu mulut dan menimbang-nimbang lagi barang apa saja yang harus dia bawa. Ribet.
Erna memalingkan pandangannya ke wajahku. Dia tersenyum dan mengangat alisnya. Bangga. Aku tahu tanda itu mewakili jawaban “yakin” dari Erna.
“kamu sendiri gimana Nu?” Gino membuat pertanyaan yang mematikan untukku.
“kayaknya tetep ikut deh. Ntar  pas minggu, aku kabur ke acara sekolah lina. Habis itu aku balik lagi ke sini. Gimana?”
“parah!” tangan Gino yang sebelumnya diletakkan di bahuku dipindahkan olehnya. Dengan wajah yang kecewa. “gila kamu Nu! Berani banget. Ntar kalau kamu dikira hilang gimana? Trus, yang lain pada kawatir gimana? Trus emangnya kamu tahu jalan ke sekolahannya Lina? Trus gimana kamu ngomong sama Lina kalau “
“berisik ah Na!” belum selesai Erna berbicara, aku sudah memotongnya.
“kali ini Erna bener kali Nu. Jangan sembarangan gitu deh” Gino mulai menasehati.
“masalahnya, aku diminta bu Gita untuk membantu beliau mengurus komputer yang dibawa dari sekolah untuk sekedar hiburan disana. katanya bakal ada nonton film bareng. Dan... ya, kamu tahu sendiri kan kalau bu Gita sedang mengajar, siapa lagi yang membantu beliau memasang LCD. Kebetulan juga si doni nggak bisa dateng. Tifusnya kumat dua hari yang lalu. Dan akulah yang ditunjuk untuk menggantikannya. Itupun baru tadi malam aku di hubungi. Ah!”
“kok tumben?” Erna bengong.
“tauk tuh. Kenapa harus aku? Nyebelin banget!”
“nggak gitu, tumben kamu cerewet!” Erna dan Gino tertawa terbahak-bahak. Aku yang menyadari hal itu juga ikut tertawa.
“oke deh oke. Terserah kamu deh nu. Sukses ya campingnya. Tanpa kita” Gino menggoda.
“sial!” sebenarnya aku marah. Kesal. Tapi, aku sendiri sudah mantab dengan caraku ini. dan aku yakin akan berhasil. Lagi pula Lina sudah setuju dengan caraku. Ya, walaupun sempat dilempari wajah kesal. Tapi, aku tidak minta izin Ayah dan Ibu terlebih daulu. Maafkan aku Ibu, Ayah.
Pukul 14:00, semua siswa-siswi kelas xi sudah siap mengikuti acara ini. dengan tas-tas berisikan barang bawaan yang terlihat mengembang, raut wajah yang ceria, dan itu tidak terjadi padaku. Aku masih berusaha mengangkut komputer dan perangkat keras lainnya untuk dimasukkanke mobil bu Gita.
Setelah semua selesai, tepat pukul setengan tiga sore, kami di bariskan. Ada penyambutan dari kepala sekolah yang tidak bisa ikut serta, dan sambutan dari ketua panitia. Hampir 45 menit sudah sambutuan-sambutan itu dilantunkan. Semua barang dan manusianya segera diletakkan rapi di mobil besar tanpa atap.
Perjalanan 30menit hampir tidak terasa. Pemandangan yang ada disekitar jalan yang kita lalui cukup membuat mata ini tak henti-hentinya terbuka. Kedipan sesekali juga terjadi. Rasa syukur kami terhadap Tuhan akan alam yang telah Dia berikan pada kita semua. Hijau yang menenangkan.
Sedikit terlintas di pikiranku, bagaimana cara dan jalan yang harus aku tempuh untuk kembali pulang. Sudah setengah perjalanan tapi aku tidak berusaha menghafalkan jalur yang sudah terlewati. Bodoh!
45 menit terlewati. Sampailah di tempat perkemahan. Barang dan manusia turun dari mobil besar ini. wajah-wajah gembira mulai mereka pamerkan. Terikan-teriakan hore juga mulai terdengar. Mereka akan dibariskan kembali untuk mendapat pengarahan sebelum mendirikan bangunan sementara mereka.
30 menit sudah Pak Waskita memberikan pengarahan. Dan ini adalah saat dimana teman-teman seperjuanganku mulai mendirikan tenda. Karena aku diberi tugas untuk menggantikan tugas Doni, jadi aku sudah dianggap sebagai panitia. Sama seperti Rendi yang dari tadi duduk disampingku sambil berusaha menghbiskan sebotol air mineral. “Erna nggak ikut ya Nu?” Rendi memulai percakapan. Aku hanya mengangguk sambil bergumam. Semoga dia tahu kalau aku memberinya isyarat kalau tebakannya benar.
Rendi meletakkan botol air mineralnya diantara aku dan Rendi. Aku mulai memehami sikap Rendi. Aku rasa dia kecewa. “Gino juga?” dengan sikap santainya dia bertanya kembali. “hm.. sebenernya aku juga mau ikutan bolos.”
“apa?” raut muka Rendi sontak berubah. Sebagai ketua, pasti dia kesal. “hehe.. nggak. Bercanda kali Ren. Nggak usah dibuat serius gitu.”
“nggak lah Nu. Nggak nyangka aja pertemanan kalian sampe segitunya.”
“nakal ya?”
Rendi bergumam. “ya, kalau Brigta ngak sakit, nggak bakal ada bolos-bolosan kayak gini”
Rendi menatapku. Pandangannya berubah. Seperti orang yang kagum. Tapi, entahlah.
Matahari sepertinya mulai mengatar kesibukanku. Malam ini juga acara nonton film secara serempak akan diadakan di lapangan berukuran 80 meter X 60 meter ini. segela sesuatunya sudah aku persiapkan. Hanya menunggu file film yang akan diputar di kain putih berukuran 10 X 10 yang sudah dipersiapkan anak buah Rendi yang menjabat sebagai seksi perlengkapan.
Teman-teman seperjuanganku sudah siap dengan jaket tebalnya, sebagian anak-anak famous di sekolah juga bergerombol dengan banyak makanan di depan mereka. Sebagian lainnya menghampiri posisi tempat duduk seseorang yang mengisi hatinya. Mungkin mereka hanya memiliki ikatan sebatas teman. Entahlah, aku tidak mau menganggu hidup mereka. Itu hak mereka.
Posisiku berbeda arah dengan yang lainnya. Aku hanya bisa melihat film yang akan diputar nanti melalui layar laptop 14 inci milik bu Riani. Aku juga bisa melihat walaupun sekilas siapa-siapa saja yang melihat ke arah mataku. Dan sekedar tersenyum malu setelah tatapan mataku aku alihkan ke arah mereka yang menatapku diam-diam. Tapi aku tidak perduli.
Film berdurasi 2 jam kurang 5 menit sudah siap di putar. Lampu-lampu penerang lapangan mulai dimatikan. Yang tersisa hanya cahaya dari layar pemancar. Aku ditemani rendi didepan layar 14 inci ini. ditemani segelas kopi cukup membuat mata yang biasanya lebih awal beristirahat, namun kali ini berbeda. Rendi cukup dengan se botol air mineral yang akan menemaninya. Dia tipe orang yang perduli dengan kesehatannya. Salah satunya dengan dia meminum bnyak-banyak air ptih.
“kenal Dea? Anak ipa 2?” Rendi membuka percakapan.
“nggak”
Rendi terdiam. Menyeting tangannya sebagai penyangga badannya. Dan menatap ke langit. Dengan santai dia melakukan itu. Sebelumnya dia sudah memberitahuku kalau dia sudah pernah menonton film ini sebelumnya. Jadi, wajar saja kalau dengan santainya Rendi melakukan hal tersebut. Tapi, aku akui dia memang tampan. Tunggu dulu, aku masih normal.
“emangnya kenapa sama dia?” aku mencoba memecahkan keheningan. Pandangan Rendi berubah ke arahku. Tangannya di letakkan kembali diatas kakinya yang dia lipat. “denger-denger dia ikutan chirs biar bisa ketemu kamu lho. Tapi, tinngi badannya nggak memenuhi kriteria.”
“trus?” aku semakin penasaran. Aku pikir, selama aku belajar di sekolah ini tidak ada wanita yang tertarik padaku. Bodoh. “udah, lupain aja. Aku juga nggak tahu banyak tentang dia.” Rendi mencoba mengarahkan bola matanya ke arah teman-teman yang sedang serius menonton film. Entah apa yang sedang dia cari. Aku tidak tahu.
Akupun melakukan hal yang hanya bisa aku lakukan disini. Kembali menatap layar 14 inci didepanku. Mencoba menerka-nerka cerita yang terdapat dalam film bergenre drama komedi ini. “kirain udah tahu banyak Ren” tiba-tiba mulutku bergerak lagi. Entah, rasanya aneh.
“dia anak ipa 2. Banyak yang bilang kalau dia itu pendiam.  Temen deketnya aja bisa dihitung. Dia anak mading. Denger-denger, dia ikutan chers Cuma gara-gara biar bisa ketemu kamu lebih lama. Katanya”
“pasti dia tipe cewek yang sok ngatur-ngatur.”
“sok tahu!” tangan Rendi menjitakku.
Keheningan menghampiriku dan Rendi. Yang ada hanya suara bisik-bisik penonton film, suara film, dan jangkrik. Aku belum menemukan topik pembicaraan yang bisa dibahas bersama Rendi.
“percaya keajaiban cinta?” Rendi tiba-tiba menjadi melow.
“keajaiban aja aku nggak percaya Ren. Apalagi keajaiban cinta.”
“kenapa?”
“nggak tahu.”
“dulu, awalnya aku juga ngrasa kayak gitu Nu, tapi setelah aku tahu Erna, presepsiku tentang cinta jadi berubah.” Ada sedikit getaran di dada. Aku tidak tahu itu apa. “berubah gimana?”
“ya, aku butuh penyemangat, aku butuh dukungan. Dulu hidupku awut-awutan. Nggak tahu kenapa setelah tahu Erna rasanya beda aja. Ada keinginan untuk memiliki. Aneh memang, tapi itu kan juga tanda kalo kita normal.” Jelas Rendi panjang lebar. Aku mulai sadar apa yang aku rasakan, sepertinya ku juga merasakan hal yang sama.
“iya sama”
“kamu juga suka Erna ?”
Mataku sontak terbuka lebar. “nggak lah Ren!” aku gelagapan. Tapi aku tidak salah tingkah, hanya takut Rendi salah presepsi.
Film ke dua sudah selesai diputar, banyak hal yang sudah aku bincangkan dengan Rendi, tentang cinta, pertemanan, hidup, masa depan, dan masalah laki-laki. Dan aku baru sadar kalau Rendi yang aku kenal dulunya tidak seperti sekarang. Usianya 2 bulan di bawahku, tapi dia memiliki banyak pengalaman. Dia juga yang menyadarkan aku kalau organisasi itu tidak seburuk yang aku bayangkan sejak smp. Banyak hal yang bisa aku temui disana. masalah, penyelesaian, pertemanan, kekompakan, penyesuaian, pengalaman, dan masih banyak lagi. Entah, ada sedikit rasa menyesal dalam diriku sendiri, kenapa aku baru menyadari hal ini?
Sejak smp, mungkin hanya aku orang yang paling besar memiliki pikiran negatif tentang organisasi. Hanya membuang waktu belajar, dan tidak satupun yang bermanfaat. Tapi, lewat Rendi dan waktu yang lewat ini aku disadarkan oleh-Nya. Entah, aku seperti mendapat pencerahan. Walaupun sedikit. 

Komentar