Dalam Kesadaranku #7

Teman seperjuanganku sudah hampir semuanya masuk di dalam tendanya masing-masing. Hanya ada beberapa panitia yang masih berlalu-lalang mengecek tenda-tenda yang berdiri di atas lapangan ini. guru-guru pembimbing juga mulai kelelahan. Ini semua sebab dari dua film dan game malam yang sebenarnya memang seru. Saat game itu berlangsung, aku mengnigat sosok erna yang banyak bicara. Kalau dia ada disini dan mewakili kelasku untuk maju, pasti dia yang akan memegang piala yang panitia buat dari botol bekas. Kreatif.

Kantukku mulai datang, tapi aku tidak lupa dengan misi besarku. Besok adalah hari yang ditunggu-tunggu lina. Pertama kalinya naik panggung dan ditonton oleh banyak orang. Pasti itu membanggakan sekali. Sifat lina yang tidak bisa diam menjadi salah satu faktor dia terpilih menjadi salah satu aktris di pementasan drama sekolahnya itu. Sebagai kakak yang baik, aku bangga padanya.

“nggak tidur Nu?” Rendi melemparkan pertanyaan ini padaku setelah tugas berkelilingnya selesai. Masih dengan jaket tebal dan senter berwarna biru di tangan kanannya. “ntar Ren. Belum ngantuk banget” aku membenarkan posisi sarung yang melingkar di leherku. Rendi masih berdiri stay cool di depanku. “ya udah, aku tidur duluan ya. jatah jaga malamku udah kelar soalnya. Jaga stamina kamu. Besok kita bakal naik gunung!”
“serius?”
“apa untungnya aku bohong Nu?”
Mataku mulai tidak teratur. Atara bingung dan bingung. Aku bingung. “iya, ntar juga tidur sendiri.” Di bawah terpal berukuran 8 x 3 meter ini aku duduk sendiri setelah Rendi pamit ke tendanya. Guru-guru juga mulai terlelap, beberapa masih melaksanakan misinya untuk menjaga keamanan daerah perkemahan. Itu salah satu penghambat misi besarku.
Tepat pukul 02:20 aku bersiap untuk melarikan diri dari tempat ini. tapi, kalau aku diberi kesempatan untuk jujur sebenarnya aku masih ragu. Rendi akan menjadi orang pertama yang akan menghawatirkan aku. Bukan karena rendi menaruh rasa padaku, sudah jelas perasaan rendi diberikan untuk siapa. Dan itu bukan untukku. Setidaknya aku juga msih normal.
Rasa bersalah pasti akan ada. Sempat terlintas dipikiranku untuk membangunkan Rendi untuk meminta izin dan menceritakan semua yang terjadi. tapi waktu sudah mengejarku. Tidak mungkin dengan waktu secepat kilat aku akan sampai di sekolah Lina jika aku tidak berangkat sedini hari ini. lagipula situasi sudah cukup aman. Dan aku mengurungkan niat untuk menemui Rendi. Aku pergi.
Ditemani sarung kesayanganku yang aku beri nama boji, aku memantapkan langkah kakiku untuk menjauh dari area perkemahan ini. mungkin kalau aku dishooting, ekspresi dan gerak-gerikku sudah terlihat jelas kalau aku seorang maling. Apalagi dengan sarung yang aku kenakan. Setidaknya aku juga masih peduli dengan tubuhku ini. pukul 04:00 selalu lebih dingin daripada di waktu yang lain. Apalagi aku sedang berada di wilayah yang ketinggiannya melebihi ketinggian dataran yang ada di rumah. Akan lebih dingin, walaupun aku juga mengenakan jaket, tapi entah kenapa sarung selalu memberikan kehangatan berlebih untukku. Mungkin juga untuk orang lain yang aku tidak tahu mereka siapa.
50 meter sudah aku terlepas dari wilayah itu. Berat. Tapi ini demi Lina. Dan demi semuanya. Demi senyuman Lina yang manis. Demi suara Ayah yang tegas namun santai, dan terlebih untuk halusnya kasih sayang Ibu. Maaf, hari ini Yanu harus menjadi seseorang yang tidak pernah Ayah inginkan sebenanya. Terlalu cemen untuk memutuskan sesuatu. Terlalu cemen untuk bertindak. Tapi Yanu janji Bu, Yah, ini untuk yang kali pertama dan terakhir yanu menjadi anak yang nakal. Yanu janji.
Kakiku masih berusaha melangkahkan kaki. Sebelumnya aku tidak pernah keluar malam seperti sekarang ini. apalagi dengan jalan kaki. Di desa orang pula. Sesekali kepalaku ku putar memandang ke belakang. Untuk memastikan tindakanku ini tidak ada yang tahu. Semoga. Dengan kecepatan yang entah berapa, aku masih mantab. Masih semangat. Dan aku harus menjaga kestabilan semangatku ini. harus.
Petunjuk waktu di handphone bututku sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Jalan bebatuan dan gelap ini masih aku lewati. Beruntung malam ini bulan menampakkan seluruh bagiannya. Sehingga di jalan yang minim penerangan ini aku masih bisa melihat walaupun tak sejelas jika ada lampu di sekitar jalan ini. lampu hanya bisa aku temui 50 meter sekali. Rumah warga sudah tidak aku jumpai lagi. Hanya ada pepohoan yang menjulang tinggi. Ditemani suara jangkrik yang sedang mengadakan konser tunggal. Aku menyebutnya penyanyi malam.
Aku masih kuat. Dan aku memang harus kuat. Udara disini dingin sekali. Mungkin jika diukur dengan alat pengukur suhu yang aku lupa namanya itu, suhu disini bisa mencapai 20 derajat. Mungkin. Aku tidak pernah tahu seberapa dinginnya. Selain aku tidak menyukai pelajaran kewarganegaraan, fisika juga menjadi musuh utamaku. itu juga yang membuat perkelahian kecil antara aku dan lina beberapa hari yang lalu.
“ayo Nu, kamu udah berani kabur dari acara sekolah. Sama kedinginan aja takut.” Bisikku pada diriku sendiri. Aku terlalu lemah mungkin dengan suhu disini. Tapi, aku tidak boleh tumbang begitu saja. Sempat terlintas di pikiranku untuk kembali ke tenda. Tapi, aku sudah berjalan sejauh ini. aku sudah berusaha melawan kantuk, suhu, dan rasa takutku sendiri. Iya, seberapa kuatnya aku, aku juga memiliki rasa takut.
Kaki yang sudah aku latih untuk berotot ini masih bergerak. Melangkah bergantian. Purnama itu masih setia menemaniku. Mungkin dia sedang mengajakku berbicara untuk memecahkan keheningan malam ini. tapi, aku tidak mendengarnya. Karena jarak kita yang terlalu jauh.
Jarak. Aku teringat Ayah dan Ibu yang jauh disana. aku tidak tahu mereka sampai dimana sekarang. Yang aku tahu, purnama itu juga sedang menemani malam Ayah dan Ibu. Mungkin mereka sedang terlelap di penginapan. Atau masih duduk di mobil sambil memejamkan kedua mata mereka,untuk beristirahat. Hanya Allah yang tahu apa yang sedang aku lakukan sekarang. Dan apa yang Ayah dan Ibu lakukan. jika mereka sedang terlelap, jangan munculkan aku kedalam mimpi meraka ya Allah. Jangan beri pertanda atas tindakanku. Aku tahu aku salah. Tapi ini demi Lina. Adik semata wayang. Dan anak perempuan satu-satunya Ayah dan Ibu. Aku mohon.
Satu jam perjalanan dengan sepi berhasil aku lewati. Aku mulai menemukan pemukiman lagi. Rasanya ingin sekali beristirahat sejenak. Tapi aku tidak bisa melakukan itu. Itu hanya akan memperlama waktu. Bukan. Itu hanya akan membuang waktu. Entahlah. Yang ada dipikiranku hanya ada Lina.
Sebenarnya tidak ada alasan kuat untuk melakukan hal ini. hanya untuk Lina? Sekarang aku mulai sadar dengan tindakan bodoh ini. aku dan Lina sangat jarang akur. Sering bertengkar dan selalu berdebat karena perbedaan pendapat. Dan aku selalu dituntut untuk mengalah. Sejak Lina masih kecil semua untuk Lina. Dulu, Ayah sangat menginginkan anak perempuan. Tapi, lahirlah aku. Mungkin masih ada rasa kecewa di diri Ayah sendiri. Tapi di balik itu, Ibu sangat senang memiliki anak pertama seorang laki-laki dan itu adalah aku sendiri.
 empat tahun aku tumbuh sewajarnya. Dan di usia empat tahun lebih 5 bulan itu aku mendapatkan seorang adik yaitu Lina. Lina adalah anugerah Ayah. Bayi peremuan yang memiliki tanda lahir cukup besar di punggungnya. Tanda lahir yang cukup unik. Berbentuk hati. Lina selalu penasaran mengenai hal tersebut. Hingga akhirnya teknologi yang canggih seperti sekarang, kamera yang terpasang di handphoe Ibu bisa membuktikan kepada Lina tentang hal yang menurutnya memalukan padahal itu unik.
Lina keil sampai sekarang masih lucu. Banyak bicara, bawel, ganjen, dan jarang nangis. Persis seperti Erna. Ah, kenapa teringat Erna lagi? Manusia tanpa malu. Entahlah kenapa aku juga mau berteman dengannya.
Aku dan Erna kenal semenjak MOS. Waktu itu aku dan Lina satu kelompok. Semua kegiatan mos dilakukan bersama. Push up, lari, bahkan makanpun dilakukan bersama.
“eh aku nggak bawa telur. Gimana ini?” tanya erna waktu itu dengan raut wajah panik. Kebetulan kakak senior mewajibkan membawa dua buah telur untuk dimakan. Alhasil, satu telur rebusku aku serahkan ke Erna. Dia makan dengan lahap. Entah kenapa aku merasa akan ada sesuatu di kehidupanku bersama Erna. Tapi saat itu aku tidak tahu.
Sewaktu kelas satu, aku dan Erna tidak sekelas. Bahkan kelas kita sangat jauh. Terpisah oleh lapangan basket dan koridor ruang guru. Tapi aku tidak pernah peduli dengan semua itu. Aku dan Erna memang tidak ada hubungan lebih. Untuk apa aku menyayangkan hal itu.
Selama kelas satu setelah mos, aku dan Erna tiak pernah berbincang banyak. Dia terlalu nyaman dengan kelasnya. Nyaman dengan ganknya sewaktu kelas satu. Bertemupun, Erna hanya menyapa, dan hanya aku balas denga senyuman datar.
Aku mulai memahaminya setelah lomba karya ilmiahnya yang menjadi juara tingkat provinsi. Banyak yang mengucapkan selamat padanya. Tapi aku ragu untuk mendekat dan sekedar mengulurkan tangan untuk memberinya ucapan selamat.
Berbeda dengan yang aku lakukan sewaktu Erna menang dalam lomba, Erna justru menghampiriku saat aku juga mendapat kejuaraan basket untuk yang pertama kalinya setelah 4 tahun sekolah kami tidak mendapat juara tingkat kota. Ya, dulu aku ikut pasukan inti. Tapi setelah ada adik kelas yang badannya melebihi tinggiku, otomatis aku enyah dari barisan tim inti.
Erna datang tanpa ragu. Mendekati meja makanku di kantin.
“ciye yang kemarin jadi juara.. selamat yaa” disertai dengan senyuman khasnya yang masih khas sampai sekarang. Aku hanya tertegun melihat Erna ada dihadapanku saat itu. Aku melihat sekeliling yang ternyata tidak ada yang peduli aku dan erna saling bertatapan disini. Aman. “makasih” aku mengembalikan posisi pandanganku ke segelas es teh yang belum habis. “kita udah lama banget ya nggak ngomong?” sepertinya aku gugup. Alhasil aku hanya bisa menganggukkan kepala. “dingin banget. Ya udah aku balik ke kelas dulu ya nu. Cuma mau ngucapin selamat aja kok.” Erna bangkit dari bangkunya. Tapi belum beranjak. Aku mengangkat kepalaku. Erna tersenyum. Dan dibalikkan tubuhnya ke arah pandangku. Aku hanya bisa memandang punggungnya. “selamat juga ya buat kamu.” Aku tidak pernah tahu kenapa aku mengucapkan kalimat itu. Pandangan Erna kembali ke arahku lagi. Dia kembali tersenyum. “terimaksih”
Dan sekarang aku ingat. Selama kelas satu, aku dan Erna pernah berbincang lagi setelah mos. Kejadian di kantin itu adalah satu-satunya bukti. Iya, satu-satunya. Selebihnya, tidak ada. Dan tidak akan pernah ada. Karena sekarang aku dan Erna sudah kelas dua.  
Erna yang mengenalkanku dengan Brigta. Sejak kelas satu mereka sekelas. Dan mereka akan tetap menjadi teman sekelas selama tiga tahun di sma. Brigta sangat berbeda dengan Erna. Sebenarnya dia cuek. Setiap hari selalu membawa komik yang berbeda judulnya. Entah dia beli atau pinjam aku juga tidak pernah tahu. Sejak kecil aku dilarang Ayah membaca komik. Dan sampai sekarang aku tidak tahu apa alasan terkuatnya.
Brigta. Berbeda dengan Erna yang banyak omong itu, dia lebih senang berada diruangan yang sepi ntuk membaca komiknya. Dia pernah bercerita padaku tentang kegemarannya itu. Terkadang dia memang terganggu dengan sikap Erna yang banyak omong dan sering mengganggu kosentrasinya. Malah Erna dan Brigta pernah bertengkar gara-gara sikap Erna. Mereka adalah dua perempuan aneh yang pernah aku kenal sampai sedekat ini.
Brigta juga yang memberitahuku tentang sikap erna yang berlebihan itu. Ternyata sejak kecil Erna jarang diperhatikan kedua orang tuanya. Orang tuanya terlalu sibuk bekerja untuk Erna. Tanpa pernah mengajaknya untuk sekedar berekreasi bersama. Ngobrol bersama. Dia sangat jarang mendapatkan yang biasanya aku dapatkan dirumah. Jadi, dia melampiaskan kespiannya disekolah. Tidak salah, temannya banyak di sekolah. Dari anak organisasi, pramuka, pmr, padus, semuanya dia kenal. Lucu.
Kembali ke Brigta. Dia juga yang mengajariku tentang “perempuan”. Dia sering sekali mencurahkan isi hatinya padaku. Aku di buatnya menjadi buku harian. Tentang sesorang yang dia kagumi sejak smp. Tentang hubungannya yang digantungkan. Tentang seseorang yang menyukainya dan diam-diam mengirimkan surat kecil di laci mejanya. Semuanya tentang perasaan wanita. Tapi, aku hanya bisa menampung cerita Brigta. Aku tidak terlalu ahli dalam cinta. Bahkan aku tidak tahu apa itu cinta. Tapi Brigta membukakan mataku untuk memahami cinta. Walaupun sampai sekarang sebenarnya aku masih cuek dengan cinta.
“gimana? Sukses?” pesan masuk dari Erna yang sempat mengagetkanku. “proses.” Singkat tapi jelas kan? Satu hal yang masih aku bingungkan. Bagaimana bisa Erna mengirim pesan untukku di jam tidur seperti sekarang? Entahlah. Sebenarnya aku ingin mananyakan hal itu padanya. Tapi setelah 5 menit pesan balasan untuknya aku kirimkan, dia tidak membalasnya lagi. Mungkin dia sudah kembali didekapan selimutnya.
Tiba-tiba aku mendapat ide untuk memberi tahu Rendi. Aku tidak bisa merusak acara esok hari. Biarkan saja aku tidak ikut ke puncak gunung, asal teman-teman yang lain tetap kesana, walaupun tanpa aku. Setidaknya, tidak akan ada keributan dan kecemasan tentang keberadaanku ini.
Aku jelaskan semua pada Rendi melalui sms. Aku harap dia paham dan memaafkan kenakalanku yang satu ini. semoga. Sebenarnya Rendi paling anti dengan kebohongan. Dan kenapa aku baru saja ingat tentang sifat dia yang satu itu. Ren, maaf.
Aku sampai dimana? Aku tidak tahu aku dimana. Yang aku tahu aku baru saja  melewati sebuah pos kamling yang terdapat 4 bapak-bapak dengan sarung sama sepertiku sedang menonton bola. Aku tahu itu pasti piala eropa. Tayang di indonesia tak tentu waktu. Karena perbedaan waktu eropa dan indonesia yang terpaut entah berapa jam. Aku tidak tahu. Nilai georgafiku sewaktu smp, sepertinya perlu dipertanyakan.
Melihat acara bola, teringat dengan  Gino. Anak bandel yang disayang banyak  guru. Entah, kenakalannya sering membuat aku geli. Walaupun dia nakal dan cenderung tidak patuh aturan, sering melakukan hal yang hanya dia sukai saja tanpa memerdulikan keadaan, dibalik semua sikap yang banyak menganggapnya buruk ini ada secuil hati yang tulus dalam pertemanan. Gino adalah teman yang sangat solid. Eantahlah. Walaupun aku dan Gino baru berteman kurang dari setahun, tapi aku bisa meraskannya. Terbukti dengan pembolosan kali ini. selain tu banyak sekali alasan kenapa aku bisa mengatakan kalau Gino itu solid.
Dia juga pernah bercerita tentang sahabat lamanya yang meninggal gara-gara acara sekolahnya dulu. Itu yang menjadi alasan kenapa Gino paling malas dengan acara sekolah. Trauma. Mungkin. Tapi dia kuat. Prinsip hidupnya sangat kuat. Gino juga yang menyadarkanku kalau hidup ini mudah. Sulit itu hanya ada di mainset orang yang kurang bersyukur. Dengan menganggap semua mudah, Gino rasa apapun yang dia nginkan pasti bisa dia dapatkan. Mantab dan yakin.
Aku sedang tidak berusaha untuk menggurui. Aku hanya menceritakan prinsip hidup Gino. Life is so simple.

Pukul lima. Purnama masih tergantung di langit. Aku tahu karena ada rotasi bumi, purnama itu berpindah tempat. Sekarang lebih condong ke arah jalan lurus di sebelah kananku. Mungkin, itu barat. Aku tidak tahu. Aku melihat sebuah ujung bangunan dengan tanda bulan dan bintang. Bangunan berwarna hijau yang sederhana. Aku sempatkan tubuh yang letih ini untuk beristirahat sejenak dan menemui Sang pencipta alam semesta ini. salat akan membuatku lebih tenang.

Komentar