Dalam Kesadaranku #5



Sial. Kenapa harus berdering di jam pelajaran kesukaanku? Aku meminta izin pada Pak Anjar untuk keluar sebentar, menerima telepone. Nomor tidak dikenal. Sebenarnya masih bertanya-tanya, tapi sepertinya sudah terlalu lama aku membiarkan tanda suara menyambungkan yang orang diluar sana dengar. “halo Assalamualaikum. Siapa ya?”
“bang yanu, ini lina. Ini pake nomornya bu Prita. Karena nomornya beda operator, lina ngomongnya cepet aja ya. hari ini Lina ada gladi bersih buat acara besok minggu . Jadi lina pulang telat. Ntar lina di jemput ya. sekitar bada’ magrib. Makasih bang. Assalamualaikum.”
“waalaikumsalam” Linaaa!!!! Dasar bocah. Makanya punya handpone sendiri. Eranya sudah beda Linaa!! Kalau Cuma tergantung dengan laptopmu itu kamu masih jadul! Ngrepotin aja.
Dengan wajah yang cukup malu, aku memberanikan diri untuk masuk kelas dengan tampang stay cool yang ayah wariskan padaku. “siapa?” Gino memelankan suranya. “Lina”. Mulut Gino memebentuk huruf o. Pandangannya dipalingkan kembali ke pak Anjar. Kembali fokus ke pelajaran.
90 menit sudah terlewati. Mata pelajaran pak Anjar memang tidak pernah membosankan. Pasalnya aku suka dunia seni. Dengan cara beliau mengajar yang pelan tapi sangat jelas. Aku kagum pada beliau.
Sudah dua hari belakangan Erna berubah menjadi orang paling pendiam di kelas. Mungkin karena tidak ada Brigta yang duduk di sampingnya. Tapi rasanya aneh. “Na, mau kekantin nggak? Kalau kekantin, aku nitip ya” aku berusaha mengubah raut wajah Erna yang kusut menjadi lebih rapih walaupun sedikit.
Erna masih sibuk membereskan 3 buku khusus mata pelajaran pak Anjar. Tempat pensilnya dia letakkan di laci meja. Wajahnya masih kusut. “Na..” dengan sengaja pensil yang ada di tangan kananku aku pukulkan ke kepala Erna. “apa sih Nu?” aku tahu, sebenarnya dia kesal. Tapi berusaha tegar didepanku. “ke kantin nggak?”
“nggak. Aku mau ke redaksi.”
“yaaah, padahal aku juga mau titip nasi goreng Na. Laper nih” Gino antusias.
“sibuk. Beli sendiri” Erna langsung berdiri dan beranjak meninggalkan kelas. Aku dan Gino sempat bertatapan. Saling mengangkat alis, saling bertanya kenapa. Tentu, aku dan Gino tidak menemukan jawabannya.
“mungkin dia nggak bawa dompet lagi. Alhasil, waktu istirahat kayak gini dia ke redaksi” Gino menebak-nebak sikap Erna yang aneh itu. “mungkin”
Harusnya jam 3 sore seperti ini aku sudah tidur dirumah. Karena ada rapat basket mendadak, alhasil pulang telat. Satu botol air mineral ada ditangan. Ditemani Rendi, aku baru saja keluar dari kantin. Menuju redaksi untuk mengambil beberapa berkas yang diminta pak Johan, guru basket kami.
Pak Johan menjadi pengurus redaksi majalah sekolah. Beliau hanya menganggap basket adalah hobinya. Namun,banyak tekhnik-tekhnik basket yang beliau kuasai. Walaupun sebenarnya dia lulusan sastra Indonesia.
Lorong anak kelas ipa sedang aku lewati bersama Rendi. Didepan kelas ipa ada sebuah air mancur dan di kelilingi banyak bangku buatan. Tepat disana Erna duduk sendirian. Dengan notebooknya. Mungkin dia sedang menulis diary, mungkin juga dia sedang menulis artikel untuk majalah sekolah. Walaupun dia crewet dan banyak hal menyebalkan dari dirinya, tapi dia satu-satunya penulis artikel aktif di sekolah. Hanya beberapa detik saja aku melihat Erna disana. dan kembali kuluruskan pandanganku ke lorong kelas ipa, belok kanan menuju koperasi dan tepat disamping koperasi berdiri tegak bangunan majalah sekolah “suara sma”.
Aku memutuskan menunggu Rendi yang berusaha mencari berkas di meja pak Johan yang penuh dengan tumpukan kertas. Wajah Rendi terlihat hitam jika dilihat dari balik kaca ini. wajahnya masih santai. Sesekali aku menatap ke arah Erna. Ya, di depan gedung ini masih bisa melihat air mancur yang memuntahkan airnya setinggi 3 meter itu. Masih bisa melihat Erna yang sedang mengetik disana.
Erna mengusap matanya. Pundaknya bergerak. Persis seperti Erna yang sedang menarik cairan kental yang ada di hidungnya. Apa mungkin Erna menangis? Tidak. Erna jarang menangis. Bahkan selama aku kenal dan dekat dengannya dia tidak pernah menangis. Seberat apapun cobaan dia, dia tidak pernah menangis. Menurutku.
“yuk Nu.” Rendi ternyata sudah membawa sebendel berkas yang pak johan inginkan. “oh, udah?” Rendi mengangguk. Matanya mencoba mencari arah pandangku. “Erna?” wajah Rendi tampak heran. Aku hanya mengangguk. “dia itu lucu ya.” mataku langsung membuka lebar. Lebih heran. “lucu dari mana?” Rendi tersenyum menatapku. Tanpa sepatah katapun, dia beranjak dari tempat itu. Aku ditinggal olehnya.
“kamu suka sama Erna?” tanyaku polos. Senyuman Rendi tadi sedikit berbeda. Apa lagi dia menilai Erna sebagai perempuan lucu. “nggak pantes ya Nu? Jadi nggak enak ngomong ini ke temen deketnya.”
“santai aja kali. Jadi gimana?”
“ya, gimana apanya?”
“suka sama Erna?”
“entahlah Nu, cuma seneng aja lihat dia.”
Entah, ada sedikit rasa senang mengetahui hal ini. tapi, ada setitik rasa yang aku nggak tahu itu apa. Mungkin, kaget. “kapan nembaknya?” jujur, aku mengatakan hal itu tanpa sadar. Kalimat tanya itu muncul begitu saja. Rendi hanya trsenyum. Mungkin dia tersipu. Mungkin juga dia sudah malas membahas hal ini.
Rapat basket sudah selesai. Semua keputusan harus diterima dengan lapang dada. Walaupun aku hanya sebagai pemain cadangan, tapi aku bangga. Kalau saja tinggi badanku naik lagi 3cm saja, aku pasti ada di barisan Rendi dan yang lain.
Jam di handphone bututku sudah menunjukkan pukul 17:00. Dan sepedaku juga sudah siap mengantarku pulang. Tapi, kalau sudah jam lima seperti sekarang, rasanya justru malas pulang. Keasyikan di sekolah. Apalagi nanti bada magrib aku harus menjemput Lina. Sepertinya, memang harus tertahan di sekolah dulu.
Erna. Benar tebakan Gino tadi pagi. Kalau dia lupa membawa dompetnya lagi. Terlihat dia menunggu di pos satpam yang di bangun di dekat gerbang sekolah. Aku bisa melihatnya dari parkiran. Dia menunggu disana. hanya duduk dan membaca novel terbarunya.
Aku bermaksud untuk menghampirinya. Kali ini aku sedikit ragu. Sepedaku hanya aku tuntun untuk mendekati posisi Erna. Dia masih asyik dengan novelnya. Aku membiarkan sepeda ini tetap berdiri di depan Erna. Dan aku duduk di dekat Erna. Tapi, dia tetap diam. Tetap fokus dengan novelnya.
“nunggu jemputan?” aku memulai percakapan. Berharap Erna akan menjawab pertanyaanku. Tapi dia urung mengangkat wajahnya. “tadi aku lihat kamu di taman depan redaksi lho” pandangannya masih ke arah novelnya yang berhenti di halaman 145. “Na!” suaraku, aku tinggikan volumenya. Dan tidak ada respon dari Erna. Tanpa ragu tanganku aku pukulkan ke pundak Erna. Dan dia terkaget-kaget melihatku. Ditariklah kabel yang menyumbat telinganya. Aku tidak melihat benda itu karena terhalang rambut lurusnya. “Yanu?” matanya kemana-mana. Dan aku tidak tahu apa yang sedang dia cari. “kok tumben belum pulang?”
“iya, tadi ada rapat basket bentar. Dompet ketinggalan lagi Na?” Erna nyengir. Dan kembali memalingkan wajahnya ke novelnya. “ngapain disini?” tanyanya ketus. Beda dengan jawaban dia dan pertanyaan dia tadi. Entah, kenapa emosinya langsung berubah seperti ini?
“sebenernya mau pulang, tapi nanggung. Ntar bada’ magrib jemput Lina. Males bolak-balik.”
“oh”
“kamu kenapa sih Na? Dari kemarin murung terus. Bukannya kemarin Selasa udah ketemu Brigta ya? aneh banget”
“biarin. Bukannya kalian seneng ya kalau aku diem kayak gini? Nyaman kan?”
“gila!”
“emang.”
Aku mencoba menahan amarahku. Sepertinya aku mulai tahu apa yang dia rasakan. Aku mulai mengingat-ingat kejadin sebelum Erna berperilaku seperti ini. mungkin ini karena tindakanku yang menyakiti hatinya. Mungkin.
“jadi gimana besok? Jadi bolos?” Erna menyibahkan rambutnya. Menatapku sedikit marah. “jangan keras-keras ih.”
“emang kenapa?”
“aku kan nggak ikut acara itu mau pake surat izin bohongan. Malah kamu umbar-umbar kalau aku mau bolos. Nakal banget deh.” Suaranya dipelankan. Tapi dia antusias. Aku mulai meliht Erna yang asli sekarang.
“sori deh. Jadi gimana?”
“yakin bakal bolos.”
“keras kepala” pundakku terasa nyeri setelah mendapat pukulan cukup eras dari erna.
“nggak jentle!” erna membalas meledekku.
“kata siapa aku nggak jentle?” aku pamerkan otot-otot lengan yang aku bentuk dari smp sampai sekarang. Erna kembali memukul lengan berototku dengan di barengi senyuman manjanya.
“gimana? Masih dibilang nggak jentle?”
“ya.. lumayan lah.tapi....”
“apa?”
“BAU!”
Aku dan Erna terjebak dalam canda tawa. Serasa lelah setelah bermain basket 30 menit tadi hilang. Aku juga tahu, air mata yang Erna turunkan di dekat air mancur tadi juga sudah terhapus sisanya.
“Nu, menurut kamu cinta itu kayak gimana?” kaget, dan males kalau Erna bahas tentang cinta.
“tauk. Makanan kali”
“gitu banget sama cinta” dia menatap ke pohon mangga yang tumbuh tepat didepan pos satpam.
“apa? Males ah.”
“yaudah.”
5 menit mungkin terlewati dengan sunyi. Hanya ada suara motor dan mobil yang lewat di jalan depan sekolah. Matahari sudah beralih tempat. Meninggalkan tanah yang sedang aku pijak untuk meneranginya. Anak-anak basket yang lain juga mulai berhamburan. Termasuk Rendi. Tadi dia sempat menyapaku. Seperti tidak ada yang dia ceritakan padaku perihal perasaannya ke Erna tadi sore.
“solat magrib yuk Na”
“aku lagi nggak solat Nu”
“pantesan!”
“hehehe” Erna nyengir lagi. Yaudah deh. Aku ke musola bentar ya. ntar aku balik lagi kok.”
“berani?”
Aku hanya menjitak kepalanya. Agar dia tahu kalau aku ini laki-laki yang terlahir tanpa rasa takut. Hanya butuh 3 menit sampai di mushola sekolah. Segera aku ambil air wudhu yang menyegarkan itu. Tiga rakaat mulai aku dirikan. Hingga salam aku berusaha konsentrasi dalam ibadahku. Menadah permintaan kepada-Nya. Merengkuh dalam dekapan-Nya. Tenang.
Terhitung 10 menit aku melarikan diri dari pos satpam untuk bertemu dengan-Nya, Erna sudah pergi mendahuluiku. Mungkin Ayahnya datang saat aku sedang solat. Dan benar saja. Secarik kertas menempel di sepedaku.
“aku pulang duluan ya. Ayahku buru-buru. hehehe :p”
-Erna-
Syukurlah, dia tidak dibawa pergi dengan paksa oleh orang lain. Ketenanganku bertambah. Dengan mantab aku mengayunkan lagi sepedaku. Menuju istana yang sebelumnya mampir ke sekolahan Lina untuk menjemputnya. Sebelumnya aku berpamitan dengan pak Satpam yang mendapat tugas jaga mala ini. beliau hanya melambaikan tangan dan berteriak “iya, hati-hati” tapi pandangannya tidak lepas dari layar televisi berukuran 14 inci model lama yang sedang menyiarkan siaran live sepak bola.tapi aku tidak tahu clup mana yang sedang bertanding.

Komentar