Kakiku masih mengayuh sepeda kesayangaku
yang aku beri nama kawul. Terdengar aneh memang dengan nama itu. Tapi aku suka.
Setiap hari aku harus mengayuh sepeda ini untuk mengantar lina ke sekolah. Dan
kemudian aku berangkat sekolah. Kebetulan sekolah lina berdekatan dengan
sekolahku. Hanya berjarak sekitar 700 meter. 3 menit yang lalu, Lina sudah urun
dri sepedaku. Diperjalanan aku melihat seseorang dengan tas coklat dan rambut
diikat satu kebelakang. Tidak salah lagi itu Erna. Pemandangan ini sudah tidak
asing. Kalau dia sedang berjalan, itu artinya ayahnya hanya bisa menurunkannya
di jalan utama. Karena sekolahku masuk ke jalan lagi, maka Erna harus rela
berkeringat lebih cepat dibanding teman-teman yang lainnya.
“bareng nggak?” aku berhenti sekitar 2
meter dibelakag Erna sambil mengusap keringat. Erna memalingkan wajahnya.
Melihatku sejenak. Lalu dipalingkan lagi wajahnya kedepan. Diikuti gerakan
kakinya. Tidak seperti biasanya dia melakukan hal ini. “Na.. bareng nggak?”
suaraku aku naikkan volumenya. “nggak” nada suaranya, aku tahu kalau dia sedang
marah. Aku kayuh lagi sepedaku. Aku mendekati Erna. Erna berjalan dan aku mengayuh
sepeda. “yakin nih nggak mau bareng?” rayuku. Sebenarnya aku tidak terlalu
pandai merayu. Tapi..
“apasih Nu. Sana duluan aja nggak
apa-apa kok.”
“ye, seriusan ini nawarinnya. Masih 400
meter lagi loh. Nggak capek?”
Erna menghentikan langkah kakinya.
Dengan cepat juga aku menghentikan gerakan kayuhanku. Wajah Erna sepertinya
sedang tidak bersahabat. Aku hanya bisa mengangkat alis kananku sebagai tanda
bertanya “bagaimana?”. Dia melangkahkan kakinya lagi. Duduk di tempat biasanya
Lina juga duduk dibelakangku. “cepet. Tugas Geografiku belum aku kerjain. Ntar
aku lihat punya kamu ya.” kepalaku dengan lembut menatap ke depan lagi. “nggak
mau.”
“Yanu pelit iih” walaupun aku tidak
melihat raut wajahnya, tapi aku tahu dia kesal. Aku tidak ada hubungan apa-apa
dengan Erna. Hanya kami berempat lebih sering bersama. Aku, Gino, Erna, Brigta.
Intensitas berbincang diantara kami terhitung lebih tinggi.
“sebenernya aku masih sebel sama kamu”
“emang aku kenapa?”
“salah sndiri tadi malem smsku nggak
dibales!”
“lah, katanya bonusannya menipis. Gimana
sih”
“ya.. ah tauk ah.”
“diem aja. Bentar lagi kita lewat
rumahnya pak Wili.”
“oiya bener. Harus diam seribu bahasa.”
“lebay”
“biarin!”
Pak Wili adalah seorang laki-laki paruh
baya yang hidupnya hanya dirumah saja menunggu uang pensiun datang padanya.
Sebenarnya beliau orang baik. Tapi, anjingnya yang kurang bersahabat. Aku hanya
berani melirik ke arah anjing pak Wili yang diberi nama Huggi. Dia sedang
tertidur pulas didepan pintu. Untunglah, kali ini tidak kena gonggongannya.
“yeee berhasil!” Erna berteriak. Anak
satu ini memang cerewet. Kadang aku berpikir kalau amunisi rasa malunya juga
sudah menipis. Dan, akhirnya akulah yang kena malu.
Sepedaku sudah bersanding dengan
motor-motor kinclong milik beberapa teman, adik kelas, dan kakak kelas. Aku
tidak pernah merasa minder walaupun berangkat sekolah dengan sepeda butut ini.
justru aku bangga. Pasalnya, sepeda ini aku membelinya dengan uang tabunganku
sendiri selama masih smp. Dan baru bisa terbeli saat aku masuk sma kelas 1
semester 2. Tidak seperti motor-motor yang bersanding dengan Kawul. Mungkin.
“sini, tas kamu aku bawain Nu” Erna
merebut tas punggungku dengan halus. Kebetulan sekali. Jadwal hari Selasa
memang paling berat. Tapi, tidak seperti biasanya Erna baik seperti ini. lagi
pula, tadi dia sempat marah gara-gara tadi malam. “nah, pinter. Aku duluan ya Nu..
pinjem buku geografinya yaa. Yanu baik deh. Daaaa” sial. Ini salah satu trik Erna
kalau dia belum mengerjakan pr. Rasanya ingin teriak. Tapi, banyak orang disini.
Aku berbeda dengan Erna yang cenderung tidak tahu malu. Jadi aku hanya bisa
pasrah. Tapi, tidak masalah. Perjalanan ke kelas justru terasa ringan tanpa tas
beratku.
Bel istirahat pertama berdering keras.
Di kelas ini jauh lebih keras suara bel itu bila dibandingkan dengan kelas xi
yang lain. Pasalnya, bel itu diletakkan tepat didepan kelasku. Kelas paling
pojok menjadi momok utama untuk mendengar suara bel ini lebih keras dari kelas
yang lainnya.
“Nu, kangen Brigta..” Erna memelas.
Kepalanya diletakkan diatas meja bangku dengan lengan tangannya disulapnya
menjadi bantal. “ntar jenguk yuk.” Gino antusias. Biasanya Gino dan Brigta
sering berbincang. Entah membahas pelajaran atau komik-komik yang mereka sukai.
“ide bagus No!”
“nggak nggak nggak. Hari ini kan aku ada
extra basket.” Kalau masalah basket, aku tidak bisa tinggal diam. Ini lebih
penting.
“eh tuyul! Extra basket kan hari Kamis.
Ini masih Selasa woy.. Selasa!!!” suara Gino menggelegar. Lebih keras jika
dibandingkan dengan suara Erna, atau Lina.
“heh, yang pikunan disini aku aja Nu,
kamu nggak usah ikut-ikutan!” Erna langsung datang seperti kilat.
“baru aja dua hari nggak ketemu.” Gino
membuang kertas sobekan di meja ke mukaku. alhasil aku ngalah karena kesalahan
memori otakku. Dan setelah pulang sekolah nanti kita berencana menjenguk Brigta.
Inilah saatnya Erna menjadi ibu negara.
Sifat perhitungannya muncul disaat-saat yang sebenarnya tepat, tapi caranya
saja yang tidak aku suka. Gino menjadi pembantu umum yang tugasnya mengecek dan
mengangkut. Kalau aku, cukup memamerkan tampang sangar, mereka semua pasti
nurut. Kalau ada Brigta, biasanya dia yang jadi bendahara. Matrenya minta
ampun. Tapi, kalau urusan uang, dia memang jago. Malah lebih perhitungan
dibandingkan dengan Erna. “roti?”
“siap”
“buah?”
“siap”
“susu?”
“apaan?”
“itu, susu kaleng Gino!!”
“iya, sudah siap semua Ibu presiden.”
“bagus. Sekarang aku bonceng siapa?”
seketika aku dan Gino saling bertatap. Gino menyebut namaku, dan aku menyebut
nama Gino. Saling lempar. “hm.. aku ikut Yanu aja deh.”
“heh pikun, rumah Brigta kan jauh. Nggak
mau ah kalau harus boncengin kamu.”
“Gino mau kan boncengin aku?” Erna mulai
merayu lagi.
Dengan raut muka yang kurang ikhlas,
akhirnya Gino mau merelakan jok motornya untuk diduduki Erna.
“untung aku orangnya penyabar ya. punya
temen kayak kalian aja aku masih sabar. Huh” mulailah dramanya. Erna terlalu
banyak menonton drama korea. Persis Lina.
Tancap gas ke rumah Brigta. 3km dari
sekolah. Tapi jalan yang dilalui tidak terlalu ramai. Jadi aku masih kuat kalau
bersepeda sampai rumah Brigta. Kalu tidak dengan Erna, aku masih kuat. Tapi
kalau Erna ikut naik di sepeda ini, aku angkat tangan. Biarkan mesin yang
mengantarnya sampai di rumah Brigta.
Rumah ber cat orange dengan hiasan batu
alam didepannya sudah didepan mata. Keringat yang menetes di pipiku aku usap
dengan tangan kananku. Motor Gino sudah terparkir rapi di bawah sinar matahari.
“lama amat sih Nu. Buruan masuk yuk.” Erna sudah menunggu di ruang tamu. Aku
hanya menganggukkan kepala.
Brigta duduk di ruang tamu dengan
benjolan-benjolan yang melekat di kulitnya. Dengan rasa percaya dirinya yang
tingi, dia tidak malu dengan puluhan benjolan yang menempel di kulitnya itu. “hai
ta” aku bukan tipe orang yang banyak bertanya seperti Erna. “ya, gini ini lah Nu.”
Melihat tiga gelas berisikan air es berwarna orange, aku tahu ini minum yang
sengaja disiapkan pemilik rumah untuk tamu. Dari ketiga gelas itu ada segelas
yang airnya masih penuh. Dan, tidak salah lagi kalau itu milikku.
“ta, itu artinya ntar pas camping kamu
nggak ikut ya? rencananya sih aku sama Yanu mau bolos juga gitu. Gimana?” Erna
mulai beraksi. Mungkin aksinya sudah dia mulai sejak tadi. Entahlah.
“eh pikun, kalian bolos kok nggak
ngajak-ngajak?” Gino protes. Sebenarnya dia orang yang paling malas dengan
kegiatan-kegiatan sekolah. Padahal pacarnya adalah salah satu anggota OSIS di
sekolah. Namanya Lia. Pernah sekali di acara pensi sekolah. Lia sebagai sekertaris
di acara itu. Gino tidak datang di acara itu, dan hubungan mereka sempat hampir
terhenti. Sosok Lia yang patuh dengan segala aturan sekolah yang itu semua bertentangan
dengan kepribadian Gino. Apalagi dengan hobinya bermain bola. Tapi, kalau
masalah itu, Lia bisa memaklumi.
“nggak takut kena semprot si Lia lagi?”
Brigta menakuti Gino. Brigta orang yang sangat berbeda dengan Erna. Brigta
cenderung pengingat. Sedangkan Erna, pikun level akhir.
“bener juga itu. Eh Nu, kamu serius mau
bolos?” Gino mencoba berusaha membuat mulutku bergerak. Aku memang jarang
bicara pada mereka. “entah”
“yah.. Yanu kok gitu. Katanya tadi malem
mau bolos aja.katanya mau liat Lina aja. Ah Yanu gitu”
“diem deh Na.” Paling sebal kalau Erna
mengungit-ungkit masalah. “ya sori deh sori.”
“jadi, kalian mu bolos semua? Padahal
kan itu acara yang paling di tunggu-tunggu anak kelas 2.” Brigta dengan lembut
mencairkan suasana. “ada juga yang di tunggu-tunggu itu pas kita ke Bali ta.
Bisa liat bule-bule pake bikini. Itu yang seru!” gino antusias. Entah, tanganku
bisa menyentuh kepala gino cukup keras. “mesum!”
“sebelum aku kena cacar, aku dikasih
tahu lia gitu rundown acaranya. Seru kok. Nyesel deh kalau nggak ikut, suer.
Aku aja pengen ikut. Masak kalian yang sehat malah nggak ikut.”
“masalahnya nggak ada kamu ta. Master
pikun satu ini kayaknya nggak bisa lepas dari kamu deh” gino memainkan rambut
lurus erna. Tapi erna hanya diam. Hanya raut muka kesal yang dia pamerkan.
“yanu, kamu yakin mau bolos?” mata
brigta ternyata cokelat. Manis.
“nggak kebayang aja kalau lina marah
nanti.”
“emangnya lina kenapa?”
“tanya aja sama erna. Capek.” Bersepeda
memang menguras tenagaku. Walaupun aku tahu itu sehat. Tapi, malas bercerita
panjang lebar.
“lina kenapa na?” brigta langsung bertanya
pada erna. Mataku mulai aku tutup. Tubuhku aku letakkan menyegger di kursi empuk
ini. tapi aku tidak mendengar suara erna. Ia tidak menjawab?
“na, lina kenapa? Kok di lihat? Aku
nggak ngerti. Cerita dong na” mendengar brigta memohon seperti itu, aku tahu
kalau erna ngambek.
“lina mau ada pentas drama di
sekolahnya. Dan aku harus dateng. Ayah dan ibuku nggak bisa dateng.” Sebenarnya
tidak tega menyadari erna sedang ngambek. Erna jarang marah. Tapi sekali marah,
sembuhnya bisa berhari-hari.
Komentar
Posting Komentar