Sial! Malam ini malam yang suram. Game
OSU ku hanya berhasil mencapai 68%. Kalau sudah seperti ini rasanya malas
memandangi laptop lagi. Meletakkan badan ke atas gank kapuk yang di bungkus dan
diletakkan di atas bangunan kayu yang sengaja di letakkan di belakang meja
belajarku adalah solusi yang tepat jika masalah game sedang menghantuiku.
“bang yanuu!!” suara Lina sangatlah nyaring.
Membuyarkan pikiran yang sedang aku usahakan untuk beristirahat. “apa?” tanyaku
yang masih memejamkan mata. Tapi aku tahu Lina ada di sampingku. Parfum yang di
pakai sangat menyengat. “ajarin Fisikakuu”. Kelopak mataku dengan spontan
langsung terbuka lebar. “heh nggak inget, kalau nilai fisikaku semester kemarin
paling jelek. Kan aku masuk kelas ips. Mana nyaut aku sama yang kayak
begituan.”
“pelit banget sih. Kan dulu juga di
ajarin!”
“ya kan udah lama banget dek!”
“ayolaaah ajarin.”
“nggak bisa, serius deh. Kalau bisa abang
ajarin dek. Lah kalo ini?” raut muka Lina langsung berubah. Wajah kekecewaan
yang dia pamerkan padaku.
“makanya, dulu itu masuk di kelas ipa.
Biar bisa ajarin adeknya. Huu”
“malah nyaut! Kenapa nggak kamu sendiri
yang belajar. Nggak perlu tanya kayak gini kan? Ngrepotin!”
“biarin. Week” lidah panjang Lina keluar
dengan lancar. Dan cukup memalingkan pandangan ke langit-langit lagi.
“oh iya bang, minggu depan aku ada
pementasan drama di sekolah. Ayah sama Ibu nggak bisa dateng. Bang Yanu bisa
dateng nggak?” wajahnya kembali memelas di depan daun pintu kamarku.
“minggu depan ya? hari Senin?” tubuhku
mulai terbangun.
“hari minggu. Di aula sekolah. Ada acara
ulang tahun sekolah gitu pokoknya. Dan aku main drama. Bang Yanu bisa dateng
kan?”
“iya kalau nggak sibuk ya”
“oke!!”
Lina kembali ke kamarnya. Mulai
menyalakan mp3nya dengan volume kira-kira 80%. Sehingga cukup jelas lagu yang
dia putar sampai ke kamarku. Lagu galau anak muda. Dasar anak smp!
Pr untuk besok sudah terselesaikan semua.
Materi untuk persiapan ulangan juga 40% sudah aku kuasai. Osu ku sudah hampir
kiamat. Malas kalau harus berurusan dengan alat elektronik itu dan buku-buku
yang tebal-tebal itu. Kalau aku menutup mata di jam setengah sembilan seperti
ini, rasanya itu tidak asyik. Terlalu sia-sia jika di jam ini aku membiarkan
mataku untuk terpejam.
Langit-lagit mulai bosan melihat wajah
murungku. Aku duduk di atas kasur ini. melihat handphone bututku merenung di
sebelah laptop rasanya perih. “heh, sepi amat sih kamu. Nggak sms siapa gitu?
Nggak punya gebetan ya? dasar handphone jones!” ini adalah salah satu cara yang
aku lakuakan untuk menghibur diri. Aku mengambil handphone butut itu. Aku
memutar-mutar dengan jemariku.
Aku teringat Erna. Bagaimana dengan
nasibnya tadi siang ya?
“udah bisa balik?” send ke Erna.
Pemberitahuan terkirim sudah didepan mata.
Setengah menit kemudian ada sms masuk. “
udah. pake WA aja Nu.. pulsa sms menipis nih. Hehe”
“aku kan nggak ada WA Na.”
“Oh iya lupa. Hehe kenapa? Tumben
nanyain. -_-“
“nggak kenapa-kenapa. Tanya doang”
“oh.. Nu kira-kira minggu depan bisa
izin nggak ya? males ikutan.”
“emang minggu depan ngapain?”
“yaaahh, pikunku menular. Kan minggu
depan ada camping. Males ikut. Nggak ada Brigta sih.”
“oiya lupa. Kan wajib Na.”
“iya sih. Tapi, maleeess. Tahu sendiri kan
kalo nggak ada Brigta aku kayak gimana... L”
“kali-kali nggak sama Brigta kenapa sih.
Emang kalau mau izin alasannya apaan?”
“itu dia. Aku juga bingung.”
“hm.. terserah deh”
Dan, aku baru tersadar kalau minggu
depan juga Lina ada pementasan drama yang juga harus aku hadiri.
“bolos yuk Nuu”
“sial. Minggu depan aku juga harus
dateng di acara sekolahnya Lina. Ayah dan Ibu nggak bisa dateng. Trus dia
nyuruh aku buat dateng. Ah sial. Gimana nih?” tanganku gemetar. Harap-harap
cemas. Sebenarya acara itu sudah diumumkan sebulan yang lalu. Sedangkan Lina
baru saja memberi tahuku tentang acara sekolahnya. Ayah dan Ibu minggu depan
justru lebih sibuk dari biasanya. Ada yang memesan baju batik dari luar kota.
Dan minggu depan harus dikirim.
“nah, pas kan. Ntar kita bisa liat Lina
aja.”
“ah, nggak bisa gitu lah Na.”
“ya bisa aja. Ntar di surat izin
alesannya ada urusan keluarga mendadak. Gitu aja gimana?”
“yakin nih?”
“aku sih yakin. Aku kan juga penasaran
sama Lina. Ayolaaaah” begini ini, kalau wanita sudah merayu. Sebenarnya sebal.
Tapi..tipe wanita seperti Erna itu kalau tidak dituruti kadang malah ngambek.
Dengan cara pembohongan mugkin baru bisa sembuh.
“ya lihat aja besok”
“aaaahhh Yanu gituu”
Tidak terasa jarum jam sudah menunjukkan
pukul 10 malam. Sebenarnya mataku masih tahan untuk terbuka. Tapi, kalau tidak
ada kegiatan lagi, aku harus memaksakan mata ini untuk beristirahat sekarang.
Erna.. biarkan saja dia menunggu balasan dariku yang tidak akan pernah datang
padanya. Kejam.
Komentar
Posting Komentar