Hari minggu itu rasanya cepat secepat
kilat. Dan sekarang, harus bertemu tiang bendera lagi. Harus berdiri lebih lama
dari biasanya dengan barisan semut. Harus bertemu dengan mata pelajaran
kewarganegaraan yang mmembosankan. Ah.. melelahkan!.
Mereka
mulai meninggalkan pot rumput berukuran raksaksa ini. tapi, aku memlih waktu
yang tepat saja. Saat di atas pot ini hanya tertinggal beberapa orang saja. Aku
paling malas kalau harus berebut. Aku hanya perlu sedikit bersabar. Karena aku
akan lebih lama menjadi jemuran yang dijemur di atas pot. Saat jemuran-jemuran
yang lainnya terangkat, sekarang giliranku.
Langkahku tidak seperti biasanya. Aku percepat dengan jangkauan yang
lebih lebar lagi. Bulan Agustus memang sedang musim kemarau. Tidak salah kalau
aku mempercepat langkahku.
Dengan caraku yang aku lakukakan tadi,
aku juga menjadi satu-satunya siswa di kelas yang datangnya terakhir. Tapi aku
tidak terlalu memperdulikan hal itu. Semua masih sama saja. Gaduh. Pasalnya bu
Riani belum datang. Jika di kelas ini ada cctv, mungkin akan terlihat lucu. 10
menit pertama anak-anak masih segar bugar dan ceria. 10 menit ke dua
wajah-wajah antusias mulai terpamerkan. 10 menit yang ke tiga kepala sudah
berubah menjadi batu yang paling berat. Mata juga sudah letih. Tapi yang aku
heran, bu Riani tidak pernah marah melihat perlakuan kami terhadapnya yang
terdengar kurang sopan cenderung kurang ajar itu. Beliau guru paling sabar.
Tapi mata pelajarannya paling tidak aku sukai.
Negara. Jika semua urusan negara sudah
ada yang mengatur, kenapa aku juga ikut mengaturnya. Katanya menghargai negara
dengan menghormati bendera. Setiap hari senin kalau tidak hujan aku juga hormat
bendera. Teman-teman yang lain berisik aku diam. Menghayati. Tapi, apa masih
perlu aku mengetahui susunan kabinet dan tugas-tugasnya? Apa aku juga harus
menghafal semua aturan yang tertera pada UUD 1945 yang sampai saat ini aku
tidak paham dengan hal tersebut. Rumit.
“nu, ntar anak-anak mau main futsal di
belakang sekolah. Mau ikut nggak?” Gino teman sebangkuku yang teramat gila
dengan dunia bola. Hari-harinya hampir tidak bisa lepas dengan bola. Smartphone
yang dia miliki dengan akun twitter yang dia punya juga digunakannya untuk
sekedar meng-update berita mengenai bola. Entah bola luar negeri ataupun dalam
negeri. Jujur, aku tidak terlalu suka dengan bola. Bola sepak terutama. Tapi,
kalau bola basket masih mendingan. Apa lagi tenis meja. Itu faforitku. Tapi
sayang, anak kelas cenderung menyukai bola sepak.
“nggak. Mending nge game di rumah” alat
perang melawan mata pelajaran bu Riani sudah aku siapkan. Rapi diatas meja. “sori
broo. Ya, kali aja kamu tertarik main bola hari ini.” cukup diam dengan gerakan
kepala kekanan dan ke kiri, aku yakin Gino tahu kalau jawabanku “tidak”.
“bbuugg” buku Erna jatuh 10 cm dari kaki
kananku. “eh sori sori Nu. Bisa ambilin nggak. Aku lagi nyari duit nih. Tolong.
Hehe” memang terlihat jelas kalau Erna sedang sibuk. Aku ambil buku tebal Erna
yang di beri sampul kertas kado berwarna cokelat. Erna memang penggila warna
coklat. Hampir semua barangnya berwarna cokelat. “bruug” aku menaruhnya di meja Erna lagi. Tanpa keluar satu patah katapun dari bibir. “makasih ya nu” Erna
masih mencari-cari uangnya yang katanya hilang di tas bermerek warna
cokelatnya. “nggak ketemu?” tanyaku. “enggak. Ternyata aku nggak bawa dompet.
Hehe. Maklum lah Nu, kan emang aku orangnya pelupa. Hehe”
“Brigta nggak masuk?”
“enggak. Katanya dia kena cacar. Sepi
deh bangku sebelahku.” Wajahnya persis seperti Lina saat mati listrik di
jam-jam tayang drama korea. Geli.
“oh, trus ntar bisa pulang kan?”
“bisa sih. Kalau di jemput. Kalau nggak
jalan. Kalau nggak nebeng. Hehe”
“alah Erna modus.” Saut Gino.
“nggak !”
“sori nih Na, ntar anak-anak cowok pada
mau futsal. Jadi nggak bisa nganter.” Ya, kejadian seperti ini memang tidak satu
dua kali terjadi pada Erna. Dia berangkat bersama ayahnya yang katanya kerja di
pusat kota sana. Dan pulangnya malam. Jadi, kalau pikunnya kumat seperti
sekarang ini anak-anak cowoklah yang mengantarnya pulang. Sebenarnya dia bisa
pulang sendiri dengan jalur angkot. Tapi, kalau dompet berisi uangnya saja
tidak dia bawa, mau gimana bayarnya?
“yaah, gitu ya. yaudah deh. Ntar minta
jemput aja.”
“berani nunggu sampe malem?” tanyaku
yang terdengar ketus.
“wiii.. jangan remehkan keberanianku.
Hahaha” manusia super duper aneh. Lagi kesusahan bisa-bisanya bercanda. Itu
yang aku suka dari Erna. Dia tidak mau menonjolkan masalahnya kepada
teman-temannya. Dia selalu terlihat senang. Jadi, yang ada dipikiran anak-anak
tentang Erna adalah “manusia tanpa masalah”.
“aku nggak ikut main futsal sih. Tapi
kan tahu sendiri aku pake sepeda.”
“ya, kalau mau nganterin pake sepeda
juga nggak apa-apa. Malah keliatan so sweet kan.”
Genit! Ganjen! Cukup memalingkan
pandangan ke bu Riani yang sudah masuk kelas, maka Erna akan diam.
Komentar
Posting Komentar