Alunan musik itu terdengar jelas
ditelinga. Tanpa ada kata-kata yang terlepas dari sang vokalis. Tenang.
Setenang air sungai tanpa bebatuan. Sama seperti yang aku lihat dimimpiku malam
itu. Tenang.
Musik itu masih mengalun dengan sendirinya.
Mataku mulai sayup. Mungkin salah satu efek yang terdapat didalam musik ini.
mataku mulai terpejam. Pikiranku mulai menjajaki alam bawah sadarku.
Aku melihat cahaya terang berwarna putih. Tapi
begitu cepat dia pergi. Meninggalkan padang rumput hijau yang luas ini. aku mendengar
gemercik air disebelah utara. Dengan cepat kakiku melangkah menujunya. Benar.
Sungai yang lebarnya hampir setengah tinggi badanku. Airnya jernih. Didasar air
tidurlah batu-batu hitam yang cukup besar.
Ikan berwarna kuning keemasan sedang menari
untukku. Mungkin dia tahu kalau aku sedang tidak ingin tersenyum hari ini.
tapi, mereka sudah membuatku tersenyum. Fariasi barisannya, Formasinya, indah.
Sama seperti barisan Paskibraka. Tapi mereka lebih lembut. Mereka terus menari.
Tapi aku lelah harus membungkukkan badanku untuk waktu yang tidak sebentar. Aku
tahu, konser barisan ikan itu sebenarnya masih lama. Maaf ikan. Mungkin untuk
lain waktu. Tapi, terimakasih sudah membuat mulutku mengembang hari ini. kakiku
melangkah lagi. Dan aku kembali melihat cahaya putih itu datang menghampiriku
lagi.
Aku tidak tahu apa yang terdapat di balik
cahaya itu. Aku hanya bisa diam terpaku menunggu kehadirannya disampingku. Tapi dia sekarang justru berhenti. Dia
berhenti kurang lebih 10 meter didepanku. Tanpa basa-basi aku langsung menuju
titik cahaya itu berada. Semua di sekitarku terasa nyata. Semakin aku dekat
dengan cahya itu, semua lebih terlihat nyata. Sebenarnya apa cahaya itu? Entahlah.
Yang aku tahu setelah aku melihat semua ini adalah aku tertidur.
Semua hanya ilusiku belaka. Lagu Band tanpa
vokalis itu masih mengalun. Aku segera mencari arah kursor. Dan aku letakkan tepat
di atas di tombol stop. Lagu itu berhenti. Aku tutup laptop bututku. Iya,
laptop mungkin sekarang sudah sangat busuk. Tergantikan dengan benda bujur
sangkar tanpa keyboard yang memudahkan komunikasi. Tapi aku tidak begitu
tertarik dengan benda itu.
Jarum panjang pada jam dinding kamar sudah
menunjukkan pukul 16:00 waktu Indonesia bagian barat. Kebanyakan orang
menggunakan waktu ini untuk mandi dan bersiap-siap menjelang malam harinya.
Ayam-ayam juga mulai mencari tempat peristirahatannya nanti. Lina adikku sudah
siap didepan layar televisi untuk menunggu siaran drama Korea yang dia sukai.
Rambutnya masih basah. Semenjak ada siaran drama itu, dia memang rajin mandi
lebih awal.
Handuk
warna hitamku yang sudah hampir 2 tahun menemani hidupku aku culik dari tempat
semula dia merenung. “bosen nggak nggantung disini? Pindah tempat gih ke kamar
mandi. Kali aja kamu dapet gebetan disana.”. semua barang kesayanganku memang
sering aku ajak berbicara. Memang terdengar aneh. Lina juga pernah memergokiku
sedang berbicara dengan handphone bututku. Tapi, aku tidak pernah
memerdulikannya. Aku tetap bertindak selayaknya orang biasanya. Bedanya hanya
perlakuanku pada barang kesayanganku saja.
Tidak perlu berlama-lama berada dalam ruangan
2 kali 2 meter ini. handukku masih berusaha menyerap air yang sedang bercinta
dengan rambutku. Lina masih duduk di depan televisi. “Nuu... jangan lupa si
tuki di kasih minum” Ibu juga sama denganku. Sangat amat sayang dengan benda
yang dia miliki. “iya Bu” ucapku. Tuki adalah kaktus yang ibu rawat semenjak
aku lahir. Kata ibu itu adalah kado dari almarhum eang kakung yang diberikan
pada Ibu yang nantinya akan di berikan padaku. Kadang, aku heran. Banyak orang
yang mewarisi anak cucunya dengan harta. Sedangkan aku hanya dengan kaktus.
Tapi, aku juga sayang padanya. Tuki sangat setia. 17 tahun lebih dia sudah
hidup. Tapi, perubahannya sedikit sekali. Padahal setiap sore sudah diberi
makanan dan minuman organik untuknya. Hem.. sepertinya aku tahu kenapa dia
tidak besar-besar. Mungkin dia tipe kaktus karnifora.
“bang Yanuuuu, Dugi nakal nih!” teriakan Lina memang melukai pendengaran. “biarin aja kenapa sih” Lina memang takut
kucing. Semenjak dia berusia 7 tahun. dulu dia pernah dicakar setelah dia
mengganggu salah satu kucing ayah. Dasar bocah. Dugi adalah salah satu kucing
kesayangan ayah. Sebenarnya kalau dihitung dengan kalkulator, jumlah kucing Ayah ada 15. Tapi, karena Lina takut kucing sekarang hanya tinggal 2 ekor. Dugi
dan fenu. Sebenarnya mereka berdua ada di istana mereka di belakang rumah.
Tapi, sepertinya ibu lupa memasukkan Dugi ke istananya setelah Dugi pergi ke
salon.
“baaaaaanggg Yanuuuu!!”. Berisik! Gerutuku.
“Gi sini Gi. Lina bau. Mending sama aku aja. Dugii.” Dengan matanya yang tajam, Dugi mendekatiku. Hap. Dia sudah ada di gendonganku. “enak aja. bang Yanu tuh
yang bau!” cukup dengan lirikan tajam. Lina pasti sudah kalah. Dia memang menyebalkan.
Tapi manis. Bulu coklat dugi hari ini halus. Lebih halus dari biasanya. Salah
satu efek setelah pergi kesalon tadi.
“Oh Jae Moo..” beginilah Lina setiap sorenya.
Keberisikan dan kebawelannya mulai kambuh. Tapi, kalau rumah sehari saja tidak
ada Lina, bagaikan udara yang tidak pernah terjamak oleh gerakan apapun. Usianya hanya terpaut empat tahun denganku.
Semenjak dia masuk smp dia menjadi lebih bawel dari biasanya. Tapi, kadang dia
bisa bersikap 5 tahun lebih tua dari padaku.
Komentar
Posting Komentar