Terlepas

Aku merasa kalau bukan manusia lagi. Kakiku tidak lagi berpijak dengan tanah. Melainkan pada sebuah besi yang berat. Tapi, aku tidak tahu betul bagaimana caranya dia meninggalkan tanah di bumi. Mungkin dengan tongkat sihir. Atau dengan mantra dukun. Aku tidak terlalu memperdulikannya. Hamparan kapas tebal dan besar terbentang di kananku. Jauh di sana setelah sebuah benda bening yang memisahkanku dengan benda itu. Tapi aku cukup terhibur dengan benda itu. Tapi, mungkin itu mustahil jika aku memegangnya. Walaupun disaat dimana aku tidak merasa bahwa aku adalah seorang manusia. Aku jauh dari peradaban manusia. Aku jauh dari pohon-pohon rindang dibawah sana. Ada seorang wanita cantik yang masih mendekte kami disini. Berdiri tanpa membuka mulut. Hanya gerakan tangan yang bisa dia lakukan. terkadang, aku berpikir bahwa mereka bisu. Tapi, tidak. Mereka bisa bercanda dengan temannya. Walaupun tidak dihadapan kami. Tapi aku pernah melihatnya sekilas. Deretan di sisi kanan, tengah maupun kiri banyak yang masih memperhatikan wanita itu. Tapi aku tidak. Mungkin aku merasa bosan. Karena tidak kali ini saja aku melihat gerakan yang mereka dektekan pada kami. Mungkin juga aku merasa nyaman dengan apa yang ada disampingku sekarang. Walaupun dia jauh. Tapi aku senang. Walaupun tidak bisa memegangnya, aku senang. Berada disampingnya untuk sementara waktu, aku sudah senang. Tapi.. saat kita akan jauh lagi. Dan lebih jauh lagi, dia akan tetap menjadi impianku. Berharap dia akan benar-benar ada disampingku tanpa ada sekat diantara aku dan dia. Walaupun dalam pikian orang-orang hebat dibawah sana itu adalah hal yang mustahil. Aku pernah berpikir seperti mereka. Tapi, aku tidak akan mematahan keinginanku untuk itu. Suatu saat aku bisa menemuinya. Dan aku ada dipangkuannya. Halus dan aku suka itu. Ada orang hebat yang mengatakan bahwa dia berbahaya. Tidak baik untuk seorang manusia. Tapi, sekarang aku sedang merasakan kalau aku bukan manusia. Jadi, dia tidak akan tega untuk menyakiti makhluk tanpa nama sepertiku. Tapi, saat aku menjadi manusia dan hidup di bumi untuk yang kesekian kalinya, saat itulah aku merasa kalau dia berbahaya untukku. Tapi kita semakin jauh. Dia tak mungkin sanggup menyakitiku. Tak akan sanggup melukaiku. Sama seperti saat aku tidak merasa bahwa aku manusia, seperti sekarang.  Sepertinya mereka berbeda denganku. Mereka masih meganggap bahwa mereka manusia di tempat ini. Makan, minum, membaca, dan berbincang. Mereka tidak merasakan saat mereka lepas dari nama manusia mereka. Tapi aku berbeda. Aku tidak seperti mereka. Sesekali aku menengok kesisi kiri. Disana juga ada benda itu. Tapi dia yang ada didekatnya tidak menikmati benda itu sama sepertiku. Mungkin karena aku terlalu berbeda dengan mereka. Sesekali pula aku merindukan saat aku menjadi manusia. Bisa duduk di bawah pohon, bisa menulis di atas daun, bisa berjalan di atas aspal, bisa menari walaupun harus membuat rumput menangis karena kakiku. Tapi, aku merasa lebih bebas saat aku terlepas dari nama manusia itu sendiri. Aku suka aku saat ini. Sepertinya manusia sudah lebih jauh dariku. Kehidupanku sekarang sama seperti burung elang yang gagah. Bisa aku lepaskan seluruh beban di hati. Tapi aku seperti burung elang yang ada di dalam perut burung yang lebih besar lagi dari burung elang. Aku bisa merasakan kebebasan elang. Tapi tidak sepenuhnya. Karena aku bukan manusia dan bukan burung untuk saat ini. Benda itu masih setia disampingku. Walaupun sudah sering mengalami perubahan bentuk. Tapi aku tetap merasa bahwa dia tetap satu. Dan selalu ada disampingku. Sudah cukup lama aku tidak menjadi manusia. Mungkin dalam hitungan menit, aku akan kembali menjadi seorang manusia. Dan, akan aku lakukan kegiatan-kegiatan yang manusia lakukan. tapi dengan caraku sendiri. Dengan gayaku sendiri. Hingga aku juga tersenyum sendiri. Manusia lainnya tak akan perduli dengan keberadaanku. Aku, biasa saja. Masih membutuhkan sosok yang luar biasa ada disampingku untuk melengkapiku. Mungkin benda itu. Tapi dia tidak bisa tersenyum sepertiku. Aku tidak akan bisa membuatnya tersenyum walaupun dia selalu membuatku tersenyum saat meliatnya walaupun sekilas. Atau dalam waktu yang lama. Bahkan bisa berada disampingnya seperti saat ini. Waktuku menjadi bukan manusia sudah mulai habis. wanita itu muncul lagi. Tapi, aku tidak pernah memerhatikannya. Saat semua manusia-manusia hebat yang ada disekitarku ini sudah bersiap untuk beranjak dari surgaku ini. Aku juga akan meninggalkan surgaku untuk yang kesekian kalinya. Aku bersiap. Kakiku melangkah lagi. Mungkin dia sudah teramat rindu dengan tanah.  Aku mungkin ada di barisan tegah. Masih banyak manusia yang lebih hebat dari aku menunggu giliran menjadi manusia lagi. Dan sekarang giliranku. Dua kakiku terasa bernapas kembali. Kalau kakiku memiliki sebuah mulut, bisa aku pastikan dia tersenyum. Sama seperti mulut yang ada di wajahku. Melihat tempat aku menjadi “bukan manusia” tadi. Dan tentu, aku melihat benda itu lagi. Dan, inilah waktunya mengucapkan “maaf, untuk beberapa hari ini aku menjadi manusia. Kamu masih mau menungguku kan? Walaupun ada jarak di antara kita.tapi percayalah, ada waktu yang akan mempertemukan kita lagi. Walaupun aku tidak tahu kapan.”

jangan lupa tinggalkan kritik dan saran :) 

Komentar