Mengalir

Kakiku masih mantab melangkah. Batu yang ada di sekitarku, tak pernah aku hiraukan. Barisan besi ini masih lurus. Masih jauh jika aku telusuri terus. Selebar kakiku tak sanggup memijaknya dengan mantab. Tapi aku percaya kakiku masih bisa terus melangkah. Desahan angin mulai terasa. Sesekali benda besar dan panjang itu lewat. Tapi aku tidak takut. Aku suka suaranya. Aku suka bentuknya. Aku suka ada di jalurnya. Diam dan tersenyum. Sesekali kupejamkan mata untuk lebih menikmati suasana disini. Sendiri. Hanya berteman dengan rumput yang hanya bisa diam dan tidak bisa menjawab pertanyaan tentang kehidupan yang aku tanyakan padanya. Awan cukup bersahabat denganku hari ini. Dia tutupi sinar matahari yang menyengat kulit. Aku tidak bisa membayangkan jika tidak ada awan tebal di tempat yang jauh dari rindangnya pohon ini. Aku masih berjalan. Dan sekali lagi, aku katakan bahwa aku tidak takut. Sesekali aku memeng terjatuh dari jalur itu. Tapi aku coba bangkit dan memulai untuk kembali melangkah di jalur itu lagi. Walaupun aku terjatuh lagi, tapi aku tidak pernah takut. Handphone butut yang aku taruh di kantong celana bergetar. Mungkin pesan masuk. Mungkin juga panggilan masuk. Hanya pesan singkat dari ibu yang memintaku untuk segera pulang. Tapi aku sedang menikmati ada di jalur ini. Maafkan aku ibu. Aku tidak bisa pulang sekarang. Mungkin besok, lusa, bahkan mungkin aku tidak bisa kembali kerumah sederhana yang ibu dan ayah bangun untukku. Maafkan aku ibu, ayah. Aku mencintai kalian. Jika banyak orang yang bilang kalau keluarga itu segalanya. Bagiku tidak. Karena keluarga lebih dari segalanya. Mataku mungkin tak lagi kuat melihat handphone butut ini untuk waktu yang lama. Sekarang kantungku ada yang mengganjal lagi. Kaki kecilku masih bersemangat untuk melangkah di jalur sempit itu. Mataku mulai mantab menatap kedepan. Tangan kanan dan kiriku masih sibuk mencari keseimbangan. Tapi aku tidak pernah takut. Aku masih melangkah. Didepan ada lorong. Gelap. Dan, aku yakinkan diri kalau aku tidak pernah takut. 5 meter lagi aku akan memesuki lorong itu. Jantungku tiba-tiba berdegup dengan kencang. Tapi aku tidak takut. Aku tidak takut. Tidak akan aku perbolehkan seorangpun mematahkan semangatku. Aku masuk di lorong itu. Aku pikir gelap. Aku pikir aku akan berjalan di luar jalur yang sama seperti sebelum aku memasuki lorong ini. Tapi tidak begitu. Karena aku tidak pernah takut. Kakiku masih terpijak di jalur yang sama. Aku juga bisa melihat disini. pintu keluar lorong itu masih jelas terlihat. Mungkin karena panjang lorong ini hanya 20 meter. Dan aku tidak takut. Aku berhasil melewati lorong ini dengan senyuman yang kulemparkan untuk lorong ini. Itu semua karena aku tidak pernah takut. Dan setelah itu aku tidak akan menolehkan pandanganku untuk lorong itu lagi. Dan aku harap aku tidak melewati lorong yang sama untuk ke dua kalinya. Handphoe butut ini bergetar untuk kali keduanya. Mungkin ibu lagi. Tapi ternyata dugaanku salah. Handi. Orang yang sama seperti lorong itu. Gelap. Tapi aku tetap ada di jalurku. Sampai pada waktu dimana aku bisa keluar dari situasi itu dengan tetap tersenyum. Tanpa penyesalan. Dan mantab melaju kedepan untuk tidak mendatanginya lagi. Tapi justru dia yang datang. Mungkin ibuku sekarang ada dua. Handi tiba-tiba menjadi ibuku untuk yang kedua. Angin tidak berhembus keras sore ini. Tapi kenapa dia datang dan memintaku untuk pulang? kenapa kau tiup handi di kehidupanku lagi, Tuhan? Tapi, aku mencoba untuk tetap tersenyum. Aku tidak akan mematahkan keinginanku ini untuk tetap berjalan di jalur ini. Aku tidak takut. Semakin lama aku berjalan, aku merasa kakiku ebih panjang. Hihi mungkin itu hanya ilusiku. Tapi aku tetap berjalan. Sesekali aku melihat jam tangan yang aku kenakan. Menunggu waktu itu datang. Kini, waktu yang akan sangat berbeda kejadiannya bila dibandingkan dengan tahun lalu. Semua senyuman akan aku munculkan. Semua perasaan akan aku luapkan. Semua yang aku punya akan aku ikhlaskan. Hingga aku terbang dan tersenyum sepanjang hari. Kemurunganku yang telah lalu akan aku buang. Semua ilusiku akan aku lenyapkan. Dan aku hanya manusia biasa yang hanya bisa menunggu waktu itu datang. Tapi aku tidak pernah takut untuk melakukannya. Tetesan air mengagetkanku. Jatuh tepat di ujung hidung mancungku. Dan kini aku sadar awan yang menutup matahari tu adalah awan mendung. Dari dulu, aku tidak pernah suka saat seperti ini. Tapi, sekarang aku adalah pribadi yang berbeda dan aku tidak takut. Kaki panjangku masih bergerak bergantian. Tanganku masih mencari-cari titik keseimbangan. Dan aku tidak takut jatuh. Aku mulai sampai di tempat yang tepat. Dimana aku bisa melihat pepohonan berbaris di sisi kanan dan kiri jalur ini. Tepat pukul 16:25. Mungkin waktu itu akan datang sebentar lagi. Udara disini sangat sejuk. Berbeda dengan jalur yang aku lewati 1 jam lalu. Kakiku berhenti melangkah. Aku menemukan titik keindahan di jalur ini. Dan aku merasa hidup disini. Dan aku juga akan merasakan surga, dimulai dari sini. Suara itu mulai dekat. Aku bisa mendengarnya. Tapi, aku tidak takut. Mungkin aku hanya bisa menghitung mundur dari angka lima sampai aku mengucapkan “selamat datang surga”. 

Komentar

  1. Ciatt Kopas Ya Mbak? Keliatan tu ada block nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. dari word ciiiiill... padahal yang lainnya gak kayak gini lho.. ccuma ini aja yang ada blocknya.. -___-

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Posting Komentar