20
desember 2012
“dek,
hari ini aku mau ada extra basket. Kamu dirumah sendiri ya” ucap kak bimo yang
sedang berberes-beres diruang makan. “sampe jam berapa?” tanyaku. “gatau sih.
Paling jam limaan.” Jawabnya.
“aku
boleh ikut?”
“nggak.
lagian kamu ngapain ikut ke sana? Mau basketan juga?”
“ya
enggak. Aku kan juga pengen liat kakak main basket”
“mmm...”
ucapnya. Singkat padat tapi nggak jelas. “aku udah terlambat nih, kamu
baik-baik ya dirumah. Jangan nakal.” Ucapnya sambil melangkahkan kaki kedepan
rumah. Akupun mengikutinya. “iya, hati-hati ya kak..” dan ia hanya tersenyum.
Dan mulailah ia kayuh sepeda ayah menuju tempat biasa ia berlatih basket.
Aku
Arsyita Nuraini. Umurku belum genap 15 tahun. Dia, kakakku. Bimo Nugroho.
Umurku dengannya hanya terpaut 14 bulan. Kita belajar di satu sekolah. Dia kelas dua,
dan aku kelas satu pastinya.
Seperti
biasa setiap hari senin dia pasti berlatih basket. Tapi nggak pernah ngajak
aku. Huhh.. yaa... terkadang aku juga harus menunda semua keinginanku. Termasuk
melihat kakak sematawayangku berlatih basket.
Hari
semakin gelap. Tapi kak bimo belum keliatan juga batang hidungnya.
“assalamualaikum.. bimo pulang”. Nah, itu dia. “waalaikumsalam, kok baru
pulang..?”. “jjiaah, baru pulang udah main introgasi aja. Bikinin minum apa
gimana gitu. Enggak enak!!” protesnya. Aku hanya diam dan membiarkannya bejalan
melewatiku dengan ucapannya tadi. Akupun mengikuti kemana ia pergi, menuju
dapur. Langkahnya terhenti, dan mulai membalikkan badannya. “syita..” ucapnya
pelan. “apa?”. Dia menghampiriku dan memelukku. Sontak aku kebingungan dan
berusaha melepaskan pelukan tubuhnya dengan milyaran tetes keringat yang ada
padanya. Iyuuuhh.. “kamu kenapa sih kak, ihhhh...”. “makasih ya” ucapnya singkat.
“buat?” aku tambah bingung. Dia mengambil jus tomat yang udah aku siapin buat
dia, dan . . . dia menciumku. Ihhhhhh nyebelin ahh..
21
Desember 2012
“yo
dek buruan.” Teriak kakakku dari depan rumah. “iyaa.. bentar” sautku dari
kamar. Aku pun lekas keluar rumah dan menemui kak Bimo. “ayoo..!!” ujarnya.
“heem.” Jawabku singkat. Dengan sepeda yang kakak kayuh, aku bersamanya
berangkat kesekolah. Jarak rumah yang tak jauh dari sekolah, membuat aku dan
kakakku memilih bersepeda. Walaupun tak jarang pula saat sepeda ayah mulai
merintih dan rusak, kami berangkat sekolah dengan jalan kaki.
Sesampainya
disekolah, aku tak perbasa-basi pada kak bimo dan memutuskan langsung menuju
kelas. “dek..” ucapnya. Akupun berbalik badan. “iya, kenapa?”. “aku duluan”
sambil berlari menyalipku. Huu kurang ajar!!
“syita....!!”
teriak seseorang dari kejauhan. Dan ternyata itu sinta sahabatku di SMA Kusuma.
Kamipun bertegur sapa dan berjalan menuju kelas bersama-sama
Saat
dikelas, yang kebetulan gurunya nggak dateng. “ eh ta, gimana kabar kakakmu?”
tanya sinta. “mmmm... mulai deh. Dia baik-baik aja kok.kenapa?” Jawabku santai.
“ya nggak kenapa-kenapa juga sih.. hehe”.
“kamu,
naksir kakak bimo ya?”
“hush..
apaan sih ta.. enggak kok”
“halah..
udah keliatan kali sin. Jujur aja deh sama aku”
“iya,
aku naksir sama kakakmu. Aku naksir ka bimo. Tapi jangan bilang ini ke kak bimo
ya ta. Aku nggak mau dia jauhin aku gara-gara ini.”
“mmm...
bisa bisa. Aku bisa jaga rahasia kok.”
“sip.
Trus gimana kamu sama si aryo? Aku denger-denger kamu mutusin dia, bener nggak
sih?”
aku
nggak menanggapi persoalan itu. Aku Cuma bisa diam dan mencoba untuk
mengalihkan pembicaraan. “ta.... kamu marah?”.
“ha..
enggak. Oh iya nanti malem kan ada acara ulangtahunnya sekolah kita, kamu mau
ikut?” tanyaku sambil mengalihkan pembicaraan.
“mm...
kayaknya ikut ta. Kamu?”
“aku
nggak tau. Kak bimo belom cerita, mau berangkat atau enggak”
“ohh...
yaah tapi kalo nggak ada kamu, ntar aku sama siapa disini?”
“entahlah”
Ditengah
pebincanganku dengan sinta, tiba-tiba aryo dateng.
“ta..
aku bisa ngomong bentar sama kamu?” ucap aryo.
“mm,
ta aku ke dikta bentar ya.” Ucap sinta yang pengen ngasih waktu aryo buat
ngomong sama aku.
“mm..
iya” jawabku singkat. aryopun duduk tepat disebelahku. “kenapa yo?”
“aku...
aku...aku...” ucapnya terbata-bata.
“iya,
kamu kenapa?”
“aku
nggak bisa tanpa kamu. Aku udah coba lupain semua yang pernah kita lakuin
bersama. Tapi tetep nggak bisa ta. Aku nggak bisa jauh dari kamu. Lagian kamu
belum ngasih alasan yang pasti kenapa kamu mutusin aku. Iya kan..?” ucap aryo
panjang lebar.
“yo,
kamu bisa kok lupain aku. Memang butuh proses. Dan kamu harus sabar.”
“iya
aku tau, tapi kenapa kamu mutusin hubungan kita yang baru berumur jagung dan
itu tanpa sebab yang pasti.”
“apapun
itu yang aku lakukan pasti ada alasannya, dan udah aku fikirin secara matang”
“tapi
ta..”
Aku
meninggalkannya sendiri. Dan bergabung bersama dikta, sinta, dan teman-teman
yang lainnya. Wajahnya terlihat pilu. Aku merasa bersalah telah meninggalkannya
seperti itu.
Malam
harinya.
“kak,
kakak nggak kesekolah?” tanyaku dengan mengendap-endap di depan pintu kamar kak
bimo.
“eh,
syita. Ngagetin aja. Aku nggak kesana. Kamu mau kesekolah? Kalau iya ntar tak
anterin.”
“mm
enggak. Aku boleh masuk?”
“masuk
aja”
Aku
mendekatinya yang sebelumnya ia sedang berbaring di ranjang empuknya.
“dek..
kamu mutusin aryo?” tanyanya. Hmm pertanyaan yang males banget aku denger.
“iya.
Kakak tau dari siapa?”
“aryo
yang bilang sama kakak. Dia bilang kalo dia masih bingung sama keputusan kamu
ini. Kalo kakak boleh tau kenapa kamu mutusin aryo dek?”
Aku
tersipu. Aku bingung akan ku jawab apa pertanyaan ini. Aku tertunduk dan tetes
mulai tetes air mataku pun keluar dengan sendirinya.
“mm,
dek? Mm.. kalo kamu nggak mau jawab juga ngak apa-apa kok. Kamu.. kamu.. kenapa
nangis?”
Ku
usap air mataku. “aku nggak kenapa-kenapa kak..” semakin aku menahan air
mataku, semakin aku ingin lebih menangis dengan keras. Kak Bimo pun mendkatiku
dan memelukku. “jangan nangis dong dek..” aku masih menangis dipelukan kak
bimo. Mataku tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.
22
Desember 2012
“dek
kakak punya kabar bahagia buat kamu” ucap kak bimo selama perjlanan pulang
sekolah, dengan dituntunnya sepeda ayah.
“apa?”
tanyaku penasaran. “ kakak bakal ikut lomba basket se-Jakarta.” Senyum kak bimo
membawaku pada sebuah kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri melihatnya.dan aku
sadar dia juga akan berlatih lebih keras lagi. Dengan berlatih basket setiap
hari. Mm.. alhasil rumah, bakal sepi terus.
23
Desember 2012
“kak,
aku boleh ikut?” tanyaku melihat kak bimo sedang bersiap-siap berangkat latihan
basket. “nggak bisa dek, kakak pulang agak malem. Kamu dirumah aja ya..” . aku
Cuma bisa diam menanggapi ucapan kak bimo. Dan, mulailah rumah ini dia
tiggalkan.
Hp
ku bergetar dua kali, itu tandanya ada sms. Segera ku buka dan ternyata dari
Aryo.
“malam
ta..”. perasaanku campur aduk antara seneng dan sedikit malas. “malam juga.
Kenapa yo?” jawabku. “mm.. enggak. Kamu inget, hari ini tanggal berapa?”. Aku
tambah bingung, dengan smsnya yang satu ini. Apa dirumah di nggak punya
kalender? “tanggal 24. Kenapa?”. “kamu nggak inget hari ini 4 bulan kita
pacaran. Tapi... nggak tepat 4bulan.”. tiba-tiba jantungku berdegup lebih
kencang dan ada secuil rasa sedikit bersalah. “mm.. iya. J”
saat itulah kali pertama aryo sms aku lagi setelah aku memutuskan hubungan ini
19 Desember 2012 lalu.
24 Desember 2012
Hari
ini hari minggu. Itu artinya kak bimo bakal berlatih basket sehari full. Dan
aku sendirian dirumah. “kak...” sapaku lembut melihat kak bimo sedang
bersiap-siap berangkat berlatih basket. “kenapa?” jawabnya yang juga pelan.
“aku boleh ikut? Aku pengen liat kakak main basket.”. kak bimo Cuma menatapku
dengan tatapan yang lumayan sinis. Dan masih sibuk dengan sepatunya. Dan berjalan
melewatiku. “hati-hati dirumah”. Itulah kata yang selalu terucap dari bibir kak
bimo. Dia kayuh kembali sepeda ayah dan menuju tempat dimana ia berlatih
basket.
5
jam sendiri dirumah, nggak menutupi rasa bosanku. Dan aku memutuskan untuk
keluar rumah. Dengan membawa bunga kertas yang pernah aryo berikan padaku.
Setelah ku buka pintu dan kemudian menutupnya, kulihat aryo berbalik badan.
Entah apa yang ada difikiranku, seketika ku sebut namanya. Dan dia menoleh
kearahku. Wajahnya terlihat sumringah. Aku mendekatinya dan akhirnya kamipun
berjalan bersama. Entah kemana. Kami terus berjalan.
“ta...
itu...” ucapnya pelan sambil menunjuk ke arah bunga kertas milikku darinya. “mm...
kenapa?”.
“bukankah
itu bunga yang pernah aku kasih kekamu ta?” ucapnya. Aku hanya tersenyum. “iya
memang.aku selalu membawanya kemanapun dan kapanpun aku pergi.” Dengan
tatapanku yang seolah-olah tidak memperdulikannya. Sontak langkah aryo terhenti.
“ta.. kamu... masih sayang kan sama aku? Eh.. em..em..em enggak. Itu nggak
mungkin. Em..em.. ehh lanjut jalan” ya... mendengar cara bicaranya, aku tau dia
gugup. Dia mempercepat langkahnya. Ku hentikan langkah kaki ini. “iya memang.
Kenapa?” dengan tatapanku yang sedikit sadis.
Entahlah,
seberapa jauh kami melangkah, seberapa lama itu terjadi, seberapa banyak topik
yang telah kami bahas sepanjang perjalanan, dan saat itulah hatiku merasa lebih
tenang dari sebelumnya.
“pulanglah.
Dan... hati-hati dijalan.” Kata terakhir yang ku ucapkan padanya. Dan kubiarkan
dia berjalan sendiri. “ta..” ucapnya sembari melihatku membuka pintu rumah. “ku
akui itu kamu. Dan hanya kamu.. arsyita..”. aku hanya tersenyum mendengarnya.
Dan masuk rumah.
25
Desember 2012
“boleh
aku ikut?” pertanyaan yang tak henti-hentinya aku lontarkan sebelum kak Bimo
berangkat berlatih basket. Nampaknya dia bosan dengan pertanyaanku ini. Aku
hanya membiarkannya bersiap-siap sendirian di ruang tengah. “aku berangkat” dan
kata itu lah yang memisahkanku dengannya walau hanya sejenak.
Jam
dinding menunjukkan pukul tujuh malam. “aku pulang” seru kak bimo. Dan aku tau
itu. Dia datang. Hmmm.. hatiku mulai tenang. Dia tlah ada didekatku kembali.
26
Desember 2012
Entahlah
apa yang aku fikirkan. Aku hanya merasa tak seperti biasanya. Fikiranku tak
seperti biasanya. Aku bingung. Entahlah, tak ku fikir kembali.
“sin...”
ucapku pelan. “kenapa ta..?” jawabnya. “aku.. pusing.”. rintihku. “kamu mau aku
anter ke UKS? Mukamu pucet banget.” Sinta terlihat khawatir melihatku. “emm..
enggak. Aku nggak kenapa-kenapa kok sin. Paling nanti juga sembuh. Kamu nggak
usah pikirin aku.” Jawabku.
Langit
mulai mendung. Dan aku yakin, hari ini akan turun hujan. Ini lah saat-saat yang
aku tunggu. Aku suka hujan. Hujan yang mengingatkanku dengan sejuta kenangan
bersama ayah, ibu, kak bimo, sinta, dan. . . aryo.
“dek,
maaf. Hari ini kakak ada latihan basket. Kamu pulang sendiri ya?” itulah sms dari kak bimo yang kubuka saat aku sedang
menunggunya tepat di sepeda tua ayah. Dengan rendah hati akupun menuruti semua
ucapannya. Dan melangkah pulang. Ditengah perjalananku menuju rumah,
titik-titik air mulai menyadarkanku akan datangnya hujan. Sejenak aku berdiri,
kututup mataku dan kurasakan kehadirannya.
Entahlah,
tubuhku terasa lemas. Apa yang terjadi saat itu aku tak lagi ingat. kubuka
mataku perlahan. “kau sudah sadar?” ucap seorang lelaki, dan itu adalah aryo.
“ar...yo..?” mataku belum sepenuhnya terbuka. Samar-samar wajahnya ku lihat.
“iya ini aku. Aku melihatmu tergeletak di jalan. Dan kubawa kau kemari. Ini
dirumahku ta. Tenanglah.” Aryo menenangkanku. “syita... kamu udah sadar?” ucap
sinta yang datang menghampiriku dengan wajah khawatirnya. Aku hanya tersenyum.
Setelah
sadar benar, aku meminta aryo untuk mengantarkanku pulang. Aku tak ingin kak Bimo tau mengenai ini. Dan
untungnya saat aku sampai kak bimo belum pulang.
27
Desember 2012
“kak,
besok latihan basket lagi?” tanyaku menghancurkan keheningan yang terjadi malam
itu. “selalu saja kau bahas hal itu. Memangnya nggak ada topik yang lain?”
jawabnya yang masih sibuk dengan komputernya. “aku kan Cuma tanya” jawabku
sedikit kecewa. Melihat kak bimo sibuk dengan komputernya, aku berjalan menuju
jendela kamar kak bimo. “bintang yang indah” ucapku. Kak bimo tak lagi
menanggapi perkataanku. Aku mendekatinya, dan kupeluk dia dari belakang.
“kak...”. “kenapa?” tanyanya. “aku pingiin banget bisa jalan-jalan ke kebun teh
sama kakak.” Ujarku. Dia melepas tanganku darinya. “kebun teh? Dimana?”. “kata
sinta, dibandung banyak.” Jawabku singkat. “kamu mau kebandung?” tanyanya
kembali. Hanya ku anggukkan kepala ini. Dia menatapku serius. Entahlah apa yang
dia pikirkan. Hanya senyum yang bisa dia berikan padaku, dan kembali fokus pada
komputernya.
Mataku
lelah. Saat itu juga aku tidur di ranjangnya.
28
Desember 2012
Hari
itu aku mulai dengan membuka mata karena ku dengar suara bising yang melintas
di telingaku. Aku mulai membukanya. Kulihat aryo dan sinta duduk tepat
didepanku. Dan mereka tersenyum padaku. Kulihat kanan kiriku. Kulihat
pemandangan yang cukup indah. Tak salah
lagi aku ada di dalam sebuah gerbong kereta. Di samping kananku, tersenderlah
kak bimo. Mungkin karena gerakan spontanku, kak bimo ikut terbangun dari tidur
lelapnya. “kau sudah bangun?” ucap kak bimo. Aku masih bingung dengan hal ini. Saat
dimana kita ada disekolah justru duduk dan tertidur di kereta.
Hari
masih pagi. Masih sekitar jam setengah tujuh. Kami turun dari kereta setelah
entah berapa menit ada di kereta. “kita dimana?” ucapku yang masih kebingungan.
“kita di Bandung ta..” ucap sinta. “bandung?? Mau apa kebandung?” tanyaku kebingungan.
Kak bimo, aryo, dan sinta hanya tersenyum. Dan melanjutkan perjalanan. Dan
entah kemana mereka membawaku pergi. Aku hanya mengikutinya. Kak bimo
menghentikan sebuah taxi berwarna putih dan kamipun langsung menaikinya. Entah
lah, aku masih tak mengerti jalan fikiran kak bimo. Semakin lama taxi melaju,
udara yang kuhirup semakin dingin. Aku semakin bingung. Sebenarnya kak bimo
akan membawaku kemana? Kulihat disekelilingku. Banyak pohon teh. “Mungkinkah
ini perkebunan teh?” ucapku dalam hati. Kucoba mengingat. Ya.. semalam aku
meminta kak bimo mengajakku ke kebun teh. Rupanya, dia menuruti keinginanku.
Aku pikir dia takkan menuruti keinginanku yang satu ini.
Tibalah
kami di daerah Bandung Selatan, tepatnya
di daerah Ciwidey. Udara yang sejuk tlah menyambut kami. “kak bim..” ucapkpu
pelan. “ya..?” jawabnya. Aku memeluknya, bahagia. “terimakasih.” Ucapku sembari
melepaskan pelukanku. Dia hanya tersenym dan merangkulku.
Kami
berjalan diantara pohon-pohon teh dengan embun yang masih menyelimutinya.
Matahari yang mengiringi perjalanan kami. Dengan sinarnya yang menghangatkan
tubuh kami. Betapa bahagianya aku hari ini. Keinginanku sejak kecil untuk bisa
berjalan dan menikmati keindahan kebun teh, kini tlah terwujud. Semula, aku
hanya menginginkan berada disini bersama kak bimo. Tapi, aku fikir tak ada
salahnya juga aryo dan sinta ada disini menemaniku.
Kaki
kami tak henti-hentinya melangkah. Senyumku terus berkembang. Betapa bahagianya
aku hari ini. Kami berteduh dibawah pohon yang rindang. Sejuk, dengan angin
yang menyapa kami.
Sinta
tampak senang berada disini. Dia masih saja berkeliling dengan aryo. Aku hanya
bisa duduk dan merasakan keheningan disana bersama kak bimo. “kenapa kamu
pingin kesini?” tanya kak bimo memecahkan lamunanku. Aku tersadar. “aku hanya
ingin merasakan keheningan dan kesejukan disini. Tak seperti di Jakarta bukan?”
ucapku. “mmm... iya. Kau benar.”. keheningan pun menghampiri kami. “basket?”
tiba-tiba aku terfikir itu. “lupakan. Aku ingin rehat sejenak disini.” Aku
menatapnya. Aku tau dia tak rela meninggalkan basketnya. Dan dia lakukan ini
demi aku. Hmm...
Hari
muai siang. Sinar matahari mulai menyengat kulit. Kami beranjak dari kebun teh
ini. Sepanjang perjalanan, Aryo selalu mendampingiku. Dia berjalan di
belakangku. Sedangkan kak Bimo dan Sinta berjalan jauh didepanku. “yo..”
ucapku. “ehem, kenapa?” jawabnya. “thanks ya..”. “buat??” tanyanya. “kamu udah
mau nemenin aku ke kebun teh ini.” Jelasku. “iya, aku juga seneng kok bisa diajak
kak Bimo ke sini. Seneeeng banget.” Kamipun terseenyum bahagia.
Setelah
beberapa menit kami ber-empat menaiki taxi, tibalah kami di stasiun. Dan
kembali ke Jakarta. 20 menit berlalu. Kami masih di perjalanan. Kak bimo,
sinta, dan aryo tertidur. Aku tau, mereka pasti kecapekaan. Aku merasa kesepian
dan kubuka notebook milikku dan jari-jariku mulai lincah mengetik setiap kata
yang muncul difikiranku. Tak indah, hanya semua kebahagiaanku yang ku dapat
dihari ini bersama kak bimo, sinta, dan aryo.
29
Desember 2012
...
Itu dia cerpen
terakhirmu adikku. Yang kau tulis berdasarkan kisah nyatamu. Yang belum kau
beri judul dan belum ada endingnya. Kalau boleh ku lanjutkan, inilah hari
terakhirmu, di taggal 29 Desember 2012.
29
Desember 2012
Hari
ini awan begitu indah. Angin bertiup dengan lembut, mataharipun menyambutku
dengan syahdu. Hari ini, tepat aku berumur 15 tahun. Rasa syukur tak
henti-hentinya ku ucapkan.
Entahlah,
hari ini tidak ada yang berbeda. Berangkat sekolah, dan mengikuti pelajaran
seperti biasanya.
Aku
menghampiri aryo yang sedang duduk sendiri di belakang. “yo..” ucapku pelan.
“mm iya.” Dengan wajahnya yang tampak bingung. Akupun duduk disamping
aryo.entahlah, aku tak mau berbasa-basi. Kuberikan salah satu benda yang berharga
untukku. Kecil, tapi bisa menyimpan berbagai data. ‘flasdisk’ kesayanganku
kuberikan pada aryo.”kenapa kau berikan ini padaku? Bukankah kau sangat
mencintai fasdisk ini?” tanya aryo kebingungan. “aku hanya ingin kau
menjaganya. Disana, ada cerpen, puisi, dan karya tulisku yang lain. Aku ingin
kau membacanya. Saat kau sendiri dan itu
tanpa aku.” Terangku. Wajahnya masih terlihat kebingungan. Aku meninggalkannya,
bersama flasdisk ku. Dan tersenyum melihat ekspresi aryo.
“dek,
tadi kakak lihat kamu ngasih flasdisk kamu ke aryo? Kenapa?bukannya kamu
cintaaaa banget sama flasdisk itu.” Ucap kak bimo saat aku tertidur diranjang
kamarku. “iya..” jawabku pelan. “kenapa?” tanyanya kembali. “aku tak
mencintainya lagi. Aku malas menyimpannya.” Jawabku yang masih membelakangi kak
bimo. “kak...” ucapku pelan. “ehem.. kenapa?” sautnya. “jaga diri kakak
baik-baik. Aku selalu berdoa yang terbaik buat kakak. Sukses sama basketnya
ya.. besok, kakak harus menang. Aku nggak mau tau, kakak harus menang.” Ucapku.
“iya.. kakak akan berusaha.” Jawabnya.
“kak,
kakak tau kan kalau aku suka nulis? Kapan-kapan, kalau kakak lagi ada waktu
luang, kakak baca aja tulisan-tulisanku di notebook, mungkin nanti bisa
ngehibur kakak.oh iya, syita kangeeeen banget sama ayah dan ibu kak. Mungkin
nggak ya syita bisa ketemu mereka sekarang?” ucapku panjang lebar.
“ayah
sama ibu kan lagi kerja ta. Mereka kerja buat kita juga kan? Kamu sabar ya..
kalau ada waktunya pasti kita bisa ngumpul lagi kayak dulu kok. Sabar aja”
“aku
sayaaang banget sama ayah, ibu, kak bimo, sinta, aryo juga. Kalian adalah anugerah
terindah yang pernah syita miliki selama didunia. Terimakasih ya kak..udah menemani
syita dan selalu ada saat syita sedih dan seneng.”
“iya..
kakak juga sayang kok sama kamu. Makasih juga ya dek, udah mau sabar sama sikap
kakak yang keras kepala ini. Kakak bangga punya adik kayak kamu.”
Ucapnya.suasana heningpun menghampiri kami sejenak. Saat itulah ragaku mulai
kutinggakkan. Membawa sejuta anganku dan cintaku pada semua orang yang kusayangi.
Bertemu Tuhan. Dan aku tenang disisi-Nya.
Kata-kataku memanglah
tak seindah kata yang terbentuk dan muncul difikiranmu saat kau menulis. Kalau
boleh ku beri judul, akan kuberi judul “sembilan hari terakhirku”. Hmm.. karena
cerpen itu mengingatkanku tentang sembilan hari terakhirku bersamamu didunia.
Seperti yang kau
katakan, aku tlah membaca semua tulisan-tulisan indahmu di notebook ini.
Termasuk puisi yang kau tujukan untukku.
Kakak
Kau
begitu indah
Bagaikan
selembar awan yang lembut
Dan
kau hiasi langit biru
Mulai
dari terbitnya mentari
Sampai
mentari tlah bosan padaku
Dan
mulai berpaling
Tapi,
kau tak pernah bosan menghiasi langit
Melindungi
orang-orang yang menutup wajahnya karena kepanasan
Kakak,
Kau.
. . .
Begitu
indah diimataku.
Thanks..
J
Selain puisi untukku,
kau juga menulis sebuah karya yang aku tak tau namanya. Dan itu kau tunjukkan
pada aryo.
Aku
nggak tahu harus kutukiskan seperti apa
dirimu. Kamu terlalu baik untukku. Dan, saat aku sadar kamu lah yang terbaik untukku, aku juga tau kamu
bukan untukku. Nggak akan selamanya kita bersama. Sebuah perpisahan itu pasti
ada. Maaf, aku nggak pernah ngasih alesan yang jelas buat kamu, kenapa aku
mutusin kamu sepihak kayak gini. Sebenarnya, aku nggak mau kamu terluka karena penyakit yang akan membunuhku
ini. Saat kamu baca ini, aku yakin kamu udah tau dan mungkin sekarang kamu udah
rela ngepasin aku. Aku yakin ada orang yang lebih dari aku, dan dia bisa jaga
kamu sampai kapanpun. Walaupun aku jauh dari kamu sekarang, aku akan tetap
mengingatmu. Aku juga akan selalu mendoakanmu, semoga kau selalu bahagia sampai
kapanpun itu. Aku seneng bisa kenal dan sempat menjalani sebuah hubugan
bersamamu.
You,
my first and the last love J
Syita.. beginikah caramu meninggalkanku. Kau
tau betapa khawatirnya aku, kau tak tau betapa paniknya aku saat mengetahui kau
tlah pergi dengan tenang meninggalkanku? Malam itu juga, dan tak ku sangka
itulah saat-saat terakhir kau berbicang denganku. Sedih, dan rasa tak percaya
yang hanya kurasakan.
Syita... maaf. Tak
pernah menuruti keinginanmu melihatku bermain basket. Maaf kakak selalu bersikap keras kepala padamu.
Maaf, sebagai kakak aku nggak pernah bisa nglaksanain kewajibanku sebagai kakak
yang baik buat kamu. Perasaan yang masih kusimpan adalah sebuah penyesalan yang
teramat dalam. Tak pernah menjadi sosok kakak yang benar-benar seorang kakak. Maaf
juga atas keterlambatanku mengetahui
banyak hal tentang dirimu. Termasuk cerpenmu itu. Maaf dek syita nuraini ku
tersayang.
Aku juga
berterimakasih. Berkat cerpenmu aku juga tau kalau orang yang selama ini aku
cintai juga mencintaiku. ‘sinta’, dialah orangnya. Kalau aku tak membaca
cerpenmu ini, mungkin sampai sekarang aku tak berani mengungkapkan perasaanku
pada sinta. Dan kitapun tak mungkin bersama seperti saat ini.
Tim Basketku juga
memenangkan pertandingan 2 bulan lalu. Aku tahu itu juga berkat doa dan
dukunganmu Syita. Terimakasih. Kata yang juga diontarkan pemain lainya untukmu.
Kau tahu? Aryo sama
terpuruknya sepertiku saat mengetahui kau tlah pergi meninggalkan kita semua.
Dan, kini dia sadar flasdisk yang kau berikan padanya adalah sebuah cendra mata
darimu sebelum kau pergi. Kakak juga tahu, isi flasdiskmu itu juga sama seperti
karya tulismu yang kau simpan di notebook ini. Kini, dia juga sudah ikhlas akan
kepergianmu. Akhir-akhir ini kakak sering melihatnya bersama Risma. Tapi kakak
belum bisa bilang kalau mereka pacaran atau yang lainnya.
Ayah dan ibu, sekarang
ada di Jakarta. Mereka memutuskan tinggal disini karena mereka pengen lebih
dekat sama anaknya. Nggak mau jauh-jauh dariku, begitu pula denganmu.
Andai kau ada didekatku
sekarang, aku ingin memelukmu erat-erat, mencubit pipi cabimu, mencium
keningmu, dan menceritakan semua kejadian indah disini. Begitupun kau, aku juga ingin kau bercerita
banyak tentang surga padaku. Tak lupa bernyanyi lagu kesayangan kita berdua.
Mm.. sayang, itu hanya angan yang mustahil kudapatkan.
Syita, kau memang jauh
disana, tapi aku yakin sebenarnya kau ada disampingku dan tersenyum melihat
kakakmu yang lucu ini. Iya kan? Hehe..
tersenyum melihat kelakuan kakakmu ini. Hmm.. mungkin kau juga akan
tersenyum heran setelah membaca surat ini. Walaupun aku juga tau kau tak
mungkin membaca ini didekatku, tapi Tuhan akan menyampaikan semua isi surat ini
untukmu. Bahwa sebenarnya aku sangat-sangat merindukanmu.
Aku janji aku akan menjaga
ayah dan ibu. Aku juga janji bakal selalu bahagia walaupun tanpamu didekatku.
Dan akan kupastikan pula aryo bahagia bersama jodohnya kelak.
Kau..
yang terindah untuk ku..adikku. J
28 Ferbruari 2013
Komentar
Posting Komentar